Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Aku tidak bisa



-


-


Bryan membalas uluran tangan itu dan langsung menarik wanita itu untuk duduk disampingnya


" Siapa namamu?" tanya Bryan


" Kalia, namaku Kalia anesta." sautnya lembut


" Kalia apa kau pernah bermalam bersama seorang pria?" tanya Bryan tanpa basa basi lalu meneguk birnya


" Kenapa kau bertanya seperti itu?"


" Karena aku lebih suka wanita yang sudah berpengalaman." saut Bryan enteng


" Aku pernah melakukannya beberapa kali dengan mantan pacarku." ucap Kalila membuat Bryan menoleh menatapnya, Bryan kembali dilanda rasa heran, melihat Kalila yang cantik seperti ini entah kenapa ia tak bernafsu sedikitpun. Padahal biasanya ia akan sangat gencar bila pada wanita cantik


" Kau pria aneh, biasanya pria kaya sepertimu suka wanita yang masih fresh dan virgin."


" Hanya Jiana wanita yang masih suci untukku, tidak ada lagi."


" Siapa Jiana? apa pacarmu?" tanya Kalia penasaran


" Dia istriku, ibu Kya. Dulu aku menghancurkan hidupnya, makanya sekarang dia sangat membenciku."saut dengan senyum kecut


" Apa kau mencintai istrimu?"


Bryan membungkam, ia tak tahu perasaannya seperti apa terhadap Jiana. Bryan hanya merasa jantungnya selalu berdebar dengan apapun yang Jiana lakukan mengingatkannya pada bertahun-tahun silam saat ia jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan gadis rok pink yang ia temui sekilas namun mampu meluluh lantahkan isi hatinya


Sambil tak henti menatap Kalia, Bryan meneguk birnya hingga tandas tak bersisa, ia lempar kaleng bir itu lalu beranjak berdiri menarik Kalia yang mengikutinya begitu saja. Bryan berjalan masuk kedalam vila dan masuk kedalam kamarnya. Ia hempaskan tubuh bak gitar spanyol itu dengan kasar keranjang


" Ah kau kasar sekali." pekik Kalila tapi dengan bibir tersenyum menggoda


" Karena aku suka hal yang ekstream." saut Bryan merangkak naik keatas tubuh Kalia


" Aku juga suka." saut Kalia mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan, ia tarik leher itu dan satukan bibirnya dengan bibir sang pria. Lihatlah Bryan bahkan tak merasa tergoda sedikitpun, lalu ia mencoba memejamkan mata dan membalas belitan lidah Kalia. Bryan mencoba nakal, tangannya meraba buah dada Kalia yang super besar bila dibandingkan dengan istrinya hingga wanita itu melenguh dalam ciumannya


" Emmmhh yaa teruskan." ucapnya dengan suara mendayu saat bibir Bryan turun kelehernya


Bryan menghela nafasnya dileher Kalia lalu ia mengangkat wajah dan melepaskan kedua tangan Kalia dari tubuhnya. Bryan beranjak bangun dan duduk, mengusap wajahnya kasar


" Aku tidak bisa." ucap Bryan membuat Kalia ikut bangun duduk menatap heran pada Bryan


" Kenapa? bukankan tadi kau menginginkanku." saut Kalia


" Aku benar-benar tidak bisa, keluarlah." usir Bryan


Namun Kalia hanya terdiam menatap Bryan membuat pria itu yang bangun dan keluar dari kamarnya. Bryan kembali pada teman-temannya yang sedang asyik memakan hasil barbeque mereka, ia duduk disamping David dan menusuk sosis bakar dengan garpu


" Cepat sekali." ucap David dengan mulut penuh makanan


" Apanya yang cepat?" tanya Bryan


" Kau, apa sekarang kau tidak bisa bertahan lama?" tanya David dan langsung mendapat tinju Bryan pada bahunya


" Aku tidak melakukan apapun."


" Kenapa? apa juniormu sudah tak bisa bangun lagi karena terlalu lama?" tanya David lagi yang Bryan rasa menyebalkan


" Satu jam pun aku mampuh." saut Bryan sombong lalu melahap sosis ditangannya


" Lalu kenapa? ini baru 10 menit?" tanya David lagi usil


" Shut up! kami tidak melakukan apapun."


