
-
-
" Selalu saja ada yang mengganggu." gerutu Bryan dan untuk pertama kalinya terlihat lucu dimata Jiana, wanita itu mengulum senyumnya melihat wajah kesal Bryan
" Pasti si brengsek Darwin." gumam Bryan seraya melepaskan kedua tangannya dari Jiana
Ia masuk kedalam menuju pintu keluar dan benar saja Darwin berdiri disana dengan satu papperbag ditangannya. Tanpa mengatakan apapun Bryan merampas papperbag itu, sementara Darwin hanya celingukan menatap tajam kedalam
Dan seketika ia terkejut saat melihat Jiana keluar dari balkon. Darwin pikir Bryan bersama wanita lain namun nyatanya pria itu bersama istrinya membuat Darwin merasa menyesal menuruti Bryan dan membeli pakaian tidur seksi. Jika ia tahu itu untuk Jiana tentu Darwin lebih memilih pakaian tertutup. Sampai detik ini Darwin tidak rela wanita itu menjadi istri atasannya yang ia rasa bejad itu
" Apa yang kau lihat?" bentak Bryan lalu ia membanting pintu hingga tertutup
Bryan memutar tubuhnya dan berdecak kesal, pantas saja Darwin sampai melongo ternyata pria itu melihat istrinya
" Kenapa kau kemari?" tanya Bryan semakin kesal
" Oh aku tahu kau mau melihat si Darwin ya?"
Jiana hanya menghela nafasnya lalu berbalik meninggalkan Bryan menuju kamar kemudian disusul pria itu
" Kau masih mencintainya?" teriak Bryan
" Bisakah kau diam, Kya sedang tidur. Jangan kekanak-kanakan." saut Jiana memutar tubuhnya menghadap Bryan dan melipat kedua tangannya didada
" Aku kekanak-kanakan?" tanya Bryan membuka mulutnya jengah
" Ya .. kau selalu cemburu tak jelas."
" Jangan gila, siapa yang cemburu. " bentak Bryan pelan melangkah mendekat hingga hanya semeter didepan Jiana
" Aku bahkan bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya darimu. Untuk apa cemburu? hey nona jangan percaya diri."
" Kau saja yang tidak berkaca, jelas-jelas kau selalu cemburu buta!" saut Jiana mendekat dan merampas papperbag ditangan Bryan
" Ini untukku kan." ucap Jiana menyeringai licik melihat wajah jengah Bryan padanya
Lalu wanita itu meninggalkan Bryan dan masuk kedalam kamar mandi. Bryan terkikik lucu saat mendengar gerutuan Jiana didalam kamar mandi, ia siap-siap melipat kedua tangannya didada dan menaikan wajahnya angkuh
Satu dua tiga empat lima, Bryan menghitung Jiana keluar dari kamar mandi dan lihatlah wajah itu garang pada Bryan
Plung
Jiana melempar pakaian tidur itu tepat kekepala Bryan hingga menyampai dikepala pria itu. Bryan kembali cekikikan sambil menurunkan pakaian tidur berwarna ungu tua itu
" Kau .. benar-benar gila. Aku bukan seorang jalan*." ucap Jiana geram dengan kedua tangan mengepal ingin meninju wajah Bryan
" Siapa yang bilang kau jalan*, kau itu istriku. Kau harus terbiasa memakai pakaian seperti ini saat tidur, kau itu sudah bersuami bukan seorang lajang lagi." tutur Bryan dengan senyum mesumnya
" Aku tidak sudi, itu sama saja aku tidak berpakaian."
" Itu memang tujuanku." gumam Bryan mengulum senyumnya membuat Jiana melotot padanya
" Ayolah sayang, pakai ini manjakan mata suamimu." ucap Bryan mendekat meraih tangan Jiana dan memberikan kembali pakaian tersebut
" Ini namanya lingerie, pakailah .. " bisik Bryan mengerlikan matanya nakal namun Jiana malah membuangnya kelantai
" Pakai saja sendiri." sautnya ketus
" Kalau begitu bolehkan aku menyentuhmu malam ini?" tanya Bryan tanpa basa-basi pada tujuannya dan kian mendekat mengikis jarak membuat Jiana mundur beberapa langkah
" Hmm? bolehkan aku mendapatkanmu malam ini?" tanya Bryan lembut mendekati Jiana kembali hingga wanita itu tersudut didingding kamar, Bryan segera mengurung tubuh itu dengan kedua tangannya, ia sentuh dan tarik keatas dagu itu agar bertatapan dengannya
" Berikan dirimu dan kuberikan semuanya untukmu.. Jiana." ucap Bryan tepat didepan bibir Jiana untuk kesekian kalinya, ia begitu menginginkan wanita itu
" Apapun itu?" kali ini Jiana bersuara dengan kedua jemari mengalung ke leher Bryan membuat pria itu tersenyum begitu manis, maniknya terus menatapi wajah Jiana dengan begitu nakal
" Ya .. semuanya." saut Bryan tersenyum lebar
Keduanya hanya saling bertatap untuk beberapa saat. Lalu Bryan mengulurkan jemarinya untuk membelai bibir Jiana dengan ibu jarinya. Usapan sensual itu membuat Jiana memejamkan mata seolah memberi kesempatan untuk Bryan malam ini
Pria itu senang bukan kepayang, bibirnya segera mendarat dibibir Jiana, menciuminya dengan rakus dan menuntut. Bryan merengkuh punggung Jiana dengan kedua tangannya dan menggeret pelan Jiana tanpa melepaskan bibir Jiana, ciumannya kian memanas dengan kedua tangan yang mulai nakal ditubuh belakang Jiana
Bryan membawa Jiana ke sofa, menindi* Jiana dengan tubuhnya yang lebih besar dari Jiana. Saat bibir keduanya terlepas, Jiana maupun Bryan terengah dan saling berebut oksigen. Keduanya saling menatap kembali, Bryan mengulurkan jemarinya untuk membelai pipi Jiana dan memberi kecupan berulang dibibir dan pipi wanita itu secara bergantian
" Aaahhh. " suara Jiana begitu manja ditelinga Bryan membuat pria itu semakin antusian
" Ya .. ya seperti itu sayang. " ucap Bryan parau diceruk leher Jiana dengan jemari mulai menyusup kebalik dress Jiana, mecengkram lembut paha Jiana
" Emmmhh .. " suara Jiana kembali terdengar
Tapi tiba-tiba Bryan mengerutkan dahinya saat jemari itu menyentuh pangkal paha Jiana. Ia segera mengangkat wajah dan menatap Jiana yang juga menatapnya. Bryan kembali meraba-raba pangkal paha yang masih tertutupi kain segitiga itu, ia menggeram kesal seketika
" Kau sedang menstruasi?" tanya Bryan dengan raut wajah mendadak masam
" Maaf, apa kau sudah on?" tanya Jiana menyeringai licik
Bryan menggeram kesal seraya mengepalkan kedua tangannya, bukan on lagi bahkan adiknya kini terasa sesak dibalik celananya
" Kau mengerjaiku?"
