
Bagi Bryan suasana romantis takkan cukup hanya dengan bercengkrama. Tatatapan pria itu mulai menyala memandangi wajah Jiana yang sedang menempel didada atasnya
" Jia, memangnya kamu tidak kepanasan."
" Jangan bercanda, malam ini sangat dingin."
" Buka mantel ini."
" Boy." Jiana menengadah menatap Bryan
" Kamu hanya butuh selimut hidup." Jiana terbahak kencang dan memukul dada Bryan
" Selalu saja beralasan."
" Romatis bagiku adalah bercinta denganmu." Jiana memukul lagi dada itu
" Oh ayolah sayang." Rengek Bryan namun Jiana malah diam dan tersenyum membuat jemari itu nakal merambat pada bokong Jiana yang memakai piyama. Jiana memukul lagi dada Bryan lalu melepaskan pelukannya
Tatapannya kebawah pada pangkal paha lalu mengelus pelan pangkal paha itu yang mana membuat kej*antanan sang suami mulai mengeras. Jika menolak pun percuma karena Bryan pantang menyerah untuk urusan ranjang
Perlahan Bryan melepaskan mantel Jiana menyisakan piyama tidur Jiana yang berwarna merah maroon. Ia menarik dagu runcing Jiana untuk ******* bibirnya, sedangkan jemari Jiana mulai masuk kedalam celana Bryan, mengelus benda pusaka yang membuat keempat anaknya hadir kedunia ini
Jiana dan Bryan melakukannya dengan tempo lambat karena ingin benar-benar menikmati malam ini. Jiana menarik bibirnya lalu membuka mantel Bryan menyisakan piyama tidur abu-abu tua. Wanita itu naik kepangkuan Bryan, langsung membenamkan wajahnya dileher Bryan. Sudah lama hidup bersama Bryan tentu Jiana sudah sangat lihai dalam memuaskan suaminya karena Bryan mengajarinya banyak hal
Wanita itu menggerak tubuhnya dengan sensual dipangkuan Bryan menggoda sesuatu yang sudah minta untuk dibebaskan. Bryan hanya bisa menggeram mencengkram karepet bulu menikmati sentuhan Jiana yang Bryan rasa tak ada duanya
Lalu Jiana turun, ia menarik kedua celana Bryan kebawah
" Aaahh sayang, pintar sekali." Racau Bryan dengan kepala tak diam kadang keatas kadang kebawah pada Jiana yang sedang main bersama adik kecilnya
Tak seincipun yang Jiana lewatkan, ia menyentuh semuanya dengan bibir dan lidahnya hingga Bryan tak berhenti meracau, pria itu memang tipe berisik saat bercinta, pikir Jiana. Padahal Jiana tak tahu Bryan hanya seperti itu saat bersamanya
Jiana seakan puas mendengarnya, ia semakin gencar, kali ini ia bangun mencium bibir Bryan, dibawah sana ia memakai jemarinya untuk memuaskan Bryan
" Sudah mau keluar huuumm?" Goda Jiana
" Ah mana mungkin Jia." Saut Bryan menatap Jiana, dalam sekali dorongan ia berhasil membuat Jiana terlentang diatas karpet
Jiana tersenyum mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan. Pria itu mulai main dilehernya, menciumminya dengan rakus sambil jemarinya tak diam membuka kancing piyama Jiana
" Sudah kubilang jangan memakai bra saat tidur." Gerutu Bryan membuat Jiana tertawa
" Apanya yang lucu." Gerutu Bryan lalu menaikan bra itu keatas. Tatapannya lapar pada gunung kembar Jiana yang besar, dengan kedua jemarinya Bryan memijat putting Jiana hingga airsusu menetes dari sana. Bryan segera menjilatnya satu persatu
"Pantas saja sikembar sangat menyukainya. Ini memang nikmat." Wajah Jiana memerah dengan pujian yang setiap kali Bryan lontarkan saat mereka bercinta, pria itu selalu memuji kemolekan tubuh Jiana dalam hal apapun
Sang istri mulai merintih, tubuhnya mulai menggeliyat dengan permainan nakal Bryan dibuah dadanya
" Boy, uhmmm."
