
-
-
Bryan menarik tangan Jiana melempar kunci itu kesembarang tempat. Lalu ia memanggul Jiana dipundaknya. Wanita itu meronta memukuli punggung Bryan dengan kedua kepalan tangannya yang Bryan rasa sangat lemah tak menyakitinya sedikitpun
Bryan hempaskan pelan tubuh itu duduk disofa ruang tamu, ia mengurung wanita itu lagi dan memandangi wajah sembab Jiana
" Apa yang kau mau? bukankah dengan kepergianku kau bebas dan bisa melakukan apapun bersama Queen .. "
Jiana tersenyum kecut menaikan dagunya." Dua bulan lagi kau tidak akan terikat lagi denganku, aku membebaskanmu bersama Queen, kalian bisa menikah dan membesarkan anak kalian bersama." ucap Jiana dengan hati yang hancur namun berusaha kuat mengatakannya
" Diam!!" bentakan menggelegar itu membuat tubuh Jiana tersentak, Jiana mulai ketakutan melihat raut wajah garang Bryan, airmatanya mulai meleleh lagi
" Diam dan layani aku, itu tugas seorang istri." perintah Bryan mencengkram kedua pipi Jiana hingga bibirnya mengerucut
Jiana menggelengkan kepalanya cepat berusaha terus menolak, ia tak mau merendahkan harga dirinya dihadapan Bryan
" Layani aku atau kau akan tau akibatnya."
" Aku tidak mau." tolak Jiana dan seringai bibir Bryan membuat Jiana takut
" Sepertinya kau sudah bosan mengurus Kya." nada ancaman itu kian membuat Jiana takut
" Tidak jangan bawa Kya." Jiana menggeleng lemah dengan airmata merembes keluar dari kedua sudut matanya, Bryan merasa tak tega namun ia lebih tidak bisa lagi kehilangan Jiana dan Kya
" Kalau begitu lakukan tugasmu." bisik Bryan melepaskan cengkramannya dan membelai pipi Jiana lalu naik keatas mengusap airmata Jiana
Ia kecup airmata itu lembut lalu turun kebibir meraup bibir itu dengan penuh ***** sambil melepaskan kedua celana yang masih membalut tubuh bagian bawahnya. Tanpa melepaskan bibir Jiana, Bryan membuka kedua paha Jiana lebar dan memposisikan dirinya
" Eemmmmhh .." suara tertahan didalam mulut itu membuat Bryan tersenyum puas. Ia segera menjauhkan dirinya dan mulai bergerak memaju mundurkan adiknya, mengguncang tubuh itu hingga gunung kembar Jiana bergerak lincah
Jiana hanya mengigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara, tak melawan lagi karena terlalu takut dengan ancaman Bryan. Ia hanya menantapi hujaman burung jumbo dibawah sana yang terus mengalirkan rasa nikmat hingga menjalar keubun-ubun
"Aaahhh .. ouhhh .." berbeda dengan Jiana, Bryan malah sebaliknya pria itu tak henti mengeluarkan suara nikmatnya. Kedua tangan yang memegang paha itu naik menelusuri perut Jiana dan hinggap dibuah dada, menangkup serta memberikan remasan lembutnya
Membuat Jiana tak tahan dan tubuhnya meliuk tak karuan."Oh yeaah sayang yaa benar seperti itu." racau Bryan
Bryan tersenyum lucu melihat kedua tangan Jiana yang mulai aktif mencari pegangan atas rasa nikmat yang kian menjalar yang diciptakan Bryan untuknya membuat Bryan kian mendekat, menumpu kedua tangannya disisi tubuh Jiana sehingga hujaman adiknya kian terbenam dalam kewanitaannya
" Emmmh .. " suara manja itu kian membuat Bryan merasa senang dan kian antusias mempercepat gerakannya. Sesekali juga kecupan bibirnya mendarat dikening Jiana dengan begitu lembut
" Bryan .. "
" Yeah keluarkan sayang .. " bisik Bryan parau
Jiana memegang kedua lengan itu erat, tubuhnya bergetar membuat Bryan berhenti dan mengerang panjang sampai mulutnya mengangan lebar. Bryan tarik dagu runcing itu dan ia kecup lembut bibir Jiana lalu memangku Jiana, membawa tubuh yang bak jely itu kekamar
Bryan tak henti memberikan kecupan lembutnya dibibir Jiana, lalu membaringkan tubuh itu pelan diatas ranjang. Sejenak menatap Jiana sembari mengusap keringat didahinya sebelum ia membalikan tubuh itu telungkup diatas ranjang
Bryan menaiki Jiana, menidi* dan mengambil posisi lagi." Kau merindukanku?" tanya Bryan tepat ditelinga Jiana namun wanita itu malah memalingkan wajahnya kearah lain
Cup
" Ouuuh shiiiiittt .. " erangan panjang itu sukses membuat gairah Jiana kembali dan tubuhnya kembali diguncang Bryan dari belakang
" Aaahhh aahhhh .. " Jiana sudah tak tahan dan tak sadar. Seluruh tubuhnya dikuasai Bryan, bibir pria itu mencumbu dileher dan telinganya, kedua jemari Bryan bermain digunung kembarnya dengan lincah dan yang paling membuat Jiana tak tahan adalah penyatuan mereka yang mengeluarkan suara benturan tubuhnya dan Bryan
Jiana tak tahan, itu terlalu nikmat untuknya." Aaahhh Bryan .."
