Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Bryan penakut



-


-


" Uhmm Boy." Jiana menggigit tiga jarinya menatap Bryan dibawah sana. Sejak tadi pria itu betah main dipangkal paha Jiana setelah puas main digunung kembar. Hingga getaran kedua Jiana rasakan lagi, kedua kakinya kembali menggeliyat-geliyat di punggung Bryan


" Aaaah Bryan." Bryan tersenyum lucu melirik sekilas Jiana tatkala mendengar suara jeritan manja itu lalu kian memperdalam permainannya untuk memuaskan Jiana. Tubuh itu kembali bergetar hebat dan cairan itu langsung dihisap Bryan hingga tandas


Bryan menganggkat tubuhnya berlutut dihadapan Jiana, ia menatap Jiana yang masih terengah dan memejamkan kedua mata. Seraya membuka kaos hitamnya dengan gerakan pelan. Menampilkan tubuh yang kini lebih kekar dan berisi, sebenarnya tubuh Bryan mulai menggemuk namun pria itu menjaganya dengan berolahraga


Saat akan membuka celananya saat itulah Jiana bangkit dan mengambil alih. Dengan tergesa-gesa wanita itu membuka kancing celana Jeans Bryan lalu menurunkan celana itu sampai paha. Bibir Jiana tersenyum sambil menengadah pada sang suami dengan jemari mengelus benda panjang yang sudah mengeras dibalik underware hitamnya


Dengan menggigit bibir bawahnya Bryan mengulurkan satu tangan untuk membelai rambut Jiana yang tergerai. Wanita itu kembali kebawah menatap burung dibalik celana yang sangat ia sukai, kedua tangannya menurunkan underware Bryan kebawah menyusul celana jeansnya sehingga sang burung tegak berdiri dihadapannya. Jiana langsung memegang hurung yang memenuhi kepalan jemarinya itu


Cup


Kecupan bibir Jiana pada ujung burung itu menbuat Bryan mendesis. Jiana tersenyum lagi menengadah pada Bryan yang sudah tampak ingin menerkamnya. Dan belaian jemari Bryan pada rambut Jiana berubah jadi cengkraman tatkala burung itu Jiana masukan kedalam mulutnya, hingga sampai kerongga


" Ooh that so good baby." racau Bryan sambil terus menatapi permainan istrinya yang menurutnya liar


" Ahhh bitc*h bitc*h .." Seketika Jiana berhenti, wanita itu melepaskan burung Bryan dan menyipitkan kedua matanya


Bryan terkekeh." Tidurlah bitc*h."


" Bitc*h?" Bryan tertawa pelan


" Iya satu-satunya bitc*h dihidupku sekarang." rayu Bryan mendorong pelan tubuh Jiana berbaring


Spontan Jiana memejamkan kedua mata dan merapatkan kedua kakinya." Sayang bukan tidur seperti itu." gerutu Bryan namun Jiana malah tersenyum


Mendadak Bryan mendapatkan ide cemerlang, bibirnya menyeringai nakal. Cepat-cepat ia mengambil ponsel disaku celana jeansnya


Cekrek


Suara itu membuat kedua mata Jiana terbuka lebar, bibirnya menganga terperangah menatapi Bryan yang tersenyum memperhatikan ponselnya." Seksi." ucapnya sembari menggelengkan kepala


Lalu Bryan melempar ponsel itu kebelakang tubuhnya. Kedua tangannya hinggap di paha Jiana, merambat naik sambil bibirnya juga mengecupi inci demi inci bagian tubuh Jiana yang berlekuk. Hingga berhentilah dibibir, Bryan pagut beberapa saat bibir itu sambil satu tangannya melebarkan kedua kaki Jiana


Bryan berhenti, ia menjauhkan bibirnya dan tersenyum nakal pada Jiana." Kita ke permainan inti." Bisiknya sambil meraih satu pengaman yang berceceran diatas kasur. Bryan menggigit ujungnya dan merobek bungkus lalu memakaikan sarung pengaman itu dengan satu tangannya


" Sayang kamu sangat seksi." puji Jiana dan ini pertama kalinya Bryan mendengar pujian seperti itu. Biasanya Jiana akan memujinya tampan sangat tampan teramat tampan


" Apanya yang seksi sayang?"


Jiana menggeleng pelan dengan wajah meronta


Cup


Kecupan pada bibir wanita itu dapatkan


Cengkaraman kedua jemari Jiana menguat dipunggung Bryan saat burung itu perlahan melesak masuk membelah kewanitaannya yang kembali basah karena Bryan. Jiana menjerit diakhir karena Bryan yang nakal, mendorong kasar adiknya yang sudah masuk setengah itu sampai terpentuk ke ujung


Bryan terkikik lucu dan seperkian detiknya bibirnya dibungkam bibir Jiana. Wanita itu menciuminya dengan penuh nafs*. Diperlakukan seperti itu tentu Bryan sangat senang, sambil mulai bergerak ia membalas ciuman rakus istrinya


Ranjang mereka berderit diiringi suara benturan tubuh keduanya. Terik matahari yang sedang diatas bumi menambah rasa panas kamar mereka yang tak bisa diredam oleh AC hingga keduanya bermandikan keringat


30 minute later ..


