
-
-
Bryan segera mengambil cukuran kumis itu dilantai lalu memberikannya kembali ketangan Jiana. Bryan mengecup bibir itu menyadarkan Jiana, wanita itu segera mencukur kumis Bryan dengan gerakan pelan tanpa bertanya lagi. Jiana bahkan tak mau memikirkan orang lain lagi, ia hanya akan bahagia bersama Bryan. Jiana sangat yakin pria didepannya ini bisa membuat Jiana bahagia dengan kasih sayangnya
" Kamu sudah tampan." puji Jiana menangkup wajah Bryan yang kini mulus seperti sebelum ia dibawa pergi ibunya. Bryan hanya tersenyum, jemarinya mulai nakal menggulung daster biru itu keatas. Bryan menatapi tubuh dengan bikini merah itu beberapa saat sebelum menelanjangi Jiana
Mereka mandi dibawah guyuran shower saling membersikan tubuh masing-masing. Kemudian kembali kekamar dengan memakai handuk melingkar ditubuh mereka. Saat Jiana akan mengambil lingerie hitamnya, Bryan menahan lengan itu." Kenapa?" tanya Jiana, ia kini mulai tak suka dan berpikir Bryan tak mau lagi menyentuhnya
" Pakai gaun saja, aku akan mengajakmu kesuatu tempat."
" Apa tempat yang romantis?" tanya Jiana. Bryan mengangguk pelan dan tersenyum misterius
Dan Jiana menuruti Bryan, wanita itu memakai gaun hitam yang entah sejak kapan ada dilemarinya sehingga perut buncit itu kian kentara di kedua manik Bryan. Bryan juga mengambil sesuatu dalam laci lemari itu, sepasang anting dengan mutiara hitam yang sangat cantik. Bryan memakaikan itu pada telinga istrinya bergantian
Keduanya kini telah siap, Jiana yang sudah cantik dengan rambut digerai dan Bryan yang juga sudah tampan dengan kemeja hitamnya. Mereka berjalan menuju keluar rumah. " Apa Kya tidak akan pulang malam ini?" tanya Jiana menggelayuti lengan Bryan
" Kalau Kya pulang, dia akan mengganggu kita." Jiana terbahak memukul bahu Bryan
" Kita mau kemana?" tanya Jiana
" Ke suatu tempat!" saut Bryan
" Kemana?"
" Nanti kamu akan tahu." saut Bryan lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Bryan menutup pintu itu lalu berputar menuju kursi kemudi. Tidak sampai 10 menit mereka sampai ditempat tujuan, saat itu tubuh Jiana menegang dan kepalanya menggeleng tanda ia menolak
" Tidak apa-apa.!"
" Aku tidak mau bertemu mama lagi."
" Aku akan menjagamu sayang, tenanglah." saut Bryan dan akhirnya Jiana mau. Wanita itu turun dari mobil saat pintu dibuka Bryan
Bryan segera menghampiri kedua orangtuanya bersama Darwin didepan gerbang rumah lamanya. Dimana disitu Queen tinggal ditemani kedua orangtuanya karena Bryan tak pernah sekalipun berkunjung kesana
" Ji .. " panggil Darwin dengan wajah sendu
" Aku minta maaf."
" Aku sudah memaafkanmu." saut Jiana tapi wanita itu terlihat takut hingga setengah tubuhnya bersembunyi dibalik tubuh besar Bryan
" Sayang apa selama kamu disana sibrengsek ini menyentuhmu?" tanya Bryan menunjuk Darwin. Jiana menggeleng pelan." Tidak, dia hanya cerewet terus bertanya padaku." saut Jiana membuat Jeny dan Ken tersenyum
" Kami akan memaafkanmu, asalkan kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!"
" Aku akan bertanggung jawab dan aku akan pergi dari hidup kalian." saut Darwin dengan wajah menunduk malu pada Ken, selama ini pria itu sangat baik dan mempercayainya namun balasan Darwin malah mengecewakan dan berniat menghancurkan putranya
" Boy aku tidak mengerti memangnya ada apa?" tanya Jiana namun Bryan hanya tersenyum menggandeng wanita itu masuk kedalam rumah. Dari luar sudah terdengar suara gelak tawa papa Queen dan wanita itu, entah apa yang mereka tertawakan yang pasti tawa itu sangat renyah
Bryan menekan bell pintu yang tak lama dibuka oleh mama Mia, wanita itu terkejut melihat Jiana yang bisa bersama Bryan. Lihatlah kedua matanya membulat sempurna dan sedetiknya ia menyembunyikan keterkejutan itu dengan senyum terpaksa
" Ji .. Bryan .. " panggilnya terbata
" Bolehkah kami masuk?" tanya Ken membuat Mama Mia kian gugup dengan besannya itu tapi mama Mia membuka pintu lebar untuk mereka. Dengan sopan mempersilahkan semuanya masuk kedalam dan menuju ruang tamu. Mama Mia tak sadar dibelakang mereka ada Darwin yang ikut dan bersembunyi dibelakang tubuh Ken
" Boy .. " wajah itu tampak senang melihat Bryan yang mengunjunginya tapi saat melihat Jiana, Queen mendengus kesal, kedua tanganya terkepal kuat, bagaimana bisa Jiana bersama suaminya lagi. Pikir Queen lalu mendekati Bryan berniat memeluknya tapi ..
