
πΉπΉπΉ
**Selamat tahun baru, semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dari sebelumnya. Baik dalam sikap dan prilaku kita. Dan semoga apa yang menjadi cita-cita kita bisa terwujud ditahun 2022 ini ππ
Happy reading** ..
-
-
Bryan mau tak mau harus pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan sisa percintaannya dan Jiana. Semalam entah berapa kali ia dan Jiana saling membaurkan kenikmatan mereka yang pasti pagi ini Bryan msrasa puas, kedepannya ia tak perlu khawatir lagi akan kesusahan mengajak istrinya bercinta karena nyatanya wanita itu kini memberikan semuanya pada Bryan tanpa ia memintanya lebih dulu Jiana sudah mengerti kemauannya
Dengan bibir tak henti bersiul Bryan menuntaskan acara mandinya pagi ini. Ia keluar dengan handuk dipinggangnya dan saat itu bibirnya tersenyum melihat pakaian di atas tempat tidur yang sudah rapi dengan sprei baru warna cream. " Ah Jia tidak salah aku memperkosamu dulu kalau jadinya aku akan sebahagia ini ." gumam Bryan dengan tawa kecilnya lalu memakai pakaiannya yang berada di walk in closet
Memakai pakaian santai yaitu celana pendek hitam dan kaos putih. Bryan segera turun kelantai dua, ia senyum-senyum sendiri melihat istrinya yang sedang duduk santai bersama yang lainnya. Bryan segera mendekat duduk disamping Jiana dan bibirnya langsung menyosor pipi yang kembung karena mengunyah kue itu tanpa malu dihadapan semua orang
Tapi kedekatan itu dihentikan Kya, gadis kecil itu tiba-tiba meloncati perut Jiana untuk duduk dipahanya membuat Bryan menepuk jidatnya." Astaga bagaimana." Bryan tak melanjutkan ucapannya, semakin besar Kya malah semakin jahil dan tak bisa dinasehati
" Jangan seperti itu nanti kamu jatuh bagaimana?" Bryan mencoba bicara dengan suara selembut mungkin
" Tapi Kya tidak jatuh!" sautnya seraya bersedekap dada. Jiana tersenyum melihat itu
" Sayang .. "
" Daddy Kya kan satu bulan lagi ulang tahun."
" Ya Daddy tahu, tapi Daddy tidak mau merayakannya kalau Kya terus nakal dan tidak menurut." saut Bryan memiringkan kepalanya untuk menjangkau wajah Kya
" Kenapa Daddy jahat, Apa Daddy tidak sayang Kya?" tanyanya dengan bibir mengerucut. Bryan tersenyum lucu lalu mencium pipi bakpau Kya
" Kya mau ulang tahun!"
" Daddy Kya mau ulang tahun." celotehnya lagi dengan wajah memelas pada sang ayah
" Kya mau ulang tahun seperti apa?"
" Superhero." teriaknya
" Eehh superhero!"
" Ya superlman!"
" Astaga itu untuk pria." gerutu Bryan menepuk-nepuk jidatnya
" Tapi Kya mau supelman, Kya suka supelman. Supelman sangat tampan." semua orang tertawa dibuatnya
" Memangnya Kya tahu tampan itu seperti apa?"
" Seperti Daddy!" sautnya dengan cengiran khasnya
" Auuuh anak Daddy Blayen benar-benar pintar." ucap Bryan setengah berteriak lalu menciumi pipi bakpau Kya
" Itu Mum yang bilang, Mum bilang sayang Daddy Kya kalena Daddy Blayen sangat tampan."
