
Al dan Dinar kini sudah duduk manis di dalam bis setelah hampir 30 menit keduanya menunggu di terminal. kini keduanya kembali ke Jakarta dengan status hubungan yang berbeda dari waktu keberangkatan menuju kampung halaman Dinar.
Bis melaju dengan kecepatan sedang, membuat Al mende sah pelan sebab masih membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk segera sampai di rumah sakit. Dinar yang mengerti kegelisahan Al pun berinisiatif memberikan sebotol air mineral yang ia beli di terminal tadi untuk Al
"minum dulu mas, supaya lebih tenang" ucap Dinar
"terima kasih" jawab Al seraya menerima air pemberian Dinar, ia segera menengguk air tersebut hingga menyisakan separuh botol.
"bagaimana keadaan opa mas? "
"aku kurang tahu, adik ku belum memberikan balasan pesan ku, tapi terakhir kali dia bilang jika opa mencari ku, itu makanya aku mereasa cemas sekarang"
"sabar ya mas, semoga opa baik baik saja sekarang"
"aamiin... oh iya Din, nanti setelah sampai di kota, kamu bagaimana?" kini Al mencoba untuk mengalihkan fokusnya kepada Dinar
"bagaimana apanya mas? " Dinar merasa bingung dengan pertanyaan ambigu dari suaminya itu
"eemm.. maksud aku, kamu kembali ke kosan kamu, atau ikut dengan ku, karena jujur jika aku membawa mu ke hadapan orang tua ku dalam kondisi yang seperti ini, aku masih belum siap, aku takut membuat mereka syok?"
"aku terserah mas saja bagaimana baiknya" sejujurnya Dinar agak sedikit kecewa mendengar ucapan Al, karena kemarin dia berkata ingin berjuang bersama, namun kini, ketika dirinya hanya berdua dengan Al, Al seolah enggan memperkenalkan dirinya kepada orang tuanya. apa Al tidak memperdulikan perasaannya sebagai seorang istri, meskipun di antara keduanya belum tumbuh rasa cinta.
"untuk sementara kamu kembali ke kosan kamu saja ya, karena setelah ini aku akan langsung ke rumah sakit dan tentu akan sedikit sibuk. nanti jika sudah waktunya, aku akan mempertemukan kamu dengan kedua orang tua ku. " jelas Al
"baiklah, tidak apa apa mas, lagi pula ini hanya pernikahan tanpa cinta, jadi kamu nggak perlu pusing mikirn aku" ujar Dinar datar.
"kamu itu ngomong apa sih, kamu nggak ingat tadi bapak bilang apa sama kita, bukankah kamu juga mendengarnya sendiri dan kamu juga mengangguk setuju hm? "
"iya aku masih ingat kok, tapi aku tak ingin menjadi penghalang langkah mu .."
"sudah berapa kali aku bilang Din, jangan bahas yang aneh aneh. bukankah kamu setuju jika kita memulai semua dari awal, aku hanya butuh sedikit waktu untuk bilang pada kedua orang tua ku. nggak mungkin kan tiba tiba aku pulang bawa istri, yang ada nanti mereka syok dan kecewa. maka dari itu aku minta pengertian kamu. sudah, hilangkan pikiran negatif yang bersarang di kepala mu. meski kita tak saling cinta, aku akan tetap bertanggung jawab sama kamu" seolah paham isi pikiran Dinar, Al segera meluruskan maksud dari perkataannya yang meminta Dinar untuk tinggal di ka mar kos nya sementara waktu
"maaf.. " lirih Dinar sembari menunduk.
setelah itu keduanya saling terdiam dengan pikiran masing masing. Hingga tak terasa kini mereka telah sampai di Jakarta. setelah turun Al segera mencari taksi untuk membawa dirinya dan Dinar, tujuan pertama yaitu kosan Dinar. Al akan menurunkan Dinar disana setelah itu baru ia ke rumah sakit.