Jedarrrrrr
Ketiga wajah itu menegang dengan ucapan Bryan apalagi Queen, wanita itu tak bisa berkata-kata terlebih saat melihat Darwin muncul dari arah belakang mereka. Bryan menarik Darwin sang pelaku utama, pria itu menunduk malu
" Itu bayiku, itu darah dagingku." akunya sambil menunjuk perut Queen
" Jangan mengarang, dasar gila!" bentak Queen
" Apa maksudnya semua ini?" suara bentakan papa Queen menggema disana
" Saya yang mengham-"
Plak
Tamparan keras telapak tangan Queen mendarat dipipi Darwin." Jangan mengarang kau brengsek, mana mungkin aku mau disentuh olehmu!"
" Sudahlah, kenapa kau tidak mengaku saja." Bryan menyaut, ia geram dengan sandiwara Queen lalu mengambil selembar kertas disaku celananya, ia lempar ke wajah yang mulai memucat takut itu. Queen mengabaikan kertas yang melayang itu tapi tidak dengan sang Papa, papa Robert mengambilnya
" Mau sampai kapan kau seperti ini Bryan? ini jelas bayimu. Kau tega sekali." lirih Queen mulai menangis yang mana langsung dipeluk mama Mia, Jiana yang melihat itu hanya tersenyum kecut lalu menoleh pada Bryan
" Aku tidak punya banyak waktu, jadi mengakulah sebelum aku benar-benar mempermalukanmu!" seketika itu juga Queen berteriak histeris dan menangis
" Ini salah mama dan papa!" teriak Queen
" Aku kehilangan Bryan karena mama dan Papa!" teriak Queen kali ini wanita itu menjambak rambutnya sendiri dengan kuat
" Tidak, tidak sayang jangan seperti ini." Mama Mia mencoba menahan kedua tangan itu
" Aku mau Bryan aku hanya mau Bryan." teriaknya histeris membuat pegangan Jiana menguat pada lengan Bryan, pria itu menoleh lalu mencium pelipis Jiana
" Ayo kita pergi." ajak Bryan memutar tubuhnya dan Jiana
" Boy kamu tidak boleh pergi atau aku akan mati." ancam Queen. Kali ini Jiana menoleh kebelakang
" Sadarlah, jangan memaksakan apa yang bukan takdirmu. Bukankah kamu mempunyai mama yang sangat menyayangimu" tutur Jiana sambil melirik Mia, wajah itu tampak dipenuhi rasa takut
" Ambil saja mama kalau kau mau, ayo kita menukarnya bersama Bryan. Yang kuinginkan hanya Bryan .."
Plak
Kali ini mama Mia habis kesabaran, untuk pertama kalinya ia menampar Queen selama hidupnya. " Apa yang merasukimu Queen, tega sekali kau mengatakan itu? apa kurang pembelaan mama selama ini? mama bahkan mengabaikan perasaan Jiana karena menghargaimu, sekarang apa kau mau menukar mama karena pria yang tak mencintaimu itu!!! Jiana benar .. sadarlah .. kau tidak seharusnya merebut apa yang bukan milikmu." kali ini airmata Queen menderai, tamparan itu seolah menyadarkan Queen. Hati Queen tercubit melihat airmata ibunya, wajah itu juga tampak kecewa pada Queen
" Kau benar-benar membuat papa kecewa!" kali ini sang papa marah, pria itu pergi begitu saja meninggalkan semua orang dengan perasaan malu
Begitupun Bryan dan Jiana beserta kedua orangtuanya, mereka meninggalkan kediaman Queen dengan perasaan tenang. Badai itu sudah berlalu kini mereka akan menyambut masa depan dengan penuh kebahagiaan bersama anak-anak mereka
Jiana tiba-tiba berhenti didepan gerbang. Wanita itu menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan." Maafkan aku." lirihnya. Bryan tersenyum lalu membawa istrinya dalam pelukannya
" Aku menuduhmu, aku tidak mempercayaimu dan aku berniat membencimu. Maafkan aku!" tangisan itu mengencang membuat kedua mata Bryan berkaca. Kesabaran itu membuahkan hasil yang manis untuk Bryan
Jeny dan Ken hanya tersenyum. Ken kembali memberikan jempolnya pada Bryan sebelum pergi meninggalkan keduanya." Tidak ada perlu dimaafkan sayang. Ini sudah berakhir, semuanya sudah berakhir.. "
-
-