Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kecemburuan Bryan



Berbulan-bulan berlalu sejak acara liburan gagal Bryan bersama Arnold dan David. Pria itu benar-benar membuktikan bahwa dirinya akan berubah dan memperbaiki pernikahannya dengan Jiana. Setiap hari Bryan tidak pernah pulang telat, pagi ia sarapan dirumah begitupun malam hari. Terkadang juga ia mengajak Kya dan Jiana makan malam diluar


Kini Bryan dan Jiana sudah layaknya suami istri seperti pada umumnya. Setiap hari libur kerja Bryan selalu membawa Jiana dan Kya untuk berjalan-jalan meski tak terlalu jauh hanya mengelilingi sekitar jabodetabek karena bagi Bryan bukan tempatnya melainkan kebersamaan dirinya bersama Kya dan Jiana. Lihatlah sekarang rumah itu mulia dipenuhi foto ketiganya dengan berbagai gaya keluarga kecil yang berbahagia pada umumnya


Bryan bahagia, ia sangat bahagia hidup bersama Jiana dan Kya meski ada satu hal yang masih membuat dirinya dan Jiana berjarak yaitu Jiana yang masih belum memberikan hak Bryan. Bryan sendiri bingung kenapa sulit sekali mendapatkan Jiana, selama ini ia berusaha sabar dan Bryan tidak pernah sesabar ini pada siapapun. Ini rekor terlama sepanjang masa, pikir Bryan yang selalu gagal menikmati tubuh istrinya. Bryan seperti mendapatkan karma, dulu saat mau ia tinggal mengubungi agensi mana, model mana dan artis mana yang ingin ia tiduri. Tapi sekarang bahkan untuk sebuah ciuman dari bibir istrinya pun Bryan sudah harus mengemis dan memelas dan Bryan merutuki tubuhnya yang tak bereaksi pada wanita-wanita cantik yang kerap David dan Arnold tawarkan padanya membuat kedua temannya itu tak henti mentertawakan dan meledeknya


Hari ini Bryan sengaja pulang lebih awal ia ingin memberi kejutan pada Jiana dengan hari pernikahan mereka yang sudah berjalan selama enam bulan lamanya. Tentu saja tujuan awalnya untuk membuat Jiana luluh dan mau ia tiduri karena setiap hari itulah yang selalu Bryan pikirkan. Bagaimana cara mengambil hati Jiana? bagaimana cara agar perempuan itu takluk padanya? Dan seperti apa kata Jiana, pria itu selalu berlebihan dalam hal apapun, dulu saja sewaktu tiga Bulan pernikahan mereka pria itu memberi kejutan padanya dengan mengadakan makan malam romantos diatas kapal pesiar dan bukannya luluh Jiana malah mengatai Bryan berlebihan alias lebay


Bryan tersenyum menatapi kotak hitam berisi kalung berlian ditangannya. Lalu ia masukan kembali ke saku celana dan melajukan mobil dari toko perhiasan menuju rumahnya. Tepat didepan gerbang tatapan Bryan mendadak tajam, ia menggeram kesal menatap Darwin yang berada dirumahnya. Darwin dan Jiana sedang duduk di kursi beranda depan, Bryan terus menatapi keduanya yang tampak sedang berbincang


" Aku menyesal menyuruhmu datang ke Apartment Bryan malam itu." ucap Darwin tak henti menatapi Jiana yang kini lebih cantik sejak terakhir kali ia melihatnya


" Itu sudah berlalu, tidak ada yang perlu disesali." saut Jiana tanpa melihat Darwin


" Kau bahagia Ji bersama Bryan?"


" Aku bahagia bila putriku bahagia." saut Jiana tersenyum tulus


" Andai saja dulu kau menceritakan semuanya padaku, mungkin kita tidak akan berpisah sampai sekarang dan aku mau bertanggung jawab atas anak yang kau kandung." tutur Darwin sendu membuat Jiana beralih menatapnya


" Dan aku tidak membiarkan itu terjadi. Kau tidak seharusnya menanggung hal yang bukan menjadi tanggung jawabmu!"


" Tapi aku mencintaimu Ji, sampai detik ini."


" Aku tahu kau tidak bahagia bersama Bryan, pria itu bukanlah pria yang bisa menjaga komitmen Ji. Aku tahu seberapa brengse*nya dia, jadi Ji tinggalkan Bryan dan kembali padaku. Aku tulus mau menjagamu dan Kya, aku akan menganggap Kya sebagai putriku sendiri." tutur Darwin menambahkan sambil menyentuh kedua tangan Jiana diatas pangkuannya


" Putriku sangat bahagia bersama ayahnya. Aku tidak mungkin membuat putriku sedih." saut Jiana sambil menatapi kedua jemarinya yang disentuh Darwin dan Jiana tak merasakan apapun. Jika dulu ia sangat senang Darwin menggenggam tangannya


" Lalu bagaimana denganmu? bukankah kau juga harus bahagia?" tanya Darwin


Jiana membungkam ia hanya tersenyum begitu manis pada Darwin dan itu membuat manik hitam pekat yang sedang mengintip mereka menyalang tajam, tangannya semakin mencengkram kuat stir kemudi dan raut wajah itu memerah marah


