Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Gagalnya ronde kedua



-


-


" Sayang aku mau lagi." bisik Bryan nakal. Keduanya masih betah bergelung dalam selimut dengan saling memeluk tubuh masing-masing


" Jangan lagi, ini masih terasa perih." saut Jiana, jemarinya bermain didada bidang Bryan, membuat pola abstrak disana


" Itu hanya diawal." saut Bryan, kedua tangannya nakal dibokong Jiana


" Aku tidak suka terlalu kencang." saut Jiana


" Tidak kencang tidak enak." saut Bryan terkikik lucu lalu ia mengurai pelukannya dan menarik dagu runcing Jiana


" Mau ya, sekali lagi." ucap Bryan memelaskan wajahnya, jika dalam hal selangkang*n pria itu akan melakukan segala cara


" Nanti kubelikan tas mewah bagaimana?" rayu Bryan


" Aku bukan pelacu* yang mau tidur karena uang." saut Jiana


" Lalu apa yang kau mau?" tanya Bryan sembari mengecupi bibir Jiana


" Hatimu, bagaimana kalau aku meminta hatimu."


" Kau berikan dirimu dan kuberikan semuanya untukmu." saut Bryan menatap serius


" Termasuk hatimu?"


Bryan mengangguk pelan." Semuanya Ji. " sautnya serius


Jiana memberikan senyuman manisnya dan mendahului mencium bibir Bryan membuat Bryan berjingkrak senang dalam hatinya dan membalas ciuman lembut itu. Keduanya saling menatap dan melempar senyum saat bibir itu berjarak beberapa centi. Lalu Bryan menunjuk lehernya sendiri


" Cium aku disini." perintah Bryan dan lansung dilakukan Jiana


Cup


" Sayang bukan seperti itu." gerutu Bryan pelan membuat Jiana tak mengerti dan mengernyitkan dahinya


" Seperti yang kulakukan padamu." ucap Bryan namun Jiana masih menatapnya aneh


" Hisap aku." perintah Bryan pelan


" Tidak mau untuk apa?" tolak Jiana cepat sedikit memberi jarak tubuhnya dan Bryan


" Ayolah cepat lakukan. Kau tahu kau wanita special, aku tidak pernah membiarkan wanita manapun melakukannya. Hanya dirimu, bukankah itu suatu kebanggaan." tutur Bryan mengerlikan matanya nakal


" Aku tidak bisa." tolak Jiana lagi


" Sayang ayolah kau harus belajar, jangan curang dan hanya aku yang memuaskanmu."


Malu-malu Jiana mendekati Bryan, menyusupkan wajahnya pada ceruk leher pria itu dan melakukan perintah Bryan, menodai rahang bawah Bryan dengan tanda merah. Dan Bryan termasuk pria paling aneh bagi Jiana, biasanya pria tidak terlalu suka melakukan hal ini tapi lihatlah Bryan malah menyuruh Jiana melakukannya


" Enak juga." gumam Bryan tersenyum lebar lalu ia merengkuh Jiana hingga kini wanita itu berada diatas tubuhnya


Bryan mengerucutkan bibir seperti Kya membuat Jiana tertawa pelan lalu memberikan kecupannya. Saat keduanya sedang asyik saling memberi kecupan suara ketukan pintu menghentikan mereka


" Den, ada tamu diluar." ucap bi Amy menundukan pandangannya dari Bryan dan Jiana karena nyatanya pintu kamar mereka tak tertutup sejak tadi Kya keluar dari sana membuat wajah Jiana memerah malu dan merutuki dirinya yang lupa tak menutup pintu kamar


" Siapa bi?" tanya Bryan sambil menurunkan Jiana dari tubuhnya


" Mereka bilang teman Aden. " saut Bi Amy


" Sebentar." ucap Bryan membuat bi Amy mengangguk dan langsung berlari menjauh dari kamar mereka


" Mengganggu saja." gerutu Bryan menyingkap selimut dan berjalan menuju walk in closet dengan tubuh tanpa busana


Tak lama ia kembali dengan pakaian santai ala rumah dan favorite Bryan yaitu celana boxer dan kaos oblong. Untuk sesaat Bryan kembali pada Jiana yang masih bergelung dalam selimut, ia kecupi lagi bibir itu


" Tunggu sebentar, jangan pakai baju dulu. " ucap Bryan lalu berjalan keluar dari kamar


Bryan berdecak kesal melihat teman-temannya sudah santai saja di kursi santai dekat kolam renang. Tampak Clarissa, Clay, Kalia serta Viona sedang duduk manis menyilangkan kakinya disana dan Bryan benar-benar geram pada dua temannya yang malah membawa wanita-wanita itu


" Ada apa?" tanya Bryan ketus berdiri menjulang sambil melipat kedua tangannya didada


" Jiana tadi pagi menghubungiku, dia bilang kau sakit."


" Kau sekontak dengan Jiana?"