Jiana maupun Bryan terengah setelah mereka terbang menuju puncak nirwana dua puluh detik yang lalu. Keduanya terdiam memandang langit-langit kamar dengan posisi terlentang dan satu tangan Bryan menjadi bantal kepala Jiana


" Sayang, bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?" Jiana bergerak menyamping menghadap Bryan, ia menyentuh dada bidang yang bercucuran keringat itu dengan jemari lentiknya


" Seribu pertanyaan pun boleh." sautnya dengan suara mendayu membuat Bryan terkekeh lucu dan bergerak menghadap Jiana


" Kenapa dulu kamu memakai kacamata tebal itu?" Jiana terdiam sesaat, ia menatap lekat wajah Bryan yang juga bercucuran keringat dari dahi ke pelipis


" Karena aku pernah mengalami pelecehan boy." Sautnya membuat Bryan terkejut


" Ceritakan padaku!"


" Dulu saat aku mulai masuk kuliah. Saat itu ada pria yang terus mengejarku, dia selalu memberiku bunga mawar merah setiap pagi. Sedikit membuatku tersentuh." Bryan mendadak wajahnya muram


Jiana tersenyum manis." Jangan cemburu dulu."


" Siapa yang cemburu."


" Jelas kamu selalu cemburu boy, kamu itu posesiv." gerutu Jiana dengan senyum manis


" Itu karena aku tidak mau kehilanganmu!" gerutunya lagi


" Iya, memangnya siapa yang akan meninggalkan pria sempurna sepertimu boy!" Senyum Bryan mendadak mengembang dengan rayuan itu


" Baiklah, ayo lanjutkan!" Jiana terkekeh ia mencubit pelan bibir Bryan


" Aku mulai dekat dengannya."


" Siapa namanya?" potong Bryan


" Romi."


" Namanya yang sangat jelek." Bryan mencebikan bibirnya


" Mau kulanjutkan tidak?"


Bryan mengangguk pelan mencoba mendengarkan istrinya, jika tidak begitu Jiana yang galak akan menamparnya dan tidak akan mau ia naiki lagi


" Saat itu aku baru selesai dari perpustakaan-"


" Apa dia tampan?" Bryan memotong lagi ucapan Jiana


" Boy, kau benar-benar menyebalkan." Gerutunya lalu membalikan badan membelakangi Bryan


" Iya sayang maaf, ayo lanjutkan hmm." Bryan mengangkat tubuhnya dan menumpu dengan satu sikut untuk menjangkau wajah Jiana. Sudah tahu punya istri galak, Bryan masih saja mencari masalah. Gerutu Jiana dalam hati


Jiana mendelik sebal lalu memejamkan mata


" Honey ayolah .." Bryan mengguncang bahu itu


" Jia .." Bryan menciumi lengan atas Jiana


" Ayolah Mum Kya, Daddy sangat penasaran." Jiana kali ini membuka mata dan bergerak tidur terlentang


" Awas saja kalau memotongnya lagi." gerutu Jiana menaikan jari telujuknya diwajah Bryan


Seperti kucing manis Bryan tersenyum menganggukan kepala menuruti Jiana. Ia berbaring lagi menghadap Jiana dengan satu tangan hinggap dipusar Jiana


" Perpustakaan." saut Bryan


" Aku keluar dari perpustakaan, kebetulan sore itu hujan lebat disertai angin. Lalu aku mencoba menunggu didepan perpustakaan-" Jiana tampak ragu ia menoleh pada Bryan


" Lalu?" tanya Bryan


" Romi menarikku kebelakang perpustakaan."


" Apa yang dia lakukan?"


" Dia menyentuh payuddaraku dengan kedua tangannya, sungguh menjijikan. Dia sangat mesum sangat berbeda dengan penampilannya" Wajah itu tampak ketakutan hingga tubuhnya bergidik


" Brengsek, tenang Jia suamimu ini akan mematahkan kedua tangannya, sekalian dengan lehernya. Benar-benar keterlaluan .. beraninya menyentuh wanita seorang Bryan." Bryan tampak marah dan berapi-api


" Kalau begitu gali dulu kuburannya." saut Jiana


" Apa maksudmu?" Bryan menyipitkan kedua matanya


" Dia sudah mati, setahun sejak kejadian memalukan itu dia mati overdosis!" Bryan tercengang, mulutnya sampai menganga


" Kamu yakin akan mematahkan kedua tangannya untukku?" goda Jiana


Bryan tampak bergidig ketakutan, ia jadi mengingat kejadian menyeramkan dipantai bersama pak Deden. Lalu kepalanya mengedar kebelakang dengan wajah panik. Jiana tentu merasa heran


" Kamu tidak mau membalasnya untukku?" goda Jiana lagi


" Percuma saja bukan, dia sudah mati."


