Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Putaran pertama dan kedua



-


-


Bryan masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar itu. Dengan langkah pelan dan setangkai bunga mawar merah dimulutnya, Bryan mendekati Jiaan yang sedang duduk didepan meja rias. Bryan terkikik lucu dalam hati melihat Jiana yang menurutinya, wanita itu memakai lingerie hitam warna kesukaannya


Bryan duduk dimeja rias itu menatap Jiana yang tak bergeming dengan kehadirannya, wanita itu sibuk memakai perawatan wajahnya. Bryan mulai genit, menelusuri wajah cantik itu dengan bunga mawar yang kini berpindah ditangannya. Lalu bunga mawar itu semakin turun pada leher dan terus kebawah dengan nakalnya


" Kya sudah tidur?" tanya Jiana


" Sejak tadi aku sudah menidurkannya." saut Bryan dengan senyum tak pudar menatap Jiana


" Jika sejak tadi lalu apa yang kamu lakukan sampai begitu lama." Jiana yang selesai akhirnya menoleh pada Bryan, semenjak hamil si kembar Jiana memang lebih posesiv pada suaminya itu


" Aku mengambil bunga cantik ini dari taman Mom." sautnya dengan senyum nakal


Jiana merampas bunga mawar itu dari tangan Bryan." Kenapa repot-repot seperti ini." gerutu Jiana namun bibir itu tersenyum manis pada suaminya


" Rose .. " gumam Jiana menghirup sedapnya aroma bunga tersebut


" Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanya Bryan menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinganya. Jiana segera bangkit, Ia berdiri dan mengikis jarak dengan menyisipkan tubuhnya diantara kedua kaki Bryan. Tangannya nakal menyentuh wajah Bryan dengan setangkai bunga mawar ditangannya menelusuri wajah tampan itu dan turun kebawah dengan gerakan lambat lalu berhenti dipangkal paha Bryan


Bryan tersenyum nakal menarik pinggang itu dengan kedua tangannya. Ia mencium pipi Jiana dengan mesra namun saat bibirnya akan meraih bibir ranum itu, Jiana dengan nakalnya menjauhi Bryan. Wanita itu melenggak lenggokan tubuhnya menuju tempat tidur diikuti Bryan yang berjalan sembari membuka seluruh pakaiannya


Tapi belum sampai menuju ranjang Bryan telah lebih dulu menangkap tubuh itu. Ia mendekap Jiana dari belakang hingga Jiana dapat merasakan sesuatu yang mengeras dibelakang tubuhnya. Bryan menyingkap rambut yang tergerai itu kesamping untuk mencumbu* leher Jiana membuat tubuh itu melunak, tangannya tak bertenaga lagi dan akhirnya setangkai bunga mawar itu jatuh begitu saja kelantai


Darah Jiana mulai berdesir karena sentuhan itu kedua jemarinya mulai merema* kedua jemari Bryan diperutnya. " Kamu suka gaya apa Jia?" bisik Bryan nakal lalu menjulurkan lidahnya ketelinga Jiana membuat tubuh itu bergidik geli


" Aku menyukai semuanya asalkan itu denganmu." sautnya dengan suara mendayu


" Aahh kamu benar-benar menggodaku sayang .. " bisik Bryan lalu menarik tubuh itu kembali menuju meja rias. Ia pangku dan dudukan diatas meja, merobek lingerie hitam itu menjadi dua bagian sebelum melemparnya kelantai sedangkan Jiana hanya tersenyum dengan keantusiasan suaminya itu


Lalu Bryan berlutut dibawah Jiana menaikan kedua kaki itu kepundaknya. Bryan tersenyum sesaat menengadah pada Jiana yang wajahnya dipenuhi gairah. Bryan menciumi tempat lahir Kya itu dengan begitu lembut. Sambil menatap Jiana dari bawah, Bryan membuka lebar belahan itu dengan kedua jemarinya ..