" Dia menghubungiku lewat ponselmu." saut Viona menatap wajah Bryan yang pucat dan penampilan santai Bryan yang tak juga mengurangi kadar ketampanannya


" Kau ini sekarang susah sekali ditemui." gerutu David


" Aku sibuk." saut Bryan mendudukan dirinya dikursi kosong


" Sayang. " teriak Bryan membuat semua orang berjingkat kaget kecuali Jiana, wanita itu sudah terbiasa


" Berisik!" saut Jiana kesal mendekat pada Bryan bermaksud sopan menemui teman-teman suaminya


" Ganti bajumu." teriak Bryan lagi menunjuk kedalam sambil menghentakan kakinya


" Memangnya kenapa?" tanya Jiana heran, ia merasa masih sopan dalam berpakaian dibandingkan wanita-wanita teman suaminya


" Cepat ganti bajumu." bentak Bryan pelan


" Dasar aneh." umpat Jiana kesal lalu berjingkat masuk kedalam lagi


" Kau ini istrimu cantik seperti itu kau bentak-bentak." gerutu Arnold dan mendapat lembaran bantal diwajahnya


" Kau beraninya menatap istriku, jangan-jangan pikiranmu kotor saat itu." saut Bryan kesal


" Ya lihat saja lekuk tubuhnya sangat menggoda."


" Keluar kalian dari rumahku." teriak Bryan kesal membuat Davida dan Arnold cekikikan


" Ayolah Boy, kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini." saut Clarissa


" Sejak liburan kita kau menghilang bagai ditelan bumi." tambah David


" Sudah kubilang aku sibuk. "


" Kau sibuk merayu istrimu." saut David terkekeh lucu


" Itu kau tahu, sekarang pulanglah. Kalian menggangguku, baru saja junior Bryan akan keronde kedua." gerutu Bryan


" Jadi kau berhasil mendapatkan istrimu?" tanya Arnold heboh


" Tentu saja. Tidak ada yang tidak bisa kudapatkan " saut Bryan dengan sengaja menaikan wajahnya agar semua orang melihat tanda merah yang Jiana berikan padanya


" Jadi bagaimana rasanya setelah lama kau tidak meniduri wanita?" tanya David


" Sangat luar biasa." Bisik Bryan mendekatkan wajah pada teman-temannya sambil celingukan kedalam karena takut terdengar istrinya


" Kau tahu David, istriku masih sama seperti 5 tahun yang lalu." bisik Bryan lalu ia menaikan jemarinya dan membentuk huruf o namun dibuat sekecil mungkin


" Mungkin sebesar ini bahkan lebih kecil." bisik Bryan


" Ah yang benar saja, jangan bilang kau mabuk saat melakukannya? Kya kan sudah lahir atau lahirnya di cesar?"


" Aku mengatakan yang sebenarnya, istriku seperti masih perawan." saut Bryan bangga


" Seperti pernah merasakan perawan saja." cebik Clarissa


" Hey .. hey .. kau tidak tahu ya? menurutmu kenapa Kya ada? tentu saja waktu itu aku memerawani ibunya." saut Bryan membuat Viona mengangkat wajahnya yang menunduk sejak tadi, nyatanya jika berkumpul seperti ini ia yang selalu akan tersakiti karena Bryan selalu menceritakan wanita lain


" Jadi dia wanita yang kau ceritakan itu? yang kau bilaaaanng. " Clarissa tak melanjutkan ucapannya karena Jiana keburu datang kesana membawa beberapa minuman dan cemilan diatas nampan. Kali ini wanita itu memakai celana jeans dan kaos hitam yang longgar


" Memangnya kemana bi Amy?" tanya Bryan


" Aku menyuruhnya belanja." saut Jiana lalu ia mengulurkan tangannya pada Clay, Clarissa dan Kalia yang baru ia lihat sekarang


Ketiganya menyambut Jiana dengan ramah dan senyum meski dihati mereka menyimpan rasa cemburu pada istri pria yang mereka puja


" Kemarilah duduk disini. " perintah Bryan menarik tangan Jiana pelan lalu menepuk kursi disampingnya


" Aku akan memasak."


" Aku sudah makan tadi, nanti saja." saut Bryan kembali menarik Jiana hingga wanita itu duduk disampingnya


" Ini sudah masuk makan siang. " gumam Jiana lalu mendapat gandengan tangan Bryan pada bahunya


" Ji, dimana Kya?" tanya Arnold yang sangat mengidolakan putri temannya itu


" Dia dirumah Mom." saut Jiana


" Kalian pulanglah mumpung Kya tidak ada. Aku ingin bermesraan bersama istriku." ucap Bryan sambil melirik Jiana dan mendaratkan ciumannya dipipi membuat Jiana memelototinya dan wajah itu galak pada Bryan


" Diam. " bisik Jiana


" Hey sayang, kemana wajah yang semalam hmm?" tanya Bryan mencubit kedua pipi Jiana dengan pelan sambil menciumi bibir Jiana tanpa malu dihandapan teman-temannya karena itu sudah hal yang biasa bagi mereka tapi tidak dengan Jiana


" Berhenti mengatakan hal yang menjijikan." bentak Jiana pelan menepis kedua tangan Bryan dipipinya membuat David dan Arnold cekikikan dengan Bryan yang selalu digalaki istrinya


-


-