
-
-
Malam hari Bryan terbangun dari tidur saat merasakan tenggorokannya teramat perih dan kepalanya sangat pengar. Bryan memukul kepalanya sendiri karena malah mabuk dan tergoda teman-temannya
Lalu ia menyingkap selimut dan tiba-tiba tersenyum melihat tubuhnya tanpa busana tapi ia juga merasa heran, meskipun mabuk ia selalu merasa saat menyentuh tubuh seseorang tapi ia tak merasakan apapun malahan ia bermimpi indah bersama Jiana
Bryan mengedarkan pandangannya kesekitar mencari Jiana. Saat itu ia tak sengaja melihat ceceran darah disisi ranjangnya, ia mengerutkan dahinya dan seketika itu juga menutup mulut dengan telapak tangannya
" Apa Jia sedang menstruasi dan aku memaksanya?" gumam Bryan
" Matilah aku, Jia pasti marah." gumam Bryan lagi lalu ia berjalan menuju kamar mandi
Bryan keluar kamar dengan tubuh yang sudah segar dan rambutnya yang masih basah. Dia mengelilingi rumah mencari Jiana dan merasa heran tak menemukan istrinya
" Sayang .. "
" Jia dimana kamu?"
Bryan menghela nafasnya, ia tak menemukan Jiana. Dalam rumah itu kosong tak berpenghuni. Lalu ia menuju belakang dimana kolam renang dan taman berada. Bryan kembali menghela nafasnya melihat istrinya yang malah termenung disisi kolam dengan kaki menyampai kebawah air
" Sayang apa yang kamu lakukan, ini sudah malam." ucap Bryan berjongkok dan mendekap tubuh Jiana dari belakang. Bibirnya langsung menciumi pipi Jiana
Anehnya wajah Jiana terlihat dingin dimata Bryan membuat Bryan merasa bersalah." Apa aku benar-benar memaksanya?" gumam Bryan dalam hati meneguk ludahnya dengan susah payah
" Tapi aku tidak merasakan apapun." gumam Bryan lagi dalam hati
" Ayo kita masuk hmm? kasihan Kya dia kedinginan."
Tatapan dingin Jiana tertuju pada Kya, ia membelai pelan pipi putrinya lalu beringus bangun berdiri. Ia mengabaikan Bryan dan berjalan masuk kedalam membuat Bryan mengacak-ngacak rambutnya kasar
" Apa aku sungguh melakukannya?" gerutu Bryan
" Dasar bodoh, apa yang harus kulakukan, aku sungguh malu pada Jia .. " gerutu Bryan
Lalu Bryan menyusul Jiana masuk kedalam, mengikutinya dari belakang." Jia biar aku yang menggendong Kya." ucap Bryan namun sekali lagi diabaikan Jiana
"Sayang .. "
Jiana terus berjalan lurus menuju kamar Kya, ia masuk kedalam menutup pintu itu dengan kencang hingga hidung Bryan terpentuk pintu dan seketika itu juga mengeluarkan darah. Jiana bahkan mengunci pintu kamar Kya
" Sayang hidungku berdarah tolong aku!" teriak Bryan menggedor pintu kamar Kya
" Jia .. "
Tidak ada jawaban dari Jiana membuat Bryan kesal dan menendang pintu itu lalu ia menuju kamarnya, mengambil tisue untuk mengusap darah yang masih mengalir dihidungnya
" Dia benar-benar marah." gumam Bryan menepuk-nepuk jidatnya kencang
Bryan keluar lagi menuju kamar Kya, ia ketuk pintu itu lagi dengan pelan." Jia aku belum makan malam, sayang kamu masak apa hari ini untukku?" tanya Bryan memelaskan wajahnya didepan pintu
" Kenapa semarah itu, aku kan sedang mabuk jadi tak mengingatnya." gerutu Bryan mengerucutkan bibirnya kesal
" Benar-benar menyebalkan." gerutu Bryan seraya berjalan menuju ruang keluarga. Ia menghidupkan televisi untuk mengusir rasa kesalnya pada Jiana lalu memesan makanan lewat aplikasi online diponselnya
Tak sampai 20 menit, suara ketukan pintu menyadarkan Bryan dari lamunannya. Pria itu bangkit dan berjalan menuju pintu
Seorang pengantar pizza berdiri diambang pintu. Ia segera mengambil pesanan itu dan membayarnya lalu kembali menuju ruang keluarga. Bryan merasa kesepian, selama 6 bulan ini ia tak pernah makan sendiri sehingga Bryan terus menghela nafasnya berulang
