
-
-
Dengan wajah merengutnya Kya berlari mendekati Daddy dan Mumynya lalu naik kepangkuan Jiana namun segera diambil alih Bryan." No Mumy!" larang Bryan menaikan jari telunjuknya
" Kenapa tidak boleh?" wajah marah Kya membuat Bryan ingin tertawa
" Karena diperut mum ada adik bayi."
" Aadiik baaayyiii?"
" Ya, adik bayi. Bukankah selama ini Kya mau adik bayi?"
" Kya mau adik!" teriaknya kencang
" Ya disini adik bayi sedang tumbuh." Bryan mengulurkan jemarinya mengusap perut Jiana yang tersenyum tipis pada Kya, gadis kecil itu mengikuti ayahnya mengusap perutnya
" Sebentar lagi Kya akan punya teman." ucap Bryan memiringkan wajahnya menatap wajah cantik sang putri
" Apa Kya senang?" Kya mengangguk dengan cengiran khasnya
" Kya akan membeli Mariposa untuk adik bayi?"
" Kenapa harus Mariposa?"
" Kalena Mariposa adalah kupu-kupu ajaib. Kya mau adik sepelti Mariposa punya sayap."
" Astaga!" Bryan menepuk jidatnya kencang dengan penuturan putrinya namun itu sukses membuat Kya cekikikan dan mencubit pipi ayahnya
" Sayang itu sangat mengerikan, memangnya Kya mau punya adik yang aneh." gerutu Bryan pada Kya
"Tidak mau, Kya mau secantik Kya." sautnya berteriak membuat Jiana tersenyum, hanya Kya lah penyemangat Jiana saat ini. Tanpa gadis kecilnya mungkin Jiana tak akan bisa bertahan sampai sekarang. Bryan benar-benar memberikan luka dalam dihatinya
Jiana yang tak tahan dan selalu ingin menangis bila melihat Bryan dan Kya. Akhirnya memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan keduanya. Hal itu menjadi perhatian Bryan, ia memangku Kya dan mengikuti Jiana
" Jia .. " panggil Bryan menahan lengan Jiana
" Sayang jika kamu lelah tidurlah." Tapi Jiana tak menjawab, wajah itu malah menunduk kebawah
" Aku tahu, jangan menangis hmm?" Bryan menurunkan Kya kelantai lalu menggandeng Jiana menuju tempat tidur. Wanita itu membiarkan Bryan membantu membaringkan tubuhnya diatas kasur
" Sayang, bisakah minta air pada bibi?"
" Baiklah." saut Kya penuh semangat berjalan meloncat-loncat meninggalkan ayah dan ibunya
Bryan ikut mmebaringkan dirinya diranjang sembari mengusap airmata yang menetes tanpa henti dari pelupuk mata sang istri. Lalu Bryan merengkuh tubuh itu dalam pelukannya, ia merasa sedih melihat Jiana tapi ia juga terlalu mencintai Jiana hingga tak mampu melepaskan wanita itu begitu saja
" Maafkan aku .. kumohon maafkan aku .. " ucap Bryan mengusap-usap punggung Jiana
" Jika kamu merasa sakit, pukullah aku lampiaskan semuanya jangan memendam semuanya sendiri. Kumohon demi bayi-bayi kita .. " bisik Bryan dan seketika itu juga Jiana memukuli dadanya dan menangis kencang
"Aku membencimu!"
" Tidak apa-apa .. aku akan menerimanya." saut Bryan namun dalam hatinya Bryan sangat sakit mendengar ucapan itu. Ia mengeratkan pelukannya dan terus mengusap punggung Jiana, sedikit menenangkan wanita itu. Merasa lelah akhirnya Jiana tertidur dipelukan Bryan
" Tuan .. " panggil bi Ami. Bryan menoleh dan langsung menempelkan jari telunjuknya dibibir
" Ini minumnya." saut bi Amy berbisik. Bryan tak menjawab ia hanya menunjuk meja dekat sofa membuat Bi Amy mengangguk dan meletakan segelas air itu diatas meja. Bi Amy tersenyum senang melihat kedua majikannya itu rujuk kembali
Setelah Jiana tertidur pulas, ia mengurai pelukannya. Lalu menghujani wajah sembab itu dengan ciuman lembut." Tidurlah, saat bangun nanti kuharap lukamu sedikit demi sedikit akan hilang. Aku akan mengobatinya Jia .. " tutur Bryan lalu beranjak bangun dan menyelimuti Jiana
Kemudian ia keluar dari kamar mencari putrinya. Detik itu juga Bryan tersenyum melihat tawa cekikikan Kya dikolam renang dihalaman belakang. Benar saja yang dipikirkan Bryan Kya sedang berenang ditemani bi Amy dan pak Deden
Bryan mendekat bersedekap dada memandangi Kya yang riang berenang memakai pelampung berbentuk bebek. Bryan membayangkan mimpi indahnya, tahun depan kolam itu tak hanya diisi Kya namun ada adik-adik kembarnya. Bryan tersenyum betapa akan bahagianya ia nanti
" Kya sudah berenangnya."
