Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Pulang kembali



-


-


Saat itu Jiana selesai memasak. Ia berjalan menuju kamarnya dan tersenyum mendapati Bryan yang tidur memeluk putri mereka. Jiana duduk disisi ranjang kecil itu lalu mengguncang bahu Bryan." Boy .. " panggilnya dan seketika itu juga kedua mata Bryan terbuka


" Ah aku ketiduran." sautnya lalu beringus bangun. Ia memeluk Jiana untuk beberapa saat sebelum keduanya keluar dari kamar. Mereka duduk berhadapan dimeja kecil itu, Bryan tampak bersemangat melihat sup ayam buatan istrinya, menggugah selera Bryan


Anehnya sup itu tak membuatnya mual malahan membuat Bryan ketagihan hingga minta menambah pada Jiana. Jiana berpikir Bryan sedang sakit namun pria itu sangat lahap memakan masakannya. Jiana mengambil lagi semangkuk dan duduk lagi didepan Bryan


" Apakah sangat enak?" tanya Jiana mengusap sudut bibir Bryan


" Ini lebih dari enak." sautnya. Jiana tersenyum senang lalu menuangkan air mineral kedalam gelas untuk Bryan


" Boy kamu sakit?" tanya Jiana, wajah pucat itu kentara sekali dimatanya


" Aku benar-benar tersiksa Jia, sikembar sangat menyiksa ayahnya."


" Kamu mengalami morning sicknes?" Bryan mengangguk cepat membuat Jiana tertawa kecil lalu berpindah duduk dipangkuan Bryan


" Maaf, itu pasti sangat menyiksamu." Bryan terkekeh dengan suara manja istrinya


" Setiap hari aku tidak bisa melakukan apapun, tubuhku selalu lemas dan aku hanya terbaring diranjang rumah sakit. Makanya kamu harus memberiku hadiah sebagai permintaan maaf."


" Baiklah." saut Jiana semangat. Bryan tertawa lagi lalu menghabiskan semangkuk sup itu lagi. Saat itu ia membopong Jiana membawa kekamar. Ia baringkan diatas kasur disebelah Kya


Jiana tak membiarkan Bryan menjauh, ia mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan. Keduanya bersitatap dan saling mencium dengan mesra melepaskan kerinduan mereka. Bryan segera berhenti saat tangan itu nakal mencoba menyusup kebalik celananya


" Jangan sekarang, sayang aku masih lemas." ucap Bryan membuat tawa Jiana lolos dari bibirnya, tumben sekali pria itu menolaknya


" Percaya diri sekali." gerutu Jiana lalu melepaskan kedua tangannya dari Bryan. Bryan spontan berguling kesamping dan membawa tubuh itu menghadapnya. Jemarinya terulur membelai wajah Jiana, rasanya Bryan iba pada istrinya itu


" Siapa yang membawamu kemari hmm?" tanya Bryan berpura-pura tak tahu


" Mamaku dan suaminya."


" Kenapa mamamu berbuat seperti itu?"


" Aku tidak tahu mungkin karena aku anak dari pria miskin." Saut Jiana sendu


" Bagaimana bisa kamu mempunyai mama seperti itu Jia, dia tidak memikirkanmu."


" Aku tidak mau menemuinya lagi "


" Iya jangan. Kamu tidak memerlukan kasih sayangnya. Denganku kamu tidak akan kekurangan kasih sayang. Aku akan memberikannya padamu sampai kamu bosan." tutur Bryan membuat kedua mata Jiana berkaca


" Terima kasih Boy. Kupikir kamu sudah melupakanku."


" Hey, hanya pria gila yang melupakan wanita secantik ini." ucap Bryan sambil mencubit dagu runcing Jiana


" Aku mungkin terlambat menjemputmu, maafkan aku .. "


Jiana menggeleng cepat." Aku tahu kamu kesakitan!" Bryan mencium kening itu dalam dan lama


" I love you so much." Bryan tersenyum hangat


" Love you more." sautnya lalu memeluk Jiana, membenamkan wajah itu kedadanya. Malam ini mereka tertidur dengan bibir tersenyum tak seperti malam-malam lainnya, rasanya nyaman dan tenang Jiana rasakan. Bryan selalu membuatnya merasa terlindungi, bahkan Jiana tak perduli jika ia harus terjebak dipulau kecil ini asalkan bersama Bryan ia akan baik-baik saja dan bahagia


Pagi ini mereka diganggu dengan tangan jahil Kya. Gadis kecil itu mencubiti pipi Bryan dan Jiana yang masih tertidur." Sakit Kya." ucap Bryan membuat putrinya cekikikan. Bryan terkekeh mendengarnya lalu membuka kedua matanya


" Hay selamat pagi. " sapa Bryan


" Apa kita akan pulang kerumah besal?" mendengar suara Kya Jiana terbangun, ia beringus bergerak membelakangi Bryan dan menghadap Kya yang duduk


" Ya kita pulang hari ini."


