Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Aku, kamu dan anak-anak



-


-


Menjelang malam Jiana dan Bryan keluar dari kamar mereka setelah berjam-jam menghabiskan waktu dengan tidur mengistirahatkan tubuh mereka yang memang terasa lelah. Keduanya sampai melupakan Kya yang telah lebih dulu bangun dan ternyata sedang bersama Dean dan Bulan di halaman depan. Semua orang kini sedang mengadakan pesta barbeque gila-gilaan dihalaman itu. Kemudian keduanya mendekat dan langsung duduk di meja panjang yang diperuntunkan dengan kursi sekitar 15 orang.


" Kya .. " panggil Jiana pada Kya yang anteng dipangkuan Dean, gadis kecil itu hanya menyengir padanya


" Sayang kamu mau yang mana?" tawar Bryan


" Daging sepertinya enak." saut Jiana


Segera Bryan menusuk daging diatas meja dengan garpu dan meletakan kepiring kosong untuk Jiana. Sebelum memberikannya Bryan potong menjadi beberapa bagian agar memudahkan Jiana dalam memakannya. Bryan meletakan piring itu didepan Jiana, wanita itu terlihat celingukan seperti mencari sesuatu


" Kenapa?"


" Sejak tadi aku tidak melihat Queen." saut Jiana


" Biarkan saja, dia sudah besar."


" Aku akan kekamarnya sebentar." saut Jiana beranjak berdiri dan tak bisa ditahan Bryan, pria itu hanya menghela nafasnya menatapi punggung Jiana. Istrinya terlalu baik hingga tidak tahu Queen berniat menggoda suaminya, pikir Bryan


Jiana menuju kamar yang ditempati Queen, ia mengetuk pintu namun tak mendapat jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri meraih handle pintu dan menariknya kebawah


" Queen. " panggil Jiana melongokan kepalanya kedalam, ia melihat Queen sedang meringkuk diatas kasur dengan gaun malamnya yang seksi, warna hitam yang Jiana ingat itu adalah warna kesukaan Bryan


Tanpa disuruh Jiana masuk kedalam, ia mendekat pada Queen dan duduk disisi ranjang. Wanita itu sedang memejamkan mata dan sepertinya sedang tidur


" Apa dia sudah makan? aku benar-benar lupa." gumam Jiana menatap lekat Queen, merasa mirip dengannya namun ia merasa Queen lebih cantik darinya membuat Jiana menyentuh wajahnya sendiri


Jiana segera tersadar saat melihat pergerakan Queen yang akan membuka matanya." Queen apa kau sudah makan?" tanya Jiana menyentuh pundaknya


" Aku tidak terbiasa makan malam." saut Queen


" Makanlah sedikit, maaf kakak tak memperhatikanmu."


" Tidak apa-apa, itu sudah biasa untukku. Aku selalu sendiri." sautnya lalu kembali memejamkan mata, tidak tahu saja Jiana bahwa Queen menyembunyikan matanya yang sembab dan jika Jiana tahu penyebab Queen menangis karena suaminya wanita itu pasti akan terkejut setengah mati


" Atau kau mau kakak mengambilnya untukmu."


" Sudah kubilang aku tidak makan malam, itu akan membuatku gemuk." sautnya terdengar ketus ditelinga Jiana, meski heran tapi Jiana mencoba memakluminya karena mungkin Queen kesal sejak tadi ia mengabaikannya


" Baiklah, kalau begitu kakak keluar." pamit Jiana berdiri dan melangkah keluar


Ia berjalan dengan wajah merasa bersalah lalu berhenti saat melihat Bryan sudah menunggunya diruang tamu dengan piring penuh makanan. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jiana


Wanita itu mendekat mendudukan dirinya disamping Bryan yang spontan menggandeng bahunya." Ada apa?" tanya Bryan


" Aku mengabaikan Queen sejak tadi, sepertinya dia marah padaku."


" Dia bukan Kya yang harus diurus." saut Bryan menoleh pada Jiana yang malah melamun


" Makanlah, setelah dingin rasanya akan kurang enak." perintah Bryan menarik piring diatas meja ke hadapan Jiana


" Kau sendiri tidak makan?"


" Tentu saja aku makan, aku akan mengisi tenagaku sebanyak mungkin." saut Bryan dengan seringai nakal lalu membuka mulutnya lebar membuat Jiana tertawa. Jiana menyuapi Bryan terlebih dulu setelah pria itu barulah dirinya


Bryan menyandarkan tubuhnya kekepala kursi dengan jemari nakal memainkan rambut Jiana. Wanita itu hanya tersenyum lalu kembali menyuapi Bryan dan dirinya


" Jia .. "


" Hmm .. "


" Tidak, aku hanya ingin memanggilmu." seketika kepala Jiana menoleh kebelakang, tawa kembali lolos dari bibirnya


Bryan yang merasa gemas segera merengkuh Jiana dan mencium lembut pipinya." Aku suka"


"Hmm?" Jiana yang tak mengerti hanya mengerutkan dahinya


" Tawamu karenaku, aku suka." bisik Bryan menatap lekat membuat pipi Jiana merona tiba-tiba dan tersipu malu


Keduanya menghabiskan makanan dipiring itu hingga suara sendawa keluar dari mulut mereka. Jiana menyandarkan tubuhnya pada Bryan yang spontan kedua tangan itu mendekap Jiana seraya mendaratkan bibirnya ditelinga Jiana


" Aahh hentikan." tegur Jiana dengan suara manja bergidig geli


" Kya belum tidur." bisik Jiana menengadah menatap Bryan


Bryan terkekeh lucu." Jadi setelah Kya tidur?"