" Aaah yeah Jiaa .. say my name .. " saut Bryan parau
Seperti apa yang dipikirkan Bryan, ranjang kayu itu benar-benar berderit kencang memenuhi kamar yang tak luas itu. " Aah sayang aku takut ranjangmu rusak karenaku." goda Bryan menghentak kuat membuat Jiana menjerit dan mencengkram kuat sprei kasurnya
" Aaah yaa menjeritlah, suaramu indah." racau Bryan
" Eemmmh jangan didalam kumohon." ucap Jiana mengulurkan tangannya kebelakang mencoba mendorong perut Bryan
Tapi Bryan tak mendengarkan Jiana, pria itu kian berpacu." Aku sungguh merindukanmu, tak bisakah kau kembali padaku." bisik Bryan terdengar jelas ditelinga Jiana
" Kumohon jangan didalam." sekali lagi Jiana memelaskan wajah ditengah nafasnya yang tersengal
Bryan tak menggubris ia malah kian menghimpit Jiana dan remasan dibuah dada itu kian terasa menguat." Sayang aku akan sampai." racau Bryan dengan nafas memburunya
Dan guncangan hebat itu Jiana dapatkan membuat tubuhnya bergetar untuk keempat kalinya. Jiana tak berkutik lagi, ia hanya memejamkan mata menikmati ledakan cairan itu didalam sana. Sambil menikmati pelepasan itu, Bryan menarik dagu Jiana dan meraup bibirnya meski nafas keduanya masih terengah namun Bryan tak mau melewatkan bibir yang menganga itu sedikitpun
Bryan segera turun dari tubuh Jiana, ia meraih selimut lalu menutupi tubuh mereka yang tanpa busana sampai perut. Jemarinya tak diam terus menelusuri punggung dengan kulit mulus Jiana
" Aku lapar buatkan aku makan." bisik Bryan tak tahu malu dimata Jiana. Jiana malas menanggapi Bryan, ia memalingkan wajah dan menempelkann pipi kirinya kekasur
Bryan tersenyum kecut melihat Jiana tapi ia juga harus bersabar demi tujuannya." Ayolah buatkan aku makan, aku masih suamimu untuk dua bulan kedepan." ucap Bryan lalu mendekat dan mengecupi lengan atas Jiana membuat wanita itu beringus bangun menuruni kasur yang benar-benar berantakan
Tanpa sehelai benangpun ditubuhnya Jiana berjalan menuju lemari, wanita itu kini tak perduli lagi dengan tatapan nakal Bryan pada tubuhnya. Jiana memakai pakaian yang serba tertutup membuat Bryan terkekeh
Tak menghiraukan Bryan Jiana segera keluar dari kamar, wanita itu menuruti Bryan karena rasa takut akan kehilangan Kya. Bryan sangat nekad buktinya pria itu memperkosa dirinya lagi
Diikuti Bryan yang hanya memakai celana, Jiana menuju dapur, ia akan memasak seadanya untuk Bryan." Berapa yang kau keluarkan untuk membeli rumah ini?" tanya Bryan berdiri dibelakang Jiana
Bryan mendengus kecil karena Jiana tak menjawabnya lalu ia mengurung Jiana dengan kedua tangannya, bibirnya menempel dilengan atas Jiana dan pandangan matanya tertuju pada wajah Jiana
Keheningan melanda mereka karena Jiana yang membungkam tak mau menjawab Bryan, kekecewaan itu terlihat diraut wajahnya membuat Bryan berdiri tegak dan mendekap Jiana dengan kedua tangannya
" Tak bisakah kamu menungguku selama 4 bulan hmm?"
" Jia aku akan melakukan tes DNA pada bayi dikandungan Queen."
" Lalu bagaimana jika bayi itu benar-benar anakmu?" tanya Jiana menoleh dengan tatapan dinginnya
" Tidak bukan bayiku." saut Bryan serius. Jiana tersenyum kecut lalu memalingkan wajahnya lagi, wanita itu melihat semuanya, tentu ia tidak akan percaya dengan apapun yang diucapkan Bryan, rasa percayanya sudah hilang dan mungkin rasa cintanya juga perlahan akan memudar seiring berjalannya waktu
-
-