
-
-
Bryan bangkit dari tubuh Jiana saat suara ketukan pintu terdengar dari luar. Keduanya serasa enggan saling melepaskan meskipun percintaan kedua itu telah usai setengah jam lamanya
" Boy pakai bajumu." perintah Jiana pada Bryan yang naked dan berniat menuruni ranjang
" Sayang kamu lupa, baju kita sedang dicuci." gerutu Bryan manja
" Kalau begitu pakai apa saja untuk menutupi tubuhmu, bukankah semua pelayan disini kebanyakan wanita." saut Jiana yang masih terbaring lemas diatas kasur dan tergulung selimut putih
" Bilang saja kalau cemburu." ucap Bryan dengan senyum mengembang
" Karena aku istrimu." saut Jiana membuat Bryan kembali mendekat dan mendekatkan tubuhnya
" Iya kamu istriku dan aku suamimu." Bryan mengecup pipi kanan Jiana lalu berjalan menuju kamar lemari disana dimana ada dua buah bayhtoad abu tua. Bryan memakai itu ia menuruti Jiana sebelum menuju pintu untuk mengambil pakaiannya dan Jiana yang sudah kering
Jiana hanya tersenyum memandangi Bryan yang kembali padanya. Pria itu membuatnya gila, jika mengingat apa yang mereka lakukan tadi rasanya Jiana ingin menenggelamkan dirinya dilumpur. Ia tak mengerti dengan Bryan ia menjadi wanita yang sungguh liar
" Apa aku setampan itu?" tanya Bryan yang melihat Jiana senyum-senyum sendiri
" Ya kamu tampan." Bryan terkekeh akan jawaban itu lalu ia duduk disisi ranjang, meletakan pakaiannya dan Jiana yang sudah rapi dibelakang. Sementara dirinya kembali pada Jiana, mengurung wanita itu dibawahnya dengan jemari membelai pipinya
" Kamu mau lagi ya?"
" Apa kau juga mau?" Bryan menyeringai nakal akan godaan itu, ia masuk kedalam selimut bersama Jiana megukung wanita itu lagi dibawahnya
" Aku tak mampu menolak." bisik Bryan
Entah setan mesum mana yang merasuki Jiana. Ia mengulurkan tangannya untuk menarik tali bathrod Bryan padahal tubuh Jiana sudah lemas akibat ronde kedua tadi tapi Jiana tergoda lagi, darahnya berdesir lagi dan tubuhnya ingin kembali dijamah Bryan
Bryan membiarkan tangan Jiana nakal, ia memejamkan mata akan belaian jemari dengan kulit halus diperutnya dan perlahan naik pada dada. Bryan membuka matanya kembali, tatapan itu penuh hasrat pada Jiana padahal tubuh wanita itu sudah tidak mulus lagi, telah ternodai bekas kecupan-kecupannya
Bryan mengecup bibir Jiana pelan lalu beringus turun menuju buah dada yang entah kenapa sekarang lebih besar dibanding saat pertama kali ia menyentuh Jiana1
" Aaahhhmmmhh .. "
Cup
Kecupan gemas itu mendarat dipuncak buah dada Jiana setelah Bryan merasa puas menyusu pada istrinya itu. Bryan segera bangkit berlutut, ia menekan lagi masuk miliknya pada Jiana membuat wanita itu mendes*h untuk kesekian kalinya
" Aaahh Shiiiittt .."