" Tidak mau Kya masih suka."
" Ayolah atau Daddy akan pergi lama lagi."
" No!"
" Kalau begitu ayo cepat naik." Dengan mengerucutkan bibirnya Kya naik dari kolam. Bryan terkekeh lucu lalu berjongkok didepan Kya
" Ayolah mana senyum cantik anak Daddy." bujuk Bryan. Bi Amy dan pak Deden pun tertawa melihat Kya
" Kya kan mau punya adik, seorang kakak tidak boleh marah-marah."
" Kakak?"
" Ya nanti adik bayi akan memanggil Kya. Kakak . kakak Kya .. "
" Kya suka dipanggil Kakak." teriak Kya
Cuuuuuupp
Bryan sangat gemas hingga mencium pipi bakpau itu
" Tuan Nyonya sedang hamil?" Bryan tersenyum seraya menoleh pada bi Amy
" Iya bi .. Jia sedang hamil muda. Aku harap bibi mau bekerja sama menjaga Jia saat aku tak ada dirumah."
" Tentu saja Tuan, tanpa dimintapun bibi akan melakukannya."
" Terima kasih bi." saut Bryan lalu memangku Kya yang tubuhnya hanya berbalut celana pendek. Bryan membawa gadis kecilnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh Kya
Menjelang malam teman-teman Bryan mulai berdatangan kerumah untuk merayakan pesta yang Bryan janjikan tadi pagi pada Arnold. Semuanya tampak melihat-lihat dan mengelilingi rumah baru itu
" No alkohol!" ancam Bryan menaikan tinjunya didepan wajah Arnold
" Dimana Jiana?" tanya Viona
" Dia masih dikamar." saut Bryan lalu mengajak semua temannya kehalaman belakang rumah
Semuanya tampak sudah siap dengan meja makan panjang disana. Bryan sengaja menyiapkan semua ini sekalian acara syukuran hamil dan rumah barunya dan Jiana
" Wahh ini benar-benar pesta. Ck ck sayang sekali tak ada wine .. " ucap David setengah berteriak
" Kalau begitu pergilah ke klub jangan bergabung disini." usir Bryan lalu menyuruh semuanya untuk duduk
" Ck orange jus, strawberry jus .. " ucap Arnold membuat semuanya tertawa
" Kita seperti sedang reuni TK bila begini." gerutu David
" Ayolah kita jarang sekali berkumpul. Seharusnya kalian bersyukur sekarang aku punya waktu bersama kalian." saut Bryan
" Ya ya baiklah .. " saut Clarissa dengan wajah malas
" Lagipula alkohol kurang baik untuk kesehatan." ucap Bryan
" Ya ya .. " David menyahut dengan nada mengejek dan langsung mendapat lemparan sosis bakar tepat diwajahnya oleh Bryan menbuat semua orang tertawa
" Sialan!" umpat David
" Boy Jia .. " bisik Arnold menyenggol lengan Bryan dengan lengannya
Bryan menoleh pada Jiana yang berdiri diambang pintu, ia terkesima melihat tampilan istrinya kini. Jiana merias wajahnya sedikit tebal juga gaun merah menyala yang cukup terbuka. Sebenarnya Bryan tidak rela tubuh berlekuk itu dilihat orang lain namun Bryan tak bisa melarang Jiana saat ini, wanita itu masih marah padanya
" Jiana benar-benar cantik jika berdandan, pantas saja kau sampai tergila-gila padanya." ucap David membuat Bryan beringus bangun berdiri dan mendekat
" Hey sayang .. " panggil Bryan lembut menggandeng Jiana menuju meja dimana semua temannya berada
Wajah dingin wanita itu membuat semua orang menjadi canggung tak terkecuali Bryan. Pria itu hanya menggandeng Jiana dan mendudukan disampingnya." Sayang apa yang ingin kamu makan hmm?" tanya Bryan. Jiana menoleh pada Bryan menatap sesaat lalu menunjuk daging asap diatas meja. Ini sebuah perubahan kecil untuk Bryan meskipun wanita itu tak mau bicara padanya
Bryan segera mengambil daging asap itu lalu memotongnya menjadi beberapa bagian kecil. Bryan menusuk dengan garpu, menyuapkannya pada Jiana yang spontan langsung membuka mulutnya
" Enak?" tanya Bryan
Jiana mengangguk dengan mulut penuh. Lalu Bryan melirik teman-temannya yang malah memperhatikannya dan Jiana." Ayolah bukankah kalian mau berpesta, silahkan makan apa saja yang kalian mau. Aku susah payah memesan semua ini direstautant mahal." gerutu Bryan
" Meskipun begitu uangmu tidak akan habis boy." balas Clarissa. Bryan terkekeh lalu kembali menyuapi Jiana sambil memperhatikan wanita itu. Bryan sangat yakin bisa merebut hati istrinya lagi selama ia bersabar
