Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kebahagiaan kita



-


-


Bryan menuntun Jiana yang masih terisak kecil menuju mobilnya lalu membawa Jiana masuk kedalam. Pria itu melajukan kembali mobil menuju rumahnya membuat isak tangis itu berhenti tiba-tiba. Wajah Jiana merengut mendadak, ia sangat berharap suasana yang romantis namun suaminya malah membawanya pulang kembali


Bryan mengerti, ia terkekeh lucu lalu keluar dari mobil. Bryan membuka pintu, Jiana mau tak mau turun lagi dari dalam mobil. Jiana tak tahu bahwa Bryan sudah menyiapkan makan malam romantis untuk mereka dihalaman belakang. Bryan dibantu teman-temannya menyiapkan ini semua


Bryan membawa Jiana kehalaman belakang saat itu juga mulutnya menganga melihat halaman belakang itu diubah menjadi romantis dengan begitu banyak lilin mengelilingi meja makan kecil untuknya dan Bryan." Boy .. " Jiana menoleh dengan wajah senangnya


" Kamu suka."


" Aku sangat suka." saut Jiana berjalan mendahului Bryan menuju meja makan itu. Ia duduk disana lalu melambaikan tangannya pada Bryan yang spontan mendekati Jiana. Pria itu langsung berlutut didepan Jiana, meraih jemari lentiknya dan mengecupnya begitu lama membuat dada Jiana berdebar kencang


" Jiana maukah kamu menjadi istriku untuk selamanya?" tanya Bryan menatap lekat istrinya


" Kita sudah menikah." saut Jiana. Bryan tersenyum lalu mengambil kotak hitam kecil disaku celananya. Ia mengambil sebuah cincin dengan mata satu putih yang sangat cantik dan terlihat mahal


" Sayang jadilah istriku untuk selamanya. " Jiana tertawa berpikir betapa lebaynya suaminya saat ini


" Aku sedang melamarmu sayang"


" kita sudah menikah jangan bercanda, lihatlah perutku!" Bryan tertawa kecil


" Dulu aku tak sempat melamarmu, aku akan melakukannya sekarang." Jiana tersenyum mengusap pipi Bryan dengan jemarinya yang lain


" Jiana .. wanita yang kucintai .. maukah kamu hidup denganku selamanya. Bahkan saat aku mati dan hidup lagi tetaplah menjadi milikku. Karena aku hanya akan mencintai wanita bernama Jiana." Bryan terlalu romantis kedua mata Jiana sampai berkaca, Jiana terharu tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk membiarkan Bryan memasangkan cincin dijari tengahnya. Bryan mencium lagi jemari lentik itu lalu menengadahkan wajah menatap Jiana lagi


" Ibu Kya .. ibu anak-anakku. Aku mencintaimu." bisiknya lembut kian membuat kedua mata itu menggenang airmata. Bryan tak membiarkannya jatuh, ia mengusap sudut mata Jiana


Jiana menangkup wajah tampan itu lalu memberikan kecupan lembutnya dikening Bryan dengan dalam dan lama." Terima kasih sayang .. kamu pria hebat kamu seperti papa sangat hebat dimataku." Bryan tersenyum lebar karena itu. Kedua pasang mata itu saling bertemu dengan bibir tersenyum, awal pernikahan bahagia itu kembali dimulai, rasa cinta mereka akan semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Kini tak ada lagi pemghalang untuk Jiana, Bryan milik Jiana seutuhnya. Pria pemaksa itu kini bertekuk lutut dihadapannya menyerahkan semua hidupnya untuk Jiana


Lalu Bryan duduk dikursi didepan Jiana dengan tangan tak melepaskan genggamannya pada jemari Jiana." Kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Jiana


" Arnold dan David membantuku menyiapkan semua ini. " Kedua teman Bryan itu panjang umur, baru ia membicarakan mereka kini keduanya mengirim pesan pada Bryan. Bryan mengambil ponsel disaku celana dan melihat pesan dari keduanya


David πŸ™Ž Aku tahu kau sedang rindu-rindunya dengan Jiana, tapi ingat boy sikembar. Jangan bercinta, ingatlah anak-anakmu oke? 🀣🀣


" David .. sibrengsek ini .. " gumam Bryan dengan tawa kecil


Arnold πŸ™β€β™‚οΈ Seronde saja cukup jangan banyak-banyak. Biarkan istrimu tidur lebih lama. Ingat boy satu ronde atau lebih baik jangan bercinta sama sekali, kau bermain solo saja πŸ˜›


Bryan ➑️ Makanya cepatlah menikah agar kalian tidak kurang kerjaan seperti ini. Stop menggangguku!! aku akan menghabiskan malam yang indah bersama Jiana


Bryan mengirim pesan itu pada keduanya dengan bibir tersenyum lucu hal itu menjadi perhatian Jiana yang sedang mengunyah beefsteak dimulutnya." Siapa?" tanya Jiana


" Arnold dan David." saut Bryan menunjukan layar ponselnya pada Jiana


" Apa semua pria seperti itu, selalu memikirkan selangkang*n?"


" Tentu saja itu kebutuhan utama." saut Bryan dengan cengiran khasnya lalu memasukan potongan steak itu kedalam mulutnya. Ia mengunyah sambil menatap Jiana yang juga menatapnya


Ting


Ujung dua gelas itu menyatu membuat Jiana tersenyum penuh." Ini untuk pernikahan kita." ucap Bryan


" Kebahagiaan kita. "


" Untuk Kya."


