
-
-
Akhirnya penderitaan Bryan berbulan-bulan ini akan berakhir. Masa hpl itu kini telah kian dekat hanya tinggal menghitung hari saja Bryan bisa melihat sikembar. Bryan juga tak akan disusahkan istrinya lagi, ia akan merasa bebas tak akan keluar tengah malam demi menuruti keinginan sang istri yang tak masuk akal
" Sssssttt .. " Suara ringisan itu membuat Bryan mengalihkan pandangannya dari laptop ke Jiana yang sedang terlelap disampingnya. Sudah tiga hari ini Jiana mengeluh merasakan kontaksi kecil diperutnya
Mendapat elusan jemari Bryan, biasanya rasa sakit itu akan menghilang. Bryan tersenyum baru didalam perut saja sikembar sudah mencari perhatian padanya. Lihatlah kini Jiana kembali terlelap dengan tenang
Bryan terus mengusap perut yang membuncit besar itu, memandangi Jiana yang hanya berbalut bikini hijau muda. Meskipun ruangan itu ber AC namun kehamilan membuat Jiana selalu bercucuran keringat, makanya wanita itu tidak betah tidur memakai pakaian
Bryan membungkukan badan mengecup kening Jiana lalu mengusap pelipis yang basah oleh keringat. Bibirnya kemudian turun pada pipi chuby." Love you .. " bisik Bryan lembut ditelinga Jiana
" Malam ini kamu melupakan sesuatu sayang." bisik Bryan lagi dengan jemari nakal merayap kebawah, kemudian hinggap di pangkal paha. Jika sudah main disana, Bryan tak akan mau beranjak. Tentu ia tak akan menganggurkan Jiana malam ini seperti malam-malam lainnya
" Emmmhh .. " Lenguhnya membuat Bryan tersenyum lucu
" Enak hmm." Bisik Bryan terkikik lucu, seperkian detik kemudian tubuhnya menegang
" Aaahh sakit .. " Jiana kembali meringis sakit, sementara Bryan semakin tegang, lelehan hangat meluncur deras dari area sensitif Jiana
" Boy sakit!" pekik Jiana mulai kencang
Plak
Tamparan keras Jiana mendarat dipipi menyadarkan Bryan dari keterpakuannya. Pria itu segera menarik tangannya yang basah oleh air ketuban
" Mana yang sakit hmm?" Bryan langung panik
" Sakit .. perutku .. " Bryan tak membuang waktu, ia loncat dari kasur berlari menuju walk in closet untuk mencari pakaian istrinya
Ia memakaikan dengan tergesa-gesa dengan wajah panik dan mulai memucat. Seperti yang diajarkan Arnold padanya, Bryan langsung membopong tubuh yang berbobot hampir dua kali lipat itu. Ia berlari dengan hanya memakai boxer hitam dan kaos tanpa lengan menuju mobilnya yang berada digarasi
Bryan mendudukan Jiana yang mulai berteriak kesakitan dikursi samping kemudi
Saking paniknya Bryan sengaja menabrak rollingdoor garasi rumahnya, ia tak memperdulikan mobilnya yang rusak. Pikirannya hanya tertuju pada Jiana dan bayi-bayinya
Brukk daarrrrrrr
Menimbulkan suara keras hingga membangunkan semua orang
Bryan tak ambil pusing, pria itu segera melajukan mobilnya. Dan untuk kedua kalinya Bryan menabrakan mobil itu pada pagar besi gerbang rumahnya menimbulkan suara kedua membuat para penghuni rumah berlarian keluar. Saat itu rumah Bryan memang sedang ramai oleh keluarganya yang menginap mengingat acara bulanan mereka akan dilaksanakan besok
" Apa ada maling?" tanya Bulan dengan muka bantalnya
" Mana mungkin, bukankah didepan banyak satpam yang berjaga?" semua orang dibuat heran karena kelakuan ayah Kya itu
Sementara kini Bryan melajukan mobilnya sekencang mungkin. Pria itu bahkan tak merasakan sakit saat Jiana mulai mencakar-cakar tangannya yang tak henti mengelus perut Jiana
"Bryan .." teriak Jiana histeris
" Sabentar sayang, sabar hmm?" Demi Jiana Bryan berusaha kuat meskipun hatinya dipenuhi ketakutan, Bryan tidak pernah setakut ini
" Kenapa jalannya seperti kura-kura!" teriak Jiana lagi, Bryan hanya bisa mengelus dadanya, kini Jiana lebih galak dari singa
" Jia .." panggil Bryan selembut mungkin
" Huuu ini benar-benar sakit, kau tidak merasakannya." gerutu Jiana dengan airmata yang mulai meluncur deras, lemas sudah tubuh Bryan jika istrinya sudah menangis
" Sebentar lagi sampai sayang, bersabarlah."
