
-
-
Sore itu juga semuanya kembali pulang dari liburan mereka setelah Queen merasa tubuhnya kuat kembali. Sebenarnya Jiana ingin tinggal semalam lagi karena merasa kasihan pada Queen tapi ternyata wanita itu sendiri yang meminta untuk segera pulang
Mobil yang dikendarai Bryan itu sampai dipelataran rumah, sejak meninggalkan Bandung tangan Bryan tak terlepas sedikitpun menggenggam erat jemari Jiana yang memangku Kya, gadis kecil itu terlelap dipangkuan sang ibu saat diperjalanan tadi setelah kelelahan berceloteh bersama Bryan
Bryan segera membuka pintu mobilnya, mereka disambut baik dengan pak Deden dan bi Ami yang berdiri didepan rumah. Keduanya tampak tersenyum memperhatikan Bryan yang keluar dari mobil, pria itu berputar membuka pintu mobil untuk Jiana yang memangku Kya namun tiba-tiba diambil alih oleh Bryan
" Bi dibagasi ada oleh-oleh untuk bi Amy dan pak Deden, Jiana sendiri yang membelinya tadi." ucap Bryan yang tentu membuat kedua pembantunya itu senang, begitupun Jiana, Bryan benar-benar berubah, tutur kata pria itupun lebih sopan ketimbang berbulan-bulan kebelakang
" Terima kasih nyonya." ucap Deden dan Amy yang dibalas senyuman oleh Jiana
Jiana keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil belakang, ia mengajak Queen untuk masuk kedalam rumah. Meskipun tak senang dengan sikap Jiana yang begitu baik pada Queen namun mau bagaimana lagi, ia tak berani melarang Jiana. Bryan takut Jiana merajuk seperti kemari-kemarin dan itu akan membuatnya merana karena tak akan mendapat jatah, membayangkan itu Bryan bergidig ngeri, karena sekarang ia sedang rindu-rindunya pada Jiana. Mana mungkin ia melewatkan malam tanpa bergumul dengan istrinya
Jiana menuntun Queen masuk kedalam rumah dan langsung naik kelantai dua. Ia masuk kesebuah kamar tamu yang paling ujung hanya beberapa meter dari kamarnya dan terhalangi ruang keluarga
" Queen ini kamarmu." ucap Jiana menunjukan kamar yang hampir sama luasnya dengan kamar miliknya hanya saja kamar itu tak memiliki walk in closet
" Dimana kamar kakak?"
" Emmh kamarku terhalang ruang keluarga dari sini, yang paling ujung disebelah kamar Kya. Kalau ada apa-apa tinggal panggil aku saja." saut Jiana
Queen tampak mengangguk-nganggu dengan pandangan kesekitar kamar. Lalu wanita itu mendekati pintu dengan kaca, membukanya hingga semilir angin masuk kedalam kamar. Queen tersenyum melihat pemandangan sekitar yang indah dan hamparan mawar merah dirumah orangtua Bryan terlihat dari sana
" Mom masih merawatnya dengan baik." gumam Queen
" Ada apa Queen?"
" Tempat ini sangat strategis, apa kakak ipar yang membangunnya?"
" Tidak Bryan membeli rumah ini."
" Dulu Bryan bilang saat menikah akan mendesain rumahnya sendiri tapi .. kenapa orang lain yang mendesainnya. " gumam Queen dalam hati
" Baiklah Queen, aku akan kekamar, kalau ada keperluan panggil saja bi Amy atau pak Deden." ucap Jiana sambil berlalu pergi meninggalkan kamar Queen
" Aku tidak memerlukan apapun aku hanya memerlukan Bryan .." gumam Queen
Sedangkan kini Jiana masuk kekamarnya, ia tersenyum menatapi Bryan yang sedang berkaca diwalk in closet. Pria itu sedang membanggakan tubuh sempurnanya didepan kaca, menyentuh kedua lengannya yang berotot dengan tubuh setengah naked
Jiana segera mendekat dan memeluk tubuh itu dari belakang membuat sang pemilik tubuh sempurna tersenyum lebar. Keduanya saling melempar senyum melalui kaca besar didepannya
" Apa yang membuatmu sesenang ini?" tanya Bryan mengusap puncak kepala Jiana kebelakang
" Kau!" saut Jiana, senyuman itu kian melebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya
" Aku?"
