
πΉπΉπΉ
Jiana bangun saat sentuhan jemari kecil menyentuh pipinya. Bibirnya tersenyum melihat sang gadis kecil yang melakukan itu, putrinya juga tersenyum melihat sang ibu bangun. Jiana segera menyentuh dadanya, ia menghembuskan nafas lega karena ternyata Bryan telah memakaikan pakaian padanya
Lalu Jiana menyentuh pipi bakpau yang sudah terolesi bedak yang tak rapi itu, ia tahu itu ulah Bryan karena siapa lagi yang bisa memandikan Kya selain dirinya. " Sayang dimana Daddy?" tanya Jiana
" Daddy sudah pelgi, dia bilang Kya halus menjaga Mum."
" Pergi?"
" Iya, Daddy pelgi untuk bekelja." Jiana tersenyum lebar, akhirnya ia bisa terbebas dari Bryan untuk sementara waktu. Lalu Jiana bangun sambil memegangi perutnya lagi yang terasa sakit, perutnya terasa dililit kuat. Disampingnya masih ada beberapa botol lagi yang tersisa, ia memgambil satu yang kecil dan membuka tutup botol itu
" Apa Kya sudah makan?"
" Sudah disuapi Daddy."
" Kalau begitu Kya minum vitamin ini." Jiana memberikan botol kecil itu ketangan Kya. Dengan lucunya gadis kecil itu tampak meneliti botol minuman itu sebelum mencobanya
" Emmhh manis Mum." Jiana tersenyum menangkup wajah kecil Kya lalu menciumi pipi bakpau dengan bau khas bayi itu
" Semanis Kya." ucap Jiana membuat Kya menyengir
" Mum mandi sebentar hmm, tunggulah disini."
Kya mengangguk dengan manik menatap sang ibu tapi saat Jiana bangun gadis kecil itu berteriak terkejut." Mum." teriaknya membuat Jiana berbalik padanya
" Ada apa?" tanya Jiana
" Kenapa kasulnua beldalah?" tanya Kya menunjuk kasur yang ditempati Jiana. Jiana sangat terkejut melihat darah berceceran disana, ia sangat tahu itu adalah darah mentruasinya. Pantas saja rasanya tadi sangat sakit, ternyata tamu bulanannya datang dan Jiana baru ingat kalau hari ini tanggal 15
" Sayang itu bukan darah, itu minuman Mum yang tumpah. Tadi Daddy menumpahkannya." elak Jiana sembari menarik Kya. Ia menggulung sprei itu
" Tapi itu kuning dikasul melah." Jiana terkekeh, kali ini ia tak bisa membohongi putrinya yang ternyata sudah besar dan mulai mengerti
Jiana tak menjawab lagi ucapan putrinya ia terlalu bingung menjelaskan semuanya pada anak kecil seperti Kya. Jiana melenggang keluar dari kamar membawa sprei itu untuk mencucinya. Sebelum kekamar mandi, Jiana mengintip keluar dari balik kaca
" Bryan benar-benar menawanku." gerutunya saat kedua anak buah pria itu masih standby didepan rumahnya
Lalu Jiana masuk kedalam kamar mandi. Ia benar-benar senang melihat darah dibalik celananya karena tentu saja Bryan tak akan bisa macam-macam saat ia mentruasi. Pria itu mana mau menyentuhnya, itu hal yang selalu Bryan hindari meskipun hasrat pria itu sudah diubun-ubun
Sekitar 30 menit Jiana selesai dan keluar dari kamar mandi. Jiana masuk kedalam kamar lagi san disambut Kya yang memegang tangannya." Mum lihat. " ucapnya menunjuk seluruh kamar, Jiana hanya tersenyum, meskipun masih berantakan namun kini terlihat sedikit tertata rapi, bantal-bantal dan guling kini kembali diatas kasur
" Kya yang melakukannya?" tanya Jiana lembut
Gadis itu mengangguk cepat." Daddy bilang Kua sudah besal, halus seling membantu Mum "
" Astaga, pintar sekali anak Mum." Jiana berjongkok menciumi pipi bakpau Kya. Wajah gadis kecil itu tampak senang dengan pujian sang ibu padanya
