
Luna baru saja kembali ke rumah orang tuanya bersama dengan Leo sesaat setelah ia berbicara dengan Abian.
wajahnya begitu terlihat sangat kusut, sangat berbeda jauh ketika ia berangkat tadi.
mama Tia memperhatikan sang anak yang berjalan menggendong Leo masuk ke dalam rumah, ia memicingkan matanya menatap Luna dengan pandangan penuh tanda tanya.
"bi, bibi.."
"iya nyonya, ada yang bisa saya bantu? "
"tolong bi, ajak Leo ke kamar, sepertinya dia kelelahan" perintah nya
"baik nyonya, mari den ikut bibi" ucap bibi kearah Leo sembari mengulurkan tangannya. Leo dengan senang hati menerima uluran tangan bibi sebab mereka berdua memang sangat dekat.
setelah memastika Leo dan bibi masuk ke dalam kamar, mama Tia langsung mengajak putrinya untuk duduk bersamanya.
"ada apa, kenapa kamu keliahatan nya kusut begitu, apa ada masalah? " tanya mama Tia
Luna mengangguk, ia tak ingin menyembunyikan hal ini kepada orang tuanya "tadi di mall, Luna ketemu lagi sama Abian ma. apa ini bisa di katakan takdir? " lirihnya
"semua yang terjadi memang sudah garis tangan yang di atas, pertemuan mu dengan Abian pasti ada alasannya sayang. katakan, cerita sama mama apa yang terjadi disana? "
Luna terdiam sejenak, ia sedikit ragu untuk mengatakan hal ini kepada mamanya sebab kejadian di masa lalu itu ada kaitannya dengan Aldrich, tunangannya dulu.
"ma..." Luna menatap mamanya dengan sendu, di hapusnya buliran bening yang tiba tiba menetes di pipinya.
"Abian mengakui perbuatan nya waktu itu, ia menjelaskan semuanya sama Luna ma, bahkan bukan hanya Abian saja, melainkan ibunya pun turut menjelaskan semua yang terjadi" terdengar isakan kecil dari Luna
"ia melakukan hal itu karena ingin balas dendam dengan keluarga Al ma, karena dendam masalalu yang menyebabkan ibunya depresi berat.
Abian yang mengetahui bahwa Luna adalah tunangannya Aldrich, mempermudah Abian untuk menjalankan rencana nya, ia ingin melihat keluarga Al berantakan karena dapat di pastikan Al akan kecewa ketika mendapati tunangannya yang sudah ternodai dan itu akan membuat Al akan ikut juga depresi"
"kurang ajar, tidak seharusnya ia menumbalkan kamu nak, kamu tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini, mama harus bagaimana ini" mama Tia langsung menangis meratapi nasib putrinya yang teramat kejam itu, ia tak menyangka jika pada akhirnya Luna si gadis cantik dan baik hati akan mendapatkan nasib yang sangat menyedihkan.
Luna menunduk meremaas jari jemarinya, ia menggeleng pelan
"Abian melakukan ini juga karena dulu semasa sekolah, Luna pernah mempermalukan Abian ma, Luna pernah menampar Abian di hadapan teman teman nya hanya karena Luna tak ingin di antarkan pulang, jadi ketika ia tahu aku bertunangan dengan Al, ia langsung membalaskan dendamnya kepada Luna dan keluarga Al"
Luna tak pernah menyangka, jika kejadian di masalalu yang ia anggap hanyalah sebuah kenangan akan berimbas pada masa depannya.
"kata mu tadi, kamu bertemu Abian dengan ibunya, siapa nama ibunya? "
"Clara, namanya tante Clara ma"
"Clara... " gumam mama Tia tampak berpikir.
"astaga, apa ini Clara yang itu, wanita yang hampir menjebak Marcello dengan obat perang sang" gumamnya lagi dan masih bisa di dengar oleh Luna.
"jadi maksud mu, benar Clara yang itu? " tanya mama Tia tak percaya.
