
-
-
" Kenapa kau menangis?" tanya Bryan mengusap airmata disudut mata Jiana
Jiana menggeleng pelan sambil tak henti menatapi Bryan
" Aku akan berubah, demi Kya dan pernikahan kita. Aku sungguh mau berubah." tutur Bryan menyentuh dan menggenggam jemari Jiana, wanita itu hanya terdiam menatap intens Bryan
" Apa aku benar-benar keterlaluan malam itu?" tanya Bryan hingga tawa kecil lolos dari bibir Jiana dan jemari itu mendarat dipipi kiri Bryan menamparnya dengan pelan
" Tidak akan ada Kya kalau kau tidak keterlaluan." saut Jiana membuat Bryan tersenyum dan secepat kilat mencuri kecupan dibibir Jiana
" Pukul aku lagi, terus, terus dan lakukan berulang sampai kau tidak membenciku." Bryan menarik jemari yang tadi menamparnya itu dan ia tujukan ke pipi lalu ke dadanya
" Pukul lagi."perintah Bryan namun Jiana malah menarik tangannya dan beranjak berdiri
" Bukankah kau akan mengajak putri kita jalan-jalan?" tanya Jiana
" Tidak, sebelum kau memberiku sebuah ciuman." saut Bryan tersenyum nakal sambil menarik kencang tangan Jiana hingga wanita itu duduk dipangkuannya
" Lepaskan aku, kenapa kau selalu seperti ini." gumam Jiana meronta
" Karena aku tidak tahan." bisik Bryan dengan jemari yang mulai merayap ke tengkuk Jiana, tatapan itu kembali menyihir Jiana hingga wanita itu hanya diam tak menolak dan menghindar saat bibir itu mulai mendarat dibibirnya
" Daddy. " suara teriakan Kya kembali mengganggu Bryan, pria itu berjingkat kaget begitupun Jiana
" Astaga." gumam Bryan langsung menjauhkan bibirnya dengan menurunkan Jiana dari pangkuannya
Gadis kecil itu berlari kencang mendekati Bryan dan memukul perut Bryan kencang dengan tinju kecilnya
" Auhhhh." teriak Bryan pura-pura kesakitan
" Daddy tidak pelnah mengajak Kya. " teriak Kya marah memelototi Bryan hingga pria itu tergelak kencang karenanya
Jiana jadi ikut tertawa melihat keduanya sambil melenggang menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Hal itu tak lepas dari pandangan Bryan, seperti biasa otak itu kotor jika melihat lekuk tubuh Jiana yang berjalan, menggoda Bryan karena ia begitu merindukan tubuh itu. Dulu ia pernah merasakannya meski tak melihat lekuk tubuh itu dengan jelas
" Sayang, biarkan Daddy mandi sebentar hmm? bukankah kita akan pergi main sungguhan?"
" Nanti Daddy belsama Mum dan beltengkal lagi." sautnya merengut, Bryan segera menarik tubuh itu mendekat dan mengusap puncak kepala Kya
" Tidak, Mum dan Dad sudah berbaikan. Kami tidak akan bertengkar lagi."
Lalu tak lama Jiana kembali dengan penampilannya yang sudah rapi. Wanita itu memakai dress pas body brukat dengan warna navi dan hal itu menarik perhatian Bryan, bibir pria itu menganga lebar memperhatikan lekuk tubuh Jiana tapi sedetik kemudian ia mengatupkan bibirnya, ia tak rela tubuh indah itu akan jadi tatapan lapar pria lain
" Pakailah yang tertutup, kau itu sudah bersuami bukan wanita lajang lagi." perintah Bryan sambil mengibaskan tangannya mengusir Jiana agar kembali mengganti pakaiannya
" Apa hubungannya?" tanya Jiana mengernyit aneh
" Tidak usah banyak bertanya, ganti saja." saut Bryan memelototi Jiana hingga wanita itu memutar tubuh dan kembali ke walk in closet
Bryan tersenyum senang Jiana menurutinya lalu ia melirik putrinya
" Mum sangat cantik." puji Kya
" Ya dan Daddy tidak mau pria lain melihatnya, Kya memangnya mau punya ayah tiri?" tanya Bryan
" Tidak mau." sautnya kencang
" Ya .. jangan mau, ayah tiri itu jahat. Dia akan mengurung Kya di ruang bawah tanah. Jadi kalau Daddy tidak ada dirumah, Kya jangan pernah membiarkan Mum bersama pria lain ok?" tanya Bryan mencuci otak putrinya
" Yes Daddy." sautnya bersemangat
" Kya, apa mum pernah dekat dengan pria?" tanya Bryan
" Kenapa?"
