
-
-
Seminggu kemudian ..
Pagi-pagi buta, keriwehan terjadi kamar Bryan. Jiana yang terus mondar-mandir sibuk menatap apa saja yang akan dibawanya selama liburan sementara sang suami tampak santai duduk diatas ranjang memperhatikan Jiana
" Bikini jangan lupa!" Jiana mengangguk cepat tanpa melihat sang suami, wanita itu sibuk memasukan semua perawatan wajah dan tubuhnya kedalam sebuah koper besar hitam
" Lingerie juga!" Meskipun mulai geram dengan Bryan yang cerewet tapi Jiana hanya bisa mengangguk, disaat seperti ini ia malas berdebat dengan suaminya. Dan Jiana menuruti Bryan, ia mengambil dua buah lingeri seksi berwarna hitam dan merah menyala semakin memenuhi koper hitam besar itu belum lagi ia harus memasukan baju sikembar dan Kya
" Satu koper sepertinya taakan cukup!" gumam Jiana membuat Bryan tersenyum lebar
" Tambah lagi sayang, tambah lagi 10 koper pun tidak apa-apa!" Bibir Jiana mencebik mendengar perkataan itu ingin sekali ia melempar koper itu ke otak yang selalu diisi dengan selanngkangan itu
" Oh iya jangan lupa pengaman, itu yang paling penting. Jika tidak Chelsea mungkin akan punya adik!" celetuk Bryan dengan tawanya, kali ini ia menatap suaminya. Ia benar-benar heran dengan suaminya yang selalu banyak bicara seperti nenek-nenek tua
" Rasa strawberry dan rasa banana saja ya!" Lihatlah sungguh cerewet untuk Jiana
" Memangnya ada rasa apa lagi huh?" tantang Jiana. Bryan mengulum senyumnya lalu menjentikan jari telunjuknya pada Jiana. Wanita yang tampak geram itu mendekat
" Rasa melon!" bisik Bryan nakal
" Berhenti bicara!"
" Eiiiyy ayolah, inikan liburan." Bryan meraih jemari lentik itu lalu mengecup punggung jemari Jiana
" Aku akan meminum pil kontrasepsi, jadi jangan penuhi koper kita dengan pengaman!" gerutu Jiana
" Jia, bukannya kamu tidak mau gemuk?"
" Baiklah, terserah istriku saja!" saut Bryan dengan senyum manisnya
" Tapi sayang, kenapa pagi ini kamu cantik sekali?" rayunya sembari menarik tubuh Jiana duduk dipangkuannya
" No, not good. Kita harus bersiap-siap!" Jiana menahan wajah Bryan yang mendekat padanya
" Sebentar saja, hanya 15 menit!"
" Tidak aku bilang tidak!"
" Aah ayolah, semalam kita tidak melakukannya." rayu Bryan menyelipkan anak rambut Jiana kebelakang telinganya
" Tidak mau, aku sudah berdandan."
" Aku tidak akan menyentuh wajahmu, ayolah jangan menolak suami, kamu tahukan itu dosa?" Jiana tampak berpikir
" Tapi pesawatnya-"
" Iya semakin kita berdebat kita akan ketinggalan pesawat!" bisik Bryan sembari menurunkan resleting celana jeansnya kebawah, tampak underwarenya sudah mengembung. Jiana terkekeh melihat itu dan mau tidak mau ia akhirnya menuruti Bryan membuat ayah sikembar itu senang, karena Chelsea semalam Bryan tak mendapatkan jatahnya, bayi itu sering menganggu dengan tangisannya ditengah malam
" Jia, kamu sudah basah!" goda Bryan saat menyentuh pangkal paha Jiana, padahal keduanya hanya berciuman dan jemari Bryan hanya main dari luar, Bryan tak melepaskan pakaian atas Jiana, tapi bagian kebawah wanita itu polos tanpa sehelai benangpun
" Cepat masukan!" Bryan tercengang, ini pertama kalinya Jiana mengatakan hal yang menurut Bryan liar, pria itu terkikik dalam hati, sambil bibirnya terus menjamah leher Jiana, Bryan mulai menyatukam tubuh mereka
" Aaah Jia kamu selalu sempit!" Jiana tersenyum mendengar suara parau itu, ia mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan dan mengangkat wajahnya untuk meraih leher Bryan, nakal bermain dengan lidahnya
Dessahan dan suara benturan tubuhnya dan Bryan memenuhi kamar itu. Dan permainan mereka kian panas saat Jiana melingkarkan kedua kakinya dipinggang Bryan
