
-
-
" Lepaskan aku." bisik Jiana karena Bryan malah betah menindi*nya dan bibirnya masih tak henti bermain dilehernya. Meskipun percintaan mereka telah usai beberapa menit yang lalu namun Bryan masih saja terus nakal pada tubuh Jiana, seakan ingin mengulang lagi kegiatan panas itu padahal semalaman Bryan belum tidur
" Memangnya kenapa?" tanya Bryan mengangkat wajahnya dari leher Jiana, kedua mata itu memerah
" Tidurlah, kau belum tidur semalaman."
Bryan tersenyum ia senang Jiana memperhatikannya lalu ia berguling tanpa melepaskan Jiana tetap merengkuh wanita itu. Kecupan lama mendarat dibibir Jiana sebelum Bryan benar-benar memejamkan matanya
Saat itu matahari terlihat mulai memancarkan cahayanya diufuk timur. Jiana mencoba melepaskan dirinya dari Bryan namun kedua tangan itu tak membiarkan Jiana malah mendekapnya lebih erat
Membuat Jiana terdiam menengadah menatap Bryan yang tertidur. Ia menarik selimut lebih keatas hingga batas leher untuk menutupi tubuhnya dan Bryan lalu memejamkan mata saat mendengar suara Kya yang terdengar baru saja bangun
Gadis kecil itu bangun duduk diatas kasur menghadap ayah dan ibunya yang terlihat dimatanya sedang tertidur. Kya mengucek kedua matanya dan saat mendengar pintu terbuka, manik hitam pekat milik Bryan itu langsung menuju kesana
" Pepev." panggilnya membuat Pevita masuk kedalam kamar
" Kenapa Paman dan Aunty masih tidur? memangnya mereka tidak mau ikut." gumam Pevita lalu ia mendekati Kya yang sudah mengacungkan kedua tangan padanya
" Kya mau susu." ucapnya manja pada Pevita, gadis itu tersenyum lalu memangku Kya keluar dari kamar
Setelah Kya dan Pevita keluar, Jiana membuka matanya. Ia kembali menatap Bryan untuk sesaat sambil perlahan melepaskan dirinya lagi kali ini membuat Bryan terusik dan membuka matanya
" Mau kemana?" gumam Bryan dengan mata yang lengket
" Tidurlah lagi, aku akan mandi."
" Nanti saja, kita mandi bersama." Jiana tertawa pelan dan beringus bangun duduk hingga tubuh atasnya terekspos jelas dikedua manik Bryan
"Mandi bersamamu akan lama dan membuat orang-orang kesal menunggu kita."
Bryan tertawa sesaat lalu memejamkan matanya lagi, ia tak kuasa menahan rasa kantung yang menyerbunya membuat Jiana juga ikut tersenyum dengan jemari membelai dahi Bryan
Cup
Jiana yang tak tahan akhirnya memberi kecupan lembut didahi Bryan, ini pertama kalinya Bryan mendapatkan itu. Meskipun sedang tidur namun Bryan dapat merasakan hangatnya bibir Jiana menyentuh dahinya membuat bibir Bryan tersenyum dalam tidurnya
Lalu Jiana mendekat menumpu beban tubuhnya dengan satu sikut, jemarinya membelai rambut Bryan dengan tatapan mengagumi ketampanan suaminya. Bibirnya tak memudarkan senyuman sedikitpun
" Bryan .. " panggil Jiana lembut
" Biarkan aku tidur." gumam Bryan membuat Jiana tertawa pelan
" Ya, tidurlah boy. Kau terlihat lelah." ledek Jiana
Bryan kembali membuka matanya akan gangguan itu, secepat kilat ia menarik Jiana dan mengurung tubuh itu dengan kedua tangan dan menimpa dengan satu kakinya hingga Jiana dapat merasakan adik Bryan yang mengganjal diperutnya
" Boy lepaskan." perintah Jiana menepuk pelan dada Bryan
" Jangan kemana-mana, temani aku tidur." Bryan kembali memejamkan mata dan menyusupkan wajahnya diceruk leher Jiana
" Aku harus memandikan putri kita."
" Boy .. kenapa jadi manja seperti ini."