" Kya tidak mau punya ayah tili, Kya selalu menggigit pacal Mum." saut Kya sambil menyengir pada Bryan, membuat Bryan tertawa
" Dengan gigi ompongmu ini?" tanya Bryan menunduk menciumi pipi Kya dengan gemas membuat Kya cekikikan dengan begitu centilnya
Bryan sangat suka mendengar cekikikan putrinya, itu selalu membuat hatinya bergetar. Hingga Bryan terus mengulangi menggoda Kya dan cekikikan itu memenuhi kamarnya dan Jiana
Jiana menggelengkan kepala dengan senyum dibibir melihat pemandangan yang mulai terasa indah untuknya. Ia melipat kedua tangannya didada melihat Bryan yang tak henti menggoda putri kecilnya, entah kenapa wajah suami yang ia nikahi dua bulan lalu itu terlihat tampan dimatanya. Jiana menggelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan pikirannya akan pesona Bryan
Ia tersadar saat Bryan mendekat, pria itu menyeringai nakal menatapi Jiana yang entah mengapa membeku saat didekatinya
Cup
Bibir Bryan mendarat kembali dibibir Jiana, kini wanita itu hanya memakai pakaian yang longgar dan tak menampilkan lekuk tubuhnya, hanya sebuah kemeja coklat berlengan panjang dan rok jeans selutut
" Cantik." pujian menyusul setelah kecupan lembut dibibir Jiana
Lalu Bryan melengos meninggalkan Jiana yang menahan nafas dengan perlakuan Bryan padanya, ia memegangi dadanya yang mendadak berdebar-debar
" Tidak, tidak jangan seperti ini." gumam Jiana memukul pelan dadanya yang terus berdebar
Kini Bryan telah selesai dengan setelan kasual hitamnya. Ia tersenyum mendekati kedua wanita yang kini memenuhi pikirannya. Kedua wanita itu hanya terdiam di kursi beranda rumah sambil memandang halaman rumah mereka yang tak terlalu luas namun cukup untuk Kya berkeliling dengan sepeda
" Ayo kita berangkat." ajak Bryan berdiri disamping Jiana. Kya langsung berbinar melihat ayahnya yang tampan, gadis kecil itu turun dari pangkuan Jiana dan mengacungkan kedua tangannya ingin dipangku Bryan
Bryan maupun Jiana saling melempar senyum lalu Bryan memangku Kya dan melangkah menuju mobilnya yang kebetulan masih terparkir dihalaman. Jiana memperhatikan punggung Bryan dalam diam, sejak tadi jantungnya tak berhenti berdebar
Tiba dikebun binatang Bryan segera memarkirkan mobilnya. Ia keluar bersama Kya, menurunkan gadis kecilnya lalu meraih jemari Kya untuk ia tautkan dengannya, sementara Jiana hanya mengikuti mereka dari belakang
Kya terlihat sangat senang, gadis kecil itu tak henti bersorak dan menunjuk beberapa binatang didalam kandang mereka membuat Jiana yang dibelakang tak henti tersenyum memperhatikan putrinya
" Daddy itu sepelti Angli bild" teriak Kya menunjuk sebuah burung berwarna merah
Bryan tertawa pelan." Sayang itu namanya burung kakaktua."
" Lalu dimana Angli bild Kya ingin melihatnya." saut Kya
" Hey angli bild itu kartun tidak ada didunia nyata." saut Bryan seraya mengusap puncak kepala putrinya lalu ia melirik Jiana yang berada dibelakangnya, ia raih jemari itu ia tarik mendekatinya
" Berdirilah disampingku, kau seperti baby sister Kya kalau dibelakang." gerutu Bryan menggenggam jemari itu erat
" Daddy dimana gajah?" tanya Kya menengadah
" Ayo kita melihatnya." ajak Bryan, kini ia meraih tangan Kya dengan satu tangannya yang lain. Namun gadis itu malah berontak dan berlari ke tengah antara dirinya dan Bryan, ia melepaskan genggaman tangan Bryan pada Jiana dan mengganti dengan tangannya. Tangan kanan memegang tangan Jiana dan tangan kiri memegang tangan Bryan
Senyuman kembali menghiasi bibir Bryan dan Jiana melihat putrinya yang selalu ingin jadi pemisah mereka. Lalu mereka melanjutkan jalan kaki untuk melihat jenis-jenis binatang di sana sambil sesekali Bryan memberitahu pengetahuannya pada Kya nama dan jenis hewan-hewan yang mereka temui yang tidak diketahui Kya
" Dad gajah." teriak Kya melengking sambil menunjuk dengan girang membuat pengunjung disana tersenyum memperhatikan anaknya yang terlihat lucu
" Ya Kya pintar." puji Bryan lalu ia berjongkok
" Apa Kya mau naik ke punggung gajah?" tanya Bryan
" Kya takut." sautnya dengan bibir mengerucut lucu
" Auuh anak siapa ini kenapa selalu menggemaskan." pekik Bryan pelan sambil mencubit pipi Kya dengan kedua tangannya
" Daddy Blayen dan Mum Ji." saut Kya menyengirkan gigi ompongnya
-
-