" ****?" Bryan mengerutkan dahinya akan ******* dengan ucapan kasar Jiana sementara wanita itu hanya terkikik lucu dengan mata terpejam
" Bitc*h?" Jiana membuka kedua matanya lebar akan jawaban Bryan membuat Bryan yang sedari tadi menatapnya tersenyum lucu
" My bitc*h my Darl .. " bisik Bryan lalu meraup bibir Jiana dengan tangan menuntun tangan Jiana mengalung kelehernya
Kedua mata Jiana kembali merem melek akan hujaman Bryan dibawah sana yang keluar masuk memenuhi kewanitaannya. Keduanya seakan tiada puas untuk mereguk kenikmatan dimalam dingin ini, memenuhi kamar itu dengan suara dan kecipak mesum. Membuat beberapa pelayan yang mendengar desis-desis nakal dari kamar itu menggigit jari mereka
" Terima kasih sayang, aku puas." bisik Bryan pada Jiana dengan nafas yang masih tersengal
Bryan terkekeh saat suara dengkuran kecil terdengar ditelinganya. Bryan membelai rambut Jiana yang mulai memanjang lalu menunduk pada Jiana yang tidur telungkup diatas tubuhnya, wanita itu benar-benar tak berdaya karena Bryan tapi disitulah Bryan merasa bangga dan dirinya hebat, Jiana yang galak itu bisa ia taklukan diranjang
Tak lama Bryan bergerak membaringkan Jiana diatas ranjang. Ia beringus bangun dan mengambi pakaiannya yang ternyata sudah tergeletak di lantai. Setelah berpakaian, pelan-pelan Bryan memakaikan pakaian Jiana
Sebenarnya Bryan tidak tega membawa Jiana pulang semalam ini, tapi mau bagaimana lagi? ia meninggalkan putri mereka dirumah. Dan jika gadis kecil itu tahu Bryan tak mengajaknya, besar kemungkinan Kya akan marah dan mengamuk padanya
Sesuai permintaan Bryan, kapal pesiar itu kini telah mendarat kembali di tepi pantai. Bryan mengambil tas Jiana mengalungkan dilehernya dan segera membopong Jiana keluar dari sana. Ia menuju mobilnya yang tak jauh dari tepi pantai diikuti pelayan yang membantunya membuka pintu mobil
Bryan meletakan tubuh istrinya dikursi belakang, dengan gerakan pelan ia memasang sabuk pengaman kemudian menutup pintu kembali. Sebelum pergi Bryan memberi beberapa lembar uang bonus pada pelayan itu atas pekerjaan baik mereka semua dalam melayaninya dan Jiana
Tepat pukul 11:35 malam mereka tiba dirumah. Bryan segera keluar dari mobil menuju pintu belakang, membuka pintu itu dan pelan-pelan membopong Jiana yang tertidur keluar dari mobil
Bryan menghela nafasnya saat tak sengaja melihat pintu balkon kamar tamu terbuka, disitu ada Queen memperhatikannya dengan bersedekap dada. Sebenarnya Bryan sangat canggung dengan Queen yang terus ada dirumahnya, ia ingin mengusir Queen tapi ia sangat menghargai Jiana. Bagaimana pun, suka tidak suka kini mereka satu keluarga
Bryan tak memperdulikan Queen, ia melangkah masuk kedalam dengan Jiana dalam pangkuannya. Melihat istrinya Bryan tersenyum, wanita itu pulas sampai mendengkur tak terusik sedikitpun dan Jiana seperti itu karena Bryan yang terus menghajarnya dikasur
Bryan mengetuk pintu utama rumahnya dengan tangan yang memegang Jiana. Seketika itu juga pintu terbuka menampilkan pak Deden dengan wajah mengantuk tapi pria itu tersenyum mendadak melihat Bryan yang memangku istrinya ala bridal
Dan ini pertama kalinya dilihat pak Deden dan bi Amy yang sejak tadi menunggu kedatangan keduanya. Keduanya tersenyum melihat romantisnya Bryan pada Jiana sampai memangku wanita itu menaiki lantai dua, setiap hari perubahan hubungan suami istri itu kian harmonis dimata mereka
Bryan meletakan Jiana diatas kasur dan pada saat itu juga Jiana membuka matanya meski tak lebar." Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Jiana mengusap lengan atas Bryan yang sedang mengukungnya
" Tidurlah lagi." perintah Bryan membelai pipi Jiana, wanita itu tersenyum lalu memejamkan matanya lagi yang terasa berat
Kemudian Bryan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian tidur Jiana. Bryan jahil, ia malah mengambil lingerie ungu tua yang waktu ia belikan untuk Jiana. Sambil berjalan ia tak henti tersenyum menatap lingerie ungu tua itu, jika dalam keadaan sadar, Jiana mana mau memakainya dan ini adalah kesempatan Bryan memakaikannya pada Jiana
Pria itu terkikik sendiri memperhatikan lekuk tubuh Jiana dengan lingerie ungu itu. Lalu ia mendekat mengecup kening Jiana dengan lembut
" Jia .. sepertinya aku jatuh cinta padamu." gumam Bryan tak henti menatap istrinya
-
-