" Aaahh sayang." racau bibir Bryan, seolah tak bosan pria itu masih betah mengurung Jiana dan main dilehernya
" Boy aku mau keluar." Suara lembut nan manja kian menambah gairah Bryan, ia kian mempercepat gerakan tubuhnya
" Uhhhm boy!" Bryan tersenyum puas, rasanya selalu puas melihat wajah Jiana saat istrinya itu mencapai puncak kenikmatan
" Mau lagi?" bisik Bryan nakal menciumi telinga Jiana
" Eeemmh teruskan .." sautnya ikut berbisik dan mempererat rangkulan kedua tangannya pada leher Bryan
" Aku buka ini ya sayang." bisik Bryan menyentuh kancing blush kuning Jiana
Jiana tampak berpikir sejenak lalu mengangguk pelan. Hal itu membuat Bryan senang, dengan tergesa-gesa ia melepaskan kancing baju Jiana satu persatu hingga terbuka lebar lalu menaikan bra hitam Jiana keatas yang mana buah dada itu langsung diraup bibirnya
Bryan merubah posisi menjadi duduk sambil menelanjangi istrinya, sungguh licik dimata Jiana karena pakaian pria itu yang masih awet, sangat berbeda dengan dirinya yang diacak-acak Bryan
Pria itu mana bisa 15 menit seperti apa yang dikatakannya. Sangat berbohong, nyatanya kini pergumulan itu sudah akan berlangsung setengah Jam dan Bryan kembali merubah posisinya menjadi Jiana yang ia kurung lagi dengan tubuh besarnya
Untuk sejenak Bryan menatap wajah cantik yang berkeringat itu, ia kecup bibir Jiana yang sedikit menganga dengan begitu lembut." Sebentar lagi." bisiknya lalu kembali menggoyang tubuh Jiana
Dan hentakan kuat Jiana dapatkan, Bryan mengerang panjang melepaskan kenikmatannya. Lihatlah bibirnya menganga lebar dan matanya terpejam." Luar biasa, sayang kamu selalu luar biasa." pujinya pada Jiana
Cup
Kecupan lembut dibibir Bryan dapatkan, senyum Bryan mengembang lalu membuka kedua matanya lebar dengan nafas yang masih terengah." I love you some much, aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu Jia .."
" Malammu tanpaku, pagimu tanpaku atau hidupmu tanpa making love bersamaku," Bryan terkekeh lucu, ia mengusap pelipis Jiana yang dipenuhi keringat
" Hidupku tanpamu, semuanya .. malamku, pagiku, siangku tanpamu mungkin hidupku kosong!" Jiana tersenyum
" Gombal, berhenti merayuku. Kita harus bergerak cepat." Ahh Bryan benar-benar gemas dengan Jiana yang polos seperti ini, wanita itu berisik. Mungkin karena terlalu senang dengan liburan pertama mereka. Jiana tak tahu bahwa minggu yang lalu Bryan membeli jet pribadi untuk liburan mereka dan ia akan memberikan kejutan untuk Jiana
" Baiklah." saut Bryan bangkit dari tubuh Jiana menaikan resletingnya lagi keatas lalu membantu Jiana memakai lagi pakaiannya sambil sesekali jemari-jemarinya jahil pada tubuh Jiana
" Hentikan!" ucapnya galak pada Bryan yang hanya tertawa karenanya
Setelah membereskan semuanya, Jiana dan Bryan menuruni tangga dengan dua koper hitam besar ditangan Bryan. Saat itu keduanya disambut sang mammi dan sang Daddy yang akan mengantar keduanya ke bandara, tak lupa juga Bella dan beberapa pembantu Bryan yang bergegas membantu mengambil alih dua koper ditangan Bryan
" Bella kamu boleh berlibur untuk seminggu kedepan." perintah Jiana memegang kedua bahu Bella
" Terima kasih kak!" Jiana tersenyum memandang wajah imut dengan rambut kriting itu lalu mengambil dompet ditas kecilnya, mengambil lima lembar uang merah dan memaksa memberikannya ditangan Bella
" Kak, aku akan menerimanya bulan depan."
" Ini bukan gajimu, ini bonus untukmu!"
" Sungguh?" kedua matanya tampak berbinar senang
" Terima kasih kak, selamat berlibur dan bersenang-senang. Aku akan merindukan kalian, terutama sikembar."
