
-
-
Sudah seminggu ini Jiana mendiamkan Bryan, tak bicara ataupun melayani suaminya. Wanita itu hanya berdiam diri dikamar Kya saat pagi Bryan akan berangkat kerja dan menjelang malang saat Bryan pulang bekerja. Bahkan Jiana tak mau tidur dan sekamar dengan Bryan. Lihat saja, semua masih sama, kasur itu belum terganti dan juga pakaian Bryan masih tergeletak dilantai seolah rumah itu tak berpenghuni
Membuat Bryan selalu galau dan marah-marah dikantor pada siapa saja. Pria itu uring-uringan karena Jiana, Bryan merindukan istrinya, rindu memeluk dan mencium istrinya yang seminggu ini tak ia dapatkan karena Jiana selalu mengunci dirinya dikamar Kya. Bahkan Bryan tak pernah lagi merasakan masakan Jiana, Bryan selalu makan pagi dan malam dirumah Momynya membuat Momynya kembali heran dengan Bryan dan Jiana yang seringkali bertengkar
Saat ini Bryan telah selesai makan malam dirumah sang ibu setelah kerja lembur dikantor. Wajah itu terlihat muram dikedua manik sang ibu membuat Jeny menyentuh pundak sang putra dengan lembut." Ada apa? bertengkar lagi?"
Bryan hanya menghela nafasnya dan menengadah memaksakan senyumnya pada sang ibu
" Bicaralah agar Mom bisa memberi solusi." ucap Jeny kini jemarinya berpindah membelai puncak kepala Bryan
" Aku akan pulang dan menyelesaikan semuanya." saut Bryan beranjak berdiri, untuk sesaat ia memeluk sang ibu dan memberikan kecupan lembutnya
Bryan berjalan menuju rumahnya, setiap hari itu yang selalu ia lakukan selama seminggu ini. Tatapan itu melamun, tentu saja melamunkan sang istri yang tak henti merajuk. Bryan jadi galau bak abg yang baru putus cinta wajahnya selalu masam selama seminggu ini, kian masam saat bertemu dengan wanita yang ia rasa jadi-jadian didepan pintu rumahnya
Bagaimana tidak jadi-jadian dimata Bryan, lihat saja Queen sudah tampak tak berpakaian didepan matanya, ia hanya menggunakan tangkop ketat dan celana jeans yang hampir menyerupai pakaian dalam
" Kau ini sekolah tinggi tapi tingkahmu sangat bodoh." ucap Bryan mencibir adik iparnya
Queen hanya tersenyum manis mendekati Bryan." Kenapa? kamu tergoda?."
" Cih seperti jalan*!" umpat Bryan. Lalu ia membuka pintu rumahnya dengan kunci yang selalu ia bawa. Bryan masuk kedalam diikuti Queen, ia disambut bi Amy dan pak Deden yang saat itu sedang berkumpul diruang tamu bersama Jiana dan Kya dengan banyaknya oleh-oleh yang dibawa pak Deden dan bi Amy dari kampung untuk kedua majikannya itu
Gadis kecilnya ikut merajuk seperti Jiana sudah tak menyambutnya lagi saat pulang bekerja. Selain rindu Jiana ia juga merindukan putrinya dan ini saat yang paling tepat, melihat Kya dan Jiana Bryan seperti menemukan Oasis digurun pasir
Tapi tidak dengan Jiana, tadi pagi dibalik pintu ia mendengar Bryan akan pulang telat dan lembur lagi. Namun melihatnya bersama Queen, pikiran Jiana negatif dan buruk terhadap Bryan dan berpikir Bryan membohongi Jiana dengan tidur lagi bersama Queen. Jiana mengepalkan kedua tangannya, hatinya berdenyut nyeri untuk kesekian kalinya, ia mencoba menahan airmata dan menguatkan hatinya
Cup
Kecupan lembut Bryan mendarat dikeningnya. Pria itu begitu merindukan Jiana hingga tak dapat menahannya didepan semua orang. Lalu Bryan berjongkok didepan Kya, menciumi pipi Kya berulang dan bergantian yang dibalas gadis kecil itu dengan senyumannya
" Terima kasih bi, pak Deden. Oleh-olehnya sangat banyak." ucap Jiana tersenyum. Bryan mematung, ia rindu senyuman itu untuknya
" Ah tidak seberapa dibanding yang Tuan dan nyonya berikan untuk kami." saut bi Amy tersenyum pada keduanya
Bryan segera memangku Kya membawanya menaiki tangga dan meninggalkan semua orang. Saat ini Bryan memliki kesempatan untuk bermanjaan bersama gadis kecilnya
" Istirahatlah, kalian pasti lelah." ucap Jiana beringus berdiri dan menyusul Bryan. Terlihat sekali dimata semua orang perang dingin diantara Bryan dan Jiana membuat Queen menyeringai puas menyaksikan semua itu
Jiana segera menahan Bryan yang akan masuk kekamar Kya membuat Bryan memutar tubuhnya dan memelaskan wajahnya pada Jiana." Aku merindukan Kya, biarkan aku tidur bersamanya."
