
-
-
Bruk
Suara benturan kedua tangan Jiana yang Bryan cengkram kepintu menggema dikamar hotel yang tak terlalu luas itu. Meskipun sekuat tenaga Jiana meronta namun pada akhirnya ia kalah, ia takluk lagi dengan kekuatan Bryan dan sentuhannya
Tubuh Jiana mulai melemas bak jely dengan ransangan-rangsangan itu. Kini ia membiarkan Bryan kembali berlaku seenaknya, kemejablus yang dipakainya sudah tak berbentuk karena Bryan. Semua kancingnya terbuka serta bra Jiana juga tersingkap keatas
Hanya tebaran kissmarklah disana bagaimana Bryan menaklukan Jiana. Pria itu sudah tahu kelemahan Jiana makanya yang pertama kali ia sentuh adalah puncak buah dadanya. Merasa puas telah membuat puti*g itu memerah Bryan mulai turun kebawa mencicipi kulit perut Jiana sehingga nafas memburu Bryan terasa dipermukaan kulitnya
Lalu Bryan berlutut didepan Jiana, dengan kedua tangannya ia menyingkap rok payung Jiana yang sialnya malah Jiana pakai hari ini karena sangat memudahkan Bryan. Pria itu masuk kebalik rok Jiana, seperti pria mesum yang haus surga dunia Bryan mengendus aroma khas kewanitaan Jiana membuat tubuh itu menggeliyat geli
Pelan-pelan Bryan menurunkan dalaman Jiana lalu menaikan satu kaki wanita itu kebahunya. " Aaaahhh .. " akhirnya suara yang ditunggu Bryan lolos juga dari mulut Jiana membuatnya semakin bersemangat main di bawah sana
Suara decap lidah Bryan kian membuat Jiana tak tahan, wanita itu sampai menggigit jari-jarinya sendiri." Bryan ahh yaa .." Bryan tersenyum lucu dibawah sana lalu menghentikan aksinya. Ia menurunkan kaki Jiana lalu berdiri
Ia membopong Jiana membawanya keranjang yang lumayan besar. Jiana sudah tak berdaya, tak sadar karena tergulung gairah. Dengan pelan dan hati-hati ia membaringkan Jiana, ia kecup bibir itu dalam lalu melucuti semua yang masih melekat ditubuh Jiana
Bryan duduk diatas paha Jiana menatap Jiana yang juga menatapnya dengan wajah memerah dipenuhi gairah. Lalu Bryan meraih kedua jemari Jiana, ia tautkan dengan jemarinya dan menekannya kekasur
" Kenapa? mau aku memasukimu?" goda Bryan menyeringai nakal melihat raut wajah Jiana yang memelas karena Bryan tak menuntaskan permainannya tadi
" Hmm?" goda Bryan dengan jakun naik turun menatap lekuk tubuh Jiana lalu mendekati Jiana, mencium pipinya dengan gemas hingga mengeluarkan suara
" Sungguh mau aku memasukimu?" bisik Bryan, ia kembali menggoda Jiana dengan menciumi telinga wanita itu
" fuc* me .. Bryan .." suara pelan dan malu-malu itu membuat Bryan terkikik dalam hati
" As wish you baby." bisik Bryan
Sekali lagi Bryan mencium pipi Jiana dengan gemas lalu menarik kedua tangannya dari Jiana untuk membuka seluruh pakaiannya membuat Jiana mengigit bibir bawahnya melihat adik Bryan yang sudah tegak berdiri didepan matanya. Bryan menarik Jiana turun dari ranjang membuat wanita itu sedikit membungkuk dan berpegangan pada meja nakas
" Ouuuuhhh .." suara Jiana panjang saat keinginannya terpenuhi oleh Bryan. Pria itu memasuki Jiana dan mulai mengujam pelan dari belakang. Bryan memang licik, awalnya ia memaksa Jiana membuat wanita itu tergoda menjebaknya agar memelas minta ditiduri padahal Bryan lah yang dari awal sangat menginginkan persetubuhan ini
Cup
Kecupan lembut bibir Bryan pada buah dada Jiana menghentikan pergumulan keduanya. Bryan segera bangkit dari tubuh Jiana, bibirnya menyeringai puas melihat sperm*nya mengalir keluar dari kewanitaan Jiana dan berharap benihnya segera tumbuh diperut Jiana
Melihat itu Jiana segera merapatkan kedua kakinya membuat Bryan terbahak." Astaga, bukankah kau yang paling menikmati semuanya? sayang apa kau sudah puas?" ejek Bryan seraya mengambil satu persatu pakaiannya dilantai
Jiana hanya diam tak menanggapi Bryan, ia hanya menatap dengan tatapan dinginnya. Kebodohan Jiana adalah tak mampu menolak Bryan dan malah selalu menikmati semuanya meskipun ia telah dipaksa berkali-kali untuk meladeni nafs* pria itu
Masih dipandangi Jiana, Bryan memakai pakaiannya satu persatu, terakhir ia mengancingkan semua kancing kemejanya dan kembali mendekati Jiana yang masih terlentang
" Seharusnya berterima kasih, aku sudah melayanimu dengan baik." bisik Bryan seraya mengusap renungan keringat didahi Jiana, Jiana memalingkan wajahnya dari Bryan membuat Bryan tertawa kencang lalu menarik dagu runcing itu lagi agar menatapnya
" Enyahlah dari pandanganku." ucap Jiana
" Kenapa? mau lagi? masih belum puas?" tanya Bryan melepaskan dagu Jiana dan beralih pada puncak buah dada, mencubitnya pelan yang mana langsung ditepis Jiana
Dengan tatapan nakalnya Bryan tak menyerah ia menyentuh lagi puncak buah dada itu dan Jiana segera menepisnya lagi, begitu seterusnya hingga Jiana jengah lalu membalikan tubuhnya jadi telingkup serta menyembunyikan wajahnya dari Bryan. Hal itu membuat Bryan terbahak kencang
" Aku tidak akan melakukannya lagi, kamu tidak boleh tidur dan membiarkan anak kita menunggu." ucap Bryan sembari menelusuri punggung Jiana dengan jemarinya
Tapi sekali lagi Bryan membungkuk dan mengecup pundak Jiana." Aku mengawasimu dari jauh jadi jangan membuat kesalahan. Atau kamu akan tau akibatnya." ancam Bryan berbisik ditelinga Jiana lalu benar-benar berlalu pergi
16 jam berlalu ...
