
-
-
" Kau senang Darwin disini?" tanya Bryan tiba-tiba dibelakang Jiana setelah ia mengusir bi Amy dari dapur agar meninggalkan mereka berdua
" Bryan, aku bahkan tidak tahu Darwin akan kemari." saut Jiana
Bryan segera menarik Jiana, menyudutkannya ke pintu lemari pendingin dan menyusupkan jemarinya ke celah rambut Jiana, mencengkramnya kasar hingga Jiana meringis karenanya, Jiana sangat tidak suka jika Bryan sudah kasar seperti ini
" Jangan genit, kau itu istriku sekarang bukan kekasih Darwin." ucap Bryan dengan nada mengancam serta tatapan tajamnya yang menusuk hati Jiana
" Apa kau selalu cemburu buta seperti ini pada pacar-pacarmu?" tanya Jiana memberanikan diri
" Tidak!" saut Bryan tajam mendekatkan wajahnya hingga beberapa centi dengan wajah Jiana
" Kau istriku bukan pacarku. Seharusnya kau mengerti untuk tidak berduaan bersama pria lain. Atau kau berniat tidur dengan Darwin?"
" Apa aku serendah itu dimatamu?" tanya Jiana dengan mata mulai berkaca membuat Bryan membungkam
" Apa aku serendah itu?" teriak Jiana . Manik Bryan melirik hingga menyudut kesamping saat mendengar suara sepatu berbenturan dengan lantai, ia bisa melihat gelagat Darwin yang berjalan kearahnya dan Jiana. Bryan menyeringai licik
" Aku bahkan tidak permmmhhh." ucapan Jiana terhenti karena terbungkam bibir Bryan. Sejak berbulan-bulan kebelakang, Jiana memang sudah tak menolak lagi ciuman Bryan apalagi ciuman itu lembut seperti sekarang, Jiana bahkan membalasnya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Bryan
Bibir keduanya saling bertaut mesra membuat Darwin mematung ditempat dengan kedua tangan terkepal kuat. Bahkan dulu ia tak pernah mendapatkan bibir Jiana, tapi Bryan yang memisahkannya dan Jiana kini malah mendapatkan semuanya
" Astaga, Boy memang tidak tahu tempat." pekik Bulan yang datang bersama Jeny berniat membantu Jiana memasak untuk makan malam
Mendengar suara Bulan, Darwin segera memutar tubuh dan memaksakan senyum pada kedua wanita itu lalu berjalan keluar dari dapur diikuti Jeny dan Bulan yang juga tak mau mengganggu pasangan suami istri yang tengah memadu kasih tersebut
" Ayo kita lanjutkan dikamar." bisik Bryan tepat didepan bibir Jiana
" Aku harus memasak makan malam." saut Jiana dengan netra saling menatap bersama Bryan
Bryan melepaskan dirinya menjauhi Jiana, tatapan itu kecewa pada Jiana yang selalu menolaknya lalu Bryan pergi melengos meninggalkan Jiana yang mematung ditempat untuk beberapa saat sebelum kembali melakukan aktifitasnya
Jiana terlihat kelelahan memasak begitu banyak untuk makan malam meski ia dibantu bi Amy. Ia juga sibuk menata semua makanan itu dimeja makan membuat Jeny dan Bulan tersenyum dengan Jiana yang sangat rajin
" Mom sangat menyukai Jiana." ucap Jeny pada Bulan yang tak memudarkan senyumnya
"Bryan sekarang benar-benar berubah dan selalu menghabiskan waktunya dirumah. Bryan juga lebih sopan dan menghargai orang lain." tutur Jeny lagi
" Itu karena Ji." gumam Bulan lalu ia bergerak membantu Jiana yang sibuk menata piring dimeja makan
Satu persatu orang mulai memenuhi kursi dimeja makan termasuk Bryan yang masih tertawa bersama Gerald sang adik ipar sambil memangku Kya. Entah apa yang mereka bicarakan sampai membuat Bryan tak henti tertawa seperti itu atau pria itu memang sedang berusaha menghibur hatinya yang sedang merasa kecewa pada Jiana
Bryan duduk disamping Ken yang berada dikursi paling tengah, sambil memangku Kya duduk di atas pahanya. Jiana mendekati Bryan berdiri ditengah antara Bryan dan ayahnya. Sejenak ia menyentuh dahi Kya yang memang terasa hangat
