Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kesempatan kedua



-


-


Sudah pukul 08:00 Bryan dan Jiana masih betah bergelung dalam selimut. Hari ini wekend jadi Bryan tak pergi bekerja. Keduanya masih sama-sama memejamkan mata dengan Bryan yang mengurung tubuh Jiana. Jiana hanya pura-pura tidur, sebenarnya Jiana sudah bangun tapi wanita itu masih enggan meninggalkan ranjang, harum tubuh Bryan membuat Jiana betah berdekatan dan dipeluk Bryan. Meskipun marah dan masih memendam rasa sakit pada Bryan namun tak dapat dipungkiri bahwa Jiana sangat senang dimanja suaminya ini, kehamilan membuat Jiana manja dan selalu ingin diperhatikan Bryan


Cuuuuppp


Kecupan lembut itu mendarat dikening Jiana. Bryan melepaskan pelukannya lalu menggeliyatkan tubuhnya yang terasa pegal. Selama semalaman sebelah tangannya menjadi bantal kepala Jiana hingga Bryan merasa lemgannya itu terasa kaku. Setelah merasa lebih baik Bryan kembali menghadap Jiana, wanita itu menggeser tubuhnya mendekat membuat Bryan tersenyum dan membawa Jiana kembali ke pelukannya


" Kamu masih tidur hmm?" tanya Bryan mengelus rambut Jiana yang tergerai panjang itu


" Masih tidur ternyata." gumam Bryan tanpa tahu bibir Jiana tersenyum, wanita itu senang karena membodohi Bryan. Lalu Bryan menarik satu tangan Jiana, ia angkat dan ciumi dengan lembut. Bryan tuntun untuk melingkar diperutnya sambil meraih ponsel diatas meja nakas saat deringan nyaring memenuhi kamarnya dan Jiana


" Hmm?"


" Kalian belum pulang?"


" Betah sekali dirumah orang." gerutu Bryan lalu berdecak kesal


" Sarapan saja duluan, istriku masih belum bangun."


" Kau pikir aku bodoh, dokter macam apa kau beraninya membodohi pasien." gerutu Bryan lagi pada Arnold ditelpon, pria itu dan kawan-kawannya sedang dimeja makan karena semalam mereka datang berkunjung dan menginap disana. Sedikit demi sedikit mereka mulai akur dan akrab bersama Jiana terutama teman-teman wanita Bryan yaitu Clarissa, Viona, Clay dan Kalia, mungkin mereka sama-sama wanita jadi lebih terasa saling nyambung satu sama lain


Bryan mematikan panggilan itu melempar ponselnya kebelakang. Ia dapat mendengar suara gelak tawa teman-temannya dari lantai bawah mentertawakan Bryan yang mau saja ditipu Arnold mengenai hubungan badan selama kehamilan Jiana


Setelah merasa puas dalam dekapan hangat Bryan, kini Jiana membuka matanya. Rasanya perut Jiana mulai berbunyi memaksa Jiana untuk segera melepaskan diri dan turun dari ranjang. Saat itu juga Bryan ikut bangun, menatap Jiana dengan duduk diatas kasur. Jiana masih saja mengabaikannya membuat Bryan sedikit sedih, entah sampai kapan pernikahannya dan Jiana seperti ini? sampai ia melakukan tes DNA? tapi ternyata itu sulit untuk Bryan, Queen dan keluarganya menolak karena melakukan tes dna pada janin memang memiliki resiko pada bayi Queen bila terjadi kegagalan. Lalu mau sampai kapan? Bryan memijit pelipis dan menghela nafasnya lelah


Ia benar-benar rindu suasana pernikahan mereka dulu tapi disini termasuk Jiana tak ada yang mau percaya bahkan hubungan Bryan dan Ken pun kini kurang baik semenjak kejadian dua bulan lalu. Sang ayah masih kecewa terhadap Bryan, pria itu juga tak pernah mengajak putra satu-satunya itu bicara lagi, rasanya Bryan ingin sekali menangis namun ia harus tetap kuat untuk membuktikan bahwa ia tak bersalah, ia tak menghianati Jiana. Meskipun awalnya ia menikahi Jiana karena Kya namun kini Bryan sangat mencintai wanita itu, Bryan tak pernah jatuh dan gila seperti ini pada wanita bahkan ia mau menyerahkan segalanya untuk bersama Jiana


Lama Bryan melamun sampai saat itu Jiana keluar dari kamar mandi. Wanita itu seolah menggoda Bryan yang kini sangat haus belaiannya dan hanya memakai handuk yang melingkar ditubuhnya. Bryan mengusap-usap dadanya karena hal itu lalu menuruni ranjang dan keluar kamar. Rasanya bila diteruskan malah Bryan yang tersiksa karena Bryan tahu Jiana tak akan mau memberikannya pada Bryan


