Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Ingin lebih mengenal



-


-


Bulan dan yang lainnya ingin sekali berteriak marah pada keduanya yang kini tampak santai keluar dari kamar. Bayangkan saja, Bulan dan yang lainnya harus menunggu Jiana dan Bryan yang main dikamar mandi selama hampir 3 jam


Bulan ingin sekali menimpuk wajah Bryan yang tampak berseri dan tak henti memandangi istrinya yang juga terlihat malu-malu kucing dengan pakaian yang serba tertutup sampai keleher. Saat keduanya mendekat, Bulan dengan tak sopan menarik kerah baju Jiana yang menutupi lehernya, ia mendengus kesal dan mendelik pada Bryan


" Sudah puas main airnya?" tanya Bulan geram melipat kedua tangannya didada


" Ya begitulah, Jiana sangat senang main air." saut Bryan tanpa melirik Bulan, ia hanya fokus pada Jiana dengan mata yang tampak dipenuhi love untuk istrinya


Sementara Jiana memukul pelan dada Bryan membuat pria itu tersenyum manis


" Ah nakal lagi." ucap Bryan dan kembali tepukan itu didadanya


" Belum puas ya, tenang sayang ada ronde ketiga nanti." bisik Bryan nakal benar-benar tak tahu malu padahal kini semua orang menatap mereka


" Ayo kita berangkat." ajak Bryan pada semua orang dengan wajah tanpa dosa sambil melangkah menggandeng Jiana. Mereka berhenti tepat didepan Kya yang memberikan cengiran pada ayah ibunya


" Sayang kamu mau bersama siapa?" tanya Bryan mengusap puncak kepala Kya


" Kya mau belsama Pevita."


" Kakak, panggil aku kak Pevita." saut Pevita galak


Kya hanya menjulurkan lidahnya pada Pevita lalu mengangkat kedua tangannya ingin dipangku Bryan. Pria itu melepaskan Jiana dan segera memangku putrinya


" Kiss Daddy .. " cium Kya pada Bryan


" Kiss Mummy .. " Kya mengerucut pada Jiana hingga wanita itu mendekat dan memberikan ciumannya untuk Kya. Lalu Kya meronta dan menoleh pada Pevita, mengulurkan kedua tangannya pada Pevita


Pevita yang mengerti maksud Kya tersenyum dan mendekati Bryan untuk memangku Kya


" Sayang Daddy benar-benar pintar." puji Bryan lalu ia meraih jemari Jiana, menggenggamnya erat sambil berlalu pergi keluar rumah


" Kya kamu membiarkan Daddy dan Mummymy berpacaran." ucap Dean


" Kya kan mau adik, Dad bilang adik akan ada kalau Daddy dan Mum seling belpacalan." saut Kya selalu lucu dimata siapapun membuat Dean terbahak kencang begitpun semua orang disana


" Bisa-bisanya Boy meracuni otak putrinya seperti ini." ucap Dean menggelengkan kepalanya jengah akan adik iparnya yang sudah ia anggap adik sendiri sehingga ia dan Bryan sangat dekat satu sama lain


Jiana dan Bryan keluar dari rumah mereka dengan senyum tak memudar bahkan Bryan terus saja memberikan kecupannya dipuncak kepala Jiana membuat wanita itu merasa disayang dan hatinya membuncang senang akan perlakuan Bryan. Pria itu benar-benar berubah menjadi suami yang baik untuk Jiana, tak hanya segala kebutuhan Jiana yang ia penuhi namun batin wanita itupun dipenuhi Bryan dengan kasih sayang


Sepanjang jalan menuju keluar keduanya terus saling tersenyum membuat bi Amy dan pak Deden yang berada dihalaman kembali tersenyum melihat kedua majikannya yang lengket bak pengantin baru. Dan lihatlah gandengan Bryan pada istrinya begitu erat seakan tak mengijinkan Jiana menjauh sedikitpun


" Kakak!" panggilan suara itu membuat senyum manis Bryan menyurut menjadi senyum masam


" Queen." panggil Jiana mengerutkan dahinya pada Queen yang baru saja datang. Wanita itu mendekat dan langsung berhambur memeluk tubuh jiana membuat tangan Bryan lepas dari pundak Jiana. Queen segera menangkap tangan itu dan menggenggamnya dengan erat


Sementara Bryan hanya terdiam memperhatikan tangannya yang digenggam jemari lentik Queen, entah apa yang Daddy Kya itu pikirkan


" Kakak biarkan aku lebih mengenalmu." ucap Queen membuat Jiana mengurai pelukannya dan Bryan secepatnya melepaskan genggaman Queen pada tangannya


