
-
-
Queen langsung berlari menuju kamarnya, ia menangis menutup mulutnya dibelakang pintu. Bryan benar-benar dingin, tak ada rasa kasihan sedikitpun padanya padahal Queen masih menyimpan sejuta kenangannya bersama Bryan
5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya dan Bryan menghabiskan waktu bersama. Selama berpacaran, Queen sangat sabar menghadapi Bryan yang kerap berselingkuh dan tidur dengan wanita lain. Saat itu Queen terlalu mencintai Bryan hingga tak mampu melepaskan pria itu
Meskipun kerap selingkuh namun Bryan sangat memperlakukannya dengan baik dan penuh cinta, selalu memberikan apa yang Queen inginkan. Pria itu juga kerap datang kerumah, sebagai pria sejati meminta ijin pada ibunya jika membawa Queen pergi berkencan
Tapi malam ini Queen melihat sisi lain dari Bryan, pria itu terlihat begitu mendambakan kakaknya, Queen iri pada Jiana, ia ingin menjadi Jiana dan mengembalikan semuanya, kembali pada Bryan, ia menyesal tak memberitahu Bryan saat itu tentang penyakitnya dan pergi begitu saja
" Aku bisakan? dari awal Boy milikku tentu ia harus kembali padaku." gumam Queen mengusap airmatanya yang menderai
" Maaf Jiana, seharusnya yang tidak ada dikeluarga ini adalah kau." gumam Queen lalu berjalan menuju ranjang dan menghempas kasar tubuhnya lagi
Sementara dijarak beberapa meter dari kamar Queen, kedua insan masih saling mencumb* melanjutkan permainan mereka. Bryan bangun dari tubuh Jiana yang tertutupi selimut dan menyingkap selimut itu hingga tubuh Jiana jelas dipandangannya. Jiana menutupi area sensitif itu dengan kedua tangannya, ia malu Bryan menatapnya
" Itu menggodaku, biarkan aku menyentuhnya."
" Jangan gila." tolak Jiana cepat menggelengkan kepalanya
Bryan terkekeh lucu." Gila apanya, kau belum merasakannya saja." bisik Bryan, seketika itu Jiana memalingkan wajahnya yang merona malu
Seolah ringan, Bryan memangku tubuh itu ala bridal membuat Jiana tersentak dan spontan mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan
" Jangan bilang dikamar mandi, tidak ini masih malam." ucap Jiana membuat Bryan terbahak kencang
" Jangan GiLa." saut Bryan menggoda membalas ucapan Jiana lalu membaringkan Jiana disofa panjang kamar itu. Bryan segera menaiki tubuh Jiana memposisikan dirinya karena adiknya yang sudah menegang dan minta dipuaskan sejak tadi
Keduanya kembali bergumul panas mengeluarkan keringat ditengah hawa dingin malam itu, memenuhi kamar vila dengan suara ******* dan suara benturan tubuh yang saling berpacu. Bryan tak menjauhkan tubuhnya sedikitpun, ia mendekap dan menempelkan tubuhnya sejak awal bermain sampai keduanya sama-sama mencapai puncai kenikmatan
" Eummh aaaahhhhh .. " suara Bryan menikmati sisa-sisa kenikmatan. Rahim Jiana kembali terpenuhi oleh sperm* pria itu untuk kedua kalinya
Jiana memeluk erat Bryan, tak melepaskan pria itu sedikitpun. Bibir keduanya masih menyatu meski saling diam, dan nafas itu masih terengah
" Apa kamu puas?" tanya Bryan usil
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu." gerutu Jiana, seperti kebiasaannya ia menampar pipi Bryan pelan
Bryan cekikikan dan memberikan kecupan lembutnya dibibir Jiana sebelum ia berguling kesamping kesisi sofa sembari merengkuh tubuh Jiana untuk memeluknya, membenamkan wajah itu kedadanya yang masih berkeringat
Tanpa melihat Jiana, ia menyelipkan rambut sebahu Jiana kebelakang telinga lalu beralih pada pipi, mengelus pelan dengan punggung tangannya
" Kenapa melahirkan Kya?" tanya Bryan tiba-tiba
" Kenapa mempertahankan janin dari pria yang menjahatimu?" tanyanya lagi
" Aku akan lebih berdosa bila membunuhnya." saut Jiana dengan senyuman mendengar detak jantung Bryan yang berpacu
" Terima kasih Jia, kamu sudah mau melahirkan Kya. Aku sungguh berterima kasih."