" Ya .. Kau!"
" Eeeehhmm bisakah sedikit lembut padaku?"
" Maksudku, panggilanmu padaku seperti, sayang, darling, or baby. "
" Baby .."
" Emmh itu lebih cocok untuk diranjang." Jiana terkekeh, ia memukul pelan punggung Bryan dengan telapak tangannya
" Darling .."
" Eeemmh itu lebih cocok untuk pasangan muda, kita pasangan dewasa." saut Bryan mengulum senyumnya
" Bilang saja kau ingin aku memanggilmu sayang."
Bryan terkekeh lucu." Ya panggil aku seperti itu sayang. "
Keduanya kembali saling melempar senyum dari pantulan kaca, pelukan Jiana semakin mengerat dan pipinya ia tempelkan dipunggung Bryan
" Ada apa?" tanya Bryan mengusap puncak kepalanya lagi
Jiana menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum yang tak luntur, ia benar-benar jatuh cinta pada Bryan, tubuh, wajah dan sikap pria itu membuatnya jatuh sedalam-dalamnya. Bryan tak hanya tampan namun pria itu juga sangat menarik dari cara merayu dan memperlakukannya. Tapi Jiana juga menjadi cemburu bila Bryan mungkin melakukannya pada setiap wanita yang tidur dengannya. Jiana ingin menjadi wanita satu-satunya yang Bryan perlakukan sebaik ini, Jiana ingin menjadi wanita yang berbeda dan istimewa di hidup Bryan, ia tak ingin disamakan dengan wanita-wanita lain dimasa lalu Bryan
Bryan memegang kedua lengan yang melingkar diperutnya dengan kedua tangan, kepalanya ia dongkakan keatas sehingga menumpu pada kepala Jiana, bibirnya juga tersenyum seperti Jiana
" Sayang apa kamu masih ingat aku pernah bilang kalau dulu aku sering memimpikanmu."
" Hmm, saat itu aku masih sangat-sangat membencimu."
Bryan terkekeh mengusap lagi puncak kepala Jiana dengan penuh sayang." Saat itu aku sungguh mengatakannya, bukan hanya mengarang. Apa kamu mau mendengar ceritaku?"
" Hmm tentu saja."
" Itu terjadi saat aku tahu wanita yang aku tiduri malam itu adalah kamu." Bryan tersenyum mengingat masa-masa kebodohannya dan sikap pengecutnya karena tak mencari Jiana
" Aku sungguh pengecut bukan? bagaimana bisa aku memperkosa seorang gadis, masih perawan lagi." Jiana hanya terdiam menjadi pendengar setia Bryan
" Aku sungguh menyesal hari itu, aku mabuk lagi, benar-benar mabuk berat sampai tertidur dirumah David. Dalam mimpi itu aku berjalan disebuah padang rumput yang luas, tidak ada apapun disana hanya ada sebuah pohon. Anehnya pohon itu memiliki daun berwarna hitam, sedikit menakutkan."
" Lalu dimana aku?" tanya Jiana membuat Bryan tertawa pelan
" Sebentar aku masih diawal tidak sabaran sekali." gerutunya manja
" Baiklah aku akan mendengarkan."
" Eeemmh meski takut aku mencoba mendekati pohon itu, saat itu aku mendengar suara tangisan bayi, aku lebih mendekat dan terkejut dikaki pohon itu ada bayi mungil yang tergulung selimut pink muda. Tapi entah kenapa saat itu hatiku senang, aku menggendong bayi mungil itu, wajahnya mirip denganku, bedanya bibir bayi itu sangat kecil dan berwarna merah. Tangisan bayi itu berhenti dan matanya menatapku, aku mengenali mataku sendiri. Itulah alasanku langsung mengenali Kya saat pertama kali bertemu dengannya, aku langsung menyadari arti mimpiku selama ini."
" Kenapa kau berpikir itu adalah Kya? mungkin saja itu bayi dari perempuan lain?"
Seketika itu juga Bryan memutar tubuhnya, ia memegang kedua bahu Jiana dan menatap lurus kedua matanya. " Selama ini tidak ada wanita yang berani mengandung darah dagingku, hanya kau yang lancang!" ucap Bryan mencubit hidung Jiana
-
-