" Untuk sikembar." saut Jiana membuat Bryan tersenyum manis lalu menghabiskan cairan merah dalam gelas ditangannya


Bryan menuntun Jiana berdiri wanita itu tampak enggan meninggalkan hal romantis didepan matanya." Sayang sekali." gumam Jiana terdengar jelas ditelinga Bryan. Tiba- tiba Bryan menyalakan musik slow dalam ponselnya, ia meletakan diatas meja makan itu lalu menarik tangan Jiana


" Kamu mau apa?"


" Ayo kita menari, kamu belum pernah berdansa." ledek Bryan


" Ya rakyat jelata sepertiku mana bisa berdansa." sautnya dengan bibir mencebik. Bryan tertawa mengecup bibir itu


" Denganku kamu akan pintar berdansa." Bryan menarik kedua tangan itu ia letakan dipundaknya lalu menyentuh pinggan yang kini mulai rata dengan timbunan lemak itu. Jiana terlihat senang, ia memang menyukai hal yang romantis seperti dalam film yang ia lihat. Jiana meletakan kepalanya dipundak Bryan, ia terhanyut dalam lantunan musik pelan itu dan ia memejamkan mata merasakan jantungnya yang terus berdebar, hatinya terus menjerit ia sangat mencintai suaminya ini. Ayah anak-anak Jiana, pria yang paling ia benci itu kini jadi pria yang paling ia suka setelah ayahnya


Cukup lama mereka berdansa dengan gerakan pelan seperti itu menikmati kebersamaan dan kemesraan mereka yang jarang terjadi tapi kedepannya hal seperti ini akan selalu Bryan berikan untuk Jiana. Meskipun Jiana berbeda dengan wanita lain namun Jiana tetaplah seorang wanita yang berhati lembut. Saat Jiana merasakan kakinya pegal karena terlalu lama berdiri saat itulah wanita itu mengeluh


Membuat Bryan segera membawanya kedalam rumah. Jiana duduk disofa ruang tamu menunggu Bryan yang membuatkan susu hamil untuknya. Tak sampai lima menit Bryan sudah kembali padanya dengan segelas susu coklat. Pria itu duduk disamping Jiana sambil memberikan susu itu


Jiana bersemangat ia menghabiskan susu itu lalu meletakannya diatas meja. Jiana mulai mendekati Bryan meletakan kepalanya dipundak Bryan, rasanya nyaman untuk Jiana berduaan bersama suaminya seperti ini. Mereka gelap-gelapan dengan cahaya yang dari luar jendela kaca besar saja


Bryan menoleh lalu mengelus rambut Jiana dengan bibir tersenyum rasanya bahagia untuk Bryan dengan Jiana yang manja dan hangat kembali seperti ini. Bryan harap kebersamaan dan kemesraan ini akan selamanya ada


Saat itu Bryan menarik tangannya merubahnya jadi menggandeng Jiana membuat wanita itu menengadah menatapnya. Jiana mengulurkan jemarinya menyentuh dada Bryan yang masih berbalut kemeja. Malam ini keduanya masing-masing menginginkan kehangatan


Bryan menarik dagu runcing itu lalu mencium Jiana. Ia membawa tubuh itu dalam pangkuanya dengan tangan tak diam melucuti semua pakaian istrinya begitupun Jiana, wanita itu mulai bertindak agresif lagi membuka semua pakaian Bryan menciumi hampir setiap inci tubuh kekar dan berotot itu membuat Bryan tak henti mengeluarkan suaranya


Aaahh rasanya Bryan ingin merema* gemas seluruh tubuh istrinya. Bryan gemas ia segera menarik Jiana yang sedang memanjakan adiknya dibawah sana. Bryan bawa tubuh yang kini berbobot itu kepangkuannya


Ia menekan tengkuk Jiana hingga bibir mereka bertemu sembari menyatukan tubuhnya dan Jiana. Saat itu juga tubuh Jiana mulai meliuk membuat Bryan semakin merengkuh pinggangnya meskipun terhalangi perut buncit Jiana


Jiana melepaskan bibirnya dan mulai bersuara memenuhi rumah mereka. Tubuh itu lincah diatas Bryan, dalam posisi duduk seperti ini Bryan masih bisa mencumbu bibir Jiana hingga suara dessahan itu seringkali terbungkam bibir Bryan


Jiana mengecup kening Bryan dalam lalu menangkup wajah tampan itu, memberi dua kecupan lembutnya lalu berhenti bergoyang dan memeluk leher Bryan dengan kedua tangannya. Itu menjadi kesempatan Bryan untuk mencumbbui gunung kembar Jiana, ia menyusu disana untuk beberapa saat sebelum membawa Jiana berdiri dan naik kelantai dua


" Kamu kuat tidak lemas?" tanya Jiana menggoda


" Untuk hal ssperti ini aku benar-benar kuat sayang." saut Bryan balas menggoda


Tiba dikamar ia segera menuju ranjang melanjutkan kembali permainan panas mereka. Keduanya melepaskan kerinduan mereka selama ini menghabiskan malam dengan berolahraga ranjang. Sampai mereka terbang menuju puncak nirwana, bagi Bryan tidak ada permainan yang lebih menyenangkan selain main diranjang bersama Jiana


-


-