
Kini Aldrich dan Dinar sudah duduk di sofa kamarnya, Dinar menunduk mere mas jari jemarinya, ia mencoba untuk tak meluapkan emosinya kepada sang suami karena Dinsr yakin bahwa semua ini hanya salah paham dan ia hanya perlu mendengar langsung penjelasan sang suami.
Aldrich melirik jari jemari sang istri yang saling bertautan, pria itu kemudian meraih tangan sang istri kemudian menaruhnya di pangkuannya.
Aldrich memberikan senyum termanisnya kala Dinar menoleh ke arahnya sesaat setelah tangannya di raih olehnya.
"maaf... "
"mas, mas bisa menjelaskan dengan perlahan, tak perlu terburu buru... "
"sayang maafin aku ya, karena kemarin aku meninggalkan kamu, bahkan akubtak memberi tahu kamu, pasti kamu sangat malu waktu itu" lirih Aldrich
Dinar masih diam, ia memberikan Al waktu untuk Aldrich menjelaskan semuanya.
"baik, aku akan menjelaskan semua sesuai sudut pandang ku. pertama, beberapa minggu kebelakang beberapa kali aku seperti melihat Luna mantan tunangan ku, tapi aku tak yakin, dan aku juga tak mencari informasinya, karena yang aku tahu bahwa Luna sudah meninggal.
tapi ketika acara pesta kita waktu itu, aku melihat tante Tia, dan om Irfan bersama dengan Luna berjalan menuju pintu keluar, dan aku yang penasaran tanpa sadar langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan sama kamu.
aku mengejar mereka hingga sampai di kediamannya. Dan benar saja, bahwa wanita yang bersama tante Tia adalah Luna.
setelah tahu bahwa Luna masih hidup, aku hanya ingin meminta penjelasan mengenai berita bohong yang dia buat, setelah aku mengetahui semuanya aku memutuskan untuk pergi ke club. maaf, lagi lagi aku mengulang kesalahan yang sama, waktu itu pikiran ku brnar benar kacau hingga yak berpikir panjang.
keesokan paginya waktu aku terbangun, aku baru menyadari jika istri ku tidak ada di kamar, aku mencari cari kamu di seluruh ruangan tapi kamu nggak ada, lalu setelah bertanya dengan mbak Lili, dia berkata jika kamu pergi ke kampung dengan mommy daddy.
sayang maaf, aku mengejar Luna bukan karena aku masih ada hati untuk nya, tapi karena aku hanya ingin meminta kejelasan dan aku juga ingin menegaskan bahwa aku telah menjadi milikmu seutuhnya, maaf karena aku mengecewakan mu dan menghancurkan pesta yang kamu impikan"
Dinar mencerna kata kata sang suami, meski ia marah, namun ia akan selalu percaya dengan perkataannya, sebab dapat ia lihat dari sorot mata Aldrich yang terlihat putus asa dan menyesal, Dinar jadi tak tega melihatnya.
Dinar menghapus air mata Aldrich yang tiba tiba menetes, ia juga ikut menangis, mengingat usia pernikahan mereka baru seumur jagung akan tetapi mereka sudah di terpa badai bahkan ketika mereka mengadakan resepsi.
"aku udah maafin mas kok, Dinar juga minta maaf ya mas, karena belum bisa mrnjadi istri yang mas inginkan, maaf karena sempat pergi tanpa pamit"
"kamu nggak salah apa apa sayang, akulah yang salah"
"jadi, kamu sudah memaafkan mas? " tanya Aldrich
Dinar mengangguk "aku percaya sama mas, aku harap mas nggak akan pernah ngecewain Dinar, karena Dinar sudah menaruh kepercayaan penuh untuk mas. kita mulai semua dari awal ya mas... "
"baik, mas janji, mas tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi.. "
kini senyum mengembang terbit di antara keduanya, Dinar dan juga Aldrich sama sama tersenyum setelah menyelesaikan masalah mereka berdua.
nyatanya hanya sebuah salah paham yang berujung pertengkaran, namun karena mereka masih saling percaya hingga hal itu tak menggoyahkan keyakinan mereka pada perasaan masing masing.
