
setelah menjalankan ibadah tiga rakaat, Al meminta Dinar untuk mandi terlebih dahulu sebab ia tahu jika Dinar sedari tadi belum ada mandi begitu juga dengan dirinya, namun Al memilih untuk mandi di rumah saja nanti setelah dari apartemen.
setelah Dinar kembali ke kamarnya, Al bergegas mengambil ponselnya kemudian memesan beberapa makanan untuk makan malamnya bersama sang istri.
15 menit sudah Al menunggu Dinar, namun gadis itu belum terlihat sama sekali. tak berselang lama kemudian Dinar keluar kamar dengan tu buh yang terlihat begitu segar. saat ini Dinar tengah memakai kaos lengan panjang dengan celana training. ia menghampiri Al yang sedang duduk di ruang makan.
"aku baru saja memesan makanan, mungkin sebentar lagi tiba" ucap Al memberi tahu Dinar.
"iya mas" Dinar pun ikut mendudukkan dirinya di kursi seberang Al.
"emm.. mas Al, apa nggak apa apa kalau aku tinggal disini, aku takutnya nanti orang tua mas marah kalau aku disini" akhirnya Dinar mengungkapkan kegelisahan hatinya yang ia rasakan tadi
"mereka nggak mungkin kesini karena aku jarang menginap disini, jadi buat apa juga mereka mendatangi tempat yang jarang di kunjungi anaknya. oh iya, disini biasanya setiap hari minggu ada orang yang bersih bersih, tapi berhubung kamu sudah ada disini, nanti dia akan setiap pagi datang kesini, jadi kamu nggak perlu capek capek bersih bersih"
"eh itu nggak perlu mas, kalau hanya untuk bersih bersih aku sendiri pun bisa kok"
"kamu seharian kerja pasti capek Din, sudah jangan membantah lagi"
"itu pesanannya sudah sampai, sebentar aku keluar dulu, kamu disini saja" seru Al setelah mendengar bel apartemen nya berbunyi
Al berjalan menghampiri pintu kemudian membukanya, seorang kurir menyerahkan beberapa bungkus makanan pesanan Al kemudian pamit setelah pekerjaannya selesai.
"terima kasih mas" ucap Al
"sama sama" jawab kurir itu mengangguk
Lantas Al menutup pintu apartemen nya kembali kemudian menghampiri Dinar.
"ayo makan" ajak Al
Dinar pun menurut dan ikut makan bersama Al, keduanya makan dengan tenang hingga tak terasa semua makanan yang berada di atas meja pun habis tak tersisa.
"alhamdulillah... "ucap Al dan Dinar serempak. Dinar pun segera merapikan bungkus makanannya untuk ia buang ke tempat sampah, setelah itu ia menghampiri Al yang saat ini sudah berpindah tempat di ruang tv.
"duduk sini Din" seru Al menepuk sofa sebelahnya
sebelum memulai pembicaraan, Al menghembuskan nafasnya pelan kemudian menoleh ke arah Dinar yang kebetulan juga sedang menatap dirinya.
"Din, apa kamu keberatan dengan pernikahan ini? " Al kembali dalam mode serius karena ingin memperjelas hubungannya dengan Dinar. sebab ia akan mengambil langkah yang tepat setelah mendengar jawaban dari Dinar.
Dinar menunduk, ia mere mas jari jemarinya. saat ini Dinar benar benar kebingungan setelah mengetahui siapa Al yang sebenarnya, jika ia melanjutkan, apa ia bisa menyesuaikan dengan kebiasaan orang kaya, dan jika ia berhenti, pasti kedua orang tuanya akan merasa kecewa dan malu sebab pernikahan anaknya yang baru seumur jagung harus kandas.
Dinar kembali mendongak menatap Al yang masih setia menatap dirinya.
"kau tahu Din apa yang membuatku menyetujui untuk menikah dengan mu? " tanya Al memandang lurus kedepan.
"untuk mempertanggungjawabkan ketidak sengajaan yang kemarin? " jawab Dinar
"bukan, lebih dari itu Din... " Al kembali merubah posisinya menatap ke arah Dinar.
