
Kini Al sudah berada di dalam mobil setelah membicarakan pembicaraan yang serius dengan Dinar. malam ini Al tak ingin menginap di apartemen sebab takut jika keluarganya akan curiga terhadap dirinya.
mobil mela ju dengan kece patan sedang menempuh beberapa puluh menit untuk sampai di kediamannya. kini mobil yang di kenda rai Al pun telah sampai di pelataran rumah mewahnya, ia segera turun kemudian masuk setelah bibi membukakan pintu untuknya.
ia melihat jam yang melingkar di tangannya, 'sudah jam sepuluh, pantas saja sudah sepi' gumam Al dalam hati
"daddy sama mommy sudah tidur ya bi? " tanya Al kepada Art nya yang tadi membukakan pintu.
"sudah den, apa aden butuh sesuatu? " tanya bibi
"oh tidak bi, bibi istirahat saja karena hari sudah malam. aku ke kamar dulu" pamit Al kemudian berjalan menuju ke arah lift.
sesampainya di dalam kamar Al tak langsung membersihkan diri, ia justru menjatuhkan bo bot tu buhnya di atas kasur king size nya, ia menatap langit langit kamarnya dengan kedua tangan ia jadikan bantalan.
ia kembali teringat akan jawaban yang Dinar berikan, tak sengaja bi birnya menyung gingkan senyum manisnya.
"mas Al sudah tahu mengenai keadaan keluarga ku seperti apa, apa mas Al tetap masih ingin mempertahan kan aku?. bahkan rasanya aku tidak pantas jika harus bersanding dengan mas Al" tanya Dinar kala itu
Al pun mengangguk memberikan jawaban tercepatnya.
"jangan jadikan status sosial menjadi bagian terlemah mu Din, bukankah kita semua sama dimata Allah, aku hanya ingin kita berdua menjalani pernikahan ini dengan sungguh sungguh, ketahuilah bahwa keluarga ku adalah orang orang yang baik, mereka tak akan pernah memperdulikan status so sialmu. hal utama yang mereka lihat adalah sikap dan sifat, itu saja tidak lebih.
apa kamu tidak ingin menjadikan pernikahan ini pernikahan sekali seumur hidup untuk mu? " tukas Al
Dinar tak kuasa menahan laju air matanya, ia menangis meratapi kisah hidupnya yang tak pernah ia sangka sebelumnya, namun apapun itu ia juga sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan lelaki yang bertanggung jawab dan sayang dengan keluarga seperti Al.
Dinar menatap wajah Al, lebih tepatnya manik mata Al, bibirnya bergetar Memaksa untuk tersenyum, ia lantas mengangguk
"Dinar mau melanjutkan pernikahan ini mas, Dinar hanya ingin menikah satu kali dalam hidup Dinar, Dinar percaya jika semua yang terjadi dengan kita adalah kehendak Allah. bantu Dinar menyesuaikan diri dengan pernikahan ini ya mas" pinta Dinar
"iya, tentu Din, terima kasih karena bersedia melanjutkan pernikahan ini" Al segera menarik tangan Dinar dan membawa ke. dalam deka pannya. Dinar tak memberontak sama sekali sebab ia merasa sangat terkejut hingga bingung harus melakukan apa, bahkan ia tak membalas pelu kan dari Al.
Di tengah kebahagiaan Al yang membuncah, Azzam tiba tiba masuk ke dalam kamarnya dan membuyarkan lamunan indahnya bersama Dinar.
"woy kak, ngelamun aja" seru Azzam masuk ke dalam kamar Al lalu berjalan mendekat ke arah sang kakak yang sedang tiduran.
"isshh.. apaan sih kamu ini, nggak bisa lihat orang seneng dikit apa? " gerutu Al kemudian beranjak duduk
"lagian ngelamun aja sampai sampai aku ketuk pintu berulang kali nggak di jawab jawab" kesal Azzam
"ada apa? "
"ah iya aku hampir lupa, dari tadi aku nungguin kak Al, mau tanya gimana urusan berkasnya, mau di urus sendiri atau minta bantu aku, kalau aku yang urus sekarang aku minta berkas berkasnya buat ke Kantor Urusan Agama biar cepet beres, kebetulan aku punya kenalan yang kerja di sana " ujar Azzam
"wiihh... sekarang jadi calo disana ya Zam? " ledek Al
"ledek aja terus, ya sudah urus saja sendiri berkasnya, seharusnya kak Al itu berterima kasih sama aku karena aku dengan suka rela menawarkan jasa untuk mu, tapi kalau balasannya begini mending urung ajalah" Azzam yang dengan kakaknya pun bergegas keluar kamar, namun sebelum keluar kamar ia segera di tahan oleh Al
"hm baiklah, tapi janji yang waktu itu kembali di berlakukan. deal! " seru Azzam memberi penawaran.
"okelah, deal... " Al menjabat tangan Azzam sembari tersenyum
setelah itu Azzam benar benar pergi dari kamar Al, sedangkan Al memilik untuk membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum ia tidur.
***
Di dalam kamar yang sangat luas, Dinar masih saja terjaga sebab baru saja merapikan pakaiannya serta barang barang lainnya, padahal waktu menunjukkan pukul sebelas malam namun matanya sangat sulit untuk di pejamkan, ia kembali membuka ponselnya, hari ini tidak ada orderan apapun sebab dari beberapa hari yang lalu ia menutup orderan karena pulang kampung.
karena belum terbiasa dengan tempat baru, Dinar akhirnya mengotak atik ponselnya, ia berencana untuk membuka kembali toko online nya yang sempat libur itu.
setelah beberapa kali ia mengupdate status di aplikasi hijau untuk mempromosikan jualannya, ia di kejutkan oleh notifikasi pesan masuk dari aplikasi tersebut.
[belum tidur? ]
[lekaslah tidur, hari sudah larut malam]
[kamu jualan online? ]
Tiga pesan yang di kirim Al dalam waktu bersamaan membuat Dinar seketika merasa ada sesuatu yang aneh pada hatinya.
"kenapa aku jadi deg degan gini sih, padahal biasanya juga enggak loh" gumam Dinar memegangi da danya yang terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.
'huuhhh.... huuhhh... ' berulang kali Dinar mengatur pernafasannya sebelum membalas pesan dari suaminya.
[iya, aku belum bisa tidur, apalagi ini tempat baru dan aku sendirian disini, jadi susah untuk tidur] balas Dinar,
Namun membuat Al yang berada di seberang sana tertegun membaca balasan pesan dari istrinya itu, sebab menurut Al balasan pesan dari istrinya itu adalah sebuah kode bahwa istrinya tengah kesepian, padahal yang sebenarnya bukan seperti itu.
[mau aku temani? ] balas Al
Dinar pun gelagapan membaca balasan dari Al, Ah, ia jadi salah tingkah sebab Al salah mengira balasan pesan darinya.
[bukan itu maksud ku mas, aku hanya belum terbiasa disini dan juga disini berbeda dengan kosan ku yang kamarnya sebelahan dengan yang lainnya]
Dinar merutuki jarinya yang dengan lincahnya membalas sesuatu yang membuat Al menjadi salah paham.
[ku kira kamu butuh teman. ya sudah jangan tidur malam malam, karena besok kamu masih kerja, takutnya nanti malah kesiangan] balas Al
[iya mas, ini aku mau tidur Kok, assalamualaikum ] kini Dinar kembali cangung setelah kesalahpahaman akan pesan yang ia kirim pada suaminya tadi.
karena tak ingin terbawa perasaan, Dinar pun mematikan data selulernya lalu meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian ia segera berbaring dan memejamkan mata untuk segera tidur.