" Sakit .. "
" Tarik nafasmu pelan-pelan!" perintahnya dengan pandangan fokus kedepan
Jiana melakukan perintah Bryan, sambil tersedu ia menarik nafasnya dalam
" Ya lakukan terus sampai kita sampai .. " Bryan tersenyum tipis melirik Jiana beberapa saat
Sebuah keberuntungan karena malam ini jalan tak dilanda kemacetan sehingga ia tiba dalam 20 menit. Bryan segera membuka pintu mobil, ia membopong lagi Jiana masuk kedalam rumah sakit
" Arnold .. "
" Arnold .. " Bryan berteriak layaknya dihutan, sungguh kampungan dimata Arnold. Bagaimana bisa pria itu adalah anak seorang konglomerat, kelakuannya saja sangat jauh berbeda, tidak ada wibawanya sedikitpun. Gerutu Arnold dengan wajah malu
Arnold segera menyuruh dua perawat disana membawa brankar untuk Jiana. Diikuti dirinya yang menggenggam tangan Jiana, wanita itu langsung dibawa keruang bersalin
Arnold segera menyuruh dua dokter dan tiga orang perawat untuk menangani Jiana. Ia tahu suami posesive seperti Bryan pasti tidak mau persalinan istrinya dibantu oleh seorang pria
" Hey .. " Bryan kembali meggenggam tangan itu setelah Jiana dipasangi beberapa alat ditubuhnya termasuk selang oksigen. Kedua mata Bryan berkaca menatapi kesakitan sang istri, bibirnya bergetar, wajah Jiana juga memucat. Sejujurnya saat ini Bryan sangat takut tapi ia berusaha kuat demi menyemangati istrinya
" I love you .. " bisik Bryan begitu lembut ditelinga Jiana, tapi wanita tak menjawab. Hanya terus meringis dan menangis. Jiana ingin sekali menampar Bryan, ini bukan saatnya mesra-mesraan, gerutunya dalam hati sambil mencengkram lengan Bryan
" Ibu tarik nafas dalam, setelah itu ibu coba dorong." Bryan menciumi kening Jiana yang berkeringat, menatap Jiana yang melakukan perintah dokter. Wanita itu mengejan hingga urat disekitar dahinya terlihat, Bryan menitikan airmatanya karena itu. Ia bahkan tak memperdulikan tangannya yang menjadi pelampiasan rasa sakit Jiana
" Aaah hebat bu, rambutnya sudah terlihat." ucap dokter wanita itu dengan senyum pada Jiana
" Boy .." panggil Jiana dengan suara pelan menyandarkan tubuhnya pada Bryan yang duduk menyempil dibelakangnya. Bryan tersenyum manis lalu mencium bibir itu mesra
Dikecupnya kembali bibir itu begitu dalam
" Sakit .. " lirih Jiana memegangi perutnya dengan tangan yang diinfus. Bryan sungguh tak tega, pria itu hanya bisa menahan airmatanya dan menguatkan Jiana, ia tidak bisa melakukan apapun bahkan mengurangi rasa sakitnya
Jiana menarik nafasnya lagi, dengan tangan menjalar ditubuh Bryan mencari pegangan. Bryan hanya membiarkan Jiana, membiarkan jemari wanita itu kini menjambak rambutnya. Jika lengan jangan ditanya lagi sudah penuh dengan cakaran Jiana
1 2 3
Jiana mengejan dengan sekuat tenaga merasakan seluruh tulangnya serasa dicabut dari dagingnya saat ini ..