" Kya tidak mau tidur denganmu." saut Jiana dingin, Bryan mematung menatap lekat Jiana, tatapan itu dingin dan dipenuhi rasa marah padanya
Tapi yang dilakukan Jiana malah pergi meninggalkan keduanya. Entah kemana, Bryan tidak tahu. Yang pasti setelah menidurkan Kya Bryan akan mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Jiana
" Sayang apa kamu tidak merindukan Daddy?" tanya Bryan mengurai pelukannya pada Kya, gadis kecil itu hanya diam dengan wajah yang terlihat sedih
" Apa Mum melarang Kya?"
Kya menggeleng pelan
" Kenapa Kya tidak pernah minta mainan lagi pada Daddy? apa Mum melarangnya?"
Sekali lagi Kya menggeleng pelan membuat Bryan tak bertanya lagi. Ia kembali memeluk Kya, membenamkan wajah sang gadis kecil kedadanya. Bryan tersenyum ketika tangan kecil itu membalas pelukannya, seminggu ini ia tak mendapatkan semua itu
Bryan terus mengusap rambut Kya dengan lembut, pandangannya nanar kesembarang tempat. Bahkan putrinya kini terasa dingin dimata Bryan membuat Bryan bingung dan berpikir Jiana mempengaruhinya
Setelah Kya tidur, Bryan melepaskan pelukannya san berlalu dari kamar Kya menuju kamarnya. Kebetulan sekali Jiana berada disana dengan handuk menyampai dipundak serta rambut basahnya yang menjadi perhatian Bryan
Bryan segera mendekati Jiana, ia meraih jemari Jjana dan memegangnya erat." Maafkan aku."
" Kenapa kau meminta maaf?" suara itu dingin ditelinga Bryan
" Aku tidak tahu apa kesalahanku, tapi aku minta maaf. "
Jiana berdecih menarik tangannya dan melipatnya didada." Aku bertanya padamu kenapa kau minta maaf?" tanyanya membentak
" Ayo kita bicarakan semuanya baik-baik, jangan mendiamkanku seperti ini kumohon aku tersiksa."
" Apa yang membuatmu tersiksa hmm?" Bryan mengusap wajahnya kasar
" Aku sangat tersiksa merindukanmu dan Kya, kumohon jangan seperti ini. Maafkan aku, sekecil apapun kesalahanku, maafkan aku." Bryan memelaskan wajahnya dengan kedua mata berkaca pada Jiana, ia mencoba memegang kedua bahu Jiaana untuk memeluk tubuhnya namun tepisan kasar Bryan dapatkan
" Jangan menyentuhku!" teriak Jiana menggema dikamar itu
" Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu aku suamimu." balas Bryan, wajah itu mulai muram dengan perkataaan Jiana. Sekali lagi Bryan mencoba memeluk Jiana dan sekali lagi pula ditepis Jiana dengan kasar bahkan wanita itu menamparny dengan keras
" Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" bentak Jiana, kali ini Bryan naik pitam, ucapan itu menusuk jantungnya. Ia segera menarik Jiana menghempaskannya dengan kasar kekasur dan mengukung dibawahnya. Tatapan itu menajam pada Jiana membuat wanita itu menciut
" Kau itu istriku, apa alasanku tak boleh menyentuhmu?" Bryan mencengkram kedua pipi Jiana, ia berniat mencium bibir Jiana yang mengerucut tapi perkataan Jiana menghentikan Bryan
" Aku jijik denganmu!"
-
-