Aldrich mengelus pelan pipi sang istri yang memerah karena menangis, tanpa sadar ia memajukan kepalanya hingga ia mengecup bi bir ranum sang istri.
"manis" ucapnya pelan seraya menatap mata teduh sang istri.
"jangan menggoda mas" lirihnya
"aku tidak menggoda, aku berkata apa adamya, bi bir istri ku masih sama seperti dulu, manis dan bikin candu"
Aldrich kembali memagut bi bir sang istri. semakin lama pagutannya semakin dalam.
Tangan nya pun tak tinggal diam, sembari memagut, tangannya menelusup pada kaos yang di kenakan sang istri hingga membuat Dinar melengguh merasakan sensasi yang berbeda.
Aldrich melepas pagutannya, ia menatap wajah sang istri yang sudah memerah, ia kemudian menggendong Dinar menuju ranjang dan menidurkannya disana.
dapat Dinar lihat dari mata sang suami yang sudah berkabut gai rah, suaminya pasti sudah sangat menginginkan dirinya.
setelah merebahkan Dinar di kasur, Aldrich kembali menatap snag istri dengan penuh cinta.
"sayang, boleh? " tanya Aldrich
Dinar mengangguk ia pun telah siap jika sang suami meminta hak nya, terlebih permasalahan mereka telah selesai. "boleh, Dinar milik mas Al seutuhnya" jawab Dinar mantap.
Aldrich mengembangkan senyum manisnya, meski dirinya tengah bergairah ingin segera menyentuh sang istri, namun ia juga tak ingin jika ssng istri belum siap, maka dari itu ia lebih baik menanyakan kesiapan sang istri. setelah mendapatkan lampu hijau dari sang istri Aldrich kembali melanjutkan aksinya.
ia memberikan kecupan singkat pada kening, kemudian beralih ke mata, hidung dan yang terakhir pada bi bir sang istri, ia tersenyum ketika melihat sang istri terlihat malu malu.
tak ingin menunggu waktu lama Aldrich segera melu cuti paka ian istrinya juga pakaiannya hingga keduanya sama sama polos.
setelah beberapa ssat melakukan foreplay, kini tibalah saatnya Aldrich memulai penyatuan, ia menghentikan gerakannya maka kala melihat ssng istri meringis
"sayang, kamu tidak apa apa, apa kita lanjutkan nanti saja, aku tak tega melihat kamu kesakitan? " tanya Aldrich, ia khawatir jika semua yang ia lakukan menyakiti istrinya.
"tidak mas, lanjutkan saja, aku akan menahannya" jawab Dinar
"baiklah, tolong tahan sebenar saja ya sayang" Aldrich memulai kembali penyatuan nya, hingga pada percobaan yang ketiga ia baru bisa menerobos masuk pada liang surgawi sang istri.
"aakkhh" pekik Dinar, ia merasakan tubuhnya seraya terkoyak dan tanpa sadar menjerit pelan, ia bahkan mere mas pundak sang suami hingga menimbulkan bekas kukunya disana untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Aldrich menghentikan gerakannya setelah masuk semua, ia ingin memberikan waktu sang istri untuk beradaptasi terlebih dahulu sebelum ia meneruskan gerakannya.
"apa sangat sakit sayang? "
betapa bo dohnya Aldrich, ia pun bisa melihat dari ekspresi wajah sang istri yang mengernyit kesakitan, bahkan ia juga mendapatkan cakaran darinya, tapi ia justru menanyakan sesuatu yang tak seharusnya di pertanyakan.
"sedikit sakit, tapi tak apa, lanjutkan saja mas biar cepat selesai" setelah mengatur nafasnya, Dinar kembali merespon sang suami.
kini keduanya tengah menikmati surga dunia yang mereka ciptakan, saling melengguh, saling berpagutan satu sama lain, Aldrich juga memberikan rang sangan pada sang istri untuk mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya. hingga tanpa mereka sadari jika keluarga besarnya telah menunggu kehadiran mereka di ruang makan untuk makan malam bersama.