" Brengsek, kau bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu padaku Jiana." gumam Bryan dipenuhi rasa cemburu tingkat tinggi


" Cemburu? hah aku bukan cemburu, tidak .. hanya saja dia istriku. Seorang Bryan tidak pernah dikhianati wanita manapun." gumam Bryan


Bryan memundurkan mobilnya kembali kebelakang hingga jauh bermeter-meter tatkala Darwin mulai berdiri dari duduknya. Pria itu berpamitan dan menjauh dari Jiana. Ia masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumahnya


Setelah Darwin pergi, Bryan melajukan kembali mobilnya mendekati rumahnya dan mengklakson mobil sekencang mungkin dengan memakai tenaga. Ia membuka jendela dan berteriak pada pak Deden yang membuka gerbang untuknya


" Lain kali jika ada pria itu jangan biarkan dia masuk." ucap Bryan berteriak pada Deden


" Baik Den. " sautnya takut melihat raut wajah Bryan yang tak bersahabat seperti biasanya tapi saat Bryan pergi pak Deden tertawa pelan


" Cemburu buta." gumamnya


Bryan membuka pintu mobil dan menutupnya begitu kencang penuh marah. Ia masuk kedalam rumahnya dengan tatapan elang menyalang tajam memperhatikan setiap sudut rumah. Tak menemukan Jiana, ia masuk kedalam kamar. Kebetulan wanita itu berada didalam kamar hendak menuju kamar mandi dengan handuk menyampai di pundaknya. Bryan menutup pintu dan menguncinya membuat Jiana menoleh padanya


" Dimana Kya?" tanya Bryan dingin melangkah mendekati Jiana sambil membuka jas, ia lempar jas itu kesembarang arah membuat Jiana menghela nafasnya kasar padahal sudah berulang kali ia menegur Bryan agar menyimpan pada tempatnya.


Tepat didepan Jiana Bryan membuka dasi dan kembali ia lempar ke lantai. Lalu ia membuka kancing kemejanya satu persatu


" Oh acara reunian lagi ya." gumam Bryan dengan wajah menyeringai membuat Jiana jadi ketakutan, wanita itu bergegas bergerak melangkah menuju kamar mandi namun Bryan tak membiarkannya, ia tarik Jiana dan mengurung dengan kedua tangannya


" Kau tadi sedang apa bersama Darwin?" tanya Bryan


" Dia mencarimu .. "


" Cih .. bukan itu yang ingin kudengar? sedang apa kau bersama Darwin?" Bryan bertanya dengan nada membentak


" Ada apa denganmu? kenapa tiba-tiba marah seperti ini." saut Jiana tak terima Bryan membentaknya


Bryan hanya terdiam dengan gigi bergemelutuk menahan amarah. Lalu ia memanggul Jiana dipundak dan membawanya ke ranjang. Bryan lempar tubuh yang terasa ringan itu ketengah kasur


" Bryan. " bentak Jiana


" Kenapa?" tanya Bryan dengan tatapan elang merangkak naik mendekat, ia tarik kedua kaki itu mendekat padanya dan duduk diatas kedua paha Jiana


Breekkkkk


Sekuat tenaga ia merobek kemeja blus Jiana hingga semua kancingnya terlepas


" Bryan kau GILA." teriak Jiana lagi menutupi tubuhnya dengan kedua tangan menyilang


" Kenapa? mau menolakku lagi? Sudah cukup aku bersabar selama ini." bentak Bryan menggelegar hingga Jiana tersentak dibuatnya, ini pertama kalinya ia melihat Bryan semarah ini


" Kau .. lakukan tugasmu sebagai seorang istri sekarang." bentak Bryan mencengkram kedua pipi Jiana hingga bibir itu mengerucut dan Jiana mulai ketakutan. Bryan kasar seperti ini mengingatkannya pada malam 5 tahun yang lalu


" Tidak, kumohon." lirih Jiana, tubuhnya mulai bergetar


" Kau menolakku seperti ini karena kau mau bersama Darwin begitu?" tanya Bryan terus membentak hingga bi Ami yang mendengarnya dari luar pun merasa heran. Selama ini jika bertengkar, Bryan tidak pernah membentak Jiana sampai seperti ini


Jiana menggelengkan kepalanya cepat dengan airmata yang merembes keluar dari kedua sudut matanya


" Kau menangis seperti ini karena kau tak mau aku menyentuhmu? kau mau Darwin yang menyentuhmu begitu?" Bryan terus membentak, kecemburuan membutakan matanya hingga tak melihat airmata Jiana


" Kau bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu padaku, apakah kau masih mencintai Darwin?" teriak Bryan menggema melepaskan kasar cengkramannya dipipi Jiana, ia memaksa menarik kedua tangan Jiana yang menyilang dan mencengkram kasar satu buah dada Jiana yang masih tertutupi Bra


" Bryan kumohon." lirih Jiana meronta


" Jangan harap kau bisa bersama Darwin lagi." gumam Bryan lalu meraup bibir Jiana


-


-