" Iya, tapi yang kudengar arwahnya sering berkeliaran dikampus."


" Jia." Bryan berteriak histeris membuat Jiana tercengang


" Jangan bicara konyol seperti itu!" gerutu Bryan sambil menarik selimut dibawah lantai


" Itu bukan konyol, semua mahasiswa pernah melihatnya. Kamu tahu boy, aku juga merasa takut, bagaimana kalau Romi masih menyukaiku, dia mengikuti."


" Jiana." Bryan berteriak lagi sambil beringus bangun


Jiana terbahak kencang, ia ikut bangun. Jiana terus tertawa menggelengkan kepalanya. Dua hari kemarin Jiana mulai tahu kelemahan Bryan, pria itu penakut dengan hal yang berbau spiritual. Ya dua hari lalu saat Bryan dikantor Pak Deden menceritakan padanya tentang perjuangan saat Jiana hamil, Bryan yang sampai mengompol didalam mobil karena ketakutan membuatnya tak henti tertawa bersama Bella dan bi Amy


Sangat tidak cocok dengan perawakan tinggi dan besarnya." Jia Jia hentikan." Gerutunya. Jiana kian terbahak saat melihat kedua tangan Bryan memegang selimut begitu kuat


Jiana segera mendorong tubuh itu terlentang dan duduk diatas perutnya." Kamu takut hantu hmm?"


" Tii .. dak!" sautnya terbata


" Bryan Romiiiiii-"


" Stop!"


" Anak-anak bilang arwah Romi gentayang dan-"


" Jia stop, atau aku takan memberimu ampun." Jiana terkikik lucu lalu mendekati Bryan menumpu telapak kedua tangannya di sisi tubuh Bryan


" Tapi Romi benar-benar ada, aku bersungguh-sungguh."


" Tidak jangan bicara itu lagi, Romi atau apalah."


" Boy kamu takut?"


" Ketakutanku bila kehilanganmu dan anak-anak Jia." Bryan mencoba menghentkan Jiana dengan rayuannya. Dan lihatlah, wanita itu terlihat terbang hingga bibirnya tersenyum begitu lebar


Jiana bergerak turun namun ditahan Bryan." Mau kemana, ayo lanjutkan."


" Bukannya kamu bilang berhenti?"


" Bukan itu." Jiana mengerutkan dahinya


" Ladies first untuk putaran kedua." Jiana terkekeh lucu lalu membungkuk untuk mencium bibir Bryan


" Bibirmu terlalu pandai bicara sayang jadi harus kubungkam." bisik Jiana lalu benar-benar membungkam bibir Bryan


" Ahhh sayang aku menyukainya."


" That so good baby." Bryan terus meracau menyaksikan tubuh berlekuk itu bergoyang diatas tubuhnya diputaran kedua ini


" Aku tidak akan kalah." Kekeu Jiana, menumpu kedua telapak tangannya di sisi kepala Bryan yang tak henti bergerak, kadang menengadah kadang menunduk meraup dua bukit kembar istrinya bergantian


" Sayang kamu selalu kalah dalam pertempuran kita!" Racau Bryan. Selama putaran kedua ini keduanya terus meracau tak jelas sambil sesekali tertawa


" Ohhh shiiiit Jia, eeemmm oooohhh ooohhh Baby lebih cepat lagi." Racau Bryan mencengkram kedua bokong bulat padat itu lalu menengadah dan tersenyum lucu menatapi Jiana yang tampak kelelahan


Dan akhirnya


Bruk


Jiana menjatuhkan tubuhnya pada Bryan, wanita itu terkulai lemah. Menjadi kesempatan Bryan untuk mendominasi, ia membalikan badan sehingga Jiana yang dibawah." Sayang kamu kalah." Teriak Bryan senang dan penuh semangat, ia menaikan kedua kaki itu kepundak dan mendekati Jiana dengan menumpu kedua telapak tangan disisi tubuh Jiana


Plung


Pengaman kedua Bryan lemparkan kelantai setelah ia penuhi dengan spermmanya


Plung


Kali ini pengaman ketiga yang juga sudah penuh Bryan lempar lagi kelantai


Plungg


Pengaman keempat meluncur lagi kelantai


" Aku tidak mau lagi." Jiana menahan dada Bryan dengan kedua tangannya, mata itu sudah terpejam lelah dengan wajah yang dipenuhi keringat


" Sayang pengamannya masih ada satu lagi." rengek Bryan manja menciumi pipi Jiana


" Lakukan atau kamu tidak akan mendapatkan lagi selamanya."


Jedaarr


Bryan merasa tersambar petir mendengar hal itu, ia beringus turun dari tubuh Jiana. Dan menarik tubuh yang lemah itu kepelukannya, ia ciumi kening Jiana berulang merayu wanita itu agar tidak marah. Jiana tak menanggapi Bryan, ia benar-benar kelelahan dan tak berdaya. Bayangkan saja mereka terus melakukan hal itu tanpa henti hanya terjeda obrolan membahas arwah Romi yang konon gentayangan


-


-