OH MY WIFE

OH MY WIFE
35



tok


tok


tok


sebuah ketukan mengagetkan Dinar yang baru saja merebahkan tu buhnya yang terasa lelah, dengan malas ia bangkit kemudian berjalan ke arah pintu.


ceklek


"bu, ada apa? " tanya Dinar setelah membuka pintu, ia melihat ibu kos sudah berdiri di depan pintunya.


"ini suami mbak Dinar katanya mau ketemu sama mbak Dinar" jawabnya kemudian menggeser tu buhnya, agar Al juga dapat terlihat oleh Dinar yang sebelumnya memang tak tahu jika Al sudah ada disana karena terhalang tembok.


"loh mas, kok nggak ngabari kalau kesini? " tanya Dinar tak percaya, ia pikir Al tak akan mengunjunginya setelah memberikan uang nafkahnya kemarin.


"aku sudah mengirim pesan ke ponsel mu, tapi kamu tak membalasnya sama sekali" jawab Al


"ahh iya aku lupa, ponsel ku tadi kehabisan daya jadi sekarang mati dan sedang aku cas" ujar Dinar menggaruk tengkuknya


"ya sudah ibu tinggal dulu ya, kalau mau beres beres mending sekarang saja biar nggak kemalam mbak Dinar" pamit ibu kos kemudian melangkah pergi.


sedangkan Dinar hanya melongo tak mengerti tentang ucapan ibu kos yang memintanya untuk segera beres beres, karena untuk saat ini keadaan kamarnya sudah begitu rapi.


"maksudnya? " lirih Dinar bingung


"Aku tadi sudah bilang sama ibu kos kalau aku mau jemput kamu untuk pindah dari sini, makanya aku di bolehkan buat masuk" jawab Al.


"ya sudah ayo buruan masuk dan berkemas, aku bantu" sambungnya


Dinar tak menyahut, ia justru diam terpaku tak percaya sebab Al memperlakukan dirinya layaknya istri sungguhan, karena Dinar tak kunjung beranjak dari tempatnya, Al justru menjitak kepala Dinar agar ia segera tersadar dari lamunannya.


pletak


"aauuhhh.... " Dinar terkejur kemudian mengusap kepalanya yang terasa sakit "kenapa aku di jitak sih mas" seru Dinar terlihat kesal


"salah sendiri malah ngelamun, ayo buruan berkemas, biar nggak kemalaman kita ke tempat baru mu" seru Al kemudian nyelonong masuk tanpa menunggu di persilahkan oleh Dinar.


"tapi kita mau pindah kemana mas, jauh nggak dari sini, kan aku kerjanya dekat sini, kalau terlalu jauh aku bakalan kesusahan sendiri kalau harus jalan kaki dari tempat tinggal baru ke pabrik, kalau mau naik ojek atau angkutan umum bisa habis uang gaji ku hanya untuk transportasi aja " tanya Dinar beruntun


seketika Al teringat sesuatu, ah, ya benar. jarak antara apartemen nya memang sedikit lebih jauh. tapi tunggu dulu, bukannya tadi Dinar bilang jika dirinya jalan kaki ketika pergi dan pulang kerja, jadi selama ini Dinar berjalan kaki ketika akan bekerja. Al tak bisa membayangkan betapa sakit betisnya ketika harus berjalan kaki sejauh itu.


"kamu tak perlu memikirkan hal itu, aku akan mengurus semuanya" jawab Al enteng.


"memangnya mas Al punya uang?. kan kemarin uangnya di kasih Dinar semua.. "tanya Dinar


"Ada Din.. sudah kalau kebanyakan tanya nanti nggak selesai selesai beres beresnya, cepetan beresin baju baju mu, biar aku yang beresin meja nya" seru Al


"iya mas.. " jawwb Dinar lirih


keduanya kini tengah membereskan barang barang milik Dinar, tak banyak disana, hanya ada pakaian, skincare juga beberapa pelaratan makan dan mandi saja yang Dinar punya.