Bryan kembali ke Jakarta, setelah dua minggu ia tak menginjakan kakinya lagi dirumah. Kini Bryan kembali kesana, ia membuka pintu dan disambut bi Ami dan juga pak Deden berdiri diruang tamu dengan wajah takut pada Bryan
" Tuan, akhirnya tuan datang."
" Ada apa?" tanya Bryan mengerutkan dahinya
" Itu .. " bibir bi Amy tampak gemetar takut lalu tatapannya melirik menuju lantai dua
Dengan langkah tegap dan tergesa-gesa Bryan memasuki lantai dua. Ia melihat sekitar dan tidak ada yang aneh lalu ia berjalan menuju kamarnya, saat itu ia tersentak melihat Queen. Wanita itu membuat aliran darah Bryan naik keubun-ubun, giginya pun bergemelutuk menahan marah
" Beraninya kau?" bentakan itu membuat Queen yang sedang berbaring diranjangnya dan Jiana tersentak kaget
" Sayang .." panggil Queen beringus bangun dengan wajah sumringah dan penampilan yang teramat seksi, hanya memakai bikini hitam warna kesukaan Bryan. Queen mendekati Bryan langsung memeluk tubuh itu, tapi tak sampai sedetik pria itu sudah mendorong Queen lagi hingga berbaring diranjang
" Jangan menyentuhku jalan* sialan."
" Boy kenapa bicaramu kasar sekali."
Bryan berdecih jijik lalu berjalan menuju walk in closet diikuti Queen dibelakangnya. Pria itu tak menghiraukan Quee, ia mengambil koper hitam besar diatas lemari pakaiannya
"Bryan kau mau kemana?" tanya Queen menyentuh bahu Bryan
" Sudah kubilang jangan menyentuhku." teriak Bryan menggelegar
" Tidak, aku sedang mengandung bayimu mana bisa seperti itu?"
"Bayi?" Bryan memutar tubuhnya menghadap Queen, ingin rasanya ia mencekik wanita itu sekarang juga
" Iya ini bayi kita, aku minta tanggung jawabmu, nikahi aku."
" Jangan harap, kau pikir aku bodoh hah? aku tahu itu bukan bayiku." saut Bryan lalu kembali berpaling dari Queen, mengambil satu persatu pakaiannya lalu memasukan kedalam koper
" Ini bayi kita, buah cinta kita." Queen menarik tangan Bryan dan meletakan diperutnya. Bryan melirik perut itu lalu menarik tangannya
" Katakan padaku, jujurlah sebelum aku benar-benar marah padamu."
" Bryan, ini sungguh bayimu. Kau mau aku melakukan apa? jelas-jelas saat itu kau memaksaku, kau mengambil semuanya mahkotaku.." lirih Queen dengan wajah sendu
" Shut up!" bentak Bryan dengan wajah memerah
" Jiana mungkin bisa kau bodohi tapi aku tidak!" Bryan memalingkan wajahnya dari Queen lagi, saat selesai memasukan semua kebutuhannya ia segera menggeret koper menuju keluar
" Bryan kau harus tanggung jawab kalau tidak aku akan bilang pada orangtuamu dan kalau perlu media. Mereka akan mencapmu sebagai pemerkosa dan pria tak bertanggung jawab." Bryan berhenti, ia menarik nafasnya lalu menoleh pada Queen
" Lakukan saja, kau pikir aku takut?" Bryan kembali melanjutkan niatnya untuk pergi dari rumah itu, tak menghiraukan Queen yang kesal dengan ucapannya
-
-