
-
-
" Queen meskipun kau adik Jiana, bukankah tidak seharusnya kau seperti ini? apalagi kau berniat tinggal dirumah kakakmu yang sudah bersuami." suara Bulan dibelakang tubuhnya membuat Queen menoleh dan berbalik. Dengan tanpa malu ia tersenyum pada semua orang termasuk Jeny
" Maaf, aku hanya ingin lebih dekat dengan kakakku, aku tak pernah bertemu dengan kakak sebelumnya." saut Queen lembut, lalu ia mendekat pada Jeny meraih kedua tangan wanita itu dan tersenyum begitu lembut
" Aku sangat merindukan Mom." ucapnya terlihat tulus pada wanita yang hanya diam terpaku
" Queen, Bryan belum memberitahu Jiana semuanya. Bisakah kamu-"
" Aku akan merahasiakan semuanya, hubunganku dan Boy." saut Queen membuat Jeny tersenyum tapi tidak dengan Bulan, wanita itu terus menatap curiga pada Queen. Pasalnya penampilan Queen sudah seperti wanita penggoda, memakai pakaian ketat merah menyala dan sangat seksi sehingga punggung dan kedua paha wanita itu terlihat. Dulu Queen masih polos dan sopan santun dalam berpakaian, entah apa yang merubahnya jadi bar-bar seperti itu, pikir Bulan
" Daddy dan Mum lama sekali." gerutu Kya dengan bibir mengerucut membuat Dean terbahak dan mencubit pipinya
" Coba Kya lihat, jangan-jangan mereka berpacaran lagi." saut Dean
" Daddy ... Mummm.. " teriak Kya membuat semua tertawa tapi tidak dengan Queen, wanita itu hanya tersenyum menatap buah hati mantan kekasihnya yang wajahnya percis sama dengan pria yang masih ia puja sampai detik ini
Sementara Bryan dan Jiana sedang didalam mobil, Bryan masih berusaha membujuk Jiana yang merajuk karena ucapannya
" Baiklah, baiklah adikmu boleh ikut. Berhentilah marah seperti ini." ucap Bryan menangkup wajah Jiana keatas
" Sayang .. " panggil Bryan selembut mungkin
" Jangan marah seperti ini kumohon."
" Jiana .. "
" Itu karena kau menyebalkan."
" Iya maafkan aku. Pukul aku." Bryan menuntun jemari itu untuk menamparnya membuat Jiana tiba-tiba tersenyum. Bryan segera membawa Jiana kedalam pelukannya dan mencium puncak kepala Jiana
" Maaf, apa ucapanku menyakitimu?"
Jiana menggelengkan kepalanya pelan
" Kau sangat baik Jiana, kau benar-benar baik." puji Bryan membuat senyuman kembali terbit dibibir Jiana
Lalu Bryan melajukan mobilnya menuju halaman dimana semua orang berada. Ia membuka jendelanya
" Apa yang kalian tunggu, kenapa hanya diam? bukankah sudah terlambat untuk pergi?"
" Iya dan ini semua karena kau yang terus mengulur waktu." gerutu Bulan tapi ia juga tak dapat menahan senyumnya melihat Jiana yang menempel dipelukan Bryan
" Jadi kita tidak jadi pergi? kalau tidak jadi aku akan melanjutkan acara ronde ketigaku bersama Jiana." saut Bryan dengan tawa. Jiana yang malu mencubit pinggang Bryan dengan gemasnya
" Aaww sayang kau nakal sekali." ucap Bryan beralih pada Jiana, tatapan itu nakal menatap lekat wajah cantiknya
" Dasar gila." umpat Bulan lalu ia mengambil alih Kya dari pangkuan Dean. Bersama Pevita dan Delan ia mengikuti Dean menuju mobil mereka
Delan dan Pevita duduk dibelakang, selain pada Dean Pevita juga sangat manja pada kakaknya. Gadis itu tak pernah malu menggelendoti Delan yang selalu sibuk dengan ponsel ditangannya
" Berhentilah bermain ponsel." gerutu Bulan menoleh kebelakang
" Aku sedang belajar." saut Delan tanpa melihat membuat Bulan geram dan merampas ponsel ditangan Delan dengan gerakan cepat
" Mamii kenapa mamii sangat menyebalkan." gerutu Delan mendelik kesal
" Onty menyebalkan." Kya ikut menyahut dengan cekikikannya yang lucu membuat mobil itu dipenuhi tawa termasuk Delan yang ikut tertawa
" Kenapa lucu sekali anak siapa ini." ucap Bulan memeluk dan mencium pipi Kya gemas hingga cekikikannya melengking keras memenuhi mobil Dean
