Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Bryan adalah Ken



-


-


Pukul 20:30 keduanya baru pulang dan tiba dirumah. Bryan menggandeng sang istri yang terlihat lemah, dalam hatinya ia terkikik lucu. Keduanya masuk kedalam setelah Bryan menutup pintu mobil dan mereka disambut suara tangisan kencang si kembar


" Kalian berdua darimana saja." gerutuan dengan suara teriakan itu membuat Bryan terkejut dan spontan memegang dadanya


" Mom." protesnya


" Kemana saja kalian?" bentak mertua wanita Jiana yaitu Mom Jeny


" Tanyakan saja pada putramu Mom." saut Jiana sambil menoleh dengan wajah lesu pada Bryan


" Hehe, sudah lama kami tak menghabiskan waktu berdua Mom. Si kembar, Kya, mereka selalu mengganggu Mum dan Daddynya." saut Bryan dengan cengengesannya


" Jia, kekamarlah. Zayn tak mau menyusu dengan botol." gerutu Mom Jeny lagi


" Iya Mom." saut Jiana lalu melepaskan dirinya dari Bryan dan memberikan delikan sebalnya pada pria itu


" Boy, kasihan Jiana. Jangan terus membuatnya lelah."


" Mom, hanya malam ini. Aku dan Jiana kan sudah lama ... tidak .. emmm itu." saut Bryan dan tumben sekali terlihat malu pada sang ibu


" Memangnya harus selama itu huh?" Bryan tak menjawab, ia bergerak menggandeng sang ibu


" Mom, aku kan pria perkasa!"


" PEMERKOSA!" Bryan mencebik dengan ledekan itu, sampai saat ini sang ibu masih terlihat marah tentang Bryan yang memperkosa Jiana


" Mandilah, kamu bau keringat!" gerutunya lagi sambil berjingkat naik kelantai atas meninggalkan Bryan


" Astaga, apa semua wanita itu pendendam!" gerutu Bryan


" Kemana saja kamu selama ini, ibumu memang pendendam!" Bryan tersenyum dengan sautan dari belakang tubuhnya yaitu Ken sang ayah


" Benar Dad, aku kira hanya Jiana saja, ternyata semua wanita sama." Kali ini Ken yang tersenyum lalu menggandeng bahu lebar sang putra dengan satu tangannya


Mereka menaiki tangga sambil berbincang hangat, Bryan yang menceritakan Jiana dan Ken yang menceritakan Jeny. Keduanya tertawa dengan pasangan masing-masing mereka. Sang ayah tampak bangga pada sang putra, perubahan itu nyata adanya. Meskipun masih pecicilan namun ayah dengan empat orang anak itu kini sangat bertanggung jawab, tidak pernah neko-neko lagi dan yang pastinya sudah takluk tidak pernah bermain wanita bahkan mungkin untuk melirikpun Bryan terlalu takut pada Jiana


" Aku mandi dulu Dad."


" Iya, setelah itu kita makan malam bersama."


" Oke." saut Bryan lalu berlalu menuju kamarnya begitupun sang ayah


Dikamar sikembar, Mom Jeny duduk dihadapan Jiana yang sedang menyusui Zayn dipangkuannya. Wajah itu tampak lelah tentu Jeny sangat yakin itu adalah ulah putranya


" Ji, maafkan Bryan oke?"


" Kenapa Mom bicara begitu?" Mom Jeny terkekeh lalu menyentuh pipi gemul baby Zayn yang lahap menyesap ****** sang ibu, lihatlah buah dada putih itu dinodai bekas kecupan Bryan membuat sang anak remaja disamping Jiana yaitu Bella terpaku dan langsung menyentuh dadanya sendiri, ia memiliki hal yang sama seperti Jiana, masih membekas belum pudar dan itu adalah ulah keponakan Bryan


" Kamu tahu Ji, Bryan itu sangat mirip dengan ayahnya." Jiana tersenyum


" Bahkan keduanya memiliki wajah yang hampir sama!" Mom Jeny tersenyum lagi


" Sikapnya pun sama Ji, posesive, mudah marah tapi sangat lembut." saut Momy Jeny


" Bryan juga semakin lembut Mom, aku benar-benar mencintai putramu Mom."


