
3 tahun kemudian ..
Daddy
Daddy
Daddy
Daddy
Suara-suara lucu itu terus memanggil Bryan dengan riangnya didepan pintu. Hari ini hari kepulangan Bryan bekerja diluar kota selama dua minggu full. Dari luar mobil pria itu sudah menampilkan senyuman menatap orang-orang terkasih menyambutnya pulang
Dengan dua papperbag ditangan, Bryan mendekati Jiana dan sikembar yang berjingkrak menyambut kepulangannya. Kini bayi-bayi itu sudah pandai bicara, berjalan dan berlari, sehingga suasana rumah sangat riuh jika sikembar sedang tak tidur
Ada lagi sisulung Kya yang baru datang dari arah dalam. Gadis yang kini berusia 9 tahun itu tiba-tiba berlari mendekati Bryan dan meloncat berhambur memeluknya mendahului adik-adiknya yang menyusul berlari
" Auuuhh Kya berat." Bryan pura-pura menggerutu
" Daddy, Daddy."
" Daddy, Daddy."
" Dadddyyyyyy." Chelsea berteriak paling histeris sebab ia dan Kya yang sering berebut Bryan
Jiana dan Bryan tertawa melihat kegeraman Chelsea yang sangat lucu. Lalu ia berjongkok sehingga ketiga bocah kembar itu berhambur memeluknya dan Kya, bocah itu hanya cekikikan . Hal yang sangat membahagiakan untuk Bryan, setiap hari ia selalu bersyukur Tuhan memberikan kehidupan yang sempurna seperti ini padanya
Bryan mencium kening mereka satu persatu, lalu bangkit berdiri." Ayo kita masuk kedalam." Ajaknya, anak-anaknya tampak riang, semuanya kembali berebutan ingin dituntun Bryan. Malahan Zayn dan Zeen memeluk kakinya sehingga Bryan kesulitan berjalan. Bryan menatap Jiana dan menggelengkan kepala dengan keriwehan itu, rasa lelah perjalanan terbayarkan dengan keadaan menyenangkan ini
Tepat didepan Jiana Bryan berdiri, sejenak ia melepaskan kedua tangannya untuk memeluk dan mencium kening Jiana." Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Bryan
Jiana terkekeh, padahal setiap hari pria itu tahu Jiana baik-baik saja melalu videa call yang kerap keduanya lakukan dipagi siang dan malam
" I am oke." saut Jiana lalu mengecup bibir Bryan
" Kamu pasti lelah, mau mandi atau makan malam lebih dulu?" tanya Jiana
Bibir itu tersenyum lebar, inilah yang paling disukai Bryan, perhatian Jiana padanya
" Mandi bersama." Bisiknya. Jiana tersenyum lalu melirik kebawah pada anak-anak mereka yang sedang menunggu keduanya. Itu membuat Bryan menghela nafas
" Aku lupa, saking rindunya padamu!" Jiana mengusap pipi itu lalu mengajak semuanya masuk. Menurutnya tidak baik bila anak-anaknya terlalu lama diluar bila hari sudah malam
" Tunggulah sebentar, Daddy akan mandi dulu hmm?" Semuanya patuh membuat kedua orangtuanya lagi-lagi tersenyum. Bryan mengusap puncak kepala mereka satu persatu lalu memutuskan masuk kekamar meninggalkan semuanya diruang tamu dilantai dua
Rumah dua lantai yang telah ditinggali Jiana selama hampir empat tahun lamanya itu benar-benar terasa hangat. Hampir disetiap lorong foto keluarga kecil itu terpajang, sebenarnya meskipun memiliki paras yang rupawan ia tak terlalu suka di potret tapi demi membahagiakan Jiana dan anak-anaknya, pria itu mau saja bergaya konyol didepan kamera
Menghabiskan 10 menit untuk membersihkan diri, Bryan keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaiannya yang telah disediakan Jiana yaitu piyama putih vanila dengan corak panel. Bryan keluar dengan wajah Fresh, bibirnya tersenyum manis memperhatikan keempat putra-putrinya yang sedang menunggu dirinya sembari menonton tayangan kartun, ya meskipun ketiga bocah kembar itu tak diam, ada yang Zayn yang meloncat-loncat dari atas sofa, ada Zeen dan Chelsea yang tak pernah absen berebut posisi duduk dipangkuan Jiana
Jiana dan Bryan sudah terbiasa dengan keriwehan itu. Dimata Bryan Jiana wanita yang hebat karena wanita itu mampu mengurus keempat buah hati mereka tanpa pengasuh, hanya sesekali dibantu para pelayannya yang lain
" Oke, oke stop. Daddy datang." Suara Bryan setengah berteriak, menghentikan aktifitas semuanya. Cepat-cepat Bryan duduk disofa disamping Jiana. Sontak ketiga balita kembar itu langsung berebutan Bryan
" Siapa yang paling kecil disini?" Tanya Bryan pada ketiganya
" Chelsea!" Ketiganya menjawab dengan serentak dan suara berteriak, sementara Kya kini mulai menggelendoti sang ibu, duduk disampingnya. Tumben sekali gadis kecil itu mau mengalah pada adik-adiknya
" Itu artinya Zayn dan Zeen harus mengalah."