" Aaaaahhh boy .. " Jiana menjerit saat lidah Bryan menyeruak masuk kedalam kewanitaanya


" Aaahhh emmm .. " Kedua tangan Jiana mulai tak diam menelusuri meja rias, mencari pelampiasan atas rasa nikmat itu membuat semua alat make up diatas meja rias tersebut berjatuhan kelantai


Prang


Prang


preng


Prong


Keduanya tampak tak perduli dengan suara berisik dan suara pecahan kaca itu karena Bryan malah semakin menjadi, ia kian menyusupkan wajahnya pada pangkal paha itu." Bryan aaaahhh .. " desssah Jiana. Dan akhirnya Jiana melampiaskan itu pada buah dadanya, namun itu tak berlangsung lama karena Bryan segera mengganti dengan kedua tangannya. Bryan menjamah tubuh itu atas dan bawah membuat Jiana tak henti mengeluarkan suara erotisnya. Jika saja kamar mereka tak dipasang peredam suara mungkin suaranya akan sampai kelantai bawah


Jiana hanya bisa merintih saat tubuh dan pikirannya tak berdaya karena Bryan. Kedua tangannya melingkari tubuh Bryan dan jemarinya mulai hinggap dirambut belakang suaminya. Entahlah Jiana tak bisa menjelaskan bagaimana nikmatnya hujaman itu, Bryan selalu memberikan sensasi yang berbeda setiap kali menyentuhnya


Dan Bryan seakan tak pernah puas menjamah tubuh Jiana, pria itu senang sekali main dibuah dada yang berguncang, menyusu sangat lahap bak bayi yang benar-benar kehausan." Aahh ya Bryan seperti itu eemmmh nikmat. " Bibir Jiana mulai meracau memasuki detik-detik dimana ia akan melepaskan kenikmatannya


" Emmmh yaaa baby keluarkan suaramu." Bryan menyaut racauan itu dan mempercepat permainannya, rasanya sangat menyenangkan untuk Jiana


" Ooohh shitttt Jia, aaahh kamu menggigitku." racau Bryan dan detik selanjutnya ia menumpahkan cairan itu didalam sana. Rasa hangat itu mengalir memenuhi rahim Jiana


Bryan segera merengkuh tubuh yang bak jely itu melingkarkan kedua tangannya di punggung Jiana. Sementara wanita itu terengah dileher Bryan dengan kedua tangan melingkar dipinggangnya. Bryan mengurai pelukan itu lalu mencium kening Jiana yang berkeringat sembari mengulurkan tangannya mengusap perut Jiana


" Mereka bergerak." ucap Bryan tersenyum senang hingga menyalur pada Jiana, wanita itu mengulurkan jemarinya menyentuh jemari Bryan yang mengelus perutnya


" Aku sudah tidak sabar Jia .. pasti rumah kita akan ramai dengan suara tangisan bayi." ucapnya dengan senyum tak pudar


" Kamu sangat menyukai anak kecil?" Bryan menggelengkan kepala


" Aku tidak menyukai anak kecil tapi jika itu anak-anakku tentu aku akan sangat menyayangi mereka. " Jiana tersenyum hangat


" Kapan kita bisa melihat jenis kelamin mereka?"


" Aku tidak akan mencari tahu."


" Kenapa hmm?"


" Itu akan menjadi surprise untuk kita saat mereka lahir."


" Jadi kita tidak akan melakukan usg?"


" Siapa bilang, kita harus melakukannya agar tahu mereka baik-baik saja." saut Jiana menatap Bryan, demi Tuhan suaminya ini sangat tampan dan seksi dengan rambut basah yang dipenuhi keringat seperti itu. Jiana meneguk ludahnya kasar, jemari yang memegang jemari Bryan itu kini terulur kedada membuat pandangan Bryan teralih padanya


Bryan meneguk ludahnya kasar dengan elusan lembut pada dadanya itu dan tangan diperut itu kian naik keatas. Jiana tersenyum nakal lalu mendekatkan wajahnya kedada Bryan, lidahnya terulur menjilat kucuran keringat didada itu membuat Bryan tak tahan dan burung yang masih dalam sangkarnya itu mengeras dan bangkit lagi


Segera ia menangkup wajah mungil itu dan mengecup mesra bibir Jiana." Aku mau lagi." Bryan terkekeh lucu dengan ucapan itu lalu segera memangku tubuh yang mulai berbobot itu menuju ranjang


Mereka melanjutkan putaran kedua itu disana untuk membuat ranjang mereka berderit kencang ..


Ouhh yeahh Jia .. sayang emmh sepeti itu .. yaa yaa lebih cepat honey ..


Begitulah suara racauan Bryan yang kini takluk dibawah Jiana, kehamilan membuat istrinya jadi agresif diranjang. Bryan merasa terus menerus mendapatkan jakcpot, sudah dua malam ini ia merasa terpuaskan karena si kembar yang sepertinya selalu minta dijenguk oleh ayahnya


-


-