Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Ayo kita menikah culun



-


-


" Ji kamu sangat cantik!" pekik Bulan saat masuk kamar Bryan dan mendapati Jiana tengah selesai dirias MUA. Semuanya serba mendadak, pernikahannya sangat mendadak karena Bryan yang mau buru-buru, untung saja kebaya yang ia pakai hari ini pas ditubuhnya


Jiana sendiri terpaku menatapi dirinya dicermin. Ia sentuh wajah itu, memang cantik dan sangat berbeda. Tapi hati Jiana sendu, ia tak menyangka akan menikah dengan pria yang memeperk*sanya bertahun-tahun silam itu dan sepertinya mulai hari ini juga Jiana akan menjadi musuh beberapa, entah puluh atau ratusan wanita yang menyukai Bryan


Bulan mendekat, ia memegang kedua pundak Jiana dari belakang. Wanita itu juga tetap cantik dengan kebaya hijau muda meskipun usianya tak lagi muda


" Akhirnya kamu menjadi adik iparku Ji. " ucap Bulan tersenyum hangat pada Jiana


" Kak, aku gugup." saut Jiana


" Itu memang biasa Ji, bagi wanita yang akan menikah. "


" Kuharap kamu bahagia Ji, selama ini aku selalu melihatmu kesusahan. Aku yakin lambat laun Bryan akan berubah. Karena Bryan terlihat sangat menyayangi putri kalian."


Jiana hanya tersenyum tipis, ia terlalu ragu pada Bryan dan tak berharap lebih pada pria itu


" Ayo kita keluar." ajak Bulan


Keduanya keluar, dengan Jiana dalam gandengan Bulan. Wanita itu terus melirik pada Bulan yang tak menghentikan senyumannya. Bulan membawa Jiana ke taman karena disitulah acara pernikahan mereka berlangsung dengan mengambil tema garden party


Sederhana karena hanya mengundang kerabat dan teman-teman dekat Bryan saja. Entah apa alasan Bryan tak mau mengundang banyak orang atau mungkin pria itu tak mau semua wanita tahu bahwa ia sudah menikah. Jiana tak mau memikirkan itu ia bahkan tak akan perduli dengan apa yang akan Bryan lakukan di luar sana baginya kebahagiaan Kya lah yang paling penting


Seketika keadaan riuh mendadak hening karena kehadiran Jiana dan Bulan yang menuruni tangga dengan langkah anggun mereka. Tidak ada yang tidak terkesima apalagi Bryan, kedua manik hitam pekat itu sudah ganas saja pada Jiana. Semua yang ada dikursi tamu memperhatikan Jiana hingga wanita itu semakin gugup


" Istrimu cantik juga. " bisik David pada Bryan yang kini diaping oleh kedua temannya


" Kalau kau tidak mau menidurinya, biar aku saja nanti malam yang menggantikanmu." ucap Arnold usil seraya cekikikan


" Sialan kau, aku bahkan sudah menanti ini dari kemarin." saut Bryan


" Kau butuh sesuatu?"


" Ahh tidak usah, aku masih sanggup untuk membuatnya pingsan." saut Bryan sombong membuat kedua temannya terbahak kencang hingga perhatian semua orang tertuju pada ketiga pria nakal itu


Tapi Bryan mendadak menghela nafasnya saat mendengar isakan tangis sang ibu yang mulai kencang. Lalu ia menoleh kebelakang melihat ibunya yang memang sedang menangis dalam gandengan Daddynya


" Mom .. Mom bisakah Mom berhenti menangis." ucap Bryan


" Bryan kamu kan anak Mom." saut Jeny tersedu


" Bukankah Mom selama ini menginginkan aku menikah? kenapa sekarang malah menangis." gerutu Bryan


" Mom pasti sedih tidak bisa memarahimu lagi." saut Jeny membuat Bryan jengah dan ditertawakan oleh kedua temannya


Sambil berjalan, tatapan Bryan tak henti mesum pada Jiana. Lekuk tubuh Jiana yang terbalut kebaya putih vanila pas body menjadi perhatian Bryan, bisa dibayangkan saat Bryan melepaskan seluruh pakaiannya sang adik pasti akan langsung bangun terlebih bau tubuh itu selalu menggoda imannya


Bryan berdiri menjulang didepan Jiana yang hanya setinggi bahunya. Bryan memberikan senyumannya pada Jiana lalu meraih jemari lentik yang terkepal karena gugup itu, mereka bertatapan sesaat


