
Malam harinya Bryan mengajak Jiana putra serta putri mereka keruang tamu. Udara saat musim dingin kian terasa menusuk pori-pori kulit mereka. Sikembar dan Kya Jiana pakaikan jaket berbulu tebal dengan bentuk yang sama namun berbeda warna
Begitupun dengan dirinya dan Bryan yang memakai mantel untuk menghangatkan badan. Mereka hanya berenam tanpa seorang pelayan yang akan mengganggu mereka
" Daddy." Kya berteriak dibelakang tubuhnya. Gadis kecil yang manja itu marah karena didahului Bryan yang mendorong dua roda bayi
Jiana yang dibelakang Kya tersenyum melihat putrinya yang merajuk tiba-tiba pada sang ayah yang kini menoleh padanya
"Baiklah, baiklah . Kya yang lebih dulu." Pria itu terkekeh lucu melihat wajah cemberut Kya. Sangat lucu dengan kedua tangan terlipat didada
" Ayolah, mana anak Daddy yang sudah besal dan pintal." Goda Bryan yang mana kian membuat Kya kesal, tatapannya menajam hingga Bryan terbahak, ia melepaskan pegangannya pada dua roda kedua putranya untuk mendekati Kya
Cuuuuupppp
Bryan mengecup pipi mengembung itu dengan gemas lalu memangku Kya. Merasa menang Kya memeluk manja leher sang ayah dengan erat. Bryan mengecup lagi pipi itu, kali ini gadis kecil itu tersenyum manis
" Bilang saja Kya mau digendong." Ledek Bryan
" Daddy selalu melupakan Kya semenjak adik ada."
" Oh ayolah sayang, adik-adik masih membutuhkan perhatian ektra Daddy." Bujuk Bryan
" Kakak Kya kan sudah besar, sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Sementara adik-adik, mereka bahkan belum bisa berjalan, makan sendiri, minum dan mandi sendiri." Jiana tersenyum lagi dibelakang tubuh Bryan mendengarkan keduanya, mendengarkan Bryan yang berusaha memberikan pengertian pada putri sulungnya. Bagaimana pun Kya juga masih membutuhkan perhatian ektra mereka sama seperti sikembar, gadis kecil itu masih bermanja pada Jiana maupun Bryan. Bahkan sesekali tak mau melakukan semuanya sendiri
" Apa Kya tidak lucu lagi?" Bryan terbahak lagi, ia menciummi pipi bakpau Kya
" Bibir ini selalu saja bisa bicara!" Ucap Bryan gemas namun Kya masih cemberut
Akhirnya Bryan melanjutkan lagi langkahnya, dengan Kya dalam gendongan ia mendorong lagi kedua roda bayi itu kali ini ia memakai satu tangannya, sementara tangan yang lain memegang Kya
Jiana sedikit terpaku ketika melihat ruang tamu. Suasana redup namun terasa hangat karena ada perapian disana. Ia tidak tahu siapa yang menyalakan itu, entah suaminya atau pelayan. Selain itu didepannya juga telah disediakan karpet berbulu tebal yang akan menambah kehangatan malam dingin ini. Serta beberapa cemilan dan buah-buahan segar tersedia disana
Jiana tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, hatinya menghangat. Ia ingin menghamburkan dirinya memeluk Bryan, ia ingin suasana yang romantis namun ada putra-putri mereka, tentu Jiana tak akan bisa melakukan hal itu
" Jia." Panggil Bryan karena istrinya malah diam
" Hmm." Saut Jiana tersadar lalu mendekati Bryan yang sudah berdiri disana, didekat sofa yang mengelilingi perapian tersebut. Jiana memangku Chelsea lalu meletakan bayi mungil itu diatas karpet berbulu dengan warna putih vanila, setelah puas tidur kini bayi itu mulai aktif, lihatlah sekarang sudah membalikan tubuhnya telungkup
Bryan menurunkan Kya didekat Chelsea sehingga Kya menyandar pada sofa dibelakang mereka lalu memangku Zayn yang bangun. Ia sengaja mendudukan Zayn dipangkuan Kya yang kakinya berselonjor, sontak kedua tangan kecil Kya memeluk perut adiknya
" Daddy." Kya tampak protes namun gadis kecil itu juga sangat senang
" Jangan dilepas hmm, adik? Nanti dia jatuh." Perintah Bryan
Tapi bukannya menuruti Bryan, Kya malah menggoda ayahnya dengan sengaja berpura-pura akan melepaskan Zayn hingga bayi yang belum bisa duduk sempurna itu akan oleng
" Kya." Tegur Bryan
" Kya kan hanya bercanda." Sautnya dengan cekikikan
" Sekarang Kya tahu kan, kalo adik belum bisa melakukan apapun sendiri." Bryan tersenyum mengusap puncak kepala Kya
Kya mengangguk dengan lucunya, seolah iya benar-benar paham dengan perkataan ayahnya. Tapi namanya gadis seusia Kya, masih belum benar-benar mengerti semuanya
Lalu Bryan melihat Jiana, wanita itu duduk disamping Chelsea dengan kedua tangan ia dekatkan ke perapian. Suasana ini membuat Bryan ingin berduaan bersama Jiana namun sayangnya ia harus menunggu anak-anak mereka tidur lebih dulu
Bryan berinisiatif mengambil buah anggur hijau lalu mengulurkan tangannya untuk menyuapi Jiana, wanita itu terdiam sebentar sebelum menerima suapan Bryan. Keduanya saling menatap dan tersenyum
Bryan menyuapi keduanya bergantian dengan dirinya, pria itu benar-benar menjelma menjadi ayah serta suami yang hangat. Jiana merasa beruntung memiliki Bryan disisinya, lihatlah bibir wanita itu sampai tak berhenti tersenyum. Jiana selalu jatuh cinta pada suaminya
Tapi kehangatan itu terhenti karena Zayn menangis. Bryan maupun Jiana menoleh pada Kya, gadis itu menyengir
" Kya mencubit pipi Zayn." Akunya membuat Jiana dan Bryan jengah sekaligus merasa lucu
" Zayn sangat lucu dan menggemaskan."