20 menit kemudian, taksi yang di membawa Al dan Dinar telah sampai di depan pagar rumah kos Dinar. Dinar segera turun di ikuti Al, namun sebelum itu Al meminta supir taksi untuk menunggunya terlebih dahulu.
"kenapa ikut turun? " tanya Dinar aneh
"kamu lupa kalau aku suami mu? " Al tersenyum kemudian merogoh dompet nya, ia mengambil beberapa lembar uang kertas seratus ribuan kemudian di berikan kepada Dinar.
"buat apa? "
"kan tadi aku udah bilang kalau aku itu suami kamu, ini uang nafkah dari ku, terima lah"
"tapi, "
"tidak ada tapi tapi an, ambil dan belilah semau mu dengan uang ini" karena tak kunjung di terima, Al segera meraih tangan Dinar kemudian menyerahkan uang tersebut ke tangan Dinar.
"ini banyak banget mas, nanti mas gimana kalau semua uangnya di kasih Dinar?" Dinar heran kepada Al yang memiliki banyak uang, karena Dinar masih berpikir bahwa Al hanya bekerja sebagai supir dan pelayan di warung tenda.
"tak perlu mencemaskan aku, aku masih ada uang kok. itu memang untuk kamu semuanya, nanti kalau habis bilang lagi ya"
"ini mah lebih dari cukup kalau buat uang makan sama keperluan lainnya selama sebulan mas" Al pun tersenyum kemudian meng elus kepala Dinar dengan lembut.
"beli lah apapun yang kamu mau, karena sekarang kamu tanggung jawab ku. nanti kalau urusan ku sudah selesai, aku akan menjemput mu buat pindah dari sini. "
"aku pamit ke rumah sakit dulu ya, kalau ada apa apa segera hubungi aku. mengerti! " seru Al
Dinar pun mengangguk kemudian tersenyum. "mengerti mas, kalau begitu pergi lah dan hati hati di jalan ya" ucap Dinar tulus. ia begitu tersentuh atas perlakuan manis yang di berikan Al untuk nya. kemudian ia meraih tangan dan menci um nya dengan takzim.
sedangkan Al nampak terkejut atas perlakuan yang Dinar lakukan saat ini, ia tidak menyangka jika Dinar dengan kerelaannya mencium punggung tangannya.
setelah berpamitan Al kembali masuk ke dalam taksi untuk pergi ke rumah sakit. di dalam mobil, pikiran Al terus menerus berkelana mengingat kejadian yang ia alami kemarin hingga hari ini. ia tak pernah menyangka jika dalam waktu beberapa jam berada di rumah Dinar, kini statusnya langsung berganti.
kini status seorang suami telah ia sandang dan pasti dalam waktu dekat keluarga besarnya akan mengetahuinya. ia masih memikirkan beberapa cara untuk mengungkap status hubungannya saat ini.
dalam lamunan ia tersentak kaget mendengar ponsel nya kembali berdering, di lihatnya nama sang adik muncul di layar ponselnya. dengan segera Al menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"iya Zam, bagaimana? ini aku dalam perjalanan menuju rumah sakit" terang Al
"tidak ada, aku hanya menelepon mu untuk memastikan keberadaan mu. ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya kak" ucap Azzam di seberang sana
"bagaimana keadaan opa? "
"sudha lebih baik, jika ingin tahu lebih jelas. nanti saja lihat sendiri keadaannya" kemudian Azzam segera mematikan teleponnya. di seberang sana Azzam sedikit khawatir jikalau nanti dirinya ketahuan membohongi sang kakak. ia pasti akan di omeli habis habisan dan alamat nanti perjanjian waktu lalu akan di batalkan jika sang kakak murka. Azzam pun begidik ngeri membayangkan hal tersebut.
sedangkan Al mendengus kesal sebab Azzam mematikan sambungan teleponnya secara mendadak tanpa salam terlebih dahulu.