" Aneh sekali, jelas-jelas aku melihatmu masuk kekamar kukira kau bersenang-senang. Kalau kau tidak mau Kalia untukku saja." ucap David usil namun malah diiyakan Bryan


" Sungguh?" tanya David


" Ya .. aku akan bersama Clarissa." saut Bryan seraya melirik Clarissa yang duduk berhadapan dengannya


" Aku setia menunggumi baby." saut Clarissa tersenyum manis


" Kau bersamaku." tiba-tiba Viona menyahut membuat semua orang terkejut tak terkecuali Bryan


" Bryan aku ingin bermalam denganmu." ucap Viona menatap serius


" Jangan gila!" saut Bryan tersenyum sinis


" Itu karena kau tidak pernah mencoba bermalam denganku."


" Kau mau menghianati Jiana? menghianati temanmu." saut Bryan mulai menatap sinis


" Lalu bagaimana denganmu? kau sudah beristri tapi kau malah berlibur bersama wanita lain dan bermalam dengan wanita lain?" teriak Viona membuat semua orang terkejut, baru kali ini mereka melihat Viona seperti ini. Biasanya wanita itu kalem dengan pembawaan yang tenang


Bryan membungkam, ia beranjak berdiri dan menuntun menarik tangan Clarissa untuk berdiri


" Aku mencintaimu." teriak Viona, semua orang dibuat terkejut kembali


Bryan tak menggubris, malah menarik Clarissa berjalan untuk meninggalkan halaman


" Aku mencintaimu Bryan." teriak Viona


" Jangan gila dan tahulah batasanmu" bentak Bryan


" Kenapa? derajatku bahkan lebih tinggi dari Jiana yang seorang penjual kue." teriak Viona mulai menangis


Bryan memutar tubuhnya dan menatap tajam Viona entah kenapa ia merasa marah dengan ucapan Viona yang terdengar merendahkan istrinya. Seketika wanita itu berlari dan berhambur memeluk Bryan dengan erat, ini pertama kalinya ia memeluk tubuh kekar itu


" Aku akan menganggap semua ini tak terjadi." saut Bryan dingin lalu menarik Clarissa masuk kedalam Vila meninggalkan Viona yang menangis kencang


" Arnold lakukan sesuatu, aku benar-benar mencintai Bryan." teriak Viona menutup wajah dengan telapak tangannya


Arnold dan David hanya saling menatap, selama ini mereka tak tahu apapun tentang Viona. Karena Bryan pun tak pernah terlihat menganggap Viona sebagai seorang wanita. Mereka hanya berteman, termasuk dengan Clarissa namun wanita itu betuntung bisa tidur dengan Bryan tak seperti Viona yang menyembunyikan rasa sukanya terhadap Bryan hingga wanita itu akhirnya menyesal karena nyatanya kini Bryan telah dimiliki wanita lain


Kini Bryan didalam kamar bersama Clarissa, Bryan duduk diranjang dan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa menatap Clarissa yang berdiri membuka pakaiannya dihadapan Bryan atas perintahnya


" Bagaimana?" tanya Clarissa melenggak-lenggokan tubuh seksinya pada Bryan yang terus menggeleng


" Huft. " keluh Clarissa


" Sebenarnya apa yang terjadi? apa kau memiliki penyakit sekarang?" tanya Clarissa


" Bisa-bisanya kau berkata seperti itu?" bentak Bryan membuat Clarissa tertawa cekikikan


" Kau seperti seorang hom*." saut Clarissa mendekat dan duduk dipangkuan Bryan dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Ia membuka kakinya lebar didepan Bryan. Kedua tangan pria itu mencoba mulai nakal pada bukit kembarnya membuat Clarissa mende*ah pelan


Bryan segera memangku tubuh itu ketengah ranjang dan membenamkan wajahnya digunung kembar mencoba membangunkan hasratnya. Kedua jemari lentik Clarissa membuka satu persatu pakaian Bryan hingga pria itupun sama-sama tanpa busana dengannya


" Sayang .. " panggil Clarissa menggoda Bryan dengan suaranya tapi malah membuat pria itu berhenti dan mengangkat wajahnya


" Aku tidak bisa Clar." ucap Bryan beranjak bangun dan duduk, ia melihat adiknya yang lunglai dan tak bangun


