Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Penyesalan Bryan



-


-


" Aku sudah kenyang." ucap Jiana saat Bryan kembali akan menyuapinya. Akhirnya suapan itu ia tujukan kemulutnya, ia kunyah dan habiskan sashimi itu


Setelahnya Bryan berdiri dengan Kya dipangkuannya, jika dengan Bryan gadis kecil itu selalu manja dan tak mau berjalan sendiri. Diikuti Jiana Bryan menuju ruang tv dimana semua orang tampak sedang bersantai dengan suara riuh saling berbincang dan tertawa. Beberapa pria tampak sedang minum wine yang tersedia dilemari didekat ruang tv termasuk ayahnya dan para menantu prianya


" Boy kemarilah." ajak Gerald melambaikan tangannya


" Aku akan menidurkan Kya dulu." saut Bryan


" Menidurkan Kya atau menidurkan ibunya." celetuk Dean yang selalu senang meledeknya bersama Bulan sang istri


" Dua-duanya agar aku tenang." saut Bryan terkekeh sambil melirik Jiana yang tampak mengerucutkan bibirnya


" Aku hanya bercanda sayang." ucap Bryan dengan senyumannya


Lalu Bryan mengajak Jiana menuju kamar yang ditempati mereka


" Kya tidak mau tidul."


" Uhhh kenapa? ini sudah malam." saut Bryan berjalan menuju ranjang dan menurunkan Kya disana


" Kya masih mau main sama Daddy dan Mummy."


" Besok Kya bisa main sepuasnya." saut Jiana menutup pintu kamar mereka dan berjalan menuju koper hitamnya dan Bryan yang masih tergeletak dilantai


" Ayolah sayang, kita tidur ini sudah malam, Pepev juga sudah tidur."


" Kenapa Daddy selalu menyuruh Kya tidul." teriak Kya memenuhi kamar itu sambil melipat kedua tangannya didada. Lucu dan menggemaskan dimata Bryan, pria itu segera merengkuh Kya dan menghempaskan tubuhnya dan Kya kekasur


Seketika cekikikan memenuhi kamar mereka membuat Bryan tertawa begitupun Jiana yang tersenyum menatapi keduanya dengan tangan yang sibuk merapihkan pakaiannya yang diacak-acak Bryan didalam koper


Dan cekikikan itu semakin melengking tatkala Bryan mulai menggelitik perut Kya dengan jemarinya. " Daddy ampun." teriaknya


" Jangan, nanti dia tidak mau makan." tegur Jiana


Bryan segera berhenti dan menatapi putrinya yang masih terkikik dan menampilkan giginya." Dasar ompong." ucap Bryan dengan tawa pelan seraya kembali merengkuh Kya, hatinya bergetar dan mendadak kedua matanya berkaca pada Jiana yang masih sibuk membenahi seluruh pakaiannya dan Bryan, memasukannya kedalam lemari disana. Hal yang paling Bryan sesali adalah waktu, waktunya yang terbuang karena tak mencari Jiana bahkan mencoba mencari tahu apa wanita itu baik-baik saja, bagaimana kondisi psikologisnya setelah diperkos* olehnya. Jika saja Bryan menemukan mereka lebih awal mungkin ia tahu tumbuh kembang putri mereka sejak masa bayi


" Daddy Kya .. "


" Hmm?" tanya Bryan mengurai pelukannya


" Kya sayang Daddy." suara cadel itu kian membuat kedua mata Bryan menggenang airmata


" Daddy juga sangat menyayangi Kya." saut Bryan lembut membuat Jiana melirik keduanya dan tersenyum. Bryan segera memejamkan mata saat Jiana mendekat, ia menyembunyikan airmatanya dari Jiana, ia terlalu malu jika Jiana tahu ia menangis


" Apa Daddy mengantuk?" tanya Kya menatap cerah dan menyentuh kelopak mata Bryan yang tertutup


" Sayang lihat Daddy sudah tidur, sekarang giliranmu." ucap Jiana lembut merangkak naik keatas ranjang dan duduk dibelakang Bryan. Ia mematikan lampu dengan remote kecil yang tersedia diatas meja nakas lalu menyalakan lampu tidur sehingga cahaya dikamar itu meremang


Jiana menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan menatapi Kya yang terlihat nyaman dalam pelukan ayahnya. Entah angin dari mana Jiana mengulurkan tangannya menyentuh rambut Bryan dan memberi elusan lembut disana


" Ya, Mum menyayangi Kya dan Daddy." aku Jiana tersenyum hangat pada putrinya lalu menyentuh pipi bapau Kya, mengelus pelan dengan punggung jemarinya


" Ayo tidur, memangnya Kya besok tidak mau ikut?"