" Terima kasih sayang, kamu wanita hebat!" Keduanya saling tersenyum hangat


" Ji, Bryan mirip ayahnya, mereka tak pernah cukup hanya sekali kan?" bisik sang mertua karena ada Bella dihadapan mereka


Jiana tertawa kencang hingga tawa itu mengganggu Zayn membuat bayi tampan itu merengek


" Ssssshhhhhh, Zayn. Mum yang melahirkanmu huh, jangan membela Dad oke?" ucap Jiana membuat Jeny dan Bella tertawa


" Iya Zayn, Daddymu hanya bisa membuatmu saja. Tapi ahh Boy mana bisa membuat Zayn berhenti menangis." Tawa Jiana semakin kencang dengan ucapan mertuanya itu


" Bryan malah semakin membuat Zayn menangis Mom. Bella kamu ingat waktu itu?" Jiana menoleh pada Bella


" Iya, Tuan benar-benar lucu. Dia tidak bisa mengganti popok Zayn dan Chelsea, jadi mereka semua menangis karena terlalu lama. Saat itu Tuan tampak ketakutan .. wajahnya sangat lucu." saut Bella dengan kekehan kecilnya


" Sungguh?"


" Iya Mom, seperti orang gila dia berteriak menggemparkan seisi rumah ini. Astaga aku sungguh tak mengerti dia benar-benar ayah beranak empat." kikik Jiana mentertawakan suaminya


" Bryan memang seperti itu, dia sangat bodoh."


Ternyata percakapan itu didengar Bryan yang baru saja selesai mandi, pria itu tak tahan menyegerakan mandinya hanya untuk melihat anak dan istrinya, lihatlah Bryan hanya memakai handuk dipinggangngya dan mengintip dibalik pintu


" Keterlaluan, mereka membicarakanku. Apa? aku bodoh? Mom benar-benar .." gerutu Bryan lalu memutar tubuhnya berjingkat dengan wajah kesal


Namun hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar, ceceran air yang jatuh dari tubuhnya dilantai membuat Bryan terpeleset dan ..


Brukkkkk


Suara jatuhnya tubuh Bryan membuat semua orang kaget dan langsung menghampiri sumber suara


" Jia .." teriakan itu kian membuat Jiana panik


" Boy, kamu sedang apa?"


" Sayang aku jatuh."


" Bagaimana bisa?" Semuanya tampak ingin tertawa melihat Bryan yang terlungkup dilantai


" Sayang sakit!" teriaknya histeris menggemparkan seisi rumah hingga semua orang keluar dari kamar dan berlari menuju lantai dua


" Boy .."


" Apanya yang patah?" Wajah Jiana tampak panik, sambil menimang Zayn ia mendekat pada Bryan yang dibantu berdiri sang ayah


" Aaahh sakit Dad, pelan-pelan!"


" Astaga, ini benar-benar patah!" Bryan berteriak histeris lagi


" Jangan lebay, mana mungkin patah!" gerutu sang ibu lalu mendekat mencoba menyingkap handuk Bryan untuk melihat burung kesukaan menantunya namun segera ditahan Jiana, wanita itu menggelengkan kepala karena ada Bella, bi Amy dan pak Deden disana. Momy Jeny tersenyum lucu


" Sorry." bisiknya pada Jiana


Lalu Bryan digandeng sang ayah dan pak Deden kekamarnya." Jia .." Bryan menoleh kebelakang menampilkan raut wajahnya yang sedih pada Jiana


" Sebentar sayang." sautnya lalu memberikan Zayn yang tampak sudah kenyang menyusu pada Bella


" Bella, kekamarlah. Tidurkan Zayn." perintah Jiana


" Iya kak." saut Bella


Setelah gadis itu pergi barulah Jiana mendekati Bryan, padanya pria itu selalu manja. Lihatlah langsung menghambur memeluk tubuh Jiana


" Kamu butuh dokter?"


" Bisakah kalian panggilkan dokter?"


" Aku yang akan memanggil dokter!"


" Tidak sayang temani aku." Bryan menahan Jiana lalu menoleh pada ayah dan ibunya


Keduanya saling melirik dan memutuskan untuk keluar dari kamar membuat Jiana segera membawa tubuh besar itu duduk diatas ranjang berhadapan dengannya." Apa sangat sakit? seserius itu?"


Bryan mengangguk dengan manjanya


" Mana coba kulihat!" Bryan menunjuk pangkal pahanya


" Boy .."


" Bagaimana kalau benar-benar patah huh, Jia kamu tidak akan selingkuh kan?"


