
-
-
Oek
Oek
Oek
Oek
Oek
Jiana benar-benar muntah ketika Bryan yang keenakan malah dengan sengaja meledakan cairan putih kental itu didalam mulut Jiana
" Uhh i am sorry baby .." ucapnya sembari cekikikan dan merapihkan kembali kedua celananya yang dilorotkan Jiana
Jiana memukul kedua paha itu dengan galaknya, ia menengadah dengan mulut basah. Bryan membungkukan badan menangkup wajah Jiana, bibirnya tersenyum lucu melihat wajah garang istrinya
" Aku benar-benar menikmatinya sayang, kamu terlalu pintar." ucapnya dengan kekehan kecil lalu menarik tubuh Jiana, ia memangku wanita itu mendudukannya dimeja pantry
" Thank you."
Dan tamparan Bryan dapatkan membuatnya kian cekikikan." Tamparan cinta lagi .." bisik Bryan namun Jiana hanya diam menatapnya datar
" Bagaimana rasanya hmm?"
" Coba saja sendiri!" tantang Jiana. Bryan terbahak lalu memeluk tubuh Jiana
" I love you .." bisiknya, tapi Jiana malah mencebikan bibirnya, ia benar-benar kesal Bryan melakukan itu
Wanita itu sedikit mendorong tubuh Bryan lalu turun dari meja pantry melanjutkan memasak makan malamnya. " Jia kamu marah?"
Jiana tak menjawab tapi bibir yang mengerucut seolah jawaban untuk Bryan membuatnya panik. Ia beringus mendekat memeluk tubuh itu dari belakang." Maaf aku tak akan mengulanginya lagi." bisik Bryan
Jiana terus tak menjawab
" Jia .."
" Sayang .."
" Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh .."
Jiana tertawa tiba-tiba tapi tawa yang menakutkan untuk Bryan
" Kamu pikir aku mau melakukannya lagi, percaya diri sekali."
" Sayang kamu marah karena hal sepele itu?"
" Lepaskan aku, menempel terus!" gerutunya, Bryan mengulum senyumnya tapi wajahnya terlihat panik, tidak biasanya Jiana marah karena hal seperti ini
" Jia .." Bryan menggoyang tubuh Jiana gemas dengan kedua tangannya
" Diam .." Jiana menoleh dengan wajah garangnya kebelakang membuat Bryan mengunci bibirnya, bertumpu dagu dengan manja dipundak Jiana
Keduanya hanya dengan Bryan yang memperhatikan kedua tangan cekatan istrinya." Kenapa tanganmu?" tanya. Jiana mengangkat satu tangannya keatas
"Kau lihatnya ini kenapa?"
" Kenapa kamu jadi kasar seperti ini?" gerutu Bryan, benar-benar tak suka dengan ucapan Jiana
Wanita itu malah mendelik sebal padanya." Sampai segitunya kamu marah karena hal sepele itu."
" Hal sepele? sampai aku muntah seperti itu hal sepele untukmu?" Bryan tak habis pikir dengan istrinya
" Jangan harap aku mau melakukannya lagi." saut Jiana dan pegangan kedua tangan itu melemah pada Jiana
" Ya aku juga tak akan memintanya lagi." saut Bryan lalu pergi meninggalkan Jiana
" Jangan harap, benar-benar keterlaluan." gerutunya lalu membanting spatula ke meja pantry, ia mematikan kompor dan menyusul Bryan menuju lantai atas
Jiana benar-benar kesal karena Bryan tak menepati ucapannya, tadi pria itu malah dengan sengaja menekan kepalanya. Bryan selalu liar dan Jiana tak menyukainya
Ia memutuskan kekamar sikembar. Saat itu ada Bella didalam sedang meringkuk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya. Melihat Jiana, Bella beringus bangun dan duduk, gadis itu merasa canggung pada Jiana karena melihat hal yang tak sepantasnya ia lihat
" Kamu sudah makan malam?" tanya Jiana ikut mendudukan dirinya disamping Bella
" Emmh iya."
" Dimana?"
" Eeemmmmhh .." Bella jadi terbata karena nyatanya perutnya belum terisi sedikitpun
" Aku tidak lapar."
" Meskipun tidak lapar, kamu jangan sampai melewatkan makan malam." Bella mengangguk dengan senyum manisnya, wanita didepannya ini meskipun memiliki wajah jutek namun pada kenyataanya Jiana sangat baik dan perhatian dalam hal kecil sekalipun, padahal Bella bukan bagian dari keluarga ini
" Emmh kak Jia, maaf itu .." Bella menunjuk dagu Jiana
Spontan Jiana mengusap dagunya yang basah karena Bryan." Ah ini sepertinya krim ya, tadi Bryan main-main dengan krim vanila. " ucap Jiana dengan wajah gugup menutupi kemesumannya bersama Bryan. Jiana pikir Bella masih gadis polos, ia tak akan mengerti bukan dengan hal seperti ini
Bella memaksakan senyum manisnya pada Jiana, ia berpura-pura saja percaya apa yang dikatakan bosnya itu." Tuan selalu bercanda ya .. "
" Ya begitulah sampai bercandanya sangat menyebalkan." sautnya lalu beranjak berdiri
Sejenak Jiana memperhatikan bayi-bayinya yang terlelap dalam box bayi
" Bella, kalau Zayn, Zeen dan Chelsea menangis, kekamarku saja ya?"