Oek
Oek
Suara tangisan kencang itu menggetarkan hati Bryan dan Jiana
Jiana menghempaskan tubuhnya yang lelah pada Bryan, ia tersenyum memandangi bayi yang masih berlumuran darah ditangan suster
" Bayi pertama laki-laki, sehat dengan berat 3,2 dan panjang 49 cm." Bryan merengkuh Jiana, menghujani puncak kepala itu dengan kecupan. Bryan seperti melihat keajaiban, bibirnya tersenyum tanpa henti dengan airmata meluncur deras. Bryan tak bisa mengungkapkan kata-kata hanya airmata dan senyum yang mengartikan bahwa ia sangat bahagia
Dibantu para perawat dokter membawa tubuh Jiana yang tanpa busana dalam posisi duduk. Dua orang perawat menahan Jiana agar tidak bergerak sementara Bryan berdiri didepan wanita itu, genggaman tangannya tak pernah terlepas menyaksikan perjuangan Jiana
Karena tidak mungkin lagi melakukan persalinan normal, dokter mengambil jalan pintas melakukan operasi caesar pada bayi kedua mereka, tentu atas persetujuan Bryan sebelumnya. Pria itu menuruti perintah dokter selama itu baik untuk istrinya
Genggaman tangan Jiana menguat ketika dokter melakukan spinal blok ( anestesi tulang belakang) sehingga dalam beberapa detik kedepan setengah tubuh Jiana melemas. Wanita itu dibaringkan dua perawat ke brangkar
Bryan mengusap airmatanya lagi melihat sang istri, lalu ia mendekat berlutut dihadapan Jiana, wajah mereka bersejajar. Saat itu Jiana menoleh, ia tersenyum melihat airmata yang berjatuhan dari kedua mata Bryan, ia usapi dengan ibu jarinya
" Kenapa kamu menangis, cengeng!" ledek Jiana dengan senyuman
" Karena aku mencintaimu!" saut Bryan terisak
" Oouuh sayang aku juga mencintaiku!" saut Jiana dengan suara manja membuat sudut bibir Bryan tertarik keatas membentuk sebuah senyuman manis
" Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan anak-anak."
" Bryan kau cinta mati padaku?" tanya Jiana mengusap bibir pucat Bryan dengan ibu jarinya
Bryan mengangguk cepat, cairan beningnya berjatuhan lagi
" Ouuh sayang .." ucap Jiana mengelus pipi Bryan, memperlakukan pria itu seperti ia memperlakukan Kya. Keduanya saling menatap dan tersenyum, Bryan mengecup bibir itu sama halnya dengan Jiana yang membalasnya
Oek
Oek
Oek
Hati keduanya kembali bergetar mendengar tangisan itu. Bryan merengkuh kepala Jiana menempelkan pipi Jiana dengan pipinya. Keduanya menatap bayi mereka ditangan dokter, wajahnya persis sama lagi seperti Bryan
" Bayi kedua laki-laki, sehat dengan berat 3,3 dan panjang 48." Jiana dan Bryan tersenyum menatap bayi mereka lalu keduanya saling menatap lagi. Bryan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada istrinya itu
Cup
Bryan mengecup bibir itu dalam lalu meluma*nya lembut, keduanya tak menghiraukan sekitar bagi mereka inilah kebahagian, kebahagiaan yang lengkap dengan hadirnya anak-anak mereka
" Nah sibungsu ternyata sembunyi dibelakang kedua kakaknya."
Ucapan dokter membuat tautan bibir itu terlepas, keduanya menoleh dengan wajah terkejut dengan satu lagi bayi di tangan dokter yang masih berlumuran darah, bayi ketiga ini berbeda rambutnya lebih lebat ketimbang kedua kakaknya
" Aaah cantik sekali .. " puji dokter namun Jiana dan Bryan tak bergeming, keduanya masih terkejut
" Bayi ketiga perempuan, sehat dengan berat 3,4 dan panjang 4,7 .. "
" Dokter saya tidak mengerti, coba jelaskan." dokter itu tersenyum pada Bryan dan Jiana
" Iya pak ibu mengandung tiga bayi?"
" Lalu kenapa-" Bryan tak melanjutkan ucapannya
" Sibrengsek Arnold!" umpat Bryan
Oek
Oek
Oek
Tangisan bayi ketiga itu lebih cempreng dibanding kedua kakaknya. Semua dokter tertawa senang melihat bayi mungil itu
" Benar-benar hadiah istimewa." ucap Bryan pada Jiana
-
-