" Kya mau ikut." sautnya cepat


" Kalau begitu tidur agar besok tak terlambat."


Gadis kecil itu segera memejamkan matanya membuat Jiana ingin sekali tertawa melihatnya. Jiana membungkukan badan untuk meraih kening Kya hingga tubuhnya melewati tubuh Bryan lalu ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Kya dan Bryan sambil ia juga membaringkan tubuhnya menghadap Bryan yang membelakanginya


Entah kenapa dimalam dingin ini tubuh Jiana sangat merindukan kehangatan pelukan Bryan hingga ia mengulurkan tangannya memeluk Bryan dari belakang dan menempelkan tubuhnya seerat mungkin lalu memejamkan mata mencoba untuk menyelam kealam mimpi. Namun belum juga sampai ke titik alam bawah sadar, gerakan tubuh Bryan yang bergerak menghadap sekaligus merengkuh tubuhnya membangunkan Jiana lagi


Ia membuka mata dan tersenyum sembari menempelkan wajahnya didada Bryan. Jiana kembali memejamkan mata saat hangatnya tubuh Bryan membuatnya nyaman. Tapi untuk kedua kalinya Jiana kembali terasaa diganggu, bukan pergerakan Bryan melainkan suara isak tangis kecil yang tertahan dari bibir suaminya


" Jangan membuka matamu." tegur Bryan cepat dengan suara serak


" Kau menangis?" tanya Jiana mengerutkan dahinya heran dan membuka matanya tak menuruti Bryan


Bryan menggelengkan kepalanya cepat dengan kedua mata tertutup, dikeremangan kamar Jiana terkesima melihat airmata menitik dari sudut mata Bryan, Jiana mengulurkan ibu jarinya untuk mengusap cairan bening itu


" Ada apa? apa tubuhmu sakit?" tanya Jiana lembut, hati Bryan membuncang antara senang dan sedih, kini kelembutan dan perhatian itu tak hanya untuk Kya namun juga untuknya


Bryan tak bersuara hanya menggelengkan kepalanya lalu menundukan wajah, ia benar-benar malu tak bisa menahan airmatanya dihadapan Jiana, pikir Bryan yang selalu dipenuhi rasa gengsi tingkat tinggi


" Ada apa?" desak Jiana terdengar khawatir ditelinga Bryan, menyentuh pipinya


" Maafkan aku Jiana, aku menyesal." sautnya pelan


" Itu sudah berlalu, aku sudah memaafkanmu." Perlahan Bryan membuka matanya hingga mata sembab itu terlihat dikedua mata Jiana


" Jika saja aku mencarimu waktu itu, demi Tuhan aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu dan kita bisa mengurus Kya bersama. Aku akan melihat gadis kecilku, saat giginya tumbuh, saat ia bisa berjalan dan kapan ia memanggilmu Mummy memanggilku Daddy." Bryan tersenyum pada Jiana dengan jemari menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinganya


" Jangan menyesali semuanya itu tak akan mengubah keadaan, yang terpenting adalah sekarang. Kya sudah menemukanmu, putriku sangat bahagia Boy .."


" Aku benar-benar menyukainya." saut Bryan dengan senyum manisnya yang mampu meluluhkan siapapun termasuk Jiana


" Hmm?" Jiana mengerutkan dahinya tak mengerti


" Saat kamu memanggilku Boy. Dari sekian banyak orang yang memanggilku, hanya suaramu yang paling indah." Jiana mengulum senyumnya dan menampar pelan pipi Bryan, tamparan itu sudah seperti sudah menjadi kebiasaan Jiana pada Bryan


Bryan terbahak akan tamparan itu lalu ia merengkuh membawa tubuh Jiana dalam peluka hangatnya." Tidurlah, aku tahu kamu lelah." ucap Bryan namun Jiana malah meronta dan memberi jarak tubuhnya dan Bryan. Ia menengadah dan secepat kilat mengecup bibir Bryan


" Selamat malam." bisik Jiana lalu menyembunyikan wajah meronanya didada Bryan


" Ya selamat tidur, mimpi indah sayang." saut Bryan tersenyum dengan jemari mengelus rambut Jiana membuat Jiana selalu merasa nyaman dan terlindungi dalam dekapan Bryan


-


-