" Ini belum seberapa sayang." Saut Bryan mengangkat wajah melihat wajah Jiana yang sangat bergairah
" Kamu mau aku menyentuhmu dimana?" Jiana benar-benar malu ia tak mampu berkata-kata
" Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kamu menjawabnya." Jiana mengernyit kesal. Sedangkan Bryan mengulum senyum sembari memilin satu puttting Jiana
" Aah sentuh aku Boy."
" Dimana? Dimana aku harus menyentuhmu sayang." Goda Bryan dengan suara parau yang semakin membakar gairah Jiana
" Masukan, masukan sekarang." Saut Jiana terengah, ia butuh pelepasan. Bryan merasa senang bila sisi liar Jiana sudah keluar
" Tidak semudah itu sayang." Bisik Bryan lalu ia mengangkat tubuh Jiana dan mendudukannya disofa
Bryan membuka lebar kedua paha Jiana, tapi ia tak melakukan apapun. Ia hanya menatap daging merah lembut kesukaanya, Jiana benar-benar malu kali ini, ia sudah tak sabar
Akhirnya Jiana hilang kesabaran, ia mendorong Bryan hingga pria itu terlentang. Jiana menaikan tubuh itu untuk menyatu dengan Bryan. Pria itu tak henti tersenyum nakal melihat keliaran istrinya
" Aaahh Fu.ck." Racau Bryan saat Jiana menyatukan tubuh mereka, jika Jiana jangan ditanya lagi, wanita itu menjerit histeris. Milik Bryan selalu membuatnya merasa perih dan merasa nikmat bersamaan
Sambil memegang dada Bryan dengan kedua tangannya, Jiana mulai menggerakan pinggulnya. Dengan pakaian keduanya yang sudah sangat berantakan
" Bryan."
Perlahan Bryan berlutut diantara kedua kaki Jiana, membuka lebar kedua paha Jiana dan menyusupkan wajahnya. Sejak tadi ia belum menyentuh kesukaannya, ia ingin meneguk rasa gurih bercampur asin cairran cinta Jiana
" Uuhhmmm teruss, aku tidak tahan." Jiana mulai meracau menyulut gairah Bryan, pria itu semakin semangat membuat Jiana meraih klimmaks yang luar biasa
" Aaaahh Bryan." Bryan meneguk habis ****** ***** yang banyak itu menyesapnya kuat, tubuh Jiana menegang luar biasa
Bryan mengusap bibirnya yang basah lalu menarik Jiana hingga wanita itu jatuh kepangkuannya
" Baru sekali saja kamu sudah lemas seperti ini hmm?" Bisik Bryan lalu mencium telinga Jiana, gairah wanita itu bangkit kembali karena Bryan memancingnya. Jiana memeluk leher Bryan, posisi mereka berhadapan, menyusupkan kembali wajahnya keleher Bryan, sementara pria itu mulai menyatukan kembali miliknya dan Jiana
" Aaaahhh Bryan." Jiana menjerit lagi, jemarinya mencengkram rambut belakang Bryan dengan kuat
" Shiiittt sempithhhhhh." Racau Bryan lalu mengangkat bra Jiana keatas dan membenamkan wajahnya di buah dada Jiana sembari menggerakan tubuhnya untuk mengoyak kewanittaan istrinya yang telah benar-benar basah hingga permainan Bryan menimbulkan suara kecipak mesum
" Daddy." Jiana dan Bryan terkejut bukan main mendengar suara Kya. Keduanya menoleh dan melihat pada Kya dengan wajah tegang
" Astaga." Gumam Jiana mengusap dadanya ketika kedua mata Kya masih terpejam, gadis kecil itu hanya mengigau
" Jia kamu terlalu berisik!" Jiana menampar pelan pipi Bryan
" Memangnya kamu tidak!" gerutunya
" Disini tidak akan aman Jia." saut Bryan bangkit dengan Jiana dalam gendongannya
" Mau kemana?" bisik Jiana namun Bryan tak bergeming, pria itu berjalan lurus
" Jangan terlalu jauh."