" Bryan bisakah hubungi Viona?" tanya Jiana
" Ada apa kau sakit?" tanya Bryan dingin
" Kya sedikit demam." saut Jiana sambil mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk ayah mertuanya membuat pria itu tersenyum menatap Jiana. Ken sangat yakin Jiana wanita yang tepat dan istri yang baik untuk Bryan. Buktinya putranya luluh dan mau berubah, tidak seperti saat ia lajang
" Kau mau yang mana?" tanya Jiana pada Bryan
" Kau tahu apa yang aku suka." saut Bryan lalu ia melirik Darwin yang tak henti menatap istrinya, geram dan marah. Itulah yang Bryan rasakan saat ini
Jiana segera mengambil ayam goreng balado kesukaan Bryan juga tumis kangkung dengan seafood ia letakan diatas nasi lalu ia mengambil sendok dan garpu, ia simpan tepat didepan Bryan
" Duduk." perintah Bryan menunjuk kursi disampingnya dengan dagu. Kembali Jiana menurut dan duduk disana, ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sup dengan daging iga didalamnya
" Sayang aaaaa .. " ucap Jiana mendekatkan sendok ke mulut Kya namun gadis kecil itu menggelengkan kepalanya cepat dan menutup mulutnya
" Kenapa anak pintar tidak mau makan?" tanya Bryan menunduk pada Kya yang menempelkan pipi kirinya didada Bryan
" Kya mau melihat Dad dan Mum membuat adik." ucapnya pelan membuat Bryan terbahak kencang begitupun Ken yang didekatnya
" Boy, biarkan putrimu melihatnya." celetuk Gerald, ia tertawa lucu bersama istrinya Chesy
" Kakak, Kya menuruni sifatmu yang selalu kepo." celetuk Chesa
" Sayang ada apa dengan putrimu?." tanya Bryan pada Jiana, manis dan lembut namun itu hanya sandiwara karena ia tak mau semua orang mengira ia dan Jiana sedang tak baik-baik saja terutama Darwin, pria itu akan senang dan akan gencar mendekati istrinya, pikir Bryan yang diselimuti rasa cemburu
" Kya, anak kecil dilarang bicara seperti itu." ucap Jiana mengusap pipi Kya
" Tapi kenapa hanya belsama Mum saja, Kya selalu tidak diajak." gerutunya pelan
" Kya .. Mum dan Daddy memangnya suka kemana?" tanya Dean usil
" Daddy selalu belsama Mum dikamar. Begini." ucap Kya sambil menciumi bibir Bryan menirukan ayah dan ibunya yang sedang berciuman
Seketika ruangan itu kembali dengan gelak tawa kencang keluarga besar yang tak pernah absen satupun untuk hadir berkumpul
" Ji, Boy .. kalau kalian sedang bermesraan jangan tunjukan didepan Kya. Anak kecil tidak akan berbohong yang ada kalian nanti malu." tegur Jeny yang berada di sebelah Ken
" Aku tidak sengaja, Kya memang suka datang tiba-tiba." saut Bryan mengulum senyumnya lalu ia kembali pada makanannya
" Makanya kuncilah pintu." kini Ken ikut menyahut dengan bibir yang masih sesekali tertawa akan tingkah lucu cucunya
Bryan tertawa pelan lalu menempelkan pipinya didahi Kya yang terasa hangat. Ia mulai khawatir dengan kondisi tubuh Kya yang sangat mudah sekali sakit
" Apa kau pernah melakukan tes lab pada Kya?" tanya Bryan pada Jiana
" Sudah, dokter bilang sistem kekebalan tubuh Kya tak seperti anak lain. Jadi Kya mudah sekali sakit jika kelelahan, tapi dokter bilang itu tidak akan berdampak pada yang lainnya." saut Jiana, ia mencoba menyuapi Kya lagi, gadis kecil itu kini membuka mulutnya lebar
" Nah ini baru anak Daddy Blayen." ucap Bryan menunduk
" Tapi Kya bolehkan melihat Dad membuat adik bayi?" tanya Kya kekeh
Ruangan itu kembali dipenuhi tawa karena Kya yang tak henti bicara dan bertanya pada sang ayah dan ibu tentang adiknya membuat Bryan dan Jiana jadi malu karena putri mereka
-
-