
Keesokan harinya, Al kembali bekerja seperti biasanya, di dalam ruangannya ia tengah di sibukkan oleh beberapa berkas untuk ia teliti dan tanda tangani.
sedangkan Azzam kini tengah serius menatap beberapa lembar foto dari seseorang yang ia minta untuk datang ke kantor kemarin.
"ini beneran Jo? " tanya Azzam
"ya bener lah Zam, kan aku langsung ke tkp, jadi semuanya real, foto itupun aku minta dari orang yang ada disana" jawab Johan
"kamu sudah mencari tahu siapa gadis ini dan bagaimana bisa terjadi masalah seperti itu? " tanya Azzam
"yang ku tahu gadis itu tengah merantau ke Jakarta, selebihnya aku belum mencari sebab kemarin aku harus menebus bukti itu" tunjuknya pada foto yang di Pegang Azzam
"kenapa begitu? "
"wanita itu enggan untuk memberikan bukti di tkp, ia justru menaruh curiga terhadap ku, karena tak ingin menjadi masalah, akhirnya aku memberi dia sejumlah uang " terang Johan
"oh begitu. ya sudah aku minta kamu cari data gadis ini kemudian segera lapor ke aku, untuk masalah bayaran kamu tenang saja, setelah pekerjaan mu selesai, aku akan segera mentransfer kekurangannya" ujar Azzam
"oke aku usahakan siang nanti semua data datanya sudah ada di tangan mu, kalau begitu aku permisi dulu" pamit Johan.
"ya, lebih cepat lebih baik" ujar Azzam.
setelah itu Johan langsung meninggalkan ruangan Azzam. Johan adalah detektif sekaligus teman sekolah Azzam ketika di menengah keatas. Ketika ada suatu masalah maka Azzam akan meminta bantuan dari Johan untuk membantunya sekedar mencari orang atau mencari informasi.
"kena kau.. " gumam Al tersenyum lebar.
*****
saat jam makan siang, ponsel Dinar berbunyi. ia yang tengah menyantap makan siangnya pun mengernyitkan dahinya karena jarang sekali ada orang yang mengirim pesan kepadanya di siang hari seperti ini.
ia segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kemudian membukanya. matanya melebar melihat nama pengirim pesan di ponselnya, ia bahkan sampai tersedak karena terkejut. Mia yang kebetulan sedang makan bersamanya pun langsung menyodorkan air minum untuk Dinar.
"kenapa Din, kok kayak yang syok banget gitu, ada masalah? " tanya Mia
"Ah, enggak ada kok Mi, makasih ya minumnya" jawab Dinar kemudian ia melihat ke arah ponselnya.
[maaf semalam aku tidak mengunjungi mu bahkan aku tidak mengirim pesan pada mu lagi, semalam aku menemani opa di rumah sakit sehingga aku tidak leluasa bermain ponsel. selamat makan siang ya Din, jangan makan sembarangan. oke]
satu pesan yang secara tiba tiba di kirim oleh Al membuat Dinar begitu syok. ia pikir Al telah melupakan dirinya karena semalaman tak memberikan kabar. tetapi siang ini ia di buat terkejut oleh pesan yang di kirim Al yang menjelaskan tentang dirinya semalam.
samar Dinar melengkungkan senyumnya ketika kembali membaca pesan dari Al, bahkan sekarang jantungnya tengah berdetak lebih kencang dari biasanya.
"hoyy.. malah senyum senyum, udah punya pacar baru ya? " tanya Mia menggoda.
"ishh.. apaan sih Mia, enggak kok. aku nggak punya pacar" jawab Dinar cepat 'tapi punya suami' seru Dinar dalam hati.
"lah itu senyum senyum kenapa emang? "
"enggak, nggak ada apa apa kok. sudah sudah buruan habiskan makannya, jam istirahat sudah hampir habis" seru Dinar mengingatkan. ia bahkan tidak sempat membalas pesan yang dikirim Al sebab ingin mengalihkan pembicaraan sang sahabat terlebih dahulu.
Mia pun mengangguk karena memang jam makan siang memang hampir usai, setelah makan siang keduanya kembali. ke tempatnya masing masing untuk memulai pekerjaannya.
***
sementara di kantor Al nampak sesekali mencuri pandang ke arah ponsel nya, berulang kali ia mengecek notifikasi namun tak kunjung muncul, akhirnya ia menyerah. ia mengabaikan ponselnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.
