Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Pengasuh sikembar



-


-


Setelah seminggu melakukan perawatan dirumah sakit, kini Jiana diperbolehkan pulang oleh dokter. Digandeng Bryan Jiana memasuki rumahnya, sementara bayi-bayi mereka dibawa kedua orangtua Bryan beserta Bulan, wanita itu yang paling senang dengan bayi Bryan karena keinginan untuk memberi adik pada Pevita belum kesampean sampai sekarang


" Boy .. " Jiana menoleh pada Bryan


" Sayang mereka calon kandidat baby sister kita, aku akan membiarkanmu memilihnya." Jiana tersenyum dengan perhatian Bryan padanya


Lalu keduanya melangkah pelan menuju sofa ruang tamu dimana disitu ada 20 wanita muda yang siap bekerja menjadi asisten Jiana dalam menjaga-jaga bayinya. Jiana tampak meneliti wanita itu satu persatu. Sementara si kembar dibawa oleh keluarganya menuju lantai atas kekamar mereka dimana disitu sudah terdapat tiga box bayi


" Sayang, emmh siapa yang membawa gadis-gadis ini?" tanya Jiana menoleh lagi pada Bryan yang duduk disebelahnya, merangkul bahunya dengan begitu posesif


" Dika yang memilih mereka sayang." Jiana tersenyum lebar, jika dengan Dika Jiana percaya karena semenjak Jiana memilih pria itu menjadi sekertaris Bryan pria itu juga menjadi kaki tangannya dalam mengawasi Bryan


Jiana kembali menatap wanita muda itu satu persatu, menatap lekat para wanita muda yang tampak terpesona pada suaminya membuat Jiana menjadi manja, wanita itu mendorong tubuhnya kebelakang menyandar pada Bryan lalu melingkarkan kedua tangan Bryan begitu posesiv di perutnya. Ternyata Dika tetap tak bisa diandalkan Jiana, para wanita itu tetap saja memperhatikan suami tampannya, gerutunya dalam hati sambil melirik Bryan, pria itu tampak tak mau menatap para gadis itu, Bryan menatap Jiana dan tersenyum manis


" Siapa yang menyuruhmu senyum?" tanya Jiana galak


" Baiklah." Bryan langsung mengulum senyum itu dengan wajah takut


Ia tak memberikan sepatah katapun pada semua orang, Jiana terus meneliti wajah-wajah itu dan berhenti pada seorang gadis yang terlihat lebih muda dibandingkan yang lainnya. Satu hal yang membuat gadis itu berbeda dimata Jiana, yaitu pandangannya yang tak tertuju pada Bryan tak seperti gadis-gadis lainnya, pandangan itu menunduk dengan wajah dingin


" Kau .. " Jiana membuka suaranya lalu menunjuk gadis yang menunduk itu membuat gadis itu mengangkat wajahnya


" Aku?" tunjuknya pada diri sendiri


" Berapa usiamu?" tanya Jiana


" 17 tahun." sautnya dengan senyum manis pada Jiana


Jiana mengangguk." Kau masih sekolah?"


" Saya baru lulus dua bulan yang lalu bu."


" Bu? kau pikir aku sudah tua?" Gadis itu tersenyum aneh


" Lalu aku harus bilang apa, sudah punya empat anak masa harus bilang kakak." gerutunya dalam hatu


" Kau mau main-main denganku?" tanya Jiana


" Hey kriting .. kemarilah." kali Bryan melambaikan tangannya membuat gadis itu beringus berlari mendekat dan berdiri didepan Jiana dan Bryan, gadis itu tampak kesal dengan panggilan Bryan padanya


" Kau berpengalaman dalam mengurus bayi?"


" Iya, dua tahun saya merawat bayi Angelin, anda tahu tidak siapa Angelin?" Bryan mengernyitkan dahi dengan keberanian gadis didepannya ini, Bryan hendak berdiri namun ditahan Jiana


" Siapa Angelin?" tanya Jiana yang sejak awal tertarik dengan gadis ini


" Angelin adalah seorang artis papan atas." Jiana mengangguk-ngangguk lalu menoleh pada Bryan


" Emmm apa yang akan kau lakukan bila suamiku menggodamu?" tanya Jiana


" Jia .. kamu masih tidak mempercayaiku?"


" Diamlah." bisik Jiana memelototkan kedua matanya lalu mengalihkan pandangan lagi pada gadis itu


" Saya tidak tertarik dengan om-om genit." Jiana tergelak kencang


" Pertanyaan macam apa itu?" gerutu gadis itu dalam hatinya


" Om .." Jiana menoleh dan mentertawakan Bryan yang dipanggil om-om genit


" Pulanglah kau tidak diterima disini." Bryan mengibaskan tangannya pada gadis itu


" Siapa yang mengijinkanmu?bukankah aku yang boleh memilih sendiri?"


