Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Mr happy



-


-


Bryan tersenyum diujung tangga, kini ia punya cara untuk menyalurkan hasratnya pada Jiana meskipun cara itu tak senikmat saat menyatu bersama Jiana. Dengan wajah fresh setelah mandi malam ini dan piyama tidur membalut tubuhnya, Bryan berjalan mendekati sang istri yang sedang memasak makan malam


Seperti keinginan Jiana yang ingin makan malam bersama, Bryan memutuskan pulang cepat. Jika biasanya ia pulang pukul 10 malam kini menyusut menjadi jam 8 malam


" Emmmh .." lenguh Jiana ketika bibir itu langsung saja nakal dilehernya. Bryan tertawa pelan lalu melingkarkan kedua tangannya diperut Jiana yang kini kembali rata


" Masak apa?"


" Lihat saja sendiri!"


" Emmmmh .." hanya itu suara yang keluar dari bibir Bryan dengan jawaban ketus istrinya


" Ada apa?"


Jiana menghela nafas, lalu menoleh sejenak tanoa mengeluarkan suaranya


" Apa maumu, katakan?" Bryan terkekeh, jika jutek seperti ini Jiana pasti sedang ada maunya


" Boy apa aku sudah tidak menarik lagi? apa aku kelihatan sudah tua?"


" Kenapa kamu bicara seperti itu, siapa yang berani mengatakan itu hmm? dia belum tahu kalau suamimu seorang Bryan hmm?" canda Bryan mencium pipi itu gemas


" Bryan aku masih muda, masih 29 tahun. Tapi saat aku pergi melakukan imunisasi sikembar semua orang selalu memanggilku ibu. Sungguh mengesalkan .. " gerutu Jiana


" Tapi kamu ibu-ibu yang cantik sayang." rayu Bryan membelai pipi Jiana


Jiana mendelik sebal, ia malah kian kesal dengan jawaban Bryan


" Jia kamu memang seorang ibu apa salahnya, kita sudah punya anak empat lho."


" Tapi aku tidak suka."


" Lalu kamu mau mereka memanggilmu apa hmm?"


" Kakak, itu tidak cocok denganmu yang sudah punya empat anak."


" Terserah, shut up, kamu makin menyebalkan." gerutu Jiana lalu mengambil pisau membuat kedua mata Bryan membulat


" Sayang .."


" Kenapa? mau kupotong?"


" Hey kenapa jadi seperti ini aku hanya bercanda." saut Bryan menurunkan pisau ditangan Jiana kebawah, padahal wanita itu akan memotong wortel


" Bagaimana kalau kupotong dan kujadikan sup." canda Jiana yang masih kesal


" Eh ayolah jangan jahat seperti itu, kecil-kecil begini tapi dia membuatmu bahagia kan?" Jiana hanya mencebik


" Tanpa dia kita tidak akan punya sikembar, coba kamu ingat berapa kali dia membuatmu klima*s dalam sekali permainan." Jika sudah menuju kesana lihatlah Bryan tak akan berhenti berceloteh


Jiana menghela nafas tak menanggapi Bryan tapi Bryan malah nakal menciumi lehernya


" Boy berhenti menyebalkan seperti ini." gerutu Jiana menjauhkan kepalanya dari Bryan hingga bibir itu mengapung diudara


" Siapa? siapa yang bilang istri cantikku ini ibu-ibu, akan kurobek mulut mereka." teriak Bryan berkacak pinggang


" Bahkan miss univers akan kalah dengan kecantikan istriku." teriak Bryan lagi dan itu sukses membuat Jiana tertawa. Bryan terkekeh kenapa wanita sangat ribet, bilang saja kalau Jiana ingin ia gombali kenapa wanita itu harus bertele-tele banyak alasan


Bryan kembali memeluk Jiana menumpu dagu dipundaknya dengan manja


" Kenapa tertawa hmm?" Jiana menggelengkan kepala pelan


" Sebenarnya aku berbohong, aku sudah lama tak mendengar rayuanmu." saut Jiana membuat Bryan tergelak


" Kenapa kamu selalu berputar-putar, berniat membuatku pusing?"


" Boy aku rindu kamu, setiap malam kamu lembur pulang saat aku dan anak-anak sudah tidur."


" Tidak aku tidak akan lembur lagi."


" Sungguh?"


" Ya tapi ada syaratnya."


" Syarat?"


" Hmm."


" Syarat apa?"


" Puaskan si mr Happy." bisik Bryan dengan senyum nakal di telinga Jiana. Jiana menoleh ia tak mengerti dengan ucapan sang suami


" Hehe apa?"


" Mr happy?" tanya Jiana


" Itu Jia .." Bryan menarik satu tangan Jiana yang menganggur lalu menuntun menuju pangkal pahanya


" Jadi hanya itu alasanmu ingin segera pulang? bukan karena aku dan anak-anak?"


" Tidak bukan seperti itu. Bisa kamu bayangkan aku harus menahan selama itu? Jia aku takut khilap dan memaksamu, makanya aku memilih lembur dikantor." saut Bryan dengan suara pelan dan hati-hati takut Jiana tak mengerti, salah paham dan mereka berakhir dengan pertengkaran


Jiana hanya tersenyum, ia tahu Bryan tidak pernah berbohong padanya. Jiana tahu seberapa sayang sang suami padanya dan anak-anak


" Baiklah." saut Jiana


" Baik? baik apa?"


