
-
-
Bruk
Bryan hempaskan tubuh yang terasa lelah di sofa panjang dirumah sang ayah. Setelah seharian bergelut dengan pekerjaan, Bryan tak langsung pulang kerumah. Ia mampir ke rumah orangtuanya yang hanya beberapa meter dari rumahnya
Sudah dua bulan ini Bryan uring-uringan karena adiknya yang sudah lama tak berselancar. Dan Bryan pikir itu semua karena Jiana, wanita itu sungguh pelit tak pernah membiarkan Bryan menyentuhnya
Ini benar-benar rekor terlama Bryan tak menyentuh wanita. Telah berbagai cara Bryan coba namun istrinya tetap bersikukuh pada pendiriannya. Bahkan selama dua bulan ini Bryan tak pernah keluyuran keluar rumah tidak seperti saat ia lajang. Dan setiap pulang kerja Bryan berusaha menyempatkan waktu membeli bunga untuk Jiana agar wanita itu luluh tapi tetap saja Jiana tak mau melayani Bryan diranjang. Selain itu juga selalu ada gangguan untuk Bryan dan Jiana, apalagi selain putri mereka, yang terkadang tak mau tidur sendiri dengan alasan takut hantu
Bryan mengusap wajahnya yang masam semasam mangga muda. Ia jadi bingung sendiri dan pelampiasan rasa bingung Bryan adalah kariawannya di kantor yang hampir setiap hari terkena amarahnya terutama Darwin
" Tumben sekali." ucap Jeny yang baru saja menuruni tangga dan melihat putranya yang rebahan di sofa. Wanita itu mendekat dan duduk disamping dekat kepala Bryan yang langsung bergerak menjadikan paha Jeny menjadi bantalnya
" Apa Kya tadi kemari?" tanya Bryan
" Istrimu dan Kya setiap hari main disini, saat sore barulah mereka pulang. Kya betah karena bermain bersama Juno." saut Jeny sambil bergerak membelai lembut puncak kepala Bryan, pria itu hanya menghela nafasnya berat
" Ada apa? apa pekerjaanmu sulit?"
" Bukan masalah pekerjaan Mom." saut Bryan, wajah masam itu terlihat di mata Jeny
" Ceritakan pada Mom." desak Jeny. Seperti Ken, sang putra juga selalu berkeluh kesah padanya saat mempunyai sebuah masalah
" Jiana Mom." saut Bryan pelan sambil menatapi wajah ibunya
" Kenapa Jiana? dia baik-baik saja. Malahan tadi membuatkan Mom kue. Mom benar-benar menyukai menantu seperti Jiana." puji Jeny pada Jiana
" Dia tidak mau kutiduri." gerutu Bryan kesal karena Jeny malah membanggakan Jiana dan apa? wanita itu kini malah tertawa
" Kenapa? apa kamu membuat kesalahan?."
" Aku tidak tahu wanita itu benar-benar menyebalkan. Selama ini aku bahkan tidak pernah berkencan dengan wanita lain."gerutu Bryan lagi membuat sang ibu kembali tertawa
" Apanya yang lucu." gerutu Bryan
" Mungkin Jiana sedang menstruasi."
" Memangnya mentruasi sampai dua bulan."
" Apa maksudmu boy?" tanya Jeny mengerutkan dahinya, selama ini ia pikir pernikahan putranya baik-baik saja meskipun terkadang ia masih berpikir apa yang terjadi antara anaknya dan Jiana sampai beberapa waktu lalu menantunya itu berusaha menolak untuk dinikahi Bryan. Jeny merasa heran, jika wanita lain mungkin akan bersorak senang dan bangga tapi yang dilihat Jeny Jiana hanya datar tak terlihat bahagia sedikitpun bahkan wanita itu tak pernah teedengar meminta apapun pada Bryan padahal Bryan sanggup membelikan apapun yang selalu diinginkan wanita
" Sejak kami menikah Jiana tidak mau kutiduri." saut Bryan mengusap wajahnya kasar bila mengingat kegagalannya selama dua bulan ini dalam menaklukan Jiana
" Bagaimana bisa? apa kau membuat kesalahan dimasa lalu? adanya Kya diantara kalian pasti karena kalian pernah berkencan bukan? atau jangan-jangan Jiana melihatmu selingkuh dan tidur dengan wanita lain?" pertanyaan sang ibu yang beruntun membuat Bryan membungkam, lidahnya selalu kelu tak mampu mengatakan yang sejujurnya pada sang ibu dan jika ia menceritakan semuanya pada Jeny bukan tidak mungkin pukulan keras serta makian akan ia dapat. Bahkan ibunya bisa saja menangis histeris merutuki kelakuan bejad Bryan dan yang lebih parahnya Jeny akan memberitahu Ken, sang ayah yang paling ia takuti bila tahu bahwa ia pernah menjadi seorang pengecut sebelumnya
" Apa yang harus kulakukan." bukannya menjawab pertanyaan sang ibu Bryan malah menggumam tak jelas, terlihat raut wajah itu banyak sekali pikiran dimata sang ibu membuat Jeny ingin sekali tertawa. Pasalnya ia tak pernah melihat wajah Bryan semasam saat ini hanya karena wanita
" Jiana sangat luar biasa."
" Luar biasa apanya, dia dingin, cuek berbeda jauh dengan pacar-pacarku dulu. Bisa-bisanya ibu Kya adalah Jiana." gerutu Bryan mengusap wajahnya kasar membuat Jeny tertawa
" Lalu apa yang terjadi dulu, kau menyakitinya?" tanya Jeny lagi
" Aku .. memang menyakitinya." saut Bryan menggumam
" Ambil hatinya dan sekarang minta maaflah untuk kesalahanmu dimasalalu." ucap Jeny
" Maksud Mom?"