" Inikan honeymoon tentu harus bermanja-manja dan sering bercint*." bisik Bryan dengan kedua tangan yang turun kebawah, mencengkram lembut bokong Jiana hingga tamparan keras mendarat dipunggungnya
Bryan terkikik pelan diceruk leher Jiana lalu menaikan kembali kedua tangannya melingkar dipinggang Jiana. Tak lama dengkuran keras terdengar dari bibir Bryan, pria itu kembali tertidur membuat Jiana menggelengkan kepalanya heran dengan Bryan
Sepertinya Jiana harus mengurungkan niatnya lebih dulu untuk memandikan Kya, ia harus membuat Bryan tertidur pulas agar tak menahannya lagi. Nyatanya belaian Jiana memang membuat dengkuran Bryan semakin keras hingga memenuhi kamar mereka
" Ah iya Queen." saut Jiana dengan wajah memerah malu dan pelan-pelan melepaskan dirinya dari Bryan sambil menaikan selimut ditubuhnya lalu ditubuh Bryan, meskipun adiknya kini Jiana tidak rela wanita lain melihat tubuh naked suaminya
" Ada apa?" tanya Jiana
Queen menggelengkan kepalanya dan tanpa canggung masuk kekamar Jiana. Sejenak ia melirik Bryan yang tertidur pulas hingga dengkurannya terdengar ditelinganya
" Bryan baru saja tidur, jangan terlalu berbisik." tegur Jiana lalu ia merangkak pelan mendekati sisi kasur untuk mengambil pakaiannya, karena pakaiaannya terlalu jauh dilempar Bryan akhirnya ia memakai kaos besar pria itu
" Ada apa?" tanya Jiana lagi
" Aku hanya tidak mau sendiri, semua orang akan sarapan diluar dan aku menunggu kakak." saut Queen bukan melihat Jiana, wanita itu malah memperhatikan Bryan, selalu tampan dan tak tergantikan oleh pria manapun dihati Queen
" Tunggu sebentar kakak mandi dulu." ucap Jiana, ia mengerutkan dahinya melihat Queen yang tak henti menatapi suaminya
" Emmh Queen, bisakah kau tunggu diluar." perintah Jiana menyadarkan Queen
" Baiklah." saut Queen memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu diikuti Jiana yang hanya memakai kaos Bryan sehingga kedua paha itu terlihat dimata Queen
Setelah Queen keluar dari kamarnya dan Bryan, Jiana menutup pintu dan menguncinya lalu ia menuju kamar mandi untuk membersikan seluruh tubuhnya dari keringat dan sisa-sisa percintaannya bersama Bryan
Pukul 12:34 Bryan bangun dari tidurnya. Ia menggelengkan kepalanya yang terasa pusing dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merengut kesal saat tak menemukan Jiana dikamar mereka
" Jiana .. "
" Sayang .. " Tak ada suara Jiana akhirnya Bryan mrnuruni ranjang. Dengan tubuh naked Bryan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya
Selang beberapa menit Bryan keluar dan langsung menuju lemari disana. Ia sedikit mengernyit melihat baju kesayangannya yaitu kemeja hitam tak ada di lemari itu padahal sebelumnya ia menyuruh Jiana untuk membawanya. Akhirnya Bryan hanya memakai kaos putih dan celana jeans hitamnya saja untuk keluar dari kamar
Ia mencari Jiana dan dibuat bingung dengan keadaan vila yang kosong. " Kemana semua orang." gumamnya dengan pandangan mengedar lalu keluar dari vila. Ia menuju kebelakang vila dan ternyata dugaannya benar, semua orang sedang menikmati suasana perkebunan strawberry milik keluarga mereka
Bryan tersenyum lebar melihat Jiana memakai apa yang dicarinya yaitu kemeja hitam, wanita itu menuruti Bryan tak memakai pakaian terbuka dihadapan semua orang. Dengan langkah cepat ia mendekati Jiana yang sedang berjalan mengikuti Kya yang kegirangan bermain tanah bersama anak-anak lainnya
Saat dekat ia langsung mendekap tubuh Jiana dari belakang membuat wanita itu berjingkat kaget dan spontan memukul tangan yang meligkar didadanya. Bryan tertawa lalu mencium pipi kiri Jiana dengan gemas
" Kalau aku mati serangan jantung bagaimana?" gerutu Jiana
" Siapa yang mengijinkanmu mati, kau dan aku akan mati dalam keadaan tua setelah melihat anak-anak kita menikah dan memiliki anak " bisik Bryan membuat bibir Jiana mendadak tersenyum manis dan menoleh padanya dengan wajah merona
" Daddy lihat!" teriak Kya membuat Bryan beralih dan menoleh pada putri mereka. Pria itu melepaskan Jiana dan melangkah selangkah lalu berjongkok dihadapan Kya yang ditangannnya terdapat dua strawberry yang cukup besar hampir menyamai kepalan tangannya
" Apa ini untuk Daddy?" tanya Bryan lembut
" Ya, dan ini untuk Mum." saut Kya lalu menyuapkan strawberry itu kemulut Bryan
" Lalu mana untuk Kya?"
" Kya tidak suka, lasanya tidak enak." sautnya dengan bibir mencebik. Bryan tertawa lalu mencium pipi bapau Kya
" Ini untuk Mum?" tanya Bryan menyentuh strawberry di tangan Kya. Gadis itu mengangguk pelan
" Bolehkah Daddy yang memberikannya pada Mum?"
" Boleh Daddy kan tampan." Bryan terbahak kencang
" Benar-benar anak Daddy Blayen." ucap Bryan tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya lalu ia melirik Jiana yang tersenyum hangat sejak tadi memperhatikan keduanya dengan bersedekap dada
-
-