Bryan dapat mendengar suara riuh dirumahnya. Ia baru ingat kalau hari ini adalah hari reuni keluarga mereka. Semakin turun menuju lantai satu Bryan semakin mendengar tawa itu, tawa teman-temannya dan juga tawa keluarganya. Bryan tersenyum lalu segera menghampiri semua orang yang kini berada dihalaman belakang rumahnya


Tapi saat diambang pintu Bryan mematung, ia mencari seorang pria yang dimatanya paling hebat namun pria itu tak ada dirumahnya. Pria itu masih kecewa dan marah padanya membuat Bryan sedih, ia sangat sedih dan rindu pada sang ayah. Bryan mencoba memaksakan senyumnya ia memeluk semua keluarganya secara bergantian, terakhir ia memeluk sang ibu, wanita itu tampak memandangnya sendu


" It' s oke Mom, i am fine." ucap Bryan mengusap punggung sang ibu, mau seperti apapun Bryan. Jeny tetap memaafkan putranya itu meskipun kesalahan Bryan memang fatal saat ini. Jeny menguraikan pelukannya lalu mengusap pipi Bryan. Semua orang tahu, semenjak kejadian dua bulan lalu hubungan Bryan dan ayahnya belum baik-baik saja sampai sekarang


Hal itu terlihat oleh kedua pasang mata cantik yang mengintipnya dibalik jendela. Itu Jiana .. berdiri memandangi Bryan dan semua orang dihalaman. Wanita itu menitikan airmata lagi memandangi Bryan yang kini berbincang bersama yang lainnya dihalaman. Meskipun tertawa namun wajah itu menyiratkan rasa sedih, tawa itu hanya menutupi luka hatinya membuat Jiana semakin terisak dan tak henti mengelus perutnya dengan telapak tangan


" Jangan menahan semuanya .. dan jangan terus terjebak dengan rasa sakit .. " Jiana terdiam beberapa saat


" Hatiku sangat sakit, aku kecewa lalu aku harus bagaimana?."


" Nyonya bolehkah bibi bicara?" Jiana menoleh lalu mengangguk membuat bi Amy meraih kedua tangan lentik itu untuk ia genggam


" Apa nyonya mencintai Tuan?"


" Aku sangat mencintai Bryan, meskipun dia membuatku terluka aku masih tetap mencintainya. Aku sangat bodoh .. " saut Jiana dengan suara serak menahan tangis


" Yang bibi lihat juga Tuan sangat mencintai Nyonya. "


" Tidak bi, Bryan mencintai Queen. Dulu mereka sepasang kekasih."


" Tidak nyonya bibi berani bersaksi kalau Tuan tak menyukai nonya Queen sedikitpun. " saut Bi Amy. Kali ini Jiana terdiam


" Bahkan selama Nyonya pergi Tuan tidak pernah kembali kerumah. Tuan tinggal bersama kedua orangtuanya. Tuan tidak pernah mengunjungi Nyonya Queen, tidak pernah sekalipun apalagi memperhatikan nyonya Queen yang juga sedang mengaku hamil anaknya. Kenapa nyonya tidak berpikir dengan perhatian Tuan Bryan selama ini, Tuan sangat menyayangi nyonya dan nona Kya .. " Jiana membeku, airmatanya mengalir deras. Apa yang ia pikirkan mengenai Bryan salah, selama ini pikirannya selalu negatif dan menilai buruk Bryan. Jiana berpikir Bryan sangat serakah, Bryan tak melepaskan Jiana tapi pria itu juga menikahi Queen


" Nyonya bibi tidak pernah melihat pria sesabar Tuan, Tuan sangat sabar menghadapi nyonya yang dingin dan selalu mengabaikan Tuan .. "


" Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan .. " saut Jiana terisak seolah menumpahkan semuanya saat ini dihadapan pembantunya


" Jangan menyerah pada Tuan .. "


" Tapi bayi itu .. "


" Nyonya yang paling berhak atas Tuan Bryan, nyonya istri sah Tuan sementara nyonya Queen hanyalah istri yang Tuan nikahi secara siri, dalam hal apapun Nyonya lebih berhak dan lebih utama. Mungkin saat itu Tuan mabuk dan khilap, bibi rasa Tuan benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Bukankah sebagai manusia kita berhak memberi kesempatan kedua?"


" Nyonya .. percayalah badai akan cepat berlalu bila dilewati bersama. Jangan sampai Nyonya menyesali semuanya dikemudian hari .. "


Jiana menganggukan kepalanya cepat." Aku akan mencobanya bi .. memaafkan Bryan .. " Bi Amy tersenyum menggenggam erat kedua jemari Jiana


-


-