"terlepas dari tanggung jawab dan pesan dari mommy ku, aku sebenarnya sudah tertarik kepadamu dari awal kita bertemu, tapi aku menepis semua rasa itu yang ku pikir hanya sebuah kesalahan. tapi nyatanya tidak, aku benar benar tertarik padamu bahkan aku bisa sedikit demi sedikit melupakan masalalu ku, kau tahu Din, hadirmu membuat luka yang menganga di hatiku kian menutup dan ku harap kamu bisa membantu ku menyembuhkan luka itu"
Al meraih tangan Dinar yang masih saling bertautan kemudian menggenggamnya dengan erat.
"aku mempunyai masa lalu yang sangat tragis, kehilangan orang yang kita sayangi pasti menimbulkan rasa sakit, dan aku berharap kali ini aku tidak akan mengulang kisah gelap itu kembali"
"lalu bagaimana dengan orang tua mu mas, aku merasa tak pantas masuk ke dalam keluarga kalian" dengan mata berkaca kaca Dinar kembali memperjelas keberadaannya sebab jika hanya Al yang bersedia menerimanya tentu ia tak akan mau.
Al pun tersenyum mengusap lembut pipi Dinar yang basah.
"kau tahu, mommy dan daddy ku adalah orang baik, Mereka tak pernah membeda bedakan status sosial kita pada orang lain sebab orang tua ku pun dulu juga orang biasa Din. kau tahu, dulu mommy ku di jodohkan dengan daddy ku oleh kakak ku, padahal dulu mommy hanyalah seorang gadis panti asuhan"
"hah?" "maksudnya bagaimana mas? " di tengah pembahasan serius Al justru akan menceritakan kisah unik orang tuanya kepada Dinar.
"daddy ku dulu sebelum menikah dengan mommy adalah seorang duda muda beranak satu, anak daddy, yang berarti kakak ku, ia bersahabat baik dengan mommy, bahkan kakakku sering sekali mampir ke panti asuhan mommy, dan setelah lulus SMA kakak ku menjodohkan daddy dengan mommy"
"terus, mereka langsung nikah? "
"ya enggak lah, mereka sama sama menolak sebab mereka tak pernah bertemu, tapi karena sebuah insiden menimpa kakak ku, akhirnya mommy dan daddy bersedia untuk menikah"
"waahh... seru pasti ya, bisa tinggal bersama sahabat yang sekarang menjadi ibu sambung. hmm, kisahnya mirip sekali dengan kisah teman ibu dulu"
"iya lah, setelah menikah kakak ku sering kali mengajak mommy melakukan berbagai kegiatan wanita, hingga membuat daddy benar benar jatuh cinta sama mommy, bahkan sampai saat ini mereka berdua sangat sangatlah bucin. memangnya ibu kamu juga punya teman yang di jodohkan seperti itu? "
"iya, dulu teman ibu juga ada yang di minta jadi ibu sambung teman sekolahnya, tapi nggak tahu sih pastinya gimana soalnya kejadiannya sudah sangat lama"
"indah sekali kisah asmara mereka" gumam Dinar.
"oh begitu.. Kisah kita justru lebih seru. tidak ada yang lebih seru di banding di gerebek warga Din, bahkan menggemparkan satu desa kan" Al menimpali.
"hahaha... iya bener banget sih.. "
"jadi intinya jika kamu yakin ingin melangkah bersama ku, ayo kita mulai semua dari awal lagi, kita bangun keluarga kecil kita dari awal. jika kamu masih ragu pada orang tua ku, aku akan buktikan jika keraguan mu itu tak mendasar, hanya saja aku butuh waktu untuk membicarakan hal ini pada keluarga ku"
kini Al mulai menata diri dan memantapkan hati untuk kembali mengisi kekosongan hatinya. Dinar, gadis yang sejak pertama kali bertemu mampu mengalihkan pikiran Al kini telah bersanding dengan nya, meski sebelumnya ia menganggap jika perasaannya saat itu hanyalah sebatas kagum mengingat sikap humoris dan blak blakan dari Dinar namun nyatanya perasaan itu tumbuh begitu subur hingga meninggalksn benih benih Cinta di hati Al.