
-
-
Semuanya dibuat kesal dengan tingkah Bryan, bayangkan saja setiap kali Jiana akan menyusui Zayn, Zeen, dan Chelsea, semua pria harus keluar dari ruang rawat itu. Seperti saat ini hanya ada ia, Jiana dan bayi-bayi mereka. Semua orang kini diusir Bryan sehingga mereka memutuskan untuk pulang dan akan kembali pada malam hari
Bryan sama sekali tak menjauhkan diri dari sang istri. Ia terus menempeli Jiana, menuruti setiap perkataan Jiana, perintahnya untuk mengambil segala kebutuhan istrinya, bahkan Bryan tak merasa jijik mengantar wanita itu kekamar mandi. Bryan memutuskan untuk merawat Jiana sendiri tanpa melibatkan suster dan dokter kecuali dalam hal medis, pria itu tak tahu menahu hanya bisa mengganti cairan infus Jiana
Oek
Oek
" Ayolah Zayn .. kamu yang paling besar kenapa yang paling cengeng .." gerutu Bryan dengan senyum lucu ketika bayi yang sedang menyusu itu menangis karena putting ibunya yang terlepas dari mulutnya
Bryan dan Jiana terkikik lucu memperhatikan putra mereka lalu Bryan menyentuh buah dada Jiana memasukan kembali putting Jiana kedalam mulut kecil Zayn. Seketika itu juga Zayn berhenti menangis dan menyusu dengan lahapnya
" Aku jadi ingin seperti Zayn .. " ucap Bryan menempelkan pipinya ke pipi Jiana dengan kedua mata menatap Zayn. Jiana terkekeh, ia menoleh pada Bryan begitupun Bryan yang bergerak menoleh pada Jiana
" Kamu mau menjadi bayi lagi?"
" Tentu saja tidak, kalo aku jadi bayi lagi aku tidak akan bertemu denganmu." gerutu Bryan lalu mengalihkan pegangannya dari jemari kecil Zayn pada pipi Jiana
" I love you .." bisik Bryan dengan tatapan lekat, penuh pujaan apalagi wajah itu kini teramat cantik meskipun tanpa riasan sedikitpun
" Love you more." saut Jiana dengan senyum manis. Bryan merengkuh tubuh itu dengan satu tanganya kemudian keduanya kembali memandang Zayn yang juga membuka mata menatapnya dan Jiana
" Dia sangat tampan." gumam Jiana dengan senyum tak pudar
" Tentu saja, bibit unggulku tidak pernah gagal."
" Kuharap semua anakku tidak menuruti ayahnya." Bryan tergelak mencubit hidung Jiana
" Tidak, kita akan mendidik mereka sebaik mungkin. Mengajarkan mereka tentang kasih sayang dan cara menghargai. Aku akan menyayangi mereka, memberikan yang terbaik untuk mereka tapi aku tidak akan memanjakan mereka. Aku akan mengajarkan Zayn dan Zeen bagaimana caranya menjadi pria yang bertanggung jawab dan bisa menghargai wanita." Jiana tersenyum meletakan kepalanya dengan manja dipundak Bryan, ia tidak tahu Bryan terkikik lucu dalaam hati saat ini. Dulu saja Daddy Ken selalu mengajarkan Bryan tentang tanggung jawab tapi pada akhirnya Bryan malah menjadi anak yang kurang ajar, memperkosa Jiana, menghamili Jiana dan kehadiran bayi kembar merekapun karena hasil pemaksaan Bryan lagi terhadap Jiana
Bryan mengecup kening itu membuat Jiana menengadahkan wajah menatapnya. Bryan tak tahan, ia membelai pipi itu lalu mencium bibir Jiana, keduanya berciuman mesra, saling memejamkan mata dan saling mellumat dengan lembut
Oek
Oek
Oek
" Astaga .. " gumam Bryan melepaskan bibir Jiana
" Sayang bawa Zeen kemari .. "
" Jia kamu tidak lelah?" tanya Bryan mengusap pelipis Jiana yang berkeringat
" Boy .. tidak ada kata lelah jika untuk bayi-bayiku." saut Jiana
" Cepatlah bawa Zayn ke box dan Zeen kemari." perintah Jiana yang langsung dituruti Bryan, Pria itu menggendong baby Zayn menuju box bayi
" Jia bukan kamu yang lelah tapi aku yang lelah menahan adiiku untuk tak bangun." gerutu Bryan pelan lalu meletakan Zayn yang mulai tertidur ke box bayi dan beralih pada Zeen, membawanya pada Jiana
Lihatlah senyum itu terus membuat adik Bryan menegang sesak didalam sana. Bryan tak mengerti dan terus merutuki otak mesumnya." Tidak boy .. kamu bisa .. ya ya kamu bisa .. fighting .."
