
-
-
POV Bryan
Tubuhku terasa lemas saat ini juga setelah mendengar ucapan Jiana. Bagaimana bisa anak sekecil Kya melihat hal yang memalukan seperti itu? apa yang akan putriku pikirkan tentangku? Aku merasa hidupku berhenti saat ini juga, bumi terasa tak berputar lagi, semuanya kehancuran itu datang tiba-tiba. Mulai detik ini aku sungguh membenci minuman yang memabukan itu yang membuatku tak sadar dan tak mengingat apa yang terjadi sebenarnya
Aku membiarkan tubuhku diseret menuju keluar dari pesawat, pandanganku tak menentu, hatiku diliputi kesedihan yang mendalam dan ini pertama kali sepanjang sejarah hidupku. Dan kudengar tangisan Kya masih terdengar kencang, terdengar pilu dan menyedihkan membuat hatiku berdenyut nyeri untuk kesekian kalinya
Tapi untuk kali ini aku tak mampu menahan Jiana, aku terlalu malu menampilkan wajahku dihadapan Kya. Meskipun aku tak merasa dan tak tahu apa aku benar telah meniduri wanita itu. Aku menghitung waktu itu, memang selama dua minggu aku dan Jiana perang dingin seperti ini dan itu sangat tepat dengan pengakuan wanita itu tadi malam
Queen mengaku hamil dua minggu, itu sungguh membuatku terkejut, ketakutan setengah mati. Aku terlalu takut Jiana pergi meninggalkanku dan memisahkanku dan Kya, aku akan gila jika itu terjadi. Tapi apa yang harus kulakukan jika itu benar-benar bayiku?
" Tidak itu bukan bayiku." Aku terus menggelengkan kepala menolak semua kemungkinan yang terjadi dan aku terlalu banyak melamun hingga tanpa sadar petugas keamanan dibandara sudah membawaku kembali kerumah
Mereka tak menahanku setelah tahu aku adalah orang yang sangat berpengaruh dinegri ini. Yaa uang memang mengalahkan segalanya, aku memiliki semua itu bahkan beberapa pulau di negri ini pun bisa kubeli jika kumau. Tapi aku menyadari sesuatu, ada satu hal yang tak bisa kubeli dengan uang yaitu kebahagiaan, itu kupelajari semenjak hidup bersama Jiana
Istriku mengajariku banyak hal, dia beristri seorang Bryan tapi Jiana yang baik tak pernah meminta apapun pada suaminya sangat berbeda dengan kebanyakan wanita dihidupku sebelum menikahi Jiana, saat itu uang tak terlalu penting bagiku selama mereka memberikan tubuhnya. Tapi Jiana sangat berbeda, saat ia merajuk aku tak perlu susah payah mencari barang-barang branded, cukup aku merayu dengan kata-kata manis dan mengajaknya bercinta Jiana akan kembali manis, penuh perhatian dan lembut padaku
Jika orang bertanya, apakah aku mencintai istriku? jawabannya tentu a*ku sungguh mencintai Jiana, rasa itu selalu tumbuh dan membuncah setiap harinya seiring kebersamaanku bersama Jiana. Mungkin sejak awal, sejak malam liar itu tanpa sadar aku sudah memberikan segalanya untuk Jiana, hingga jantungku selalu berdebar berdekatan dengan Jiana** bahkan saat kami dipertemukan kembali jantungku tak pernah berhenti berdebar karenanya. Aku menyadari semuanya akhir-akhir ini, sejak mendapatkan Jiana, sejak aku merasakan tubuh wanita itu, sejak kami lebih dekat aku jadi menyadari semuanya bahwa aku tak bisa hidup tanpa Jiana, aku takut kehilangan wanita itu aku takut hidupku kembali semu seperti tahun-tahun sebelumnya***
Dan h**arus kuakui semenjak malam liar itu aku juga tak memiliki gairah pada wanita manapun, semua percintaan itu terasa hambar tak memiliki kenikmatan sedikitpun, aku tak pernah merasa puas sangat berbeda ketika menyentuh Jiana, wanita itu memberi kepuasan, rasa nikmat yang tak pernah kudapatkan dari wanita manapun. Jiana membuatku mengerti akan arti sek* yang sebenarnya. Aku selalu berpikir bahwa sek* tak memerlukan cinta, tapi melakukan sek* dengan orang yang kita cintai ternyata jauh lebih nikmat dibandingkan hal apapun, itu yang kupelajari selama melakukannya dengan Jiana
Jiana, nama itu mulai tersemai indah dihatiku, Entah suatu kebetulan atau takdir, Jiana ternyata adalah gadis ber rok pink yang dulu pernah kucari sebelum bertemu Queen. Sebulan kebelakang aku memang sangat penasaran dengan kehidupan Jiana, bersama seorang detektif aku menyelidiki seluk beluk tentang istriku, antara senang bercampur sedih aku menemukan suatu fakta yang kembali membuat jantungku berdegup kencang
Jiana sangat menderita, aku sudah berjanji pada diriku akan memberikan kebahagiaan untuk Jiana, melindungi wanita itu agar tetap merasa aman disisiku tapi dalam sekejap juga aku menghancurkan semuanya, bukan membuat Jiana bahagia tapi aku malah membuatnya selalu menangis
" Tuhan .. apa yang harus kulakukan?"
