Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kenapa harus adikku?



-


-


Perkataan yang kasar itu mulai membuat hati Bryab berdenyut nyeri. Pria itu melonggarkan pegangannya pada Jiana dan bangkit menjauh dengan wajah sendu


" Kataka dimana salahku? apa karena aku mabuk hmm?" suara Bryan mulai melunak pada Jiana


" Maafkan aku, maaf jika aku memaksamu saat itu. Itu karena aku sedang mabuk berat."


Jiana bangun dari baringannya, ia bangkit berdiri didepan Bryan." Jadi itu alasanmu meniduri Queen? tidak ada alasan lain?"


Tubuh Bryan melonjat kaget mendengar ucapan Jiana." Queen? kenapa membawa wanita itu dalam hubungan kita?"


" Kau sudah bosan meniduriku itu sebabnya kau meniduri adikku begitu?" teriak Jiana melengking dan mulai menangis mengeluarkan semua amarahnya pada Bryan. Jiana mulai memukuli dada Bryan dengan satu kepalan tangannya, ia melampiaskan rasa marah dan sakitnya, pria itu hanya mematung dengan wajah tak mengerti akan ucapan Jiana


" Kenapa harus Queen?"


" Kenapa harus adikku?" Jiana terus berteriak histeris dan tak henti memukuli Bryan


" Jangan bicara yang tidak-tidak, kapan aku meniduri Queen. " Bryan menangkup wajah yang dilinangi airmata itu sembari mengusapi dengan kedua ibu jarinya


" Jia, aku bahkan tidak berani memyentuh wanita manapun, aku sangat menyayangimu dan Kya."


Jiana menepis tangan Bryan, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan." Aku melihatmu, kau bersama Queen. Kau pikir aku bodoh?"


" Tidak, tidak kau salah paham. Aku tidak meniduri wanita itu aku tidak merasakan apapun saat itu. Kamu harus percaya padaku." ucap Bryan berniat memeluk Jiana lagi namun secepatnya didorong Jiana hingga terpental kebelakang


" Jangan menyentuhku, sudah kubilang aku jijik. Kau bilang salah paham? kau pikir aku bodoh dimatamu? semuanya sudah jelas Bryan. Seharusnya aku tidak mempercayaimu, sejak awal kau memang pria brengsek!!!"


Jiana segera pergi keluar dengan tergesa-gesa menuju kamar Kya


" Bergerak selangkah lagi, lihat apa yang akan kulakukan padamu!" teriak Bryan menggelegar keseisi rumah membuat pak Deden dan bi Amy yang sedang menguping pertengkaran keduanya di lantai bawah berjingkat kaget, ini pertama kalinya selama 6 bulan ini keduanya bertengkar hebat


Tapi Jiana tak menghiraukan Bryan, membuat Bryan geram dan menarik Jiana menggeretnya kembali kekamar mereka. Ia menghempaskan kembali Jiana keranjang


" Kau jijik?" kau bilang jijik?" teriak Bryan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, ia benar-benar merasa terhina dengan ucapan Jiana


" Lihat apa yang akan kulakukan hmm." tatapan Bryan menyalang tajam pada Jiana, perkataan itu begitu merendahkannya. Bahkan Bryan tak merasa meniduri Queen saat itu, ia tak merasa menyentuh seseorang lalu bagaimana istrinya mengatakan itu?


Bryan menarik kedua kaki Jiana hingga wanita itu menyusut kebawah." Aku bahkan tak pernah menyentuh wanita manapun setelah menikah denganmu." bentak Bryan, kini airmata Jiana mulai mengalir deras membuat Bryan tak tega, tubuhnya melemas mendadak


" Mumy .. " suara tangisan kencang itu membuat Jiana mendorong Bryan menjauh, ia beringus bangun dan membuka pintu kamar mereka


Ia segera memangku Kya yang menangis saat bangun tidur karena suara teriakan ayahnya. Jiana kembali membawa Kya kekamarnya meninggalkan Bryan sendiri terlentang diatas ranjang


" Fuc*! " teriak Bryan kencang sembari menjambak rambutnya


" Apa yang sebenarnya terjadi." gumam Bryan lalu tatapannya tak sengaja menyalang tajam pada ceceran noda darah diatas spreinya


" Tidak, tidak .. itu tidak mungkin. Bahkan tubuhku tak pernah bereaksi pada wanita manapun." gumam Bryan merema* rambutnya sendiri, kepalanya seakan meledak memikirkan perkataan Jiana