" Kau mengaku pejantan wanita tapi benar-benar bodoh." umpat Jeny menyentil dahi Bryan
"Perlakukan dia layaknya seorang istri bukan hanya sebagai ibu Kya. "
" Mom selama ini aku selalu memperlakukannya dengan baik bahkan aku melakukan yang tidak pernah kulakukan pada seorang wanita. Bisa Mom bayangkan aku membeli bunga setiap hari untuknya berharap dia luluh. Tapi masih saja dia sedingin es." gerutu Bryan. Jeny tersenyum mendengarnya dengan jemari tak henti membelai kepala sang putra dari dahi ke puncak kepala
" Apa kau tulus selama ini?"
" Boy .. wanita semacam Jiana biasanya sangat langka. Wanita seperti itu tidak melihat apa yang terlihat didepan matanya. Wajahmu tampan dan kau mempunyai segalanya, itu artinya Jiana tak memandang apa yang ia lihat. Tapi cobalah kau rayu dia dengan hatimu dan mulailah cintai istrimu dengan tulus."
" Wanita semacam Jiana akan setia disaat suka dan duka jika kau bisa mendapatkan hatinya." tambah Jeny lagi, suara nasihat itu begitu lembut ditelinga Bryan sedikit mengurangi muka masamnya
" Aku akan memikirkannya." saut Bryan membuat Jeny jengah membuka mulutnya
" Memikirkan apa?"
" Untuk mencintai Jiana."
" Boy, mom ingin bertanya apa kamu masih mencintai Queen?"
" Astaga, kenapa membawa-bawa wanita itu, itu sudah berlalu."
" Ya itu hanya masa lalu, kau sudah beristri sekarang, cintai istrimu jangan hanya mencintai Kya." Bryan hanya mengangguk-ngangguk dengan pesan ibunya, putranya memang selalu tak serius dengan hal apapun selalu pecicilan
" Dimana Daddy?" tanya Bryan celingukan
" Daddymu itu sekarang sedang hoby sekali bermain golf bersama kak Dewa." saut Jeny
Bryan menoleh pada ibunya dan tersenyum usil
" Hati-hati Mom, ditempat golf banyak sekali wanita cantik yang masih muuuuuda dan seksi." ucap Bryan menyengir sesaat dan langsung berlari keluar sebelum mendapat pukulan ibunya
Bryan tak membawa mobil hitamnya, ia berjalan menuju rumahnya. Sepanjang jalan para tetangga menyapa Bryan saat berpapasan dengannya yang Bryan balas dengan senyum membuat para ibu dan anak-anaknya berjingkrak senang. Di kompleks perumahan elite itu tidak ada yang tidak menegenal anak Ken dan Jeny tersebut, pria populer dikalangan tetangganya terlebih wanita tapi mereka tidak tahu saja kelakuan Bryan
Bryan masuk kedalam rumah dan disambut dengan teriakan gadis kecilnya yang berlari mendekat padanya
" Dont run!" tegur Bryan menaikan jari telunjuknya
" Hehe Kya kan rindu Daddy." sautnya lucu menggoyang tubuhnya dengan kedua tangan disimpan dibelakang
Bryan segera berjongkok dan mencium kedua pipi bulat itu dengan begitu gemas
" Apa Daddy membawa mainan?"
" Sayang mainanmu sudah penuh dikamar."
" Tapi Kya mau yang balu, emmmhh jeli-jeli Dad."
Bryan terkekeh lucu, ia selalu tak mengerti dengan permintaan Kya yang selalu kurang jelas, Bryan mana tahu berbagai macam mainan yang iya tahu hanya selangka*gan
" Baiklah Daddy beli besok." saut Bryan lalu ia memangku Kya
" Dimana Mum?"
Telunjuk Kya menunjuk kearah dapur membuat Bryan melangkah kesana. Bryan mencebikan bibirnya melihat Jiana yang sedang asyik membuat kue didapur, wanita itu lebih mementingan kue dibanding suaminya. Pikir Bryan kesal lalu ia mendekat dan berdiri disamping Jiana yang tak bergeming dengan kehadirannya
" Kau berniat membuatku gemuk?" tanya Bryan
" Jangan dimakan kalau kau tidak mau gemuk. Aku membuat ini untuk Kak Bulan. Dua minggu lagi mereka kemari." saut Jiana
Bryan menghela nafasnya dan melirik ke rak kaca di sudut dapur, lihatlah berbagai macam kue berjejer disana. Setiap hari itu yang selalu Bryan lihat, padahal yang paling Bryan ingin lihat adalah tubuh telanjan* istrinya
" Kau mau makan malam sekarang?" tanya Jiana
Jiana memang melayaninya sebagai istri dengan baik. Setiap hari wanita itu menyiapkan pakaian kerja untuknya, memasak menyiapkan sarapan pagi dan malam layaknya seorang istri. Tapi hanya satu yang tidak Jiana lakukan yaitu melayani diranjang, Jiana masih enggan sampai sekarang. Ya meskipun ia melihat berbagai perubahan dari Bryan, mulai dari Bryan tak pernah keluar malam seperti yang selalu mertuanya ceritakan bahwa Bryan tidak pernah betah dirumah. Lalu sikapnya yang perlahan manis dan jujur saja membuat Jiana sedikit tersentuh namun wanita itu masih ingin melihat sejauh mana perubahan Bryan
" Nanti saja, aku belum lapar." saut Bryan tak henti menatap Jiana
" Baiklah, aku siapkan nanti." saut Jiana tanpa melirik Bryan membuat Bryan gemas dan menampar bokongnya dengan kasar
" Bryan." teriak Jiana hingga cekikikan lolos dari bibirnya dan Kya. Anak dan Ayah itu memang senang sekali mengerjai Jiana
-
-