*Aku berjalan lunglai menuju pintu rumah keluarga kecilku. Kulihat bi Amy sudah menyambut dengan wajah sedih dan setitik-titik airmata tampak masih keluar dari sudut matanya
" Den nyonya dan nona Kya pergi .. " suara itu terdengar lirih ditelingaku, bahkan bi Amy yang orang asing saja bagi kami sangat sedih dengan kepergian kedua wanitaku. Jiana memang sangat baik hingga meninggalkan kesan pada setiap orang yang mengenalnya
Aku mengabaikan bi Amy, hatiku semakin sedih mendengar isak tangisnya. Kulangkahkan kakiku masuk kedalam, kupandangi seluruh rumah yang begitu sepi tanpa kedua malaikatku. Lalu aku menaiki tangga perlahan sambil memikirkan nasib pernikahanku dan Jiana, apa yang harus kulakukan? apa yang harus kulakukan? apa yang harus kulakukan*?
*Aku berhenti tepat didepan pintu kamar, kupandangi isinya masih sama, masih berantakan seperti dua minggu lalu. Aku memberanikan diri masuk kedalam, aku tersenyum membayangkan bila saat ini Jiana sedang duduk diatas ranjang menunggu kepulanganku. Aku menepuk-nepuk pipiku dengan kencang berharap semua kejadian buruk ini adalah mimpi dan aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini
Aku melangkah masuk kedalam, kamar ini terasa sangat sepi tanpa Jiana, tanpa tawa, senyum dan wajah juteknya yang menyambut saat aku pulang bekerja. Lalu aku mendekati sebuah meja nakas dibelakang sofa panjang dikamarku dan Jiana, disitu banyak sekali bingkai fotoku dan Jiana beserta putri kami
Bibirku tersenyum memandangi Jia dan Kya yang terlihat senang, saat itu aku selalu mengajak keduanya berlibur mengelilingi ibu kota. Aku mengambil satu bingkai foto kami bertiga, kupandangi selama mungkin dan tanpa sadar airmataku terjatuh lagi, ini kedua kalinya aku menitikan airmata, Jiana dan Kya membawa pengaruh besar dalam hidupku
Kuciumi foto Jiana dan Kya bergantian, aku sungguh merindukan keduanya. Tangisanku mulai terisak dan bersuara." Kya maafkan Daddy, sayang maafkan Daddy .. "
Kali ini aku sungguh tak bisa menahan tangisanku, kepergian Kya dan Jiana benar-benar membuatku sedih. Sejak bayi aku bukanlah tipe cengeng dan suka menangis, aku selalu menahan semuanya karena aku ingin selalu terlihat hebat dimata Daddy. Tapi hari ini aku tak dapat menahan cairan bening itu untuk tak terus meluncur deras dari kedua mataku, aku melepaskan semuanya hari ini, aku membiarkan airmataku terus jatuh karena Jiana dan Kya* ...
-
-