" Jia dia benar-benar tidak sopan." gerutu Bryan menarik kedua tangan dan melipatnya didada, lihatlah wajah merajuk itu sangat mirip Kya


" Aku menyukainya, dia sangat jujur." saut Jiana dengan tawanya lalu melirik gadis didepan mereka, gadis itu tampak takut karena diusir Bryan


" Naiklah keatas kau harus berkenalan dengan sikembar." perintah Jiana membuat kedua mata itu berbinar terang


Jiana mengangguk dan tersenyum." Naiklah .. " perintahnya lagi membuat gadis itu berjingkrak senang dan berlari menuju tangga, sejenak ia berhenti dan menoleh pada Jiana yang menatapnya dengan senyum lucu


" Dilantai berapa?" tanyanya dengan wajah malu


" Lantai dua dikamar yang paling ujung." saut Jiana


Gadis itu membungkukan badannya pada Jiana dan Bryan lalu berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Saat itu Bryan menghela nafasnya." Sayang kamu yakin, kamu belum berkenalan dengan yang lainnya?"


" Tentu saja, hanya gadis itu yang tidak tertarik denganmu." saut Jiana lalu beranjak berdiri diikuti Bryan meninggalkan wajah-wajah kecewa diruang tamu itu


" Biarkan aku membantumu." Bryan menggandeng tubuh itu menaiki lantai dua


" Jia meskipun ada wanita yang lebih cantik darimu, aku tidak akan tertarik."


" Maksudmu aku tidak cantik?"


" Salah lagi." gumam Bryan


" Kamu yang paling cantik Jia .. dihatiku .. " rayu Bryan, kali ini Jiana tersenyum menggelatuti lengan Bryan dengan manja


" Aku cemburu." akunya dengan bibir mengerucut


" Itu artinya kamu mencintaiku." saut Bryan dengan senyum lebar dan menyalur pada Jiana


" Mereka sangat genit!" Bryan tertawa lalu mencium kening Jiana dengan gemas. Keduanya masuk kedalam kamar dan duduk diatas ranjang memperhatikan gadis yang dipilih Jiana


Gadis itu tampak cekatan mengganti popok baby Zeen yang mengompol, terlihat sudah propesional meskipun diperhatikan banyak orang dikamarnya Jiana tersenyum kemudian mendekati box bayi-bayinya." Kau sudah tahu nama mereka?"


" Belum bu."


" Jangan panggil ibu panggil aku kakak." sautnya menatap lekat gadis dengan rambut keriting dibawah bahu tersebut. Entah kenapa gadis itu mengingatkan dirinya dulu yang harus banting tulang membiayai sekolahnya sendiri


Dengan semangat gadis itu mengangguk." Apa mereka minum asi?" tanyanya


" Ya, mereka minum asi tapi sesekali dibantu susu formula."


" Kak bisakah kenalkan mereka padaku?"


" Kemarilah." ajak Jiana menggandeng gadis yang kini menggendong Zeen dipangkuannya


" Dia Zeen, dia punya bulu mata yang lentik dibanding kakak dan adiknya."


" Ya dia seperti seorang wanita." sautnya menatap wajah tampannya Zeen


" Dan yang ini .. " tunjuk Jiana pada bayi yang terlelap dalam box dekat ranjangnya


" Ini Chelsea, sibungsu kami, lihat rambutnya lebih lebat dari kakak-kakaknya. Dia seorang perempuan "


" Dan ini Zayn .. " Jiana menunjuk Zayn yang juga terlelap dalam box bayi paling ujung


" Dia punya lesung pipit dipipinya saat tersenyum, menguap dan menangis." ucap Jiana menatap Zayn dengan senyuman hangat


" Mereka benar-benar lucu, tampan dan cantik." pujinya memperhatikan bayi-bayi yang kulitnya masih merah tersebut


" Ya dan ini benar-benar hadiah untuk kami." sautnya


" Sekarang kau sudah berkenalan dengan mereka aku akan menunjukan dimana kamar mereka."


" Iya .. " Dituntun Bryan, Jiana membawa gadis itu keluar kamar


" Aku belum tahu siapa namamu?" tanya Jiana menoleh pada gadis yang mengekor dibelakangnya dan Bryan


" Isyabella .. " sautnya dengan suara pelan tapi tatapan itu tertuju pada seorang pria muda yang baru saja datang dengan koper hitam ditangannya


" Delan, kau baru datang? dimana ayahmu?" tanya Bryan


-


-