" Kenapa Mariposa yang selalu Kya ingat, memangnya Kya tidak rindu Daddy?" Kya mengerucut dengan genitnya hendak melangkahi perut puncit sang ibu dan seketika itu juga Bryan mengulurkan tangannya meraih tangan kecil Kya, menuntun untuk duduk diperutnya, ia takut tubuh itu menimpa perut Jiana karena terkadang gadis kecil yang belum mengerti apapun itu suka mengerjainya dan Jiana


" Mmmmuaaaah .. " ciumnya pada bibir Bryan lalu menyengir membuat ayah dan ibunya tertawa membawa Kya ketengah mereka, ketiganya saling berpelukan beberapa saat


" Baiklah ayo kita bersiap-siap." Bryan beranjak bangun dan pandangan itu tertuju pada perut Jiana yang bergerak. Bryan sangat senang ia mengelus perut itu dengan telapak tangannya


" Mereka sangat aktif." ucap Jiana menyentuh tangan Bryan diperutnya


" Apa sakit?"


" Tidak hanya sedikit geli." Bryan terkekeh lalu membungkuk untuk mencium perut Jiana


" Sehat-sehat kalian diperut Mum ya? Daddy sudah tidak sabar melihat kalian."


" Kya juga." saut Kya berteriak membuat Jiana dan Bryan kembali tertawa. Lalu Bryan menelpon Anjas pria itu semalam mengantarnya kemari dengan sebuah helikopter dan Bryan kembali memanggil pria itu untuk menjemputnya lagi


Selama satu jam mereka menunggu Anjas dan penantian itu berakhir saat Anjas datang bersama dua temannya. Bryan segera menggandeng Jiana dengan satu tangannya dan tangan yang lain menuntun Kya. Ketiganya berjalan menuju sebuah lahan yang luas dan cukup jauh dari rumah yang ditinggali Jiana


" Pesawat!" teriak Kya melengking membuat semuanya tertawa


" Ayo kita naik pesawat nona kecil." ajak Anjas menggendong Kya, balita itu tak menolak malah terlihat riang padahal ini pertama kalinya Kya bertemu bawahan Bryan


Dua jam mereka berada dihelikopter kini helikopter itu mendarat dihalaman luas rumah Ken. Bryan segera turun saat itu mereka disambut keluarga. Bulan sampai menangis haru melihat Jiana dan Kya


" Kau boleh liburan sekarang." ucap Bryan pada Anjas, pria itu mengangguk lalu naik kembali kedalam helikopter


" Kamu baik-baik saja Ji, bagaimana sikembar?" tanya Bulan mengelus perut Jiana


" Aku sehat dan mereka baik-baik saja."


Sementara Bryan tampak saling tersenyum dengan Daddynya, rasa bangga itu kembali Bryan dapatkan. Lihatlah sang Daddy mendekat dan menepuk pipinya pelan. " Meskipun menyebalkan, tapi kamu hebat!" ucap Ken mengacungkan jempolnya pada Bryan


" Aku sangat cocok bukan menjadi artis?" tanya Bryan pada sang ayah


" Siapa yang mengijinkanmu menjadi artis?" tiba-tiba Jiana menyaut dengan wajah garangnya


" Hehe sayang .. aku hanya bercanda!" saut Bryan menciut membuat semuanya tertawa, selain menjadi bucin sepertinya kini Bryan akan menjadi suami yang takut istri


Lalu mereka pulang kerumah diantar Dean. Bryan merasa lega, kesabarannya berbuah manis tinggal satu lagi yang belum ia selesaikan. Seringai tampak dibibir Bryan saat ini, Bryan segera menggandeng Jiana kedalam sementara Kya tidak ikut pulang gadis kecil itu sedang bermanjaan bersama kakak sepupunya yaitu Pevita


" Boy dimana bi Amy dan pak Deden?" tanya Jiana saat mendapati rumah mereka kosong


" Mereka sedang pulang kampung, mungkin sekitar dua hari baru pulang." saut Bryan menggandeng Jiana menuju lantai dua. Ia membawa wanita itu menuju kamar mereka yang sudah sebulan lebih ini sepi. Bryan duduk disisi ranjang dan saat Jiana akan pergi ia menarik duduk dipangkuannya


" Emmhh aku benar-benar merindukanmu sayang." Jiana tersenyum mengusap dagu yang kini berjambang itu dengan jemarinya, geli Jiana rasakan saat dagu itu menyentuh lehernya


" Aku mau mandi sebentar." saut Jiana malu-malu


" Aku ikut!" Bryan berkata dengan suara manjanya. Jiana hanya mengangguk pelan lalu turun dari pangkuan Bryan. Tangan keduanya saling bertaut menuju kamar mandi


Jiana menarik Bryan duduk dicloset lalu mengambil peralatan untuk mencukur kumis pria itu. Jiana menarik satu tangan Bryan agar menengadah dan duduk dipangkuan suaminya


" Diam aku akan mencukurmu." perintah Jiana meletakan peralatan cukur ditangan Bryan. Dengan telaten ia mengoleskan krim cukur didagu rahang dan sekitar bibir. Bryan hanya tersenyum dengan satu tangan melingkar dipinggang Jiana sambil menatap wajah dengan pipi chuby itu


" Cantik sekali." puji Bryan dan kecupan bibir Bryan dapatkan dibibirnya


" Aahh cantik." pujinya lagi dan dua kecupan mesra Bryan dapatkan lagi. Bryan tersenyum lebar karena itu


" Jia aku akan menceraikan Queen .. " Jiana tertegun, kumis cukur ditangannya sampai jatuh kelantai


-


-