Semua orang kini tampak asyik menikmati hidangan yang memenuhi meja makan itu begitupun Jiana, wanita itu terus mengunyah tanpa henti membuat Bryan senang. Sambil berbincang bersama teman-temannya tangan Bryan tak henti mengusap puncak kepala Jiana hingga keempat perempuan disana tampak iri menggigit sendok mereka, Bryan terlihat sangat menyayagi istrinya
Tapi kesenangan mereka kini terganggu dengan kehadiran seorang wanita yang mirip Jiana siapa lagi jika bukan Queen. Wanita itu melenggak lenggok mendekati semua orang
" Maaf tuan, bibi tak bisa mencegah nona Queen .." ucap bi Amy membuat Bryan dan Jiana menoleh kebelakang
" Boy kenapa tidak mengajakku, aku juga kan istrimu." ucap Queen manja, dengan gaun hitam yang seksi berjalan mendekati Bryan berdiri disamping pria itu lalu menyentuh pundak Bryan yang langsung ditepisnya
" Kak Jiana, kenapa kakak sangat serakah. Kakak hanya mengurung Bryan dirumah. Kakak ingat istri Boy bukan cuma kakak, ada aku juga yang sedang mengandung anaknya. " tutur Queen membuat Jiana menoleh padanya, saat itu juga Jiana menelan semua yang ada didalam mulutnya
" Kakak juga aneh, kakak menghilang dan tiba-tiba kembali. Mana hamil pula, astaga kalau aku akan benar-benar malu jadi kakak." Jiana mengepalkan kedua tangannya,ia beranjak berdiri dan ..
Plakkkkk
Tamparan keras mendarat sempurna dipipi Queen. " Beraninya kau bicara seperti itu!" teriak Jiana membuat semua orang terkejut, terutama Bryan yang langsung berdiri disamping Jiana
" Tutup mulutmu atau-"
" Atau apa?" potong Queen berkacak pinggang
" Atau aku akan membunuhmu." teriak Jiana mengeluarkan kebenciannya pada sang adik. Queen terbahak kencang memegangi perutnya, wanita itu lengah hingga membiarkan Jiana menjambak rambutnya dengan kuat
" Aaah lepaskan!" teriak Queen merona
" Jalan* .. pelacu* .. kau sampah." umpat Jiana lalu berjalan menggeret Queen melalui rambutnya
" Boy apa yang kau lihat, mereka sedang hamil." ucap Arnold tapi Bryan terlihat takut dengan istrinya itu, pria itu hanya mematung memperhatikan Jiana yang menganiaya adiknya
" Apa perempuan hamil memang segalak itu?" tanya Bryan berbisik
" Nanti kau akan melihat hal yang lebih aneh lagi." saut Arnold
" Kalian ini bukannya melerai malah bergosip." gerutu Clarissa lalu berlari mendekati Jiana yang masih menarik rambut Queen padahal wanita itu sudah berteriak dan menyumpahi Jiana
" Kakak lepaskan aku atau aku akan melaporkan kakak!" teriak Queen
Saat mendekat Clarissa bersama wanita yang lainnya segera melerai Jiana dan Queen. " Jiana tenanglah, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah." ucap Clarissa dan seketika itu juga Jiana melepaskan Queen hingga wanita itu terjengkang dan hampir terjatuh
Jiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menangis kencang. Melihat itu Bryan segera mendekat dan memeluk Jiana. " Pulanglah, kau hanya bisa membuat masalah." usir Bryan pada Queen, wanita itu juga menangis kencang seperti Jiana
" Ssshhhh .. " Hanya itu yang keluar dari bibir Bryan sembari mengusap-usap punggung Jiana
Merasa kesal Bryan membawa Jiana masuk kedalam, wanita itu tak menghentikan tangisannya bahkan saat tiba dikamar mereka. Bryan segera mendudukan dirinya dan Jiana diatas kasur." Tidak apa-apa, kamu sudah melakukan hal yang benar."
Bruk bruk bruk
Seketika itu juga kedua kepalan tangan Jiana mendarat didada Bryan. Pria itu membiarkan Jiana menyakitinya, Bryan hanya menatap dan terus mengusap airmata yang menetes tanpa henti
Cukup lama Bryan menunggu Jiana berhenti menangis. Bryan menangkup wajah Jiana dan memberi kecupan lembutnya dibibir. " Kamu mau makan lagi hmm? aku akan mengambilnya untukmu."
Jiana menggelengkan kepalanya lalu mengangkat wajah. Dengan manik yang masih meneteskan airmata, Jiana menatap Bryan. Saat itu juga Bryan memberikan kecupan lembutnya lagi. " Lakukan apapun yang kamu inginkan Jia, aku akan tidak akan melarangmu selama itu bisa mnegobati rasa sakitmu. " tutur Bryan lalu mencium bibir itu lagi
-
-