" Memanjakan mr Happy." Senyuma Bryan merekah lalu hujanan ciuman dipipi Jiana dapatkan


" Dasar pria tak jauh dari selangkanga*." ledek Jiana


" Itu kebutuhan utama!" Jiana terkekeh lalu memukul kepala Bryan dengan spatula


" Jia sakit." gerutu Bryan manja


" Aku akan memberimu bonus." Bryan terkikik senang


" Bonusnya keluarkan didalam."


" No!" tolak Jiana tapi malah semakin membuat Bryan cekikikan


" Ah aku menyayangimu .." ucapnya dengan bibir tak pindah dari pipi Jiana


" Bisakah aku mendapatkannya sekarang?"


" Boy, aku belum selesai. Bukankah kamu lapar?"


" Mr Happy lebih lapar. " Jiana mematikan kompor lalu memutar tubuh. Kedua tangannya mendarat mencubit kedua pipi Bryan dengan begitu gemas


" Mesum!" umpat Jiana


" Tapi hanya denganmu." Jiana mengulum senyum akan rayuan itu lalu berangsur berlutut didepan Bryan


Bryan sudah menggigit bibir bawahnya saja padahal Jiana belum melakukan apapun, hanya menurunkan celana piyamanya. Bryan meneguk ludahnya kasar." Emmh .." ketika Jiana mengelus pangkal paha yang masih tertutupi underware hitam


Dan jemari Bryan terulur menyusup pada rambut Jiana yang digelung, sepertinya berniat mengacak-ngacak rambut Jiana. Jiana hanya melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ia mencoba menyenangkan suaminya karena selama ini Bryan selalu mengalah dan lebih mementingan dirinya dan anak-anak mereka


Bibir Bryan mulai menganga lebar dengan satu tangan berpegangan kuat pada meja pantry tatkala bibir mungil Jiana mulai liar. " Jia ya seperti itu emmmh .. "


Bella yang baru saja datang dari acara cutinya dan menuju dapur itu berhenti mendadak saat mendengar suara-suara aneh dari arah dapur


Tiba-tiba Bella menyentuh tengkuknya, seluruh bulunya terasa meremang. Keadaan terasa seram terlebih semua lampu dilantai dua gelap, hanya dapur saja yang bercahaya itupun cahaya remang dari luar


" Suara apa?" Bella mengerutkan dahinya, dengan wajah takut ia mencoba mendekati dapur


" Enak boy?"


" Uhhhmm jangan berhenti." Bella bernafas lega


" Aku kira setan, ternyata kak Jiana dan Tuan Bryan .. " gumam Bella


" Aaah Jia .. " Kenapa Bella merasa panas mendengar suara keduanya


" Mereka sedang apa sih?" gumam Bella lalu mengintip dari balik tembok. Tubuhnya menegang, sepasang matanya ternodai dengan kemesuman kedua majikannya itu. Spontan ia menutup kedua matanya dari keadaan mesum didapur


" Iuuhh kak Jia kenapa seperti itu, mau saja. Oeeekkk .." Bella menggelengkan kepalanya, mengusap dadanya. Bagaimana bisa ia jadi ikutan mesum, lihatlah wajah Bella memerah dan tubuhnya terasa memanas setelah melihat keduanya, meskipun dari jauh namun ia bisa melihat dengan jelas wajah mesum Bryan, apalagi sang wanita yang tampak menikmati hingga kepalanya tak diam melenggak-lenggok kekanan dan kiri. Bella tidak sepolos itu ia tahu Jiana sedang memanjakan adik suaminya


" Ada apa denganku?" Bella memegang kedua pipinya yang terasa panas lalu bergerak memutar tubuhnya. Ia mencoba melangkah dan


Brukkkk


" Awwww sssshhh .." Bella spontan menyentuh kening ketika tubuhnya tak sengaja menabrak benda keras didepannya. Bella mengangkat wajah dan terpaku


" Tuan Delan .." panggilnya lalu tersenyum malu, pipinya semakin memerah


Tapi Delan? pria itu hanya diam menatap Bella dengan penuh intimidasi, meskipun wajah itu dingin namun tetap saja tampan menawan dimata Bella


" Kau sedang apa?" tanyanya dan ini pertama kalinya untuk Bella, senyumannya semakin melebar menampilkan lesung pipitnya


Melihat itu Delan meneguk ludahnya kasar, ada sesuatu yang menjalari tubuh Delan dan itu terasa aneh. Delan terus menatap Bella, ini pertama kalinya sejak pertemuan mereka sebulan lalu. Biasanya Delan hanya dingin dan acuh tapi malam ini Delan menyadari bahwa gadis didepannya ini sangat cantik, lesung pipit itu meneduhkan hati dan pandangannya


Delan mencondongkan tubuhnya membuat Bella terkejut dan spontan memejamkan mata. Delan merasa heran kenapa ada gadis yang begitu percaya diri seperti Bella. Padahal Delan hanya penasaran dan ingin melihat Aunthy dan sang Paman yang ribut dengan suara-suara erotis mereka didapur


Sama seperti Bella tubuh Delan pun memanas melihatnya. Darah mudanya berdesir. Delan kembali menegapkan tubuhnya, bibirnya tiba-tiba tersenyum tipis melihat Bella memejamkan mata, sejenak ia memandang wajah manis Bella dengan senyum tipis yang tak pudar


Dan saat mata itu terbuka lagi Delan segera memutar tubuh menyembunyikan senyumannya dari Bella


" Astaga sungguh memalukan." gumam Bella memegang kedua pipinya yang memerah karena malu lalu ia berlari mendahului Delan menuju lantai dua


" Ada apa dengaku?" gerutu Bella menghentak-hentakan kedua kakinya kelantai


-


-