Bryan beringus bangun menggulung sprei itu dan memasukannya kekeranjang kotor karena begitu mengganggu pemandangannya. Ia kembali merentangkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar memikirkan pernikahannya bersama Jiana


" Apa yang harus kulakukan jika aku benar-benar-" Bryan tak melanjutkan ucapanya, lidahnya terlalu takut untuk berucap hal itu


Bryan beringus bangun saat ia sesuatu terlintas dipikirannya. Ia berlari keluar kamar melewati ruang keluarga menuju kamar Queen. Ia menendang pintu itu sekuat tenaga hingga terbuka dan masuk kedalam


Bryan mengedarkan pandangannya dan tak menemukan Queen dikamar itu. Lalu ia membuka lemari pakaian Queen yang sudah tak ada disana. Bryan meninju lemari berkaca itu dengan amarahnya hingga kaca itu pecah


Prang prang


Suara itu membuat Bi Amy dan Pak Deden segera naik kelantai dua. Keduanya terkejut melihat Bryan dikamar wanita yang mengaku adik Jiana itu. Dan mereka lebih terkejut lagi melihat tangan Bryan yang berlumuran darah karena luka terkena kaca


Bi Amy dengan panik segera berlari mencari kotak p3k yang biasanya tersimpan dilemari ruang keluarga. Wanita itu membuka semua laci dan mendapatkan kotak P3K itu lalu segera kekamar bekas Queen


" Apa kalian melihat adik Jiana?" bahkan menyebut nama wanita itupun lidah Bryan rasanya kelu


" Nona Queen baru saja pergi, katanya akan menyusul mamanya ke Jerman."


" Sial!" teriak Bryan akan meninju kaca yang sudah hancur itu lagi namun segera ditahan pak Deden


" Emosi tidak akan menyelesaikan masalah." ucap Pak Deden menasihati Bryan


" Jiana sangat marah, aku tidak tahan." gumam Bryan dengan wajah yang terlihat sedih dikedua mata pembantunya


Pak Deden dan Bi Amy membungkam tak berani bertanya, bukan tak mau membantu hanya saja mereka tak mau ikut campur urusan pribadi kedua majikannya itu. Pak Deden mengulurkan tangannya menarik jemari Bryan yang terluka, bersama bi Amy ia mnegobati luka itu dan memerbannya


" Jangan kena air dulu selama 2 hari." ucap Bi Amy


Bryan hanya mengangguk, dengan tubuh lunglai ia berjalan kembali menuju kamarnya. Ia berhenti tepat didepan kamar Kya, ia tatap sejenak dan mengelus pintu kamar Kya seolah sedang mengelus pipi Jiana


" Kumohon maafkan aku Jia, aku benar-benar mabuk saat itu aku tak mengingat semuanya. Tapi kumohon maafkan aku, demi pernikahan kita, demi masa depan Kya kumohon maafkan aku. Beri aku kesempatan sayang kumohon .. " ucap Bryan serak dan menitikan airmatanya, airmata itu tulus untuk Jiana


Bryan menghela nafasnya sambil melanjutkan langkahnya kembali menuju kamarnya dan Jiana, Sudah seminggu ini kamar itu kosong tanpa Jiana, tanpa obrolan hangatnya dan Jiana dan tanpa suara-suara erotis mereka


" Sial, kenapa aku tak memasang kamera dirumah ini. Benar-benar sial." gerutu Bryan mondar-mandir dikamarnya dengan perasaan gelisah


" David .. Arnold .. siapa yang mengantarku pulang saat itu. " gumam Bryan


" Kenapa aku baru memikirkannya sekarang .. " Bryan segera mengambil ponsel disaku celananya, ia menghubungi David lalu menjauhkan ponsel itu dari telinganya untuk sesaat, suara erotis David dan perempuan terdengar dari sana


" Sial." umpat Bryan lagi


" Ada apa?" tanya David menyentak karena merasa terganggu dengan panggilan Bryan


" Siapa yang mengantarku saat aku mabuk denganmu dan Arnold?"


" Si Darwin, mana mungkin aku dan Arnold dasar gila!"


Tit


David mematikan panggilan Bryan setelah menjawab pertanyaan pria itu


" Sibrengsek ini." gumam Bryan menggenggam ponselnya begitu erat


-


-