"sepertinya begitu. Tante Clara sempat bercerita jika ia yang lebih dulu membuat masalah kepada om Marcello dengan berusaha menjebaknya.
tapi karena kesalahpahaman, Abian mengira jika hal itu bermula dari om Marcello. sebab sewaktu tante Clara depresi akibat ulah om Marcello, ia sempat terlunta lunta di jalanan hingga di perk*sa oleh orang yang tak di kenal sampai akhirnya dia di temukan lagi oleh keluarganya, dan lahirlah Abian ma... "
"kenapa masalah kalian serumit ini, lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan pada Abian, apa kamu akan melaporkan dia ke polisi? "
"terlambat ma, kasus ini pun sudah lama terjadi, lagipula ada Leo di antara kami, Abian juga tak bisa sepenuhnya di salahkan akan hal ini, jika bukan karena Luna pernah bersikap kasar pada nya mungkin Abian tak akan nekat melakukan hal itu"
"baiklah, apapun keputusan mu mama akan selalu mendukungmu. oh iya Lun, kemarin mama sempet denger kabar, ternyata setelah acara resepsi kemarin, istrinya Aldrich meminta untuk di antar pulang ke rumah orang tuanya, apa ini karena Aldrich yang tiba tiba meninggalkan pelaminan dan justru mengejar kamu kesini ya? "
Luna membulatkan matanya, ia melupakan satu hal terpenting kemarin, karena sempat syok melihat Aldrich yang mengetahui dirinya masih hidup.
"bisa jadi ma, waktu itu juga Luna tak sempat menanyakan perihal istrinya, Luna hanya menjelaskan beberapa hal kepada Aldrich dan menegaskan jika diantara kami sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dan setelah itu Luna langsung pamit pulang"
"apa sebaiknya aku meminta Al untuk mengajak ku menemui istrinya ya ma, biar nanti Luna ikut menjelaskan, seperti nya istri Al marah besar sampai sampai memilih untuk pulang ke rumahnya, sekalian nanti Luna ingin mengatakan mengenai Abian dan masa lalu om Marcello, agar nanti tidak ada masalah di kemudian hari"
"bukan ide yang buruk, apa kamu sudah siap sayang? "
"sudah ma, mama tenang saja, bukankah sekarang kebahagiaan Luna ada pada Leo"
***
Aldrich menjalankan mobilnya keluar kantor, ia ingin segera sampai di rumah untuk berganti pakaian kemudian menemui sang istri yang masih berada di kampung.
"sudah satu minggu, tapi istri ku masih belum bisa aku temui, semoga saja hari ini dia mau bertemu dengan ku" Aldrich tampak sangat antusias untuk segera bertemu dengan sang istri, ia juga ingin menjelaskan masalahnya agar ia dapat kembali akur dengan sang istri.
sesampainya di pelataran rumah, ia bergegas masuk ke dalam, rupaya mommy serta daddy nya tengah menonton televisi bersama dengan kak Bella dan Azura.
ya, setelah Dinar memutuskan untuk pulang, mommy Citra terlihat tak bersemangat, ia bahkan sering mengabaikan jadwal makannya hanya karena kepikiran menantu perempuan nya. Bella dan Azura yang tak tega melihat mommy nya bersedih pun memutuskan untuk menginap di kediaman utama sembari menemani mommy Citra agar tidak terus terusan berlarut dalam kesedihan.
"assalamu'alaikum" Ucap Al mengalihkan atensi mereka ke arahnya.
"wa'alaikumussallam, sudah pulang kak, tumben cepet? " tanya Azura pelan, sebab putri cantiknya kini tengah tertidur di depannya.
"kakak mau ke kampung ibu dulu, siapa tahu kakak ipar mu berubah pikiran" ucapnya bersemangat
"kamu di rumah saja Al, tak usah pergi ke mana mana! " perintah mommy
"tapi mom-"
"turuti saja ucapan mommy" bukan tanpa alasan dirinya melarang Aldrich untuk menemui istrinya, sebab siang tadi sang menantu telah mengabari jika besok pagi ia akan kembali ke kota, dan mommy Citra tak ingin Dinar berubah pikiran setelah melihat Al berada disana.
"baiklah... " lunglai sudah Aldrich di buatnya, ia yang awalnya sangat bersemangat kini tampak seperti orang payah yang tak tahu harus melakukan apapun.