Bryan mulai melajukan mobilnya dengan satu tangan setelah Queen masuk dan duduk dibelakang. Tangan yang lain tak terlepas menggandeng Jiana yang juga memeluknya. Bryan dan Jiana hanya saling melirik, Jiana menengadah dan Bryan menunduk dengan sesekali bibir Bryan menyentuh puncak kepala Jiana
" Apa Kya tidak akan menangis?" tanya Bryan membuka suaranya
Bryan tersenyum, suara Jiana kini lembut sangat berbeda dengan pada masa awal mereka menikah
" Kenapa?" tanya Jiana yang melihatnya
Bryan menggelengkan kepalanya." Kau sangat cantik." puji Bryan membuat Jiana tersipu malu dan mencium pipi kiri Bryan
" Lagi emmmhh." ucap Bryan manja
Cup cup
" Terus saja sampai kita sampai. Aku tidak keberatan." ucap Bryan dengan tawa pelan membuat Jiana juga ikut tertawa dan kian melingkarkan kedua tangannya diperut Bryan dan meletakan kepalanya dibahu kekar Bryab seakan Queen yang dibelakang adalah koper yang tak bisa melihat dan bicara
"Seharusnya aku bukan yang berada dipelukanmu? seharusnya aku bukan yang menikah denganmu bukan kakakku dan seharusnya aku yang melahirkan anakmu bukan Jiana. Bryan aku tidak rela, ini menyakitkan aku benar-benar cemburu pada Jiana. Kau sengaja melakukan inikan untuk membalasku? Boy bukan keinginanku untuk meninggalkanmu ... yaa kau tidak akan marah jika tahu alasanku kan? dan kau akan kembali padaku kan. Seharusnya aku yang mendapatkan semua ini, cintamu .. ah tidak .. Boy tidak mungkin mencintai Jiana. Sejak dulu dia hanya mencintaiku hanya aku dan selamanya hanya aku .." batin Queen sendu seraya merema* kedua jemarinya menahan rasa panas yang menjalari seluruh tubuhnya melihat pemandangan yang ia rasa sangat menyakitkan untuknya
Setengah perjalanan, Jiana segera tersadar saat udara makin dingin lalu ia menoleh kebelakang pada Queen yang melipat kedua tangan didada juga kedua kakinya hingga paha atas itu terlihat. Jiana tak merasa heran sedikitpun karena berpikir Queen tinggal diluar negri jadi budayanya mengikuti mereka
" Queen apa kau membawa jaket?" tanya Jiana
" Emmh tidak kak, aku tidak punya jaket." saut Queen
" Carilah dikoper kakak, ada jaket Bryan disana." ucap Jiana
" Kenapa harus punyaku." gerutu Bryan pelan membuat Jiana tersenyum dan beralih padanya
" Queen kedinginan, nanti dia masuk angin."
" Bagaimana denganku, aku juga kedinginan." gerutu Bryan lagi, Jiana kembali tersenyum dibuatnya
" Kau tidak akan kedinginan, ada aku yang memelukmu." bisik Jiana ditelinga Bryan
" Pelukan tidak akan cukup." saut Bryan manja mengulum senyumnya
" Lalu apa?" tanya Jiana kembali memeluk Bryan yang langsung disambut tangan kiri pria itu untuk menggandengnya
" Bercint* ." saut Bryan membuat Queen yang sedang membuka koper Jiana beralih menatap tajam Bryan dari balik kaca spion
" Setelah Kya tidur." saut Jiana membuat Bryan senang bukan kepayang, senyumnya pun sampai melebar sempurna dan Bryan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal
" Pelan-pelan." tegur Jiana
" Kau selalu saja minta yang pelan-pelan." sautnya malah usil hingga Jiana kesal dan mencubit dadanya
" Jangan nakal, aku sedang mengemudi."
" Siapa yang nakal."
" Ah bilang saja kau sudah tidak tahan." goda Bryan
" Aku tidak mau mati muda." saut Jiana
" Siapa yang akan mengajakmu mati, aku hanya akan mengajakmu ke surgaaaaaaaa." saut Bryan mulai mesum
Jiana segera menengok kebelakang dan tersenyum pada Queen
" Maaf Queen, kakak iparmu memang seperti ini, sedikit gila." ucap Jiana membuat Queen tertawa pahit
" Tidak apa-apa Kak, aku suka yang sedkit gila." saut Queen sambil melirik Bryan yang juga meliriknya dari kaca spion. Belum sedetik saling menatap Bryan segera memalingkan wajahnya lagi ke depan dan menarik kepala Jiana agar beralih padanya lagi
" Tapi kamu cinta mati padaku kan?" tanya Bryan lembut
-
-