" Kya kapan Mum bilang begitu." gerutu Jiana mengerucutkan bibirnya
" Ayolah sayang mana mungkin anak kecil akan berbohong." goda Bryan mencubit lengan atas Jiana dengan nakal
" Tidak, aku tidak pernah bilang begitu." elak Jiana dengan jemari mengelus perut buncitnya dan kepala menggeleng cepat
" Ayo mengaku saja!" goda Bryan dan kali ini cubitan itu pindah ke pinggang. Jiana menggeliyat geli karena itu lalu mengulum senyum dan mendekati Bryan
" Bibi Nam. " Jiana tiba-tiba berteriak saat tak sengaja tatapannya tertuju pada bibi Nam dan Pak Deden yang baru saja datang dari kampung. Wanita itu beringus bangkit melepaskan dirinya dari Bryab
" Jia jangan lari!" teriak Bryan panik melihat Jiana yang senang hingga tanpa sadar berlari menuju pintu dan memeluk asisten rumah tangganya itu
"Akhirnya nyonya kembali." ucap Bi Amy dengan kedua mata berkaca
" Maafkan aku bi, hari itu karena aku bibi dan pak Deden terluka." Bi Amy menggelengkan kepalanya cepat
" Tidak Nyah, seharusnya bibi yang minta maaf karena bibi tak bisa menjaga nyonya dan nona Kya." Jiana tersenyum lalu menyuruh bi Amy untuk masuk kedalam
" Istrirahatlah dulu, kalian terlihat lelah." ucap Jiana dan langsung dituruti keduanya. Jiana kembali pada Bryan dan kedua tangannya langsung memeluk Kya dan Bryan. Ia juga ciumi pipi suaminya dengan begitu gemas, Jiana merasa bangga pada Bryan. Pria itu menyelesaikan semuanya dengan baik hingga semuanya kembali seperti semula
Weekend ini mereka semua tak pergi kemanapun. Menghabiskan waktu dirumah dengan bersantai ria menikmati kebersamaan yang sudah lama tak mereka rasakan semenjak masalah yang menimpa rumah tangga Bryan
" Boy, bukankah Queen sudah sangat keterlaluan?" tanya Bulan saat Jiana tak ada, wanita itu sibuk didapu bersama bi Amy membuat makan malam
" Ya wanita gila itu." saut Bryan
" Jadi kamu hanya akan diam saja?"
" Aku sudah memberi mereka sedikit pelajaran karena berani menyentuh Jiana." sautnya dengan seringai licik dibibir
" Apa? jangan macam-macam, apalagi menyangkut hukum." Dean ikut menimpali adik iparnya itu
Bryan mengangkat bahunya acuh." Tidak akan ada yang berani menyentuh Bryan." sautnya sombong sambil menepuk dada
" Cih sombong sekali. Kemarin saja kau akan bunuh diri karena Jiana." ledek Bulan yang mana membuat Dean dan putranya tertawa mentertawakan Bryan
" Itukan hanya sandiwara, aku tidak sebodoh itu harus mengakhiri hidupku hanya karena wanita." saut Bryan
" Oh ya!" Jiana yang datang dari belakang menimpali Bryan membuat wajah itu menciut lalu menoleh kebelakang
" Sayang .. "
" Hanya karena seorang wanita?" tanya Jiana melipat kedua tangannya diatas perut buncitnya
" Hehe sayang itu maksudku emmh ... " Delan terbahak melihat pamannya yang tak berkutik dihadapan Jiana, cinta memang membuat seseorang menjadi tak masuk akal. Pikir Delan
Jiana menghela nafasnya lalu memutar tubuh kembali kedapur. Bryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu menoleh pada semua orang." Memangnya apa salahku?" tanyanya pada sang kakak
" Kau tidak tahu Bryan kalau wanita itu mahluk Tuhan yang paling ribet, kau seharusnya bilang aku rela mati demi Jiana meskipun semua itu bohong dan itu akan membuat mereka sangat senang." Dean mencoba menasehati adik iparnya itu tanpa sadar Bulan sedang menyipitkan kedua mata padanya
" Jadi selama ini kamu berbohong? ucapanmu?" Dean meneguk ludahnya susah payah, sialnya kini jadi dirinya yang menciut karena sang istri
" Aku hanya menasehati Bryan, memangnya salah?" Dean menjawab dengan suara pelannya
Bryan terbahak kencang melihat suami yang takut istri itu lalu ia beranjak kedapur. Ia tersenyum melihat Jiana dan ia mendekat akan melancarkan aksinya dalam merayu Jiana." Jia .. aku bukannya tidak mau mati karenamu, tapi jika aku mati aku tidak akan melihatmu lagi. Sayang aku masih mau menikmati kebahagiaan ini bersamamu." rayunya berbisik ditelinga Jiana tapi wanita itu hanya diam masih menampilkan wajah cemberutnya
" I love you some much .. hidup ataupun mati aku tidak bisa tanpamu." kali ini Jiana terpancing Bryan tak perlu mengeluarkan jurus andalannya karena sangat mudah sekali merayu Jiana, lihatlah wanita itu menoleh dengan senyum manisnya pada Bryan
Cup
Bryan mengecup bibir itu mesra." Nanti malam pakai lingeri ya!" bisiknya dengan senyum nakal dan Bryan selalu merusak suasana romantis mereka dengan otak mesumnya
-
-