" Dimana Mama?" tanya Jiana


" Emmm mama .. kenapa mama ke Jerman?" tanya Jiana menatap lekat wajah Queen yang ternyata sangat mirip dengannya. Hanya saja yang membedakan adalah kulit dan bentuk rambut mereka. Jiana memiliki kulit putih langsat khas wanita asia dan rambut lurus sementara Queen memikiki kulit wanita bule yang sangat putih serta tampilan rambut yang curly, terlihat sekali dari ujung rambut ke kaki wanita itu sering melakukan perawatan


" Ada sedikit pekerjaan disana." saut Queen tak menyurutkan senyumnya lalu ia meraih kedua jemari tangan Jiana, menggenggamnya erat


" Kakak bolehkan untuk sementara waktu aku menginap disini?" tanya Queen dengan wajah penuh harap membuat Jiana yang memang memiliki hati baik merasa tak tega apalagi Queen adalah adik sedarahnya


" Aku tidak apa-apa, tapi suamiku .. " gumam Jiana seraya menoleh Bryan begitupun Queen ikut menatap mantan kekasihnya itu


" Biarkan dia menginap dihotel, apa susahnya." ucap Bryan menatap Jiana yang tampak bingung


" Tapi dia seorang wanita Bryan."


" Sayang dihotel sangat aman. Lagipula dia sudah besar bukan anak kecil seperti Kya." suara Bryan benar-benar lembut pada Jiana membuat Queen yang mendengarnya merasa panas


Jiana terdiam sambil menatap Queen yang terlihat memelaskan wajahnya pada Jiana membuat Jiana kembali menatap Bryan dan juga memelaskan wajahnya berharap Bryan mengijinkan sang adik menginap dirumahnya


Bryan menghela nafasnya, wajah Jiana yang memelas membuatnya luluh dan mengiyakan begitu saja. Sebenarnya Bryan merasa sangat canggung bila tinggal bersama mantan kekasihnya itu meski hanya sementara tapi mau bagaimana lagi sekarang Queen adik iparnya, tidak mungkin ia menunjukan ketidaksukaannya pada Queen dihadapan Jiana dan entah kenapa bibir Bryan terasa kelu saat akan mengatakan yang sejujurnya pada Jiana


" Terima kasih." ucap Jiana dan Queen berbarengan membuat Jiana maupun Queen saling melempar senyum satu sama lain. Bahkan Queen kembali memeluk Jiana


" Selama ini aku sangat menginginkan seorang saudara dan saat mama bilang aku punya seorang kakak, hatiku sangat senang." tutur Queen. Jiana terdiam kemudian membalas pelukan Queen pada tubuhnya, sepertinya mulai sekarang ia harus mulai menerima dan menyayangi adiknya itu


" Ayo kita berangkat." ajak Bryan


Jiana melepaskan pelukan Queen, wajah itu kembali terlihat bingung dikedua manik Bryan membuat Bryan kesal dan kembali menghela nafasnya


" Terserah kau saja Jiana." gerutu Bryan kesal sambil menggeret koper hitamnya menuju garasi diikuti Jiana yang mengejarnya


" Tunggu sebentar Queen." ucap Jiana


Bryan terlihat kesal dan merajuk hingga Jiana harus membujuknya. Jiana sendiri tidak mengerti, ada apa dengan Bryan tidak biasanya ia bersikap seperti sekarang


" Bryan .. " panggil Jiana menahan lengan Bryan


" Dia adikku, tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri bukan?"


" Disini ada pak Deden dan bi Amy. " bentak Bryan pelan


" Kenapa kau tidak mengerti, Bryan jangan egois dia adikku. Ada apa denganmu? "


" Aku tahu dia adikmu, apa harus membawanya dalam liburan kita. Jiana dia masih asing dengan kita denganmu, kau tidak berpikir dia membuat rencana atau tujuan jahat." Jiana menatap jengah dan melepaskan jemarinya dari Bryan


" Kenapa pikiranmu picik sekali! dia hanya ingin mengenalku. Tidak ada salahnya bukan kita mengajaknya? aku tidak tega membiarkannya sendiri disini." saut Jiana mulai terlihat kesal


" Itu karena kau terlalu baik dan bodoh mau saja-" Bryan tak melanjutkan ucapannya, bibirnya kelu mendadak melihat kedua manik Jiana yang berkaca


" Aku memang bodoh, kalau aku tidak bodoh aku tidak mungkin masuk ke Apartementmu malam itu." lirih Jiana sambil berlalu pergi


" Sayang, bukan itu maksudku." teriak Bryan mengejar Jiana menahan lengan wanita itu, kini jadi Jiana yang merajuk padanya membuat semua orang kembali jengah dan acara keberangkatan kembali diundur menunggu Bryan yang merayu istrinya lebih dulu


-


-