" Tapi kenapa Jiana cantik sekali." gerutu Bryan lagi dalam hati dengan bibir sedikit menganga menatap Zeen yang kini lahap menyesap putingg Jiana. Sebelum ketiganya lahir, Bryanlah yang menguasai buah dada itu tapi kini Bryan harus berbagi dengan ketiga bayinya
" Sayang bagaimana kalau kita memakai jasa babysister untuk sikembar." Bryan merapihkan anak rambut itu kebelakang telinga Jiana, mencoba mengecoh pikiran mesumnya
" Baiklah, tapi aku yang memilihnya."
" Tentu saja, hidupku kamu yang mengatur." Jiana tersenyum manis
" Kenapa kamu selalu berterima kasih." gerutu Bryan mencubit pelan pipi Jiana
" Karena aku bahagia .. "
" Sudah kubilang aku akan selalu membuat kamu bahagia sampai kamu merasa bosan."
" Aku tidak akan bosan, aku tidak akan bosan mencintaimu, menjadi istri yang baik untukmu, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita."
" Terima kasih sayang, kamu tidak perlu melakukan apapun, cukup temani aku selamanya." Jiana tersenyum untuk kesekian kalinya dengan suara lembut itu, menyembunyikan kedua matanya yang berair, Jiana meletakan kepalanya dibahu. Ia tak pernah menyangka akan bertemu pria seperti Bryan dalam hidupnya. Apalah .. Jiana hanya seorang gadis biasa yang kebetulan melakukan kesalahan dengan masuk ke apartement pria itu, mengandung Kya hingga membawanya ketitik bahagia seperti ini
" Jia kamu menangis?" Bryan memiringkan kepalanya untuk menjangkau wajah Jiana saat mendengar isak tangis wanita
" Hey ada apa? ada yang sakit?" Jiana mengangguk cepat lalu menyentuh bibirnya
" Ini sakit .. " sentuh Bryan dengan ibu jarinya pada bibir Jiana
" Iya .. "
" Bagaimana bisa?" Bryan mengerutkan dahi sembari menangkup wajah Jiana, mengusap lembut bibir Jiana. Ia meneliti bibir Jiana
Jiana ingin sekali tertawa melihat wajah cemas Bryan, pria itu teramat menyayanginya
" Bryan kamu mencintaiku?" Bryan jadi heran
" Jia kamu tidak bosan selalu menanyakan hal itu?"
" Aww sakit .. " Jiana berpura-pura lagi kesakitan, jemarinya memegang jemari Bryan dibibirnya membuat Bryan kembali panik
" Aku akan memanggil dokter, tunggulah .. " Bryan hendak turun dari ranjang namun segera ditahan Jiana
" Tidak perlu!"
" Kenapa? bukankah sangat sakit?" Bryan kembali menyentuh bibir itu
" Kiss me!" perintah Jiana membuat Bryan jengah
" Kamu menggodaku hmm?" Bryan cubit bibir itu
Jiana terkekeh lucu." Ciuman akan membuat rasa sakitnya hilang." saut Jiana dengan suara mendayu
" Sayang, kamu tidak kasihan padaku?" Bryan menunjuk pangkal pahanya dengan dagu
" Kenapa, apa dia bangun?karena sebuah ciuman?" goda Jiana
" Ti .. ti dak!" bantah Bryan
" Kalau begitu kiss me." Bryan meneguk ludahnya kasar dengan suara manja itu
" Aku hanya merindukan ciumanmu boy .. " Bryan merasa terbakar dengan ucapan itu, ia memiringkan kepala menciumi bibir Jiana, Bryan masih mencium bibir Jiana sewajar mungkin, tidak sepanas biasanya
" Astaga jadi ini alasanmu selalu mengusir semua orang?" teriakan kecil itu membuat Bryan dan Jiana terkejut, Bryan melepaskan bibir Jiana lalu menoleh kebelakang pada David yang baru datang, pria itu bersedekap dada diambang pintu
Bryan berdecak." Mengganggu saja!" gerutunya kembali mengalihkan pandangannya lagi pada Jiana. Keduanya kembali berciuman lagi membuat David jengah, pria itu menggelengkan kepala lalu masuk kedalam untuk melihat sikembar yang terlelap dalam box bayi, sementara yang satunya lagi terlelap dalam pangkuan sang ibu
" Momy Jen .. " panggil David membuat Bryan beringus melepaskan bibirnya pada Jiana, pria itu segera menoleh kebelakang dan mendengus kesal karena ternyata David mengerjainya
" Sialan .. " umpat Bryan menaikan tinjunya pada David
-