Jiana menengadahkan wajahnya menatap Bryan yang seketika itu juga menunduk menatapnya. Bibir Bryan mendarat dikening Jiana begitu lembut
" Siapa yang menemanimu saat melahirkan Kya?"
" Dokter dan perawat." saut Jiana membuat raut wajah Bryan sendu mendadak
" Maaf .." gumam Bryan
Jiana memberikan senyuman manisnya pada Bryan." Aku sudah memaafkanmu apapun itu."
" Bagaimana rasanya? apa sakit?"
" Tentu saja, milikmu saja yang kecil membuatku sakit apalagi kepala Kya yang besar." saut Jiana membuat Bryan melototokan matanya, baru kali ini ada wanita yang mengatai adiknya yang jumbo itu kecil
" Berisik, Kau mau Kya bangun."
" Bisa-bisanya kau mengatainya kecil, padahal tadi kau sampai merem melek menikmatinya." gerutu Bryan kesal
Jiana mengulum senyumnya dan mengedikan bahunya acuh seolah menantang Bryan. Wanita itu membalikan badannya membelakangi Bryan dan terkikik dalam hati
" Jiana .. " panggil Bryan kesal
" Memang kecil, lalu aku harus mengatakan apa lagi." ledek Jiana
Bryan mendengus kesal, ia menyusupkan kedua tangannya pada tubuh Jiana dan menangkup gunung kembar kesayangannya
" Apa yang kau lakukan?" bentak Jiana pelan dan was-was
" Kamu akan tahu betapa ganasnya sikecil ini." bisik Bryan mengigit kuping Jiana
" Ah tidak-tidak aku hanya bercanda." saut Jiana meronta
" Kau benar-benar menghina suamimu." goda Bryan ditelinga Jiana
" Bryan jangan aku lelah." rengek Jiana
" Huh aku tidak akan mengampunimu." saut Bryan mendaratkan bibirnya dipundak Jiana
Wanita mulai tak tahan saat Bryan menyentuh kedua puncak dadanya, memainkannya dengan begitu nakal membuat Jiana kembali takluk dan pasrah
" Aaahhh .. " desahnya tak kala sikecil yang ia hina itu Bryan hentak masuk menyatu lagi dengan miliknya yang bahkan belum kering oleh cairannya dan Bryan
" Hmm bagaimana?"
" Aaahhh cepat selesaikan jangan lama-lama." racau Jiana menggerutu ditengah rasa lelah yang mendera, tapi ia juga tak bisa berbohong bahwa guncangan tubuh Bryan sangatlah terasa nikmat
Bryan menuntun satu tangan Jiana mengalung dilehernya sehingga wanita itu setengah berbaring dan memudahkan Bryan memainkan puncak buah dadanya. Seperti biasanya ia akan anteng menyusu pada Jiana
" Aahh Bryan .. "
" Emmmh Baby .. " saut Bryan lalu naik keatas meraup bibir Jiana untuk beberapa saat
" Eeeuuunnnghhhhhh .. " suara Jiana mulai panjang dan Bryan mulai merubah posisi permainan itu membuat Jiana telungkup diatas sofa dan menghujam dari belakang hingga bokong Jiana bergetar karenanya
Saat permainan mulai memasuki babak akhir dimana Bryan yang akan segera melepaskan kenikmatannya disaat itu pulalah suara Jiana sudah tak terdengar, yang terdengar hanyalah nafas teratur dan dengkuran kecil, wanita itu sudah tak berdaya dibawah Bryan
Bryan menyeringai puas, tak lama ia mencapai batas dan kembali memenuhi rahim istrinya dengan benih-benihnya berharap adik Kya tumbuh diperut Jiana. Bryan bergegas melepaskan dirinya dari Jiana, ia berlutut dilantai lalu membalikan tubuh dengan mata terpejam itu dan tersenyum lucu menatap Jiana
" Lihatlah, sikecil sangat ganas bukan sampai membuatmu tertidur." gumam Bryan lalu ia mendaratkan kecupan sayangnya dikening Jiana
Kecupan itu turun pada perut rata Jiana, mengecupnya berulang dengan penuh harapan. Kemudian menempelkan sebelah pipinya keperut Jiana dengan tatapan lembut pada wajah Jiana
" Jika anakku tumbuh lagi diperutmu, aku janji Jia akan selalu menemanimu. Saat melahirkan nanti kamu tidak akan sendiri, ada aku yang akan menemani perjuanganmu." gumam Bryan tersenyum tapi kedua matanya berkaca
-
-
Daddy Kya kalau abis main sama si Jiana ya rambutnya gitu π€£π€£
-
-