Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Jangan macam-macam



-


-


Manik hitam pekat Bryan menyalang tajam pada Darwin, ia bahkan mengepalkan kedua tangannya geram. Bryan ingin sekali keluar dan memberi pelajaran pada sekertarisnya itu namun mana mungkin ia menunjukannya didepan Kya, sekali lagi Bryan lemah karena gadis kecil itu


Lalu ia keluar dengan Kya yang masih menempel, kedua tangan dan kedua kaki kecil itu melingkar ditubuhnya meskipun tak sampai. Bryan berpindah ke depan ke kursi kemudi menggantikan Darwin dan melajukan mobilnya meninggalkan pria itu begitu saja ditengah jalan


Bryan menunduk memperhatikan putri kecilnya yang terus diam dengan wajah yang terlihat lelah dan kedua mata yang sayu. Lalu ia melirik kebelakang pada Jiana yang hanya terdiam, entah apa yang wanita itu pikirkan


" Kau pindahlah ke depan." perintah Bryan dan tumben sekali kini Jiana menurutinya. Wanita itu berpindah kedepan melalui jalan tengah yang bahkan tak muat untuk tubuhnya sehingga Jiana sedikit kesusahan namun sedetiknya ia tersenyum saat tawa cekikian terdengar dari bibir putrinya


" Auuuh susah sekali." ucap Jiana pura-pura membuat cekikikan Kya makin kencang


" Sayang .. kenapa Mum lebay sekali." ejek Bryan sambil menciumi puncak kepala Kya


" Mum sangat lucu!" teriak Kya ditengah cekikikannya


Bryan hanya menggelengkan kepala mendengar gadis kecilnya yang tak henti cekikikan padahal bagi Bryan itu sangat tidak lucu


" Aah berhasil!" ucap Jiana lagi bersorak, tentu tujuannya untuk menghibur putrinya


" Mum hebat!" teriaknya lagi


" Mum siapa?" tanya Jiana mendekati wajah Kya, ia kembali menciumi pipi gemil putrinya hingga bau tubuh itu kembali tercium dihidung Bryan, jakun Bryan kembali naik turun dibuatnya


" Ada apa denganku, bau tubuh Jiana selalu membuatku mau. Jiana .. Jiana .. tunggulah besok sayang!" gumam Bryan dalam hati dengan bibir menyeringai nakal


" Mum Kya dan ini Daddy Kya!" sautnya sambil menepuk dada Bryan


Jiana melirik Bryan yang tersenyum begitu manis mendengar ucapan putri mereka. Lalu ia segera memalingkan kembali pandangannya karena Bryan akan semakin besar kepala jika diperhatikan dan berpikir Jiana tertarik dengannya


Mobil masuk kehalaman rumah mewah yang diyakini Jiana milik Bryan. Jiana membuka mulutnya melihat rumah itu, luas, mewah dan yang membuat Jiana terpaku adalah hamparan bunga mawar merah di halaman rumah, indah dan menyejukan matanya


" Ayo keluar." ajak Bryan pada Jiana


Keduanya keluar, Bryan memangku Kya yang ternyata kembali tidur setelah lelah karena terus berceloteh selama perjalanan 30 menit lamanya. Lalu Bryan membawa Jiana masuk kedalam rumah milik orangtuanya, mereka disambut dengan dua pembantu muda yang terkesima dengan kehadiran Jiana juga Kya yang dalam pangkuan Bryan. Kedua pembantu itu mengambil koper ditangan Jiana tanpa tahu wanita itu siapa, tapi jika bersama Bryan tentu saja wanita itu penting


" Bawa kekamarku." perintah Bryan


Sementara kini Jiana tampak celingukan memperhatikan setiap sudut dalam rumah itu. Ia juga perhatikan satu persatu foto yang terpajang didingding maupun diatas meja nakas, Jiana tersenyum memperhatikan foto Bulan yang masih muda dan terlihat sangat cantik juga foto Bryan sewaktu kecil tak lupa sikembar chesa chesy yang sangat mirip dengan Bulan. Ada juga foto pernikahan Ken dan Jeny yang besar dan terpanjang didingding, keduanya masih sama-sama muda, cantik dan tampan. Tak heran Bryan sangat tampan, itu karena gen yang sangat sempurna dari kedua orangtuanya. Pikir Jiana


" Bi. " panggil Bryan pada salah satu pembantu mereka. Pembantu muda itu langsung menghampiri Bryan


" Buatkan makan untuk dia!" perintah Bryan menunjuk Jiana dengan dagunya


" Dan bawa kekamarku!"