" Ayo kita menikah .. Culun .. " ucap Bryan dan mendapat delikan sebal Jiana


Bulan melepaskan tangannya dari lengan Jiana saat Bryan mulai menarik Jiana. Ia membawa Jiana menuju meja dimana penghulu, serta para saksi sudah siap disana


Ken juga berdiri sambil menggandeng Jeny yang masih tersisak, berjalan menuju meja dimana Bryan dan Jiana sudah siap. Keduanya duduk disamping Bryan yang tampak datar, tidak ada kegugupan sedikitpun berbeda dengan Jiana


Saya terima nikah dan kawinnya Jiana binti Dani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai


Suara lantang dan keras itu menggetarkan hati Jiana karena bagaimana pun ini pernikahan pertamanya. Terlihat juga beberapa orang menitikan airmata mendengar suara Bryan mengikrarkan janji sucinya. Bulan sampai Chesa-Chesy sampai terharu melihat saudara laki-lakinya itu. Pasalnya mereka semua memang sudah menanti hari dimana Bryan menikah dan berharap pria itu berubah tidak nakal lagi


Kata sah dari bibir para saksi membuat bibir Bryan melebar sempurna. Mulai hari ini ia benar-benar melepas masa lajangnya dengan menikahi wanita yang telah melahirkan putrinya itu


Bryan berbalik menghadap Jiana begitupun wanita itu, ia meraih kotak berwarna hitam, membukanya dan mengambil cincin putih bermata batu safir kecil warna biru malam. Kemudian meraih jemari kiri Jiana dan memasangkan dijari manisnya. Bryan lagi-lagi tersenyum dengan tatapan yang terus saja mesum pada Jiana lalu ia mengangkat jemari itu, ia kecup dengan lembut dan lama. Jiana ingin sekali menarik jemarinya namun tidak mungkin ia mempermalukan Bryan dihadapan semua orang bagaimana pun kini pria itu suami sahnya


Puas dijari bibir Bryan naik ke kening, ia kecup lembut dan lama pula membuat hati Jiana sedikit bergetar, ini pertama kalinya ia mendapat sentuhan dikening oleh seorang pria


" Mulai hari ini kau harus menurut padaku .. culun." bisik Bryan pelan dengan bibir menyeringai


Jiana mendelik kesal lalu kembali berbalik menghadap penghulu untuk menandatangani surat-surat penting pernikahannya dan Bryan, tatapan Jiana nanar pada buku merah dan hijau diatas meja


Selesai, Bryan menghadap kedua orangtuanya, pertama ia memeluk Jeny yang tak henti menitikan airmatanya. Ia usap punggung ibunya dengan lembut


" Aku sudah menikah Mom, bukankah ini yang selalu Mom inginkan." ucap Bryan


" Jadilah suami yang baik Boy, jangan menyakiti istrimu. Dia juga wanita seperti Mom. " saut Jeny. Bryan mengurai pelukannya, ia usap airmata di wajah sang ibu dengan kedua ibu jarinya lalu ia mencium lembut kening Jeny


Kemudian Bryan beralih pada Ken, memeluk sang ayah yang selama ini tanpa henti menyayanginya, selalu memberikan apa yang Bryan mau. Bryan menitikan airmata kali ini, ia begitu menyayangi Ken, pria itu selalu mengajarkan padanya bagaimana menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab


" Maafkan aku Dad, mungkin aku selalu membuat Daddy pusing. " ucap Bryan tulus


" Dad harap setelah menikah kamu berubah, sekarang kanu mempunyai tanggung jawab yang besar. Ada Kya ada Jiana yang harus kamu jaga." saut Ken, tak terasa airmatanya juga menetes


Bryan hanya mengangguk pelan lalu mengurai pelukannya sehingga ketiga saudara wanitanya langsung berhambur memeluk Bryan, mengelilingi saudara laki-laki mereka satu-satunya


" Aku harap kaka bahagia." ucap Chesa, wajah wanita itu sembab seperti kedua saudaranya


Bryan tersenyum, ia membalas pelukan semua saudaranya. Mereka berpelukan cukup lama membuat beberapa tamu terharu dengan kehangatan itu, begitupun Jiana yang tersenyum, entah mengapa hatinya menghangat melihat Bryan yang tampak sekali menyayangi adik-adik dan kakaknya


-


-