" Kenapa bicaramu melantur, coba kulihat!" Jiana menyingkap handuk putih itu kesamping sehingga burung yang layu itu terlihat jelas. Jiana menyentuhnya dengan pelan


" Uuuuh sakit!" desis Bryan mencondongkan tubuhnya kebelakang dengan kedua telapak tangan yang juga bertumpu kebelakang menahan beban tubuhnya


" Aku akan pelan-pelan." Jiana mencoba menggerakan adik Bryan sambil membungkukan tubuhnya meneliti benda ajaib yang membuat sikembar ada


" Boy, ini mana mungkin patah!" saut Jiana dengan wajah serius lalu meniupinya dengan pelan, Bryan membelai rambut yang dikuncir kuda itu, ia tersenyum lucu menatap istrinya


" Iya terus, tiupi terus."


" Sakitnya berkurang huh?"


" Masih sakit!" saut Bryan manja. Jiana seperti orang tak ada kerjaan, wanita itu terus menatapi burung suaminya sambil mengelusnya pelan dan sesekali meniupinya dengan begitu lembut


" Uuuhm iya sayang." Jiana mengerutkan dahinya menengadah pada Bryan saat burung yang ia elus-elus itu mulai mengeras dan menegang. Bryan keenakan diperlakukan seperti itu atau pria itu cari-cari kesempatan padanya, Jiana heran kenapa ayah anak mereka lebih manja, selalu ingin bersamanya ketimbang anak-anak mereka


" Masih sakit huh?" tanya Jiana geram, kini pria itu malah memejamkan matanya menghayati elusan Jiana


" Coba jilat, pasti sakitnya akan berkurang." Jiana menggertakan giginya dengan ucapan mesum itu


" Jilat ya huh?"


" Iya uuuhhmm sayang, ayo lakukan .. aaah lakuka-"


" Awwwww." Bryan berteriak kencang dan membuka matanya tatkala adiknya digenggam kuat Jiana


" Jia ampunn, kamu benar-benar mau mematahkannya?" teriak Bryan


" Iya aku akan mematahkannya." Saat itu Bryan beringus bangun hingga genggaman tangan Jiana pada adiknya terlepas, ia loncat kesisi kasur yang lain menghindari Jiana


"Sini aku akan mematahkannya!." Jiana malah kian menjadi, wanita itu mengikuti Bryan, berlari mengejarnya


Alhasil keduanya kejar-kejaran dengan Bryan yang tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Jiana ingin sekali tertawa melihat raut wajah takut Bryan, pria itu mudah sekali ditipu dan seperti kata ibunya Bryan memang bodoh, lagipula mana mungkin Jiana mematahkan benda sakti yang selalu membuatnya keenakan itu


Ceklek


" Kalian sedang apa?" suara seorang wanita membuat keduanya terkejut, Jiana yang sedang berdiri diatas kasur saat mencoba mengejar suaminya itu spontan melompat menghalangi bagian tubuh belakang suaminya sambil merentangkan kedua tangan menghalangi Viona agar tak mendekat


" Viona ada apa?" tanya Jiana dengan wajah gugup


" Tuan Ken bilang, Bryan jatuh!"


" Iya, tapi keluarlah dulu sebentar!" perintah Jiana


Viona tersenyum lucu dengan Jiana yang lugu, tidak tahu saja wanita itu, bahkan dulu Viona pernah melihat bagian depan tubuh Bryan saat pria itu sakit, memangnya siapa lagi yang diperbolehkan untuk memeriksanya jika bukan Viona. Jika dulu Bryan tak punya rasa malu dan kerap memamerkan tubuhnya pada siapapun, namun sangat berbeda dengan sekarang, kini pria itu lebih menghargai tubuhnya untuk tak dilihat wanita lain, hanya istrinya, hanya Jiana yang bisa melihatnya. Lalu ia memutar tubuhnya lagi meninggalkan keduanya sejenak


Cup


Kecupan lembut di puncak kepala itu membuat Jiana tersenyum, sangat lembut hingga jantungnya berdebar kencang." Jangan dipatahkan, nanti tidak bisa main lagi!" bisiknya mesum dan menghancurkan moment manis itu


" Bryyyyyaaaaaaannnnnn!"


" Iya .. kabuuuuur .." saut Bryan berteriak sambil berlari menuju walk in closet


-


-