Pembantu itu sedikit heran dan bertanya dengan wanita disamping Bryan yang masih saja sibuk melihat sekitar rumah. Kenapa harus dikamar? memangnya siapa wanita ini? begitulah isi hati pembantu itu


" Jangan lama-lama!" ucap Bryan yang memang arogan pada siapapun


" Baik Den." sautnya lalu segera berlari kedapur


Bryan kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai dua diikuti Jiana. Ia buka pintu lalu masuk kedalam kamarnya. Kamar yang maskulin bernuansa hitam yang benar-benar tak cocok untuk Jiana dan Kya karena terasa menyeramkan


Bryan merangkak naik keatas ranjang king sizenya, membaringkan tubuh kecil itu ditengah. Bryan tatap dan usap keringat dibawah hidung Kya yang merenung lalu memberikan kecupannya dikening. Lalu ia kembali ke sisi ranjang duduk dengan kaki menyampai kelantai, ia menyeringai menatap Jiana yang masih mengedarkan pandangannya


" Kau tidak lelah?" tanya Bryan


Jiana tak menjawab, ia mendekati Bryan untuk mendekati Kya


Ahh


Pekik Jiana saat tiba-tiba tangannya ditarik Bryan hingga ia duduk dipangkuan pria itu


" Lalu kau mau dimana?" tanya Bryan, suara itu benar-benar serak ditelinga Jiana, wanita itu mencoba meronta dengan mendorong dadanya


" Lepaskan aku." perintah Jiana dengan wajah galaknya


" Kenapa aku harus?" tanya Bryan lalu ia bergerak cepat hingga Jiana berada dibawahnya, kepala Jiana tepat dibawah kaki Kya


" Apa yang kau lakukan, jangan macam-macam!"


Jiana ingin sekali berteriak namun ia takut membangunkan Kya, gadis kecil itu suka rewel jika belum puas tidur


" Bukankah besok juga kita menjadi suami istri?"


" Tidak, ini tidak benar. Lepaskan aku bre*gsek!"


" Jiana .. kau akan tahu seberapa breng*eknya aku!" saut Bryan dengan tawa pelan


" Bau tubuhmu selalu menggodaku!" bisik Bryan ditelinga Jiana, terpaan nafas itu menggelitik telinga Jiana membuat tubuhnya meremang


Jiana mulai dilanda ketakutan tapi berusaha menyembunyikan rasa takutnya, tidak bisa .. ia tidak mau larut dalam permainan Bryan. Jiana berontak sekuat tenaga mencoba mendorong Bryan yang terus memberikan seringai nakalnya


" Lepaskan aku, dasar pria gila!" umpat Jiana kesal


" Kalau aku tidak mau, kau mau apa?"


" Aku akan batalkan pernikahan kita."


Bryan terbahak kencang menggelengkan kepalanya


" Seperti kau punya pilihan saja!" saut Bryan, kian mengikis jarak antara dirinya dan Jiana membuat Jiana memalingkan wajah untuk menghindari Bryan, demi apapun Jiana tak mau dekat ataupun bersentuhan dengan pria yang ia benci ini. Jiana takut tergoda dan tersakiti karena Bryan memanglah pria yang suka bermain dengan para wanita


" Baiklah, baiklah aku akan menahannya sampai besok!" ucap Bryan lagi sambil bangun dari tubuh Jiana lalu melenggang begitu saja masuk kedalam kamar mandi


" Ya Tuhan .. aku takut." gumam Jiana mengusap dadanya


Tok


Tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Jiana. Ia bangun dan langsung berjalan menuju pintu, ia pegang handle pintu dan membukanya. Seorang pembantu berdiri disana dengan nampan yang penuh makanan serta buah-buahan segar membuat perut Jiana yang memang belum terisi itu keroncongan


Jiana menggeser tubuhnya memberi celah pada pembantu itu untuk masuk kekamar Bryan. Sementara dirinya hanya terdiam memperhatikan pembantu yang meletakan nampan diatas meja nakas. Pembantu itu tampak terdiam sejenak memperhatikan putrinya yang sedang terlelap, kerutan didahinya terlihat dimata Jiana. Mungkin pembantu itu merasa heran dengan wajah balita yang mirip majikannya


Setelah lama meneliti putrinya, pembantu itu berbalik dan berjalan mendekat pada Jiana, tatapan itu juga tampak meneliti Jiana sesaat lalu berpamitan pada Jiana dan keluar


Cepat--cepat Jiana menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang. Ia duduk lalu mengambil nampan dengan makanan diatas piring. Ia lahap dengan begitu rakus layaknya orang kelaparan karena ia memang belum makan sejak pagi hingga malam


-


-


Mum Jiana