'mungkin dia sudah kembali bekerja makanya tidak sempat membalas pesan ku. '
'ada apa dengan diriku ini, padahal baru kemarin tidak bertemu, kenapa sekarang aku jadi selalu mikirin dia, padahal kan biasanya nggak pernah'
Al nampak bergumam sebelum memulai mengerjakan pekerjaannya.
setelah beberapa saat berkutat dengan laptopnya, Al di kejutkan oleh kedatangan Azzam yang secara tiba tiba menerobos masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"ada apa? " tanya Al ketika melihat gelagat aneh dari sang adik.
Azzam yang di tanya sang kakak pun hanya tersenyum manis sembari mendekat ke arah sang kakak.
"kak Al nggak pengan gitu cerita ke Azzam?" tanya Azzam membuat Al nampak kebingungan
"maksud kamu apa, memang aku harus cerita apa? " tanya Al yang benar benar kurang paham maksud perkataan Azzam
Azzam duduk di kursi yang berada di depan Al kemudian menyerahkan dua lembar foto kepada Al.
"ini" ucapnya seraya menyerahkan foto tersebut.
"apa ini? " Al kemudian mengambil foto dari tangan Azzam kemudian melihatnya dengan seksama, setelah tahu isi dari foto tersebut sontak matanya membelalak kaget.
Disana terdapat foto pernikahan sederhananya dengan Dinar ketika ia tengah berjabat tangan dengan pak Beni, dan satu lagi ketika ia dan Dinar tengah duduk berdampingan di hadapan pak Beni dan beberapa orang saksi termasuk pak ustadz.
"bisa jelaskan kak maksud dari foto itu? " tanya Azzam
"dari mana kamu dapat foto ini Zam? "
"tentu dari orang kepercayaan ku kak"
"kamu memata matai kakak? " tanya Al tak percaya
"sebenarnya bukan memata matai, karena niat awalnya aku hanya ingin memastikan bahwa kak Al baik baik saja, sebab waktu itu mommy merasakan firasat yang tidak enak. karena waktu itu kami sekeluarga tengah berkumpul kecuali kak Al, maka dari itu aku meminta seseorang untuk mencari keberadaan kak Al dan memastikan bahwa keadaan kak Al baik baik saja. akan tetapi aku malah mendapatkan fakta baru jika kak Al tengah di nikahkan paksa oleh warga karena kakak kedapatan tengah melakukan hal tak seno noh dengan gadis itu. tak ku sangka jika ucapan ku waktu itu beneran terjadi" terang Al
"sebentar sebentar, maksud kamu apa, memang nya kamu mengucapkan apa? " tanya Al
"eemm. itu.. sebenarnya.. " Azzam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat raut wajah Al yang tak bersahabat.
"apa? " tanya Al
"waktu kak Al meminta ku untuk mengurus perusahaan karena kak Al ingin liburan bersama teman kak Al, sebenarnya aku sudah tahu jika kak Al akan pergi bersama seorang gadis, dan gadis itu bukan teman sekolah kakak. aku tahu gadis itu ketika aku membeli makan di warung tenda tempat kak Al kerja sore. karena teringat itu aku jadi tak sengaja memikirkan kak Al di gerebek warga karena berdua duaan dengan gadis itu, tapi siapa sangka jika pikiran ku justru sekarang menjadi kenyataan"
pletak
"dasar adik lucknut bisa bisanya mikirin begituan, ingat ya, kakak tidak berbuat yang aneh aneh dengan gadis itu. hal itu hanya salah paham tapi warga tidak percaya sama sekali dan malah meminta kakak untuk menikahi gadis itu" jelas Al geram
"trus kenapa kak Al mau nikahin tuh gadis? "
"huuhh.. kakak di paksa buat nikahin gadis itu, jadi mau tak mau kakak malam itu juga harus nikah sama dia, lagipula kasihan jika kakak nggak nikahin dia.. "
"kenapa? " sahut Azzam cepat
"nama baiknya dan keluarga pasti bakalan jelek, dan kakak nggak mau itu terjadi" seru Al lemah.
akhirnya keduanya mulai bercerita mengenai pernikahan dadakan Al dengan gadis itu. sebenarnya Azzam kasihan dengan sang kakak, tapi ia juga bersyukur dengan kejadian ini, setidaknya sang kakak dapat mengalihkan perasaannya untuk gadis lain.
ia juga akan mendukung hubungan Al dengan istrinya karena dari data yang di berikan Johan tadi siang, istri dari kakaknya itu adalah perempuan baik baik dan tidak neko neko, meskipun awalnya ia terkejut karena kakak iparnya saat ini bekerja di pabrik milik keluarganya.