Setelah hampir 30 menit mereka beres beres, kini kamar Dinar sudah nampak rapi dan bersih, ya, bersih karena barang barang Dinar sudah tak ada lagi disana.


kemudian Al meminta Dinar untuk membawa barang barangnya ke depan sebab kendarannya ia parkir di depan gerbang.


keduanya berpamitan kepada pemilik kos tersebut sembari menyerahkan kunci kamar. setelah berbasa basi sebentar, barulah mereka berdua keluar.


Dinar berjalan lebih dulu dan mengampiri sebuah motor yang terparkir di samping gerbang, ia berdiri sembari menunggu Al yang masih tertinggal di belakang.


"ngapain disitu Din" tanya Al yang baru saja keluar gerbang dan berdiri di samping mobil mewah.


"nungguin mas lah, ngapain lagi cobak" jawab Dinar.


"iya tau kalau kamu lagi nungguin aku. tapi ngapain nunggunya di situ, sini" seru Al melambaikan tangannya


"bukannya ini motor mas Al ya? " tanya Dinar bingung.


sedangkan Al tidak langsung menjawab, ia justru membuka bagasi mobil mewahnya kemudian memasukkan koper milik Dinar disana.


"loh kok di masukin di mobil itu?" tanya Dinar mendekat ke arah Al. bahkan sekarang kardus yang ia bawa pun telah berpindah ke dalam bagasi.


"itu bukan motor ku Din. aku tadi kesini bawa mobil" jawab Al setelah menutup pintu bagasi.


"oohh... kirain bawa motor, ini mobil bagus banget mas, pasti harganya mahal. punya majikan mas Al ya, oh iya, pasti tadi mas Al pinjem mobil majikannya buat ngangkut barang barang Dinar, iya kan? " tanya Dinar


matanya nampak begitu berbinar melihat mobil mewah di depannya, bahkan ia menyentuh mobil yang ada di depannya dengan sangat hati hati.


"sudah jangan kebanyakan tanya, ayo masuk mobil dulu" seru Al kemudian membukakan pintu untuk Dinar. Al tak ingin memberi tahu pekerjaannya yang sesungguhnya kepada Dinar saat ini, karena sangat tidak mungkin jika harus membicarakan hal sepenting itu di pinggir jalan. ia berencana akan memberi tahu Dinar ketika mereka telah sampai di apartemen nya.


Dinar pun menurut, ia masuk ke dalam mobil dengan sangat hati hati, untuk ukuran gadis kampung seperti Dinar, masuk dan menaiki mobil mewah tentu menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya karena memang sebelumnya ia tak pernah menaiki mobil sebagus dan semewah ini.


"mobil majikan mas Al bagus ya" ucap Dinar memecah keheningan.


Al menepuk jidatnya, ia begitu merasa lucu melihat kepolosan dari istri barunya itu, bahkan istrinya tak menunjukkan sikap jaim nya, justru ia terlihat blak blakan dan tak malu memperlihatkan kepolosannya. dan itu salah satu hal yang baru di ketahui Al saat ini.


"kamu suka? " tanya Al, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang


"suka sekali mas, mobilnya bagus dan mewah" jawab Dinar jujur.


"kamu bisa nyetir mobil? " tanya Al lagi


"enggak... " jawabnya menggeleng geleng kan kepalanya


"mau belajar nyetir pun buat apa mas, kan aku juga nggak punya mobil" sambungnya.


15 menit kemudian sampailah keduanya di sebuat apartemen paling elit di sana.


"turunlah" ujar Al,


Dinar tak menjawab, ia hanya menuruti perintah Al, segera ia keluar kemudian melihat sekeliling, di basement ini ada begitu banyak mobil mewah yang terparkir rapi disana, Dinar yang melihat itu pun berdecak kagum .


"ayo kita masuk, kamu bawa kardusnya saja biar aku bawa yang lainnya" ajak Al


"kita ngapain kesini mas, apa mau ketemu majikan mas Al? " tanya Dinar dengan polosnya.


"sudah kamu ikuti aku saja, nanti setelah sampai, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu" Dinar pun mengangguk, ia membawa kardus di tangannya dan mengikuti Al yang sudah berjalan di depannya itu.