Baru menghabiskan satu potong saja, Bryan sudah tak memiliki nafs* makan, pria itu menutup kembali pizza dan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. " Apa yang harus kulakukan? Jia benar-benar marah .. " gumam Bryan menatap langit ruang tamu itu dengan wajah merengut
Berjam-jam pria itu melamun diruang keluarga, sampai akhirnya kedua matanya terasa berat kembali barulah Bryan kembali menuju kamarnya. Sebelum kekamar, ia mengetuk lagi pintu kamar Kya
" Sayang aku sendiri, kamu tidak mau menemaniku." ucap Bryan memelaskan wajahnya
Sekali lagi Bryan menghela nafasnya saat tak mendapatkan jawaban dari dalam. Pria itu melenggang masuk menuju kamarnya dan Jiana, menghempaskan tubuh itu kekasur dengan kasar
" Aku benar-benar kesepian, sayang .. kamu tega sekali." gerutu Bryan menutup kedua matanya dengan lengan kiri
Paginya Bryan terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan melihat kesekitar, kamar itu masih sama seperti semalam. Pakaiannya masih berantakan dilantai juga sebelah sepatunya pun berada disana
Bryan mengacak-ngacak rambutnya, ia mulai kesal pada dirinya sendiri." Apa aku benar-benar melakukannya?" tanya Bryan pada diri sendiri sambil menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi
Setelah rapi dengan setelan kerja. Pria itu keluar dari kamar membawa tas kerja ditangannya. Ia meraih handle pintu kamar Kya, bibirnya tersenyum saat pintu kamar itu terbuka. Ia melongokan kepalanya kedalam namun tak menemukan Jiana, Bryan hanya melihat Kya masih tertidur pulas diatas kasur
Pelan-pelan Bryan mendekat dan duduk disisi kasur. Ia tatapi wajah fotocopiannya itu lalu memberi kecupannya dikening Kya. Setelah itu ia keluar dari kamar menuruni tangga dan berjalan menuju dapur dimana biasanya Jiana berada
Tapi herannya istrinya tidak berada didapur." Dimana dia?" gumam Bryan mengedarkan pandangannya
Bryan kembali memutari rumahnya dan menuju kebelakang. Ia tersenyum melihat Jiana yang sedang berenang dikolam renang. Bryan mendekat dengan langkah pelan, kebetulan sekali saat itu Jiana sedang istirahat ditepi kolam
Bryan berjongkok dan langsung mendaratkan bibirnya dipipi Jiana. " Pagi .. " sapa Bryandengan suara lembut
Wajah itu masih terasa dingin untuk Bryan. Dan saat Jiana akan kembali berenang, Bryan menahan lengannya." Ini sudah siang, apa Kya tidak sekolah?" tanya Bryan
Jiana hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau melihat wajah Bryan." Hari ini aku pulang terlambat, ada lembur dikantor." ucap Bryan kembali ia akan mencium Jiana namun wanita itu menepis lengannya dan kembali terjun kedalam kolam renang membuat Bryan membeku ditempat, ketakutan mulai melanda Bryan
" Jia, ayo kita bicara." ajak Bryan mengelilingi kolam untuk menjangkau Jiana
" Sayang, beri kesempatan untukku bicara. Jangan mendiamkanku seperti ini." Bryan mulai berteriak dan tak henti berjalan agar berdekatan dengan Jiana namun Jiana tak menggubris Bryan. Wanita itu terus berenang dari sisi kanan kekiri menghindari Bryan yang tak henti mengikutinya
Bryan mulai mengepalkan kedua tangannya, ia mulai geram pada istrinya. Jika saja Darwin tak menghubunginya pagi ini karena masalah pekerjaan yang sangat penting, mungkin Bryan akan menceburkan dirinya untuk menangkap Jiana, wanita itu sama sekali tak menganggap Bryan ada disana
Tak lama Bryan meninggalkan Jiana, meninggalkan rumah dengan kegalauannya dan rasa gusar, juga perutnya yang kosong belum terisi sarapan. Ia tak biasa diacuhkan Jiana, lebih baik Jiana galak padanya dari pada harus berdiaman seperti ini
-
-