" Tapi kan Zayn juga rindu Daddy." Bryan tersenyum lalu memangku Zayn untuk duduk disamping kanannya lalu Zeen disamping kiri. Bryan terkekeh melihat Chelsea sudah mengacungkan kedua tangannya, ia segera memangku gadis kecil itu duduk dipangkuannya
Spontan kedua tangan kecil itu memeluk tubuh sang ayah sembari menjulurkan lidahnya pada Zeen
" Daddy Chelsea nakal." Teriak Zeen
" Ayolah Chelsea, kakak-kakak sudah mengalah padamu!"
" Daddy, ayo kita bermain camping." Ajaknya dengan suara lucu
" Iya, membuat rumah dan api unggun." Bryan tertawa begitupun Jiana
" Darimana kamu tahu itu sayang?"
" Marsha dan Bear juga camping di depan rumah."
" Ayo Daddy ayo, Zayn juga mau!"
" Zeen juga mau!" Balita tampan itu berteriak kencang, riuh sudah malam-malam rumah mereka
Bryan tampak berpikir sambil menatap satu persatu ketiga balit kembar yang memelaskan wajah padanya
" Ayolah Daddy."
" Iya Daddy iya."
" Daddy." Bryan tersenyum manis lalu menganggukan kepala
" Of course." Ketiganya bersorak heboh dan riang
" Kenapa kalian berisik sekali, kakak jadi tidak fokus." Kya tiba-tiba berteriak membuat Jiana dan Bryan kembali tertawa, wanita itu menggandeng Kya lalu mencium pipi dengan kulit mulus itu
" Kamu yang berisik Kya."
" Mum, menyebalkan." Sekali lagi Jiana mencium pipi itu lalu menatap Bryan
" Boy, aku akan menyiapkan makan malam. Kamu mau makan malam apa?"
" Barbeque!" Zeen berteriak
" Ini untuk Daddy sayang, kamu sudah makan tadi."
" Tapi Camping memang kurang lengkap tanpa Barberque Mum." Kya menyaut. Jiana melihat Kya lalu kembali pada Bryan yang menganggukan kepalanya
Untuk menyenangkan anak-anaknya Bryan memasang tenda besar dihalaman rumah mereka lalu peralatan Barbeque sesuai keinginan Zeen. Meskipun lelah, tapi Bryan melakukan semua itu. Dibantu sang istri dan ditonton anak-anaknya yang cerewet dan banyak sekali bertanya ia menyiapkan semuanya dengan sempurna
Kini ketiga bocah kembar termasuk Kya bersemangat membantu sang ayah mengambil bantal dan selimut dari kamar mereka masing-masing. Bryan dan Jiana terus tertawa memperhatikan keempatnya yang terlihat sekali sangat serius
Lalu Bryan menyusul semuanya memasuki tenda dan duduk disisinya. Bryan dan Jiana mulai menyalakan pemanggang barbeque
" Zayn mau sosis besar."
" Chelsea mau daging."
" Zeen sosis dan daging." Tenda itu dipenuhi suara semuanya
" Daddy akan panggang semuanya, kalian nanti tinggal pilih oke!"
" Yes Daddy." Sautnya serentak
Semuanya fokus memperhatikan pria yang mereka panggil Daddy itu, memanggang apa yang mereka inginkan
" Daddy siapa?"
" Daddy Chelsea!"
" Daddy Zayn!"
" Daddy Zeen!"
" Astaga, kenapa kalian selalu berisik!" Kya balas berteriak sembari menutupi kedua kupingnya
" Biarkan saja, jangan mengusik mereka."
" Kenapa aku yang selalu disalahkan." Gerutu Kya membuat Bryan mencondongkan tubuh mendekat pada Kya yang memang duduk disampingnya lalu mencium pipinya dengan gemas untuk merayu Kya
" Kya." Chelsea berteriak marah, ia selalu cemburu jika sang ayah manis terhadap sang kakak
" Sayang, kamu tidak sopan. Kya lebih besar darimu!" tegur Jiana memelototkan matanya membuat Chelsea semakin marah, balita itu merajuk langsung bangkit dan menjatuhkan tubuhnya dengan posisi wajah pada bantal, seketika tangisan kencang memenuhi tenda itu
Semua orang tertawa cekikikan karena Chelsea dan itu sudah kebiasaan, sibungsu yang akan selalu berakhir menangis
" Chelsea, Chelsea. Ini daging kamu sudah matang." Bryan berusaha membujuk, menoleh kebelakang dan menepuk-nepuk pantat Chelsea dengan pelan
" Hey." Jiana menarik satu lengan Chelsea hingga tubuh itu bangun. Jiana melirik Bryan dan tersenyum melihat Chelsea yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecilnya
" Waahh ini kelihatan enak sekali. Ayolah semua orang mengalah dan kamu yang pertama memakannya." Seketika Chelsea membuka kedua tangannya, dengan sesegukan ia mengambil sepotong daging yang sudah ditusuk garpu itu dengan malu-malu
" Pelan-pelan, ini masih panas sayang." ucap Bryan dengan ibu jari mengusap airmata Chelsea yang masih berjatuhan
Dan satu persatu mendapat bagiannya. Meskipun Bryan sangat lelah dan nakal namun ia mengalah demi anak-anaknya. Ia memakan yang terakhir itupun disuapi Jiana
" Daddy yang paling hebat." Puji Kya
" Tentu saja!" Bryan menepuk dadanya
" Ini sudah malam, sepertinya kalian harus tidur." Jiana melihat jam ditangannya
" Chelsea mau bersama Daddy."