" Uhhmm Daddy akan membalasnya." Bryan mencubit pipi Kya namun sangat pelan membuat Kya malah cekikikan lalu melepaskan Zayn yang dipangku Bryan
" Tidak apa-apa, kamu seorang pria Zayn." Ucap Bryan memangku keatas Zayn namun bayi tampan itu tak berhenti menangis memaksa Jiana mengambil alih dan menyusui Zayn. Ketika itu Kya bangun dan langsung berhambur duduk dipangkuan sang ayah seolah sang ayah hanya miliknya. Bryan terkekeh sambil melihat Jiana yang tersenyum, Kya yang tidak pernah mau mengalah dengan adik-adiknya.Tapi Bryan dan Jiana memaklumi semua itu
Sambil menghangatkan tubuh mereka memakan cemilan yang tersedia disana hingga larut malam. Ketika itu Kya mulai tertidur dipangkuan ayahnya begitupun Zayn dan Chelsea yang telah Jiana tidurkan. Kedua bayi itu Jiana tidurkan lagi di roda bayi dimana Zeen sangat terlelap, diantara dua saudaranya Zeen adalah bayi yang paling suka tidur dan jarang sekali rewel
Jiana maupun Bryan memperhatikan deretan tiga roda bayi disamping Bryan. Mereka sengaja agar bayi mereka tetap hangat. Lalu Bryan meletakan Kya disamping ketiganya, ia mencium kening Kya dengan lembut dan menyelimuti Kya dengan selimut tebal, ia tatapi sejenak hasil goyangan paksanya itu pada Jiana, satu kata yang keluar dari bibir Bryan bahwa putri sulung mereka memanglah memiliki paras yang cantik
" Emmmh sayang, kemarilah." Bryan menepuk tempat kosong disampingnya
" Aku disini saja." Tolak Jiana mentah-mentah dan memeluk kedua kakinya
" Sejak kapan mau membantah suamimu?" Jiana memutar bola matanya malas lalu mendekati Bryan, sebenarnya yang paling manja diantara keluarga kecilnya adalah Bryan bukan Kya. Gerutu Jiana dalam hati dengan pikiran was-was, ia tahu tujuan semuanya pasti akan berakhir dengan dirinya yang lemas
" Apa kamu menikmati semua ini?" Tanya Bryan meraih jemari lentik Jiana lalu mengecup punggung tangannya, Jiana tersentuh, kedua pipinya merona
" Ini cukup romantis." Saut Jiana mengulum senyumnya. Bryan menggandeng bahu Jiana dengan satu tangannya, seketika kepala Jiana manja ia letakan dipundak Bryan
" Boy."
" Kenapa Jia?"
" Kamu yang menyiapkan semua ini?"
" Tentu sayang." Jiana tersenyum lalu meraih jemari besar Bryan untuk ia genggam
" Aku selalu ingin menanyakan ini, tapi aku terlalu cemburu bila semua ini benar."
" Katakan, jangan ada rahasia diantara kita." Desak Bryan, Jiana mengangkat kepalanya dan menoleh menatap Bryan yang juga menatapnya
" Aku sangat ingin tahu, bagaimana kamu memperlakukan wanita lain sebelum kita bertemu."
" Sayang, hanya kamu satu-satunya wanita yang mendapatkan semua ini." Saut Bryan dengan wajah serius sembari membelai pipi mulus Jiana yang kian memerah
" Aku tidak sepercaya itu."
" Kenapa kamu memperdulikan hal yang telah berlalu, itu bisa membuat kita bertengkar."
" Tidak selama kamu menjawab semuanya dengan jujur."
" Aku tidak pernah sejujur ini." Saur Bryan membuat Jiana memeluknya, Bryan menyambut pelukan itu
" Rasaya sangat nyaman." Jiana menengadah
" Pelukanmu!" Tambahnya lagi hingga ia mendapat kecupan lembut Bryan dikeningnya
Sampai larut malam mereka melakukan itu, bersenda gurau tanpa melepaskan pelukan