" Syyuuuutttt berisik!" Bryan mencubit bibir itu, Jiana menepisnya pelan. Gerakan jalan Bryan mengoyak dibawah sana, Jiana menggeliyatkan tubuhnya merasa geli dan nikmat disaat bersamaan
Bryan membawa Jiana kedapur yang lampunya menyala terang. Jiana jadi bisa melihat dapur dengan suasana serba tradisional itu. Lalu Bryan mendudukan Jiana diatas meja pantry, sejenak ia melummat bibir Jiana yang selalu terasa manis sebelum melanjutkan kembali permainan mereka
Untungnya dalam vila itu hanya ada mereka dan anak-anaknya. Sehingga suara erotis keduanya tak ada yang mendengar kecuali binatang-binatang liar diluar sana
" Aaah i love you some much." Bisik Jiana, lalu tubuhnya tumbang pada meja pantri, terlentang setelah detik yang lalu ia mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa bersama Bryan
" Aaaahh." Jiana mendengar suara parau itu ketika Bryan menjauh melepaskan penyatuan mereka, Jiana melihat kebawah pada adik Bryan yang masih menegang bak tiang bendera dan masih basah oleh cairannya dan Bryan. Jiana yakin, benda panjang dan besar itu masih belum puas jika hanya sekali main
Jiana hanya menghitung hingga nafas mereka kembali teratur sambil memperhatikan Bryan yang menatap kewanitaannya yang memerah, Bryan selalu berkata sangat menyukai itu. Lihatlah kini Bryan kembali menarik Jiana, wanita itu tak memiliki kesempatan untuk menolak
Bryan membalikan tubuh itu membelakanginya dan dalam sekali hentakan pria itu memasuki Jiana lagi. Jiana hanya menggigit jemarinya pelan, rasa nikmat, perih, panas bercampur menjadi satu
" Ini benar-benar hangat." Racau Bryan menyibak rambut Jiana kesamping yang lain, menyusupkan wajahnya dileher Jiana. Lalu kedua tangan yang dipinggang Jiana naik pada buah dada, meremmasnya kasar. Matanya terpejam dalam menikmati penyatuan yang membuat kewanittaan Jiana kembali berdenyut, Bryan dapat merasakan itu
Lalu ia mulai bergerak untuk mengejar kembali pelepasaannya bersama Jiana dengan berbagai gaya yang menantang dan liar yang selama ini menjadi fantasinya dalam bercinta. Bryan mulai melakukan hal-hal seperti itu sekarang ketika tahu keliaran istrinya
Jiana mulai kewalahan meski ia sangat menyukainya. Hal ini menjadi tidak membosankan untuk percintaan mereka. Jeritan-jeritan histeris Jiana keluarkan, mengingat betapa panasnya malam yang tak biasanya bersama Bryan. Jiana baru tahu sisi liar dan kasar suaminya, tapi terlepas dari itu Jiana selalu menyukai permainan suaminya
Kedua tangan Jiana mulai berpegangan kuat pada pundak Bryan, mereka melakukannya dengan posisi berdiri." Aahh Bryan aku tidak tahan."
" Sebentar Jia." Bryan memacu gerakannya hingga buah dada Jiana terasa mau lepas dari tempatnya. Lalu memangku Jiana menidurkan tubuhnya dilantai yang dingin, Jiana sedikit meringis membuat Bryan tersenyum dan memiringkan tubuh Jiana
Untuk beberapa saat tangannya nakal dibokong Jiana, sebelum akhirnya
" Aaaaaaahhh Fu.ck!!!!" Bryan mengumpat betapa luar biasa pelepasaannya bersama Jiana, matanya terpejam dalam, satu tangannya mencengkram paha dan yang lain mencengkram satu buah dada Jiana
Wanita itu terkulai lemas dengan nafas tersengal." Aku mau tidur." Ucapnya lemah
" Ash you wish honey." saut Bryan melepaskan dirimya lalu membungkuk untuk mencium kening Jiana
" Hey I love you." Bisiknya tapi Jiana sudah tak berdaya, wanita itu memejamkan matanya yang terasa berat
-
-