" Kami tidak akan lama, seminggu hanya sebentar!" saut Jiana dengan senyum tak memudar lalu beralih pada bi Amy, pembantu setianya selama menjalani pernikahan bersama Bryan
" Jaga rumah dan jaga diri kalian!"
" Iya nyonya!" saut bi Amy
Bryan segera menggandeng Jiana dan menuntun gadis kecilnya, Kya tampak riang karena akan berlibur. Dengan tas ransel pink kecil dipunggungnya, Kya mengikuti sang ayah dengan jalan yang loncat-loncat membuat Bryan tersenyum menatap putri sulungnya, merasa tak tahan Bryan memangku Kya
" Uuuh benar-benar berat sekarang!"
" Kya kan sudah besal!" sautnya sambil memainkan satu rambutnya yang Jiana kuncir dua dikiri dan kanan
" Iya, iya adiknya banyak!" Seperti biasa gadis kecil itu selalu genit melenggak lenggokan kepalanya dengan bibir yang cekikikan dengan begitu centil, centilnya sepertinya menurun dari Bryan. Jiana pikir tak ada yang mirip dengannya didiri Kya kecuali sifat galaknya
Cuuuup
Kecupan gemas Kya dapatkan
" Huh Daddy?"
" Kenapa huh?"
" Kya kan sudah besal!"
" Tapi Kya masih anak Daddy Blayen kan?" Bryan menciumi pipi bakpau Kya membuat Kya cekikikan. Bryan tersenyum bangga melihat putrinya itu, Kya adalah perekat hubungannya dan Jiana, jika tak ada Kya mungkin Bryan masih menjadi pria bejad yang tak tahu arah tujuan hidupnya. Semua ini berkat Kya, ia bertemu Jiana lagi berkat gadis kecil dipangkuannya ini. Dalam hatinya Bryan bersumpah, ia akan terus menjaga putrinya sampai ia benar-benar menyerahkan putrinya ke tangan pria baik, aaah memikirkan hal itu rasanya Bryan tidak rela, ia tidak rela gadis kecilnya kelak akan tumbuh dewasa dan diambil orang
Sementara Jiana hanya mendengarkan keduanya dengan baby Zayn digendongannya. Chelsea dan Zeen didalam troli didorong kakek dan neneknya, bayi-bayi yang memakai jaket hangat itu hanya terlelap setelah beberapa jam sebelumnya disusui Jiana
Mereka tiba dibandara dan langsung memasuki bandar udara khusus dimana jet miliknya berada tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dulu. Semua orang sudah tahu siapa Bryan yang merupakan pengusaha nomer satu dikota ini, itu didapatkan Bryan dari poling dimedia berita bisnis. Saat itu Bryan diundang diacara tv nasional tentang kepiawaiannya dalam berbisnis, bahkan bisnisnya membantu negara karena banyak wisatawan asing dari manca negara datang ke? beberapa hotel dan taman hiburan miliknya
Selain itu juga sepertinya semua orang penasaran dengan kehidupan pribadi sang pembisnis yang punya paras rupawan itu. Hingga dengan senang hati saat itu Bryan mulai menceritakan kehidupan pribadinya, pria itu juga mengaku sudah menikah dan memiliki empat orang anak. Sontak semuanya terkejut karena selama ini tidak ada berita pernikahan mengenai putra satu-satunya pemilik perusahaan besar A & D tersebut
Para pemburu berita berlomba-lomba mencari tahu siapa wanita yang Bryan nikahi, namun karena kekuasaan dan uang yang dimilik Bryan, semua orang tak bisa menyelidiki Jiana, mereka hanya sekedar tahu bahwa wanita cantik dengan perawakan mungil namun berlekuk itulah istri Bryan
Langkah Jiana terhenti tatkala melihat sebuah jet pribadi didepan matanya. Ia menoleh pada Bryan yang memberikan senyum manisnya." Boy."