" Pria mesum sepertimu memang pantas kuberi pelajaran." saut Jiana tertawa jahat
" Awas kau Jiana." ucap Bryan dengan tatapan tajamnya. Lalu beringus turun dari tubuh Jiana
" Suamiku kau mau kemana? kenapa tidak kau lanjutkan?" tanya Jiana dengan suara dibuat mendayu
" Aku tidak sudi menyentuh wanita yang sedang menstruasi." saut Bryan kesal lalu berlalu pergi meninggalkan Jiana yang terbahak karena ucapannya
Sambil berjalan keluar dari kamar hotel Bryan terus mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merutuki dirinya yang bodoh mau saja dikelabuhi Jiana. Pantas saja wanita dingin itu sangat manis tadi, pikir Bryan
Lalu Bryan menuju klub malam yang terletak di lantai paling atas hotel itu, ia sudah sangat mengenali tempat ini karena ia sering sekali bersenang-senang dengan kedua temannya
Bryan langsung mendudukan dirinya dengan lemas diatas sofa yang selalu menjadi tempatnya saat mereka mencari hiburan disana
" Wanita itu .. apa yang harus kulakukan dengannya?" gumam Bryan kesal
" Cara halus cara kasar sudah kucoba, tetap saja aku tidak bisa menyentuhnya. Padahal dia istriku, bukankah aku berhak." gerutu Bryan memuku-mukul meja itu pelan
Lalu ia mengedarkan pandangannya mencoba mengecoh adiknya yang telah bangun agar tidur kembali. Banyak sekali wanita cantik disana namun Bryan seakan tak ***** melihatnya karena yang ia inginkan saat ini adalah istrinya
Bryan berdecih melihat kedua temannya yang sedang menari di lantai bawah, keduanya tampak bersenang-senang dengan wanitanya masing-masing. Lihatlah mereka tak malu sedikitpun meraba-raba tubuh sang wanita dan untuk kali ini Bryan benar-benar menggigit jarinya
" Sial .. sungguh sial." umpat Bryan sembari memijat pelipisnya, ia sandarkan kepala pada kepala sofa lalu memejamkan mata
Beberapa saat kemudian tawa terdengar dari arah belakang Bryan, tentu ia mengenali tawa itu. Tawa David dan Arnold yang pasti sedang mentertawakannya
" Apa yang kau lakukan disini, bukankah kau bersenang-senang dengan ibu Kya?" tanya Arnold usil mendudukan dirinya dengan wanita yang tak lepas sedikitpun menggelendotinya bahkan wanita itu malah duduk dipangkuan Arnold begitupun juga David yang ditempeli wanitanya
" Diamlah, aku sedang pusing." bentak Bryan pelan
" Pusing karena kau tidak bisa meniduri istrimu?" tanya David
" Jiana benar-benar mengesalkan." umpat Bryan membuat semuanya mentertawakan pria itu
" Ya sudah bersenang-senanglah disini, mau kucarikan yang tercantik disini?" tawar Arnold
" Tidak aku hanya sebentar disini, Kya akan bangun dan mencariku."
" Papa idaman sekali." celetuk David
" Tapi suami yang menyedihkan." saut Arnold lalu kedua pria itu tertawa kembali
" Sialan .. kalian benar-benar tidak memberi solusi." ucap Bryan beranjak berdiri
" Mau kemana?"
" Kamar." saut Bryan malas lalu memutar tubuh dan meninggalkan teman-temannya menuju kamarnya kembali
Bryan masuk dan berjalan pelan menuju kamar. Dilihatnya Jiana sudah tertidur bersama Kya. Kemudian ia mendekat dan naik keranjang, membaringkan tubuh di samping Kya yang meringkuk menghadapnya
" Sayang kalau sudah besar jangan seperti Mum ya pada suamimu. Itu sangat menyebalkan." gumam Bryan menciumi puncak kepala Kya
-
-