" Baiklah, Daddy ditengah-tengah kalian." Bryan bangkit, membaringkan dirinya diposisi paling tengah antara keempatnya sementara Jiana merapihkan kekacauan diluar tenda. Ia membawa alat pemanggang kembali kedapur
Tak lama ia kembali dan masuk kedalam tenda. Semuanya telah memejamkan mata tak terkecuali Bryan. Pria itu tampak lelah karena harus menyenangkan anak-anak mereka yang rindu main dengannya. Jiana membaringkan tubuhnya dipaling ujung didekat Zayb sambil terus menatapi Bryan. Bertahun-tahun hidup bersama rasa cintanya pada Bryan semakin dalam, apa yang pria itu lakukan selalu membuatnya kagum. Semakin mengenal ia semakin tahu, Bryan memiliki banyak kelebihan, pria itu tipe penyayang apalagi untuk anak-anak mereka
Jiana hendak memejamkan mata
" Jia." Namun bisikan itu membuat Jiana kembali membuka matanya, ia melihat Bryan membuka mata dan berusaha melepaskan pelukan tangan-tangan kecil yang melingkari perut dan dadanya
" Kamu sudah mengantuk Jia?" tanyanya dengan suara lembut lalu bangkit duduk
Jiana tersenyum dan menggelengkan kepala, ia ikut bangun duduk
" Keluar sebentar yuk!"
" Kemana?" tanya Jiana
" Hanya sebentar!" Jiana melirik pada anak-anak
" Tidak akan jauh, hanya diluar tenda." Jiana menurut mengikuti Bryan keluar
Saat keluar ia langsung ditarik Bryan kedalam pelukannya
" Aku sangat merindukanmu sayang, kamu merindukanku tidak?"
" Tentu, aku sangat merindukanmu!" Bryan melepaskan pelukan itu lalu menarik Jiana duduk dibangku taman yang hanya dua meter dari tenda, spontan Jiana memeluk perut Bryan
" Memangnya kamu tidak lelah."
" Aku tidak akan bisa tidur, aku harus menyalurkan semuanya." Jiana terkekeh, mencubit pinggang Bryan
" Dua minggu terasa satu tahun."
" Berlebihan."
" Aku merasa hampa tanpa memelukmu, menciummu!" Jiana tersenyum manis akan rayuan itu
" Bukannya kamu bosan?" ledek Jiana
" Mana mungkin sayang, itu mustahil."
" Aaahh aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku tanpamu Jia." Bryan menunduk membalas tatapan Jiana yang menengadahkan wajah menatap wajah tampan suaminya
" Jangan pernah berpikir pergi dariku huh!" Jiana mengecup dalam bibir itu
" Aku mau pergi kemana, aku sudah terjebak bersama mr Bryan." Bryan menepiskan senyumannya lalu bergerak membopong tubuh Jiana hingga wanita itu memekik dan memukul dadanya
" Boy." Jiana menjerit karena terkejut, Bryan melemparnya kekolam renang
" Bryan kamu keterlaluan." Teriak Jiana mencipratkan air pada Bryan yang masih berdiri, pria itu tertawa kencang lalu melepaskan pakaiannya satu persatu
Byurrr
Bryan menceburkan dirinya dengan tubuh tanpa busana membuat Jiana beringus menjauh
" Mau kemana sayang."
" Ini sudah malam, ada anak-anak." Saut Jiana sambil berjalan didalam air kolam
" Kamu sudah terjebak denganku Jiana, kamu tidak akan pernah bisa menolak." Jiana mencipratkan air pada Bryan
" Siapa bilang, percaya diri sekali!" tantang Jiana, Bryan menyeringai lalu beringus mengejar Jiana, wanita itu kalah dalam hitungan detik karena Bryan mendapatkannya dengan mudah
" Katakan lagi kalau kamu berani!"
" Baik ampun sayang."
" Aku tidak akan melepaskanmu!" Jiana meneguk ludahnya susah payah, perkataan Bryan tak pernah berbohong, ia yakin tubuhnya besok akan terasa remuk, jangankan dua minggu, saat Jiana mentruasi saja pria itu sudah uring-uringkan meminta jatahnya
" I'm stuck with you, your heart, your-" Bryan membungkam bibir yang terus bicara berusaha merayunya itu, menciumnya dengan lembut
" Sejak dulu ... your are mine Jiana. Tidak akan ada yang bisa memilikimu kecuali aku, culuun!!" bisik Bryan menatap lekat wajah Jiana
End
-
-