" Ada apa?" Bryan mengusap puncak kepala Jiana
Jiana menggelengkan kepala lalu melingkarkan satu tangannya di lengan Bryan dengan erat. Mereka berjalan mendekat pada jet pribadi itu dimana disana ada sekitar 20 orang yang ditugaskan Bryan selama perjalanan mereka ke Swiss. Mereka semua tampak menyambut Bryan dan Jiana sambil bertepuk tangan dan senyum cerah membuat entah kenapa sangat senang dan merasa dihargai
Sebelum masuk Jet pribadi itu keduanya berpamitan sejenak pada momy Jenny dan Daddy Ken. Berpelukan hangat, tak lupa kedua orang itu menciumi sikembar satu persatu dan terakhir Kya yang mengerucutkan bibir pada keduanya
" Jaga diri kalian, jangan terlalu anteng berdua. Ingat kalian punya anak." ucap Mom Jeny menasihati keduanya
" Iya Mom, tentu saja." saut Jiana
Dibantu dua petugas yang membawa troli Zeen dan Chelsea, Jiana dan Bryan menaiki tangga untuk masuk kedalam Jet pribadi yang termasuk besar itu. Bahkan Bryan memberi nama Jet pribadi itu dengan nama istrinya, sungguh manis bukan?
Jiana tampak mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang benar-benar mewah itu sambil menggendong Zayn, ia berkeliling kebelakang lalu kedepan
" Kenapa Mum tidak diam?" gadis kecilnya yang masih dipangkuan sang ayah tampak menggerutu memperhatikan sang Mumy
" Hey biarkan saja Mum, kita cari tempat duduk!" saut Bryan dengan tawa kecilnya, lalu berjalan mengikuti dua petugas yang membawa troli Zeen dan Chelsea. Bryan mendudukan Kya dikursi panjang single disamping troli sikembar, gadis kecil itu langsung membuka ransel pinknya dimana beberapa mainan iya bawa, termasuk Mariposa kesayangannya
" Daddy duduk didepan oke?"
" Yes Daddy!" sautnya tanpa melihat sang ayah. Bryan tersenyum sembari mengusap puncak kepala Kya sebelum ia beranjak berdiri. Sejenak pria itu menatapi sikembar yang masih terlelap lalu melangkah kedepan duduk disebuah kursi panjang dekat jendela
Bibirnya tersenyum mendapati Jiana yang tampak senang. Wanita itu melangkah mendekat padanya setelah puas melihat-lihat. Jiana menidurkan Zayn bersama Zeen didalam troli karena mereka memang hanya membawa dua troli bayi
Bukan di kursi yang lain, Jiana malah mendudukan dirinya dipangkuan Bryan, melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu dan meletakan kepala dengan manja dipundak Bryan." Sayang .." panggilnya mesra, Bryan tentu senang bukan kepayang
" Apa kamu membeli ini?"
" Iya untukmu Jia, sudah kubilang aku akan memberikan apapun untukmu!" Kecupan lembut Bryan dapatkan dipipinya
" Kenapa memberinya nama, namaku? kenapa bukan Kya, Zayn, Zeen or Chelsea." Bryan tersenyum
" Karena kamu yang utama?"
" Jadi bukan anak-anak kita?"
" Tanpamu anak-anakku takkan lahir kedunia ini." Bryan menoleh menatap lekat Jiana
" I love you, dan itu takkan berubah." Kedua mata Jiana berkaca
" Kenapa kamu selalu seperti ini?" tanyanya menahan tangis, suaranya serak
" Seperti ini bagaimana?"
" Kamu selalu manis, kamu selalu romantis. Boy kamu selalu membuatku ingin menangis." Bryan terkekeh lalu menangkup wajah Jiana, ia kecup lembut bibir itu
" Karena aku sudah berjanji pada diriku, aku akan mengganti semua yang kamu alami dengan kebahagiaan, kamu menangis karena bahagia kan?"
" Aku sangat bahagia, terima kasih sayang." sautnya mulai mengeluarkan airmata. Dengan sigap Bryan menghapus airmata itu menggunakan ibu jarinya lalu memeluk Jiana
" Jia .."
" Huh?"
" Jika aku tak memiliki semua ini, kekayaanku. Jika suatu hari Tuhan mengambil semua ini apa kamu masih akan tetap bersamaku?"
" Kamu pikir aku wanita matrealistis yang suka uang?" gerutunya membuat Bryan terbahak kencang, ia mengusap-ngusap punggung Jiana. Wanita itu masih menangis dipelukannya
" Jadi kamu akan menemaniku selamanya?"
" Sudah diam, sudah tahu nannya!" gerutunya lagi kali ini dengan tamparan pelan dipipinya. Bryan tertawa lagi, hanya Jianalah yang membuatnya seperti ini, bahagia .. hanya kata itu yang kini ia rasakan. Bryan tak perduli, jikapun Tuhan mengambil semua hartanya, tapi Bryan takan rela jika Tuhan mengambil kebahagiaannya yaitu sebuah keluarga
-
-