" Iya kak."
" Aku lupa belum menabung asiku."
" Iya ." Jiana segera keluar kamar, ia menuju kamarnya. Makan malam yang akan ia angankan romantis itu kini berakhir menyebalkan karena Bryan, Jiana jadi tak bernafsu makan karena pria itu
Apalagi melihat Bryan yang sudah tergulung selimut bulunya dikamar. Bukannya merayu Jiana, pria itu malah balik merajuk padanya seperti anak kecil
Bruk
Jiana menutup pintunya dengan kencang membuat tubuh Bryan berjingkat kaget." Dasar singa betina." gerutu Bryan tapi ia hanya bisa mengucapkannya dalam hati
Bruk
Bryan membuka kedua matanya dan mendengus saat Jiana kembali menggebrakan pintu kamar mandi." Apa wanita selalu seperti itu." gerutu Bryan lagi lalu menyelimuti dirinya hingga kepalanya tenggelam dibalik selimut
Tak sampai sepuluh menit Jiana kembali kekamar. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi Bryan. Rasanya kesal karena pria itu tampak acuh tak memperdulikannya sedikitpun padahal disini yang salah adalah Bryan, pikir Jiana
Dengan sekuat tenaganya ia menarik selimut hingga selimut itu melorot dari tubuh Bryan. Saat itu juga Bryan beringus bangun dan menoleh pada Jiana dengan wajah kesalnya." Jia ayo kita bicara." tarik Bryan pada lengan Jiana
" Aku mau tidur." sautnya ketus
" Bukankah kita belum makan malam?"
Tak ada jawaban dari Jiana kian membuat Bryan kesal, ia memijit pelipisnya
." Jia .." Bryan mulai melunak
" Aku minta maaf, aku tidak akan mengulaingi lagi. Aku tidak akan memintanya lagi." Jiana masih tak menjawabnya
" Jangan seperti ini ." Bryan mendekati Jiana, menumpu dagunya dilengan atas wanita itu. Sejak ia bucin pada Jiana, ialah yang selalu mengalah dan meminta maaf duluan
" Aku tidak bisa seperti ini Jia, jangan mendiamkanku."
" Aku tidak suka Bryan, kenapa kamu selalu melakukannya. Aku sudah bilang aku tidak suka kalau kamu-" Jiana tak melanjutkan ucapannya
" Kenapa kamu jijik dengan suamimu?"
" Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja beberapa orang berbeda pandangan dalam sek*. Kamu tidak bisa memaksa seseorang yang tidak suka untuk melakukannya. Sama seperti aku, aku tidak pernah memaksamu bukan? aku-"
" Iya iya maaf aku benar-benar minta maaf." Bryan memelaskan wajahnya, entah sudah berapa kali ia meminta maaf pada Jiana
Akhirnya Jiana mau menatap Bryan, ia membalikan tubuhnya. Saat itu ibu jari Bryan hinggap dibibirnya, mengusapnya lembut lalu mengecup bibir itu dalam." Dengar, mulai sekarang kita harus saling terbuka. Apa yang aku suka dan apa yang kamu suka. Apa yang kamu sukai dan tidak, kita harus saling jujur jadi pertengkaran seperti ini tak akan terjadi lagi."
" Berjanjilah kamu akan selalu menempati ucapanmu, tadi kamu mengingkarinya!"
" Itu yang membuatmu marah?" Jiana mengangguk pelan
" I'm sorry huh, aku melupakannya." Jiana kembali mengangguk sembari membelai pipi Bryan
" Kamu tidak mau makan malam?"
" Sebenarnya aku sangat lapar." Jiana terkekeh mencubit pelan pipi Bryan
" Kalau begitu ayo kita makan malam." Ajak Jiana
" Ya tapi suap-suapan ya?"
" Kamu selalu manja." sautnya sambil menuruni ranjang. Bryan mengikuti Jiana menggandenga wanita itu kedalam dekapannya. Keduanya saling tersenyum, ini pertengkaran kecil mereka setelah sekian lama, tapi Bryan yang selalu mengalah membuat pertengkaran itu tak berlarut lama. Bryan hanya perlu menurunkan sedikit egonya pada sang istri demi kedamaian hidup rumah tangganya dan Jiana
-
-