" Ya jika aku tidak mengantuk." saut Jiana mengulum senyumnya


" Jia .. " panggil Bryan manja dengan menumpu dagu dipundak Jiana


Jiana tertawa lalu mengulurkan jemarinya untuk mengusap dagu Bryan." Kenapa suka sekali bercint* hmm?"


" Karena aku merindukanmu." Jiana terperangah akan ucapan itu


" Aku tidak mengerti, apa kau selalu lebay seperti ini pada wanita lain."


" Jangan selalu membawa wanita lain dalam hubungan kita." saut Bryan kesal karena Jiana selalu mengungkit hal itu, ia melepaskan dekapannya pada Jiana dan melipat kedua tangannya didada. Jiana ingin sekali tertawa, ia menahan semuanya lalu bergerak duduk melipat satu kakinya menghadap Bryan yang menatap kesembarang arah dengan wajah masam. Jiana segera menyentuh lengan berotot itu


" Memangnya apa hubungan kita?" tanya Jiana usil membuat Bryan menatapnya dengan kesal dan kedua tangan itu menyentuh kedua bahunya


" Kau istriku dan aku suamimu, benar-benar mengesalkan." gerutunya


" Aku hanya bercanda, kenapa marah-marah." saut Jiana mengulum senyumnya lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Bryan


" Bercandamu kelewatan." gerutunya lagi yang mana sukses membuat Jiana terkikik lucu


" Dengar Jia, tidak ada lagi wanita ataupun pria lain dalam pernikahan kita. Hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita." tutur Bryan melunak membuat Jiana tersenyum, dan rasa senang itu mengalir menyentuh relung hatinya semakin menyakinkan Jiana akan perasaaannya pada Bryan, jantung Jiana berdebar-debar dan kini ia sungguh hanyut dalam pesona Bryan, jatuh sedalam-dalamnya pada pria yang awalnya ia benci itu, semuanya karena perlakuan baik dan keteguhan pria itu dalam memperbaiki pernikahan mereka membuat Jiana mengagumi dan berakhir menjadi sebuah rasa


" Kamu mengerti?" tanya Bryan menyadarkan Jiana


"Ya." saut Jiana membuat Bryan terperangah dengan jawaban singkat itu


" Astaga, romantilah sedikit pada suamimu ini, jangan hanya aku saja yang selalu romantis." gerutu Bryan lagi


Jiana terkekeh lucu dan menampar pelan pipi Bryan membuat pria itu kesal sekaligus gemas hingga merengkuhnya kedalam pelukan dengan erat. " Boy hentikan kau membuatku tak bisa bernafas."


" Ini karena kamu selalu menyebalkan." gerutu Bryan lalu menggigit dagu Jiana dengan pelan


" Hentikan jorok sekali." tampar Jiana lagi pada pipi Bryan


" Berhenti menyebalkan, kita bahkan sudah pernah berbagi ludah." gerutu Bryan lagi menangkap jemari Jiana dengan satu tangannya dan memasukan satu persatu jari itu kedalam mulutnya membuat Jiana tertegun dan meneguk ludahnya kasar


" Bryan .. " tegur Jiana, dari nada itu Jiana terdengar tergoda karena Bryan, pria itu menyeringai puas dan melepaskan jemari Jiana yang basah oleh ludahnya. Jiana menatap jemari basah itu dan mengusapkannya dipipi Bryan


" Seharusnya kamu melakukan hal yang sama."


" Jangan gila."


" Kenapa gila, kamu tahu give and take?"


Jiana terdiam dan jemari itu tak henti mengusap pipi Bryan


" Ah aku lupa, kau belum pernah berpacaran." ledek Bryan


" Aku pernah sekali berpacaran." saut Jiana kembali usil, Bryan mengernyit kesal karenanya


" Apa si brengsek itu cinta pertamamu?"


" Dia tidak brengsek." saut Jiana mengulum bibirnya menahan tawa, entah kenapa ia jadi senang jika Bryan sudah cemburu seperti ini


" Baiklah, aku yang paling brengsek dimuka bumi ini."


Jiana terbahak, ia mencubit bibir Bryan dengan gemas. " Bukan Darwin tapi ada seseorang." saut Jiana lembut


" Siapa?" tanya Bryan penasaran


" Itu sudah lama, saat itu aku masih sangat muda. Meskipun aku hanya melihatnya sekilas tapi dia sangat tampan membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya." saut Jiana tersenyum sembari menatap lekat wajah tampan Bryan, tapi senyum itu mendadak pudar, ia mengulurkan jemarinya menyentuh kedua alis Bryan bergantian


" Dia tampan .." Jiana tak melanjutkan ucapannya, ia terkesima akan sesuatu didepan matanya dengan jemari tak henti menelusuri wajah Bryan


-


-