Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Serangga mesum



-


-


Jiana menggeliyatkan tubuhnya yang benar-benar terasa remuk karena Bryan semalam. Pria itu sungguh gila dan kekuatannya jangan diragukan lagi hingga beronde-ronde menggaulinya


" Bryan kau benar-benar .." gerutu Jiana lalu menyingkap selimut, ia terkejut melihat keadaan kedua pahanya yang benar-benar kacau penuh noda merah


" Dasar mesum gila." umpat Jiana kesal


" Siapa yang gila?" suara bariton itu membuat Jiana berjingkat dan langsung menutup mulutnya


Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi terkekeh melihat Jiana, wanita itu terburu-buru merapihkan selimut dengan menggulung ketubuhnya lagi seolah Bryan yang akan melihatnya adalah tanda bahaya untuk dirinya


" Astaga sampai segitunya." ucap Bryan terkikik geli. Dengan bertelanja*g dada Bryan dan terlilit handuk putih dipinggang ia mendekati Jiana, ia duduk disisi ranjang dan membelai pipinya dengan mesra


" Mandilah, aku sudah menyiapkan semuanya." perintah Bryan


"Dimana Kya?" tanya Jiana


" Dia sudah bangun, sudah makan sudah mandi, semua aku yang melakukannya." saut Bryan dengan senyum manis


" Memangnya-" Jiana menutup mulut tak melanjutkan ucapannnya kedua matanya membulat melihat jam didingding yang telah menunjukan pukul 11:34 siang


" Kenapa tidak membangunkanku." gerutu Jiana memukul pelan dada Bryan


" Aku tidak tega, kamu terlihat lelah." saut Bryan mengulum senyumnya dengan tatapan mesum pada leher Jiana yang dipenuhi kecupannya. Jika Jiana berkaca, wanita itu akan berteriak terkejut


" Memalukan sekali. Kenapa bisa sesiang ini." gerutunya kesal


" Tapi Jia, saat tidur kamu juga tetap menggairahkan kok." saut Bryan dengan seringai nakal membuat Jiana terperangah


" Kau melakukannya lagi?" tanya Jiana


" Ya, saat bangun tadi aku benar-benar tak tahan melihatmu."


" Keterlaluan, itu namanya memperkosa." teriak Jiana kesal


Bryan tertawa kencang seraya merengkuh tubuh Jiana kedalam pelukannya." Jangan gila, tidak ada pemerkosaan dalam hubungan suami istri."


" Menyebalkan." gerutu Jiana mencubit pinggang Bryan


" Tapi kamu menikmatinya sayang, kamu mendesah." bisik Bryan ditelinga Jiana lalu cekikikan


" Lepaskan aku, aku akan mandi."


" Baiklah." saut Bryan lalu ia mengangkat tubuh yang masih tergelung selimut itu, ia bawa menuju kamar mandi


Bryan menurunkan Jiana dilantai lalu menarik selimut yang melilit tubuh Jiana hingga wanita itu berputar karenanya. Bryan terkekeh dan segera menangkap tubuh itu ia langsung ceburkan kedalam jaguzzi


" Bukankah kau sudah mandi?"


" Aku? kapan? aku menunggumu bangun untuk mandi bersama." saut Bryan mengulum senyumnya melihat raut wajah Jiana yang masam, Bryan tahu apa yang Jiana pikirkan


" Ehhmmm aku tidak semaniak itu, tapi jika kamu menginginkannya lagi aku akan dengan senang hati meladenimu."


" Gila, mau membuat tubuhku semakin kesakitan semua." gerutu Jiana


" Makanya lebih baik kita mandi." saut Bryan dengan wajah tanpa dosa, mengambil sabun cair disisi jaguzzi lalu menuangkannya ketengah-tengah dirinya dan Jiana


Setelahnya ia meraih shampo yang juga disisi bak mandi. Bryan tuangkan ke rambut Jiana yang masih kering kemudian meraih shower untuk membasahi rambut Jiana, memijat rambut itu pelan hingga berbusa. Wanita itu hanya terdiam menatap Bryan, terkesima dengan perlakuan manisnya. Apakah Bryan memang selalu manis ini pada wanita? pikir Jiana dengan hati memanas, tentu saja ia cemburu meskipun semuanya sekarang hanya masalalu


" Ada apa hmm?"


" Apa kau juga suka mandi bersama pacarmu?"


" Tidak, aku hanya melakukannya denganmu." saut Bryan lalu ia mengecup bibir Jiana


" Tidak percaya?"


" 50% percaya 50% tidak." saut Jiana


" Apa yang membuatmu tak percaya?"


" Dan kamu percaya?" tanya Bryan membalikan tubuh Jiana agar membelakanginya lalu meraih shower untuk membersihkan busa shampo dirambut Jiana


" Tentu saja, aku selalu menunggu bus dihalte dan melihat wanita yang berbeda setiap malamnya dalam mobilmu."