Ditempat lain Bryan tampak termenung dengan gelas berisi cairan merah ditangannya. Dalam benaknya Bryan sungguh merasa bersalah pada Jiana, ia berbuat kasar dan terus memaksa wanita itu untuk melayaninya. Sebenarnya Bryan tak setega itu tapi ia melakukan semua ini karena ia tak mau kehilangan Jiana dan Kya. Ia mencintai anak dan istrinya makanya Bryan mati-matian akan mempertahankan pernikahannya dengan Jiana termasuk membayar mahal hakim yang akan memutuskan persidangannya dan Jiana
Bryan memutuskan keluar dari tempat hiburan dikawasan kota Paris itu. Ia menjalankan mobilnya menuju rumah sang kakak dimana dulu ia menetap disana. Saat tiba Bryan memberhentikan mobilnya dihalaman yang luas. Ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam
Baru masuk rumah beberapa langkah tiba-tiba Bryan dikejutkan dengan sebuah tamparan keras dipipi kanannya. Spontan Bryan memegangi pipi itu sambil menoleh pada Bulan, wajah itu kecewa dan kedua matanya mengeluarkan airmata
" Itu pantas untuk pemerkosa sepertimu." ucap Bulan tajam
Belum sempat Bryan menjawab ucapan itu tamparan kedua mendarat dipipi lainnya." Itu untuk penghianatanmu pada Jiana. Aku membencimu." teriak Bulan memecah ruang tamu yang luas itu, wanita itu menangis histeris sambil memukuli bahu Bryan dengan sekuat tenaga
" Aku sangat malu pada Jiana, kenapa kau tega sekali." teriak Bulan lagi hingga Dean harus memeluk wanita itu menenangkannya dan menjauhkannya dari Bryan. Pria itu tak melawan, hanya menunduk mematung membiarkan Bulan terus memukulnya
" Dean lepaskan aku, aku ingin memberi pelajaran pada pria itu." teriak Bulan meronta dengan tangisan pilu. Bulan sangat menyayangi Jiana dan Kya, ia begitu menghargai keduanya tapi tak disangka Bulan menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan untuknya. Membuatnya marah saat itu juga. Selama ini Bryan memang nakal, tapi Bulan tak pernah menyangka kenakalan Bryan sampai sejauh itu. Dengan teganya pria itu memperkosa gadis yang tak bersalah seperti Jiana bahkan sampai menghamilinya dan sekarang Bryan juga menyia-nyiakan Jiana
" Kau seharusnya dihukum, kau tidak pantas bebas berkeliaran seperti ini." teriakan itu mengakhiri semuanya. Bulan melepaskan dirinya dari Dean dan masuk kedalam kamarnya meninggalkan Bryan yang membeku ditempat
Dean bisa melihat kedua mata itu berkaca menandakan Bryan sangat menyesali perbuatannya. Dean menghela nafasnya, menarik Bryan kekursi. Sebagai yang paling tua ingin mendengarkan Bryan, tak mau mendengarkan hanya dari sebelah pihak
" Apa benar yang dikatakan Bulan?"
" Itu memang benar." saut Bryan dengan wajah yang masih menunduk
" Kenapa kau melakukan semua itu, itu sangat tidak terpuji Bryan. Selama ini kamu kebanggan Daddymu, bagaimana bila Daddymu tahu?"
" Aku tidak perduli bila semua orang tahu. Yang kuperdulikan saat ini hanya Jiana dan Kya, aku tidak mau kehilangan mereka." saut Bryan mengangkat wajah, menoleh kesamping dan menatap kakak iparnya itu
" Dimana Jiana sekarang?"
" Dia disuatu tempat."
" Kamu menyembunyikan mereka?"
" Jiana menggugat cerai dan aku harus melakukan sesuatu." Dean menarik nafasnya lagi, menepuk bahu Bryan seraya menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa
" Kalian tahu darimana?"
" Darwin, dia datang kesini. Dia mencari Jiana dan menceritakan semuanya pada Bulan. Tentu saja Bulan sangat marah."
" Darwin benar-benar berusaha keras." Bryan tersenyum sinis
" Apa maksudmu?" tanya Dean. Bryan membungkam, ia memalingkan wajahnya dari Dean
" Dan kenapa Darwin mencari Jiana?" tanya Dean lagi dengan dahi berkerut
-
-