" Kenapa hmm?" tanya Clarissa memeluk tubuh itu dari belakang


" Aku selalu mengingat putriku." saut Bryan mengusap wajahnya kasar


" Sungguh aku ingin bersenang-senang malam ini, kau tahu berapa lama aku tak menyentuh wanita .. tapi senyum dan tawa putriku terus terngiang dikepala membuatku tak bisa melakukannya. Aku tak mau senyum putriku luntur." saut Bryan lalu ia berbaring membelakangi Clarissa yang spontan ikut berbaring dan memeluknya dari belakang


" Kau sangat menyayanginya?" tanya Clarissa


" Lebih dari apapun. Dia segalanya. Sejak aku menemukannya dia merubah duniaku. Aku tidak pernah keluar rumah lagi setelah pulang kerja dan selalu menemaninya bermain dirumah." saut Bryan


" Saat aku pulang bekerja, dia selalu menungguku didepan pintu berlari memanggilku Daddy .. Daddy .. Daddy Kya. " ucap Bryan tersenyum mengingat lucunya Kya. Sementara Clarissa menjadi pendengar setianya


" Aku benar-benar merasa bangga saat dia memanggilku seperti itu. Aku merasa bahagia melihatnya tersenyum dan tertawa. " tutur Bryan memegangi jemari lentik Clarissa di perutnya


" Demi Tuhan, aku tidak pernah seperti ini. Saat dia menangis aku merasa lemah, dalam sekejap dia menjadi duniaku Clar. "


" Karena dia benar-benar darah dagingmu. Itu namanya ikatan batin ayah dan anak." saut Clarissa tersenyum dibelakang tubuh Bryan, ini pertama kalinya ia mendengar suara Bryan terdengar lembut. Clarissa sudah lama berteman dan saling mengenal namun setahunya Bryan adalah tipe pria yang kasar dan arogan bahkan diatas ranjang sekalipun


" Aku akan pulang." ucap Bryan beranjak bangun


" Semalam ini?"


Bryan mengangguk lalu menuruni ranjang untuk mengambil pakaiannya didalam koper, pakaian yang baru yaitu setelan kerja yang Jiana siapkan untuknya


" Besok saja ini sudah malam." tegur Clarissa ikut turun lalu menepuk pundak Bryan sambil memakai dress ketatnya kembali


" Tidak, aku akan pulang malam ini aku sungguh merasa tidak tenang." sautnya terburu-buru merapihkan pakaiannya kembali kedalam koper


" Bagaimana dengan istrimu?"


" Apa maksudmu?" tanya Bryan menoleh kebelakang


" Bagaimana posisi istrimu dihatimu?" tanya Clarissa


Bryan terdiam sejenak menatap Clarissa." Dia .. dia ibu Kya, tentu dia wanita yang istimewa." saut Bryan lalu berjalan keluar


Semua orang yang sedang berkumpul diruang tamu terkejut melihat Bryan yang sudah rapi dan membawa koper ditangannya


" Aku mau pulang." ucap Bryan


" Boy, kau jangan gila. Kau bilang mau bersenang-senang." saut David


" Tidak, aku akan pulang." saut Bryan kukuh


" Kenapa? apa Clarissa tidak memuaskanmu?" celetuk Arnold


" Sialan kau." teriak Clarissa memberikan jari tengahnya pada Arnold


" Aku mau pulang tolong jangan menahanku." ucap Bryan lalu berlalu keluar rumah begitu saja meninggalkan semua orang yang tercengang


" Boy .. boy .. " teriak David mencoba mengejar Bryan namun Clarissa menahan lengannya


" Clar what happened?" tanya Arnold berteriak


" Entahlah, Bryan sangat aneh. Dia bilang dia mengingat putrinya. "saut Clarissa menghempaskan tubuhnya ke sofa disamping Viona yang berwajah sembab karena tak henti menangis


" Kalian berci*ta?" tanya Clay


" Bryan benar-benar aneh, dia bahkan tak on saat kami sudah sama-sama tak pakai baju." gerutu Clarissa melipat kedua tangannya didada


" Ada apa dengan Boy, apa terjadi sesuatu pada Kya?" tanya David


" Kupikir alasan Bryan pulang bukan karena putrinya saja."


" Apa maksudmu?" tanya Clay cepat


" Jiana .. " saut Clarissa dengan pandangan kesembarang arah


-


-