" Jia, apa kamu akan percaya bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang masih suci yang pernah kutiduri." seketika kepala Jiana menoleh kebelakang menghentikan tangan Bryan yang sedang membasuh rambutnya. Wanita itu hanya menatap Bryan, tak menanggapinya


" Sejak awal aku memang tak pernah meniduri seorang virgin dan mungkin jika malam itu kamu tak masuk ke Apartementku, aku tidak akan pernah merasakannya sampai sekarang."


" Memangnya apa yang membuat seorang virgin dan tidak berbeda?" tanya Jiana kembali memalingkan wajahnya kedepan


" Tentu saja banyak perbedaannya." Bryan melanjutkan kembali membasuh rambut Jiana


" Karena masih fresh belum tersentuh tangan pria."


" Ya itu salah satunya."


" Lalu apa kau ingin mencobanya lagi?"


" Kenapa bicara seperti itu?" Bryan membalikan tubuh Jiana agar menghadapnya dan memegang bahu Jiana dengan kedua tangannya


" Aku hanya bertanya, kau memiliki banyak uang. Untuk mendapatkan seorang gadis seperti apapun tidak akan sulit untukmu."


" Jawabanku tidak!" saut Bryan memotong perkataan Jiana


" Aku sudah berubah, aku tidak tertarik bermain-main lagi. Aku sudah memilikimu dan Kya. Aku bahagia Jia, lalu menurutmu apa lagi yang kucari?"


Jiana membungkam, ia hanya menatap lekat Bryan. Jantungnya semakin berdebar kencang. Ia mulai menyadari satu hal yaitu wajah tampan Bryan yang ternyata mirip dengan pria yang ia puja saat masih muda dulu, setelah sekian lama bersama, kenapa sekarang ia baru menyadari keduanhnya mirip, lihatlah alis tebal pria itu masih Jiana ingat. Juga manik yang sama saat ini menatapnya pun terasa sama


Bryan segera menarik Jiana dalam pelukannya." Stay with me because i need you Jia .. " ucap Bryan lembut. Jiana membalas pelukan itu dengan kedua mata berkaca dan mengangguk cepat


Bryan mengurai pelukannya lalu mengecup kening Jiana dalam dan cukup lama. Setelahnya ia berdiri dan juga menuntun Jiana keluar dari jaguzzi untuk benar-benar membersihkan tubuh mereka. Keduanya tak mengatakan sepatah kata lagi, menuju kamar dan memakai pakaian masing-masing


" Bryan .. " tiba-tiba suara teriakan itu menggema mengguncang kamar mereka membuat Bryan terbahak kencang dan menggelengkan kepalanya


" Ada apa?" tanya Bryan santai dengan wajah tanpa dosa mendekati Jiana dengan setelan santainya, yaitu sweather abu dan celana hitamnya


Kedua mata Jiana sudah membulat saja pada Bryan seakan akan melahapnya bulat-bulat


" Memangnya kenapa? kau sudah bersuami tidak ada salahnya kan."


" Aku malu, kau sungguh keterlaluan." gerutu Jiana memukuli dada Bryan


" Aku benar-benar tak tahan Jia, aku sengaja agar orang-orang tahu kamu itu milikku."


" Dasar lebay .. " gerutu Jiana sambil berlalu untuk memakai pakaian yang lebih menutupi lehernya yang dipenuhi kissmark Bryan


" Dasar serangga mesum." umpat Jiana kesal membuat Bryan terkikik melipat kedua tangannya didada dan duduk diatas meja rias menatapi Jianq


Jiana semakin kesal saat tak menemukan pakaian yang mampu menutupi lehernya. Ia menoleh pada Bryan dan mendapatkan ide mendadak. Jiana mendekati Bryan berdiri dihadapannya


" Buka bajumu." perintah Jiana galak


" Kenapa? mau bercinta?"


" Aku tidak punya pakaian tertutup jadi pinjami aku bajumu."


" Biarkan semua orang melihatnya, kenapa selalu malu-malu kucing terus."


" Lepaskan atau aku tidak mau keluar kamar, tidak akan makan, tidak minum, tidak mengurusi Kya."


" Baiklah, baiklah." saut Bryan menyerah memotong ucapan istrinya sembari melepaskan sweather abunya lalu memakaikanya pada Jiana sementara dirinya hanya memakai kaos dalam saja


Bryan menaikan sweather itu keatas sampai batas dagu menutupi leher Jiana yang dipenuhi noda kecupannya. Lalu Bryan menangkup wajah Jiana, mengecup lembut bibir Jiana yang masih bengkak sisa semalam